
Darimana, Mak?"
"Beli bubur, Sit. Karyo mana?"
"Lagi di warungnya Mbak Ida, beli makanan ayam."
Emak manggut manggut, lalu dia duduk di atas dipan yang letaknya di salah satu sisi teras depan rumah. Dipan itu memang sengaja di taruh adiknya Emak, si Karyo, di tempat itu agar mirip dengan sinetron lawas si doel. Siti, istri dari Karyo nampak sedang menjemur kerupuk nasi buatan sendiri.
"Emak nggak jualan?" tanya Siti begitu pekerjaannya selesai. Dulu waktu masih muda, Siti memanggil Emak dengan sebutan Mbakyu. Tapi sejak anak anak mereka beranjak dewasa dan menikah, Siti mulai merubah panggilan ke kakak iparnya dengan panggilan Emak. Apalagi di komplek ini satu satunya wanita yang di panggil Emak hanya satu yaitu ibunya Jiwo.
"Libur dulu, Sit. Capek, dua hari rumah rame terus," balas Emak sambil makan bubur dari tepung beras disiram sama gula merah dan dibungkus pake daun.
"Hehehe ... Jiwo jadi artis ya, Mak," ucap Siti lalu menyeruput teh manis yang sudah dingin di meja dekat ujung dipan.
"Hahaha ... artis dadakan, mana laku, Sit? Paling ya nanti tenggelam lagi."
"Ya nggak apa apa, Mak. Yang penting kan pernah terkenal. Hehehe ..."
Emak hanya tersenyum sekilas lalu kembali melanjutkan menikmati makan buburnya. Sedangkan siti meraih kaleng bertuliskan nama wafer terkenal. Namun begitu dibuka, ternyata isinya berbagai remahan rempeyek jadi satu. Ada remahan rempeyek kacang, kedelai hitam, kacang hijau, udang kering yang lembut dan keripik tempe jadi satu.
"Tapi, Mak, apa semua istri Jiwo beneran mau terus bersama Jiwo?"
Tangan Emak terhenti saat sedang menyendok bubur dengan sendok yang terbuat dari daun pisang. Mata Emak menatap lekat adik ipar. "Kan kamu dengar sendiri istri istri Jiwo kemarin jawab apa saat ditanya orang kedutaan? Jelas banget kan, Sit, kalau mereka serius?"
"Iya sih, Mak. Tapi kan kita kedepannya nggak tahu. Mereka dari negara yang berbeda dan datang ke negara ini secara ilegal. Takutnya ada masalah lain gitu."
"Emak sih juga takutnya begitu, tapi mau bagaimana lagi, untuk saat ini mereka tidak mau lepas dari Jiwo, ya Emak cukup seneng mendengarnya. Emak sih berharapnya salah satu dari mereka ada yang berjodoh dengan Jiwo."
"Emak nggak pengin semuanya berjodoh sama Jiwo?"
"Bukan begitu siti," ucap Emak merasa geram dan Siti malah terkekeh sambil tak henti hentinya menikmati remahan rempeyek. "Kalau semuanya ingin tetap bersama Jiwo ya Emak malah senang. Tapi kan kamu bilang ke depannya bagaimana? Makanya Emak berharap salah satu dari mereka, ada yang berjodoh dengan Jiwo."
"Hahaha ... iya, iya, Mak aku tahu. Aku paham."
Emak hanya mencebikan bibirnya lalu ikut tertawa bersama adik ipar. Hingga saat Karyo datang, paman Jiwo itu merasa heran karena dua wanita yang menjadi keluarganya, terlihat sedang tertawa bersama.
Sementara itu, di rumah Emak, Jiwo juga sedang asyik bercengkrama dengan para istri setelah selesai mandi dan sarapan. Hari ini memang tidak ada pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan Jiwo. Hendak keluar rumah pun, Jiwo merasa malas. Karena Jiwo berpikir pasti dia akan jadi pusat perhatian dan banyak bertanya tentang dirinya yang sedang jadi bahan pembicaraan. Makanya Jiwo lebih memilih berdiam diri di rumah bersama sang istri.
"Hum? Ada apa?" sahut Jiwo. Saat ini mereka lagi ngumpul bareng di ruang tengah.
"Mister sih pake cara apa? Kok isi celananya bisa gede dan panjang gitu?" tanya Arum dengan wajah polosnya, tapi sukses membuat semua istri Jiwo terkejut termasuk Jiwo. Bahkan pria itu langsung terkekeh diberi pertanyaan seperti itu.
"Astaga, Arum! Pertanyaanmu terlalu jujur," ungkap Alifa takjub.
"Ya nggak apa apa, bukankah lebih baik jujur ya?" ucap Arum membela diri.
"Tapi kan bisa pake basa basi dulu gitu, nggak langsung ke intinya."
"Nggak apa apa kok, Rum, aku juga penasaran," bela Aluna. "Secara Mister kan bukan orang dari negara amerika, jadi wajar dong kalau penasaran, kenapa bisa segede itu?"
"Iya, kalian ngerasaain nggak sih pas masuk, kayaknya penuh banget sampai mentok, tapi nggak bikin sakit," timpal Anum.
Alifa langsung menepuk keningnya sendiri. "Astaga! Kalian ini. Jangan jangan yang lain ada yang penasaran juga."
"Udah mending kamu diem, kita tunggu jawaban dari Mister. Orang udah ditanyakan juga, kita jadi penasaran jawabannya bagaimana," timpal Aziza.
Jiwo masih terkekeh melihat perdebatan istrinya. "Astaga! Kalian ini, menggemaskan banget. Ya nggak diapa apaain, udah ukurannya segitu."
"Masa nggak diapa apain bisa gede banget?" ucap Adiba tak percaya.
"Serius. Cuma dari jaman sekolah aku kalau tidur memang nggak suka pakai celana. Kata orang tua jaman dulu sih gitu, jangan keseringan pakai celana ketat dan dipijat pelan pelan tapi jangan sampai keluar."
"Wah! Mister dapat ilmu darimana itu?"
"Ya nggak sengaja dengar dari bapaknya temen sekolahku dulu."
"Mister, boleh nggak aku sekarang ukur panjangnya berapa? Biar pasti."
"Astaga!"
...@@@@@@...