
"Jangan jadi pengecut! Pertanggung jawabkan semua perbuatanmu!" hardik Pak Lurah sambil menarik kerah baju anaknya dan menyeretnya keluar.
Malik tergagap, dia sekarang tidak bisa berbuat apa apa. Senakal nakalnya anak itu, Malik masih bisa takut dengan kemarahan orang tuanya. Titin pun tak kalah takutnya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, Malik dan Titin merasa semuanya tidak akan baik baik saja.
Orang tua mana yang tidak murka jika anaknya berkelakuan buruk? Begitu juga apa yang dirasakan Pak lurah. Dia berusaha keras menjaga nama baiknya di akhir sisa jabatannya sebagai lurah, tapi nama baiknya hancur karena ulah anak dan menantunya. Dulu mungkin Malik dan Titin melakukan kesalahan karena hamil sebelum nikah, dan Pak Lurah bisa meredamnya. Namun untuk kali ini, anak dan menantunya sudah sangat keterlaluan dimatanya.
Malik terus diseret hingga dia terhuyung di hadapan Jiwo dan orang orang. Malik celingukan dengan menahan malu, benci dan kesal menjadi satu. Semua orang menatap heran ke arah pria satu anak itu. Sedangkan Jiwo sudah sangat ingin menghajar pria pengecut yang sedang celingukan di hadapannya.
"Terserah kamu, Wo, mau kamu apakan dia, aku pasrah aja. Mau kamu laporin polisi juga silakan," ucap Pak Lurah dan dia memilih pergi daripada nanti bertambah malu jika anaknya melawan.
Sejujurnya Jiwo merasa tidak enak hati kepada Pak Lurah. Biar bagaimanapun, Pak Lurah adalah sosok yang baik dimata warganya. Tapi Jiwo juga harus bertindak tegas kepada anaknya yang selalu saja mengusik hidupnya. Kali ini, kesalahan Malik sungguh fatal dimata Jiwo.
"Maksud kamu apa?" tanya Jiwo berusaha menahan emosinya. "Maksud kamu apa, bikin postingan kayak gitu?"
Malik hanya bisa celingukan. Dia sama sekali tidak berani menatap Jiwo. "Nggak ada maksud apa apa? Iseng aja," kilah Malik berusaha tenang.
"Cih! Iseng? Kamu sebenarnya cewek apa cowok sih, Lik? Kamu tuh harusnya pake daster aja, Lik, nggak pantes pake celana!"
"Kamu ..."
"Apa!" bentak Jiwo hingga mulut Malik kembali terbungkam. "Aku apa? Hah! Aku gimana?"
"Mister," ucap Arin sambil memegang lengan Jiwo agar mau meredam emosinya. Jiwo hanya menoleh sekilas ke arah istrinya, lalu kembali menatap tajam pria yang menjadi tersangka utama.
"Mas Malik, apa kamu nggak malu, berbuat kayak gitu? Apa kamu nggak mikiran perasaan keluarga kamu?" tanya seorang pria pemilik ruko di sebelah Malik.
"Dia tuh pria yang nggak punya malu, Pak. Dia juga nggak punya otak, jadi nggak bisa mikir," balas Jiwo pedas, dan Malik langsung mendelik ke arah Jiwo. "Apa, melotot! Nantangin? Ayok, duel! Pengecut kayak kamu mana berani melawan! Dikiranya aku takut apa gimana? Hah!"
"Harusnya! Dia dikasih bogem biar kapok, tapi manusia seperti dia mana mungkin bisa kapok! Hati dan otaknya sudah terlalu busuk, jadi mana mungkin ada kata kapok.Yang ada akan terus bikin ulah sampai dia mampus."
"Hah! Bener, Mas, kalau hati udah busuk memang susah buat dibenerin," timpal seorang ibu yang ikut menyaksikan kejadian itu.
"Dengar ya bapak dan ibu sekalian, suami istri ini, dari dulu selalu mengusik hidup saya, menghina saya, memaki saya. Dimanapun kita bertemu, mereka berdua kompak merendahkan saya. Mungkin karena saya hanya diam, dipikirnya saya takut sama mereka. Nggak! Aku nggak takut sama sekali. Sekarang, lihat! Aku baru berbuat begini saja, mereka diam kayak patung. Tapi nanti dibelakang saya, semua kebencian mereka meledak. Wajar, kan kalau saya menyuruh pria ini memakai daster?"
"Owalah, kok ada ya manusia kayak gitu."
"Edan! Aku ya pernah membenci seseorang, tapi nggak segitunya juga."
"Itu sih keterlaluan! Harusnya mereka dibikin perkedel aja dari dulu!"
Berbagai umpatan kasar keluar dari mulut orang orang yang menyaksikan kejadian itu. Siapapun tidak pernah menyangka kalau Malik yang terkenal ramah, memiliki kebencian yang mendalam kepada seseorang.
"Karena bingung dengan cara apa lagi untuk menghina dan merendahkan saya, pria pengecut ini bikin postingan dan memfitnah saya habis habisan, Pak, Bu, Mas. Entah kenapa Malik dan istrinya, sangat nggak suka lihat aku bahagia, sampe sempat sempatnya bikin postingan seperti itu."
"Tapi gara gara postingan Mas Malik, kamu jadi untung banyak kan? Harusnya kamu itu ngucapin makasih pada kita, bukannya bikin malu kayak gini," ucap Titin tiba tiba.
"Apa! Hahaha ..." Jiwo sontak saja terbahak, meski dia heran dengan sikap Titin yang sepertinya kehilangan rasa malu. "Kalian butuh ucapan terima kasih dari saya? Hahaha ... Lihat kan? Betapa tidak tahu malunya mereka?"
"Ya ampun, Mbak, mbak ... ternyata gila hormat ya kalian, astaga!" cibir salah satu warga dan disahut dengan berbagai cibiran warga yang lainnya.
Jiwo menyeringai sambil menatap tajam ke arah Malik. "Ingat, saya akan proses perbuatan kalian! Cam kan itu!"
...@@@@@...