
Kedatangan tamu tamu Jiwo dari berbagai stasiun televisi, tentu saja menjadi perhatian lebih para tetangga Jiwo yang menyaksikannya. Apa lagi tamu tamu Jiwo selalu bertanya ke tetangga mengenai alamat rumah pria yang sedang viral tersebut. Dengan suka rela mereka menunjukkan letak rumah Jiwo yang memang berada di ujung jalan. Bahkan para tetangga juga pada menawarkan diri jika para tamu yang mencari Jiwo membutuhkan informasi tentang orang yang bersangkutan. Biar bagaimanapun juga, menjadi saksi pernikahan Jiwo yang sekarang menjadi fenomenal.
Ada yang suka, ada juga yang tidak suka. Itulah adalah dua sisi hal yang wajar dalam roda kehidupan. Begitu juga dengan apa yang dialami Jiwo. Komentar yang berupa kritikan pedas dan juga nyinyiran masih mengalir meski tak sebanyak di awal berita. Mereka selalu mencari celah untuk membenarkan pendapatnya.
Dan orang yang tingkat kebenciannya kepada Jiwo yang terlihat sangat menonjol adalah sepasang suami istri, yaitu Malik dan Titin. Kini
keduanya semakin panas mendengar berita terbaru tentang orang yang mereka benci. Apa lagi mereka menyaksikan sendiri, orang berseragam sebuah stasiun televisi mencari rumah Jiwo, saat Malik dan Titin melewati komplek tempat tinggal Jiwo menuju rumah Titin.
"Gila yah! Mas Jiwo semakin terkenal aja," ucap Edi, adikya Titin, saat dirinya melihat berita tentang Jiwo ditelevisi. Dari ucapan yang terlontar oleh pemuda itu, tiga orang yang membenci Jiwo langsung melirik Edi dengan lirikan tajam.
"Semakin terkenal tapi semakin sombong. Baru terkenal segitu aja, sampai nggak jualan di pasar. Kayak banyak duit aja," ucap Malik penuh dengan makian.
"Ya hak hak dia lah, mau jualan apa nggak? Emang ada sangkut pautnya dengan Mas Malik?" balas Edi santai meski hatinya agak dongkol. Edi memang tidak pernah suka dengan suami kakaknya tersebut. Sifat dan tingkahnya bikin kesel. Kalau bukan karena rasa hormat, sudah pasti Edi akan nonjok itu orang.
"Kamu loh, kalau ngomong, apa yang dikatakan mas malik kan memang ada benarnya," bela Titin. Sedangkan Darmi, hanya terdiam. Tidak mau mengomentari apapun. Dia agak trauma ketika sang suami mendiamkannya selama hampir satu minggu. Maka itu Darmi lebih memilih memendam rasa bencinya kepada Jiwo dan Emak.
"Ya kan aku juga ngomong benar. Lagian ya usil amat ngurusin hidup orang lain. Pasti orang yang membenci Jiwo itu hidupya tidak pernah bahagia. Bawaanya benci mulu, dikit dikit hatinya panas," sindir Edi.
"Hahaha ... panas? Nggak lah, hatiku adem bro," kilah Malik dengan gaya dibuat sesantai mungkin. Padahal hatinya memang panas. Apa lagi mendengar ucapan adik iparnya, semakin panaslah yang Malik rasakan.
"Emang aku lagi ngomongin Mas Malik? Orang aku lagi ngomongin yang posting. Nggak ada petir, nggak ada hujan, kok ya iseng banget posting tentang Mas jiwo kayak gitu. Kayak nggak ada kerjaan aja. Otaknya nggak dipake. Dewasa usianya doang. pengecut, beraninya pake akun palsu."
Dada Malik semakin panas mendengar makian adik iparnya. Dia segera berdiri dengan mata yang berkilat penuh amarah. "Heh bocah! Siapa juga yang nggak ada kerjaan. Otakku juga dipake buat mikir nyari duit. Aku juga bukan pengecut, ngapain aku posting kayak gitu!"
Edi langsung terperangah melihat kemarahan kakak iparnya. Begitu juga dengan Darmi dan Titin. Namun Edi langsung tersenyum sinis.
Sekarang gantian Malik yang terkesiap. Karena amarahnya yang meluap begitu saja, dia hampir saja membuka kedoknya sendiri. Tapi sayang sekali, Edi sudah curiga dengan sikapnya.
"Hati hati loh, Mas. Jangan sampai tiba tiba ada polisi yang datang menangkap Mas Malik, hiiih," ucap Edi lagi dan dia langsung saja pergi menuju kamarnya. Sedangkan Malik benar benar semakin merasa tak karuan dalam dadanya.
Sementara itu, di rumah Jiwo juga sedang terjadi keributan. Bukan keributan sebuah pertengkaran, melainkan ributnya para istri yang sedang menagih suaminya untuk segera memberi tahu jadwal tidur bergilirnya.
"Ayolah, Mister, kasih tahu kami rencana Mister. Biar nanti malam bisa langsung praktek," rengek Alana.
"Iya, Mister, nggak usah berbelit belit deh. Semua sudah nggak rapet ini, kan?" sambung Arum.
"Astaga! Kalian ini benar benar ya, menggemaskan," ucap Jiwo sambil bangkit dari tempat duduknya. "Tunggu sebentar."
Jiwo melangkah menuju kamarnya dan tak lama kemudian dia kembali sambil membawa dua lembar kertas dan diserahkannya kepada sang istri.
"Ini apa, Mister?"
"Itu jadwal tidur bergilir. Ada dua pilihan yang harus kalian sepakati bersama."
"Dua pilihan? Apa saja?"
"Aku akan main dengan sistem dua ronde. Pilihannya, kalian mau pake sistem bergantian atau pake sistem main bareng dua lawan satu, gimana?"
...@@@@@...