MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Kekaguman Jiwo


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari salah aatu kamar di sebuah rumah. Penghuni kamar yang ada di dalamya pun menyahut dan menyuruhnya masuk saja karena kamar tidak di kunci.


"Emak, ada apa, Mak?" tanya seorang pria yang terlihat sedang sibuk dengan dua buku berukuran tebal. Ada keterkejutan yang terlihat dari wajah pria itu saat seorang wanita yang telah melahirkanya masuk ke kamarnya.


Emak duduk di tepi kasur lalu dia menyerahkan bungkusan yang dia sembunyikan di dalam saku dasternya. Si anak sontak kaget saat Emak menaruh bungkusan di hadapan anaknya.


"Apa ini, Mak?" tanya si anak lagi.


"Buat tambahan modal untuk dagang istri istri kamu," ucap Emak.


"Astaga, Emak! Nggak perlu, uangku cukup kok, Mak. Itu buat pegangan Emak aja," tolak Jiwo.


"Terima aja, Wo. Emak juga masih punya uang simpanan. Uangmu gunakan saja untuk istri istrimu."


"Tapi, Mak ..."


"Udah, gunakan saja," ucap Emak kemudian dia langsung berdiri dan beranjak keluar dari kamar anaknya. Mau tidak mau, Jiwo menerima uang itu dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Dibukanya bungkusan yang Emak kasih dan betapa terkejutnya Jiwo saat melihat uang yang jumlahnya lumayan banyak.


"Astaga, Emak nyimpen uang sebanyak ini di rumah?" gumam Jiwo dalam hati. Lalu dia menghitung uang itu.


Wajar jika Emak mempunyai tabungan yang lumayan banyak. Semenjak kakak dan adik Jiwo menikah dan hidup terpisah, keuangan Emak bisa dibilang lumayan stabil. Dua anaknya tiap bulan selalu kirim uang. Kebutuhan listrik, air dan yang lainnya, Jiwo yang turun tangan. Emak hanya keluar uang untuk urusan dapur.


Jiwo lantas memasukkan uang dari Emak ke dalam tas yang akan dia bawa buat belanja besok. Setelah urusan keuangan selesai, Jiwo merapikan semuanya, dan begitu selesai, dia bangkit terus keluar dari kamarnya.


"Mister mau makan?" tanya salah satu istrinya. Jiwo mengangguk lalu melangkah menuju meja makan. Salah satu istrinya mengikuti Jiwo untuk menemainya makan.


Dalam hati Jiwo sedang merasa bangga bercampur heran. Entah sejak kapan mereka merencanakan semuanya, tapi yang jelas, setiap yang berhubungan dengan Jiwo selalu dilakukan secara bergantian dan terjadwal dengan baik, termasuk yang menemani Jiwo makan. Semu istrinya tidak pernah berebut dan tidak pernah cari muka. Mereka melakukannya dengan suka rela.


Seandainya Jiwo tahu, mereka melakukan jadwal tersebut sebagai ungkapan rasa syukur mereka karena kehidupan mereka sungguh menjadi lebih baik sejak menjadi istri Jiwo. Mereka sangat bersyukur karena terlepas dari kesusahan dan kesengsaraan selama di pengungsian dan juga menjadi korban penculikan.


"Mister lagi mikirin apa?" sebuah suara mengejutkan Jiwo yang sedang melamun. Pria itu lantas menoleh dan mengulas senyum.


"Nggak mikirin apa apa," balas Jiwo sambil menatap salah satu istrinya yang sekarang duduk di kursi sebelahnya. "Kamu kenapa keluar? Nggak sama yang lain?"


Sang istri yang diberi nama panggilan Arin pun tersenyum tipis. "Pengin disini aja, nemenin Mister. Kali aja Mister butuh temen ngobrol."


Lagi lagi sebelum menjawab pertanyaan, senyum ceria Jiwo layangkan untuk sang istri. "Emang pengin ngobrol apaan, Dek?"


"Ya ngobrol apa aja. Lagian kita jarang kan ngobrol berdua," balas Arin. "Oh iya, Mister. Tadi tiga orang tamu itu siapa sih, Mister? Kok wajah mereka nggak bersahabat banget?"


Jiwo sontak tersenyum masam. Lalu dia menceritakan siapa tiga orang tamu itu berikut dengan kisahnya. Awalnya Arin sempat terkejut saat mendengar kalau wanita muda yang menjadi tamu Jiwo adalah mantan kekasihnya. Tapi tak lama kemudian, Arin malah terkekeh karena menurut dia, tiga orang tamunya sangat aneh.


"Hahaha ... kok bisa ya, mereka yang salah duluan malah mereka yang benci sama Mister?" ucap Arin.


"Aneh, kan? Aku sendiri juga heran. Tapi ya sudahlah, aku sih nggak peduli mereka mau bagaimana. Males ngurusin orang seperti mereka."


"Hahaha ... Iya, Mister. Bener! Mending cuek aja sama orang orang kayak gitu."


Bukan hanya Jiwo yang menceritakan masa lalunya, Arin pun sama. Dia menceritakan kisah hidupnya termasuk saat saat dia pacaran. Tapi yang Arin ceritakan bagian bagian yang lucu saja agar tidak merasa sedih karena harus teringat akan keluarganya yang entah dimana. Hingga tanpa terasa waktu menunjukkan semakin malam dan mereka pun terpaksa mengakhiri obrolan mereka dan bersama beranjak masuk ke dalam rumah.


"Mister?"


"Hum? Ada apa?"


"Malam ini, Mister sedang ingin berhubungan suami istri nggak?"


...@@@@@@...