MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Kena Deh


Sial, itulah yang Bejo dan dua temannya rasakan saat ini. Bagaimana tidak merasa sial? Baru satu hari sampai di kampung Jiwo dan bersembunyi di tempat yang menurutnya aman, tapi ternyata keberadaan mereka justru cepat diketahui oleh orang yang berhubungan langsung dengan para wanita yang mereka cari. Benar benar kejutan yang tidak pernah diinginkan ketiga pria itu. Sudah pasti tertangkapnya Bejo akan berimbas buruk pada sang bos nantinya.


Bejo benar benar dibuat tidak berkutik saat ini. Begitu juga dengan dua orang lainnya. Mereka pasrah saja digiring beberapa warga untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Dengan tangan terikat kencang mereka digiring menuju ke sebuah rumah sesuai permintaan pria yang memimpin penangkapan mereka.


Awalnya Bejo pikir, mereka akan langsung dibawa ke kantor polisi, tapi perkiraan mereka ternyata salah. Bejo dan yang lainnya dibawa ke sebuah rumah yang terlihat mewah. Entah rumah siapa, Bejo tidak tahu. Yang dia tahu malam ini sudah dipastikan dia akan berakhir di penjara.


"Loh? Pak Adit, Pak Haji Agus, Jiwo, ini ada apa? Kok datang rame rame?" tanya si pemilik rumah begitu dia membuka pintu dan melihat banyak orang dihadapan rumahnya dan tiga diantaranya tangan mereka terikat.


"Maaf, Pak Lurah, malam malam mengganggu, Maliknya ada?" tanya Jiwo.


"Malik? Ada, kamu ada perlu sama dia?"


"Gini, Pak Lurah, bagaimana kalau kita masuk dulu? Biar enak ceritanya," usul Pak Adit, kepala Rt di komplek tempat tinggal Jiwo.


"Ah iya, Maaf. Saking kagetnya sampai lupa mempersilakan kalian masuk," balas Pak Lurah merasa tak enak hati. Pak Lurah lantas mempersilakan semua tamunya masuk meski ada yang tidak kebagian kursi. Sementara dari arah dalam, istri Pak Lurah juga sama terkejutnya melihat tamu yang datang.


"Bu, tolong panggilkan Malik! Ini, ada yang mencarinya," perintah Pak Rohim sebelum sang istri banyak melempar pertanyaan karena merasa heran. Istri Pak Lurah mendengus kepada sang suami tapi dia tetap melaksanakan perintah suaminya.


Tak lama kemudian Malik dan Titin keluar kamar setelah dipanggil sang ibu. Mereka langsung menuju ruang tamu dengan banyak tanya dalam pikirannya. Betapa terkejutnya Malik dan Titin saat melihat siapa tamu yang datang. Keduanya semakin dibuat terkejut saat mata mereka melihat pria yang mereka kenal dengan tangan terikat.


"Nah, sudah ada Malik, sekarang jelaskan, Wo, kenapa kamu mencarinya?" tanya Pak Lurah langsung ke intinya. Nampaknya dia sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi.


"Ini ada apa sih, Pak? Kok rame rame gini?" tanya Malik, meski hatinya sedikit gusar karena pria yang dia kenal sekarang ada di rumahnya dengan tangan terikat. Banyak pertanyaan yang kini bermunculan dalam pikiran Malik dan Titin saat ini.


"Jawabannya ada pada Jiwo, katanya dia kesini ingin ketemu sama kamu," balas Pak Lurah. Sontak saja tatapan mata Malik langsung ke arah pria yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Gini loh, Pak Lurah, sebenarnya saya mau tanya sama Malik. Ada hubungan apa Malik dengan pria ini?" tanya Jiwo dengan santainya sambil menunjuk ke arah Bejo. Tentu saja pertanyaan Jiwo membuat semua yang ada disana pada terkejut.


"Gini loh, Pak Lurah, tadi sore saya melihat Malik ngobrol sama orang ini. Mereka terlihat sangat akrab. Bahkan mereka saling tuker nomer ponsel, iya, kan, Lik?" jelas Jiwo lagi, dan penjelasan Jiwo barusan tentu saja langsung membuat suasana ruang tamu Pak Lurah sedikit riuh dengan berbagai dugaan dan pertanyaan.


"Terus? Mereka bertiga itu sebenarnya siapa, Wo? Kok sampe di ikat kayak penjahat?"


"Mereka memang penjahat, Pak Lurah," jawab salah satu warga.


"Penjahat, maksudnya?"


Jiwo, Pak Rt dan beberapa warga langsung membongkar kedok Bejo dan kawan kawan. Mereka menceritakan tentang kejadian beberapa hari kemarin di rumah Jiwo serta alasan mereka masih mendatangi kampung Jiwo dan bersembunyi di kotrakan Haji Agus.


Yang paling terkejut dengan berita itu adalah Titin dan Malik. Mereka tidak menyangka, orang yang akan menjadi bukti tentang istri istri Jiwo ternyata adalah sindikat perdagangan wanita.


"Sekarang giliran Malik yang menjelaskan, Pak Lurah. Ada hubungan apa Malik dengan orang ini?" tanya Jiwo agak mendesak. Senyum sinisnya tersungging saat mata Jiwo beradu dengan tatapan Malik yang tajam.


"Iya, Pak. Kita penasaran, ada hubungan apa Malik dengan para penjahat ini?" salah satu warga ikut menimpali.


Kini sorotan tajam juga dilayangkan Pak Lurah kepada anaknya. "Jelaskan, Lik? Ada hubungan apa kamu sama tiga penjahat itu?"


Malik tertegun. Mulutnya malah terbungkam dengan tatapan seperti orang bingung. Rasa khawatir langsung menyergap dihatinya.


"Bagaimana ini? Kenapa malah jadi kacau begini?" gumam Malik dalam hati.


...@@@@@@...