
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara pintu sedang diketuk. Tiga pria berbadan tegap yang ada di dalam kamar rumah kontrakan merasa terkejut saat mendengarnya. Mereka merasa aneh saat pintu rumah yang mereka kontrak ada yang mengetuknya. Apa mungkin ada tamu? Siapa? Beberapa pertanyaan sekilas muncul dalam benak mereka. Namun dari pada ketiga pria itu larut dalam rasa penasaran, salah satu dari mereka memilih berdiri dan beranjak menuju arah pintu.
"Iya, Pak, ada apa?" tanya pria berkepala plontos saat pintu dibuka dan matanya menangkap sosok yang dia kenal sebagai pemilik rumah kontrakan berdiri di depan pintu. Yang membuat pria berkepala plontos itu terkejut, si pemilik kontrakan datang bersama beberapa orang yang menatap si plontos dengan tatapan tidak ramah.
"Maaf, Pak, mengganggu, ada yang ingin saya tanyakan sama Bapak, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Pak Haji, si pemilik kontrakan.
Kening si plontos berkerut. Nampak dia sedang berpikir sambil matanya memandang beberapa orang yang ada dihadapan rumahnya. Berbagai pertanyaan kembali muncul dalam benaknya.
"Baiklah, Pak. Kita bicara di mana? Di dalam sini apa di rumah Bapak?" tanya si plontos menyanggupi.
"Di dalam sini aja," pinta Pak Haji. Si plontos akhirnya mempersilakan semuanya masuk.
Tidak ada kursi satu pun dalam kontrakan itu. Bahkan tikar pun juga tidak ada. Pak Haji dan yang lain duduk di atas lantai keramik. Memang si pemilik kontrakan tidak memfasilitasi barang lain selain tempat tidur dan lemari di setiap kontrakannnya. Hal itu memang umum dilakukan oleh setiap pemilik kontrakan.
Karena merasa penasaran, dua orang yang ada di dalam kamar memutuskan keluar dan melihat siapa yang datang. Betapa terkejutnya mereka saat di ruang tamu kontrakannya sudah ada pemilik kontrakan dan beberapa pria duduk di dalam rumah yang mereka sewa. Entah mungkin lupa atau bagaimana ketiga pria yang menghuni kontrakan tersebut tidak mengenali salah satu tamunya yang memandang mereka dengan sinis.
Dialah Jiwo. Sedari tadi pria itu menahan amarahnya yang bergejolak agar rencana yang dia susun berjalan dengan lancar. Dia tidak ingin emosi menghancurkan segalanya. Maka dari itu, Jiwo memilih bersikap tenang sama seperti yang lainnya. Yang penting bagi Jiwo satu persatu biang masalah akan segera dia selesaikan malam ini juga demi istri istri tersayang.
"Ini ada apa ya, Pak?" tanya Bejo yang ikutan duduk bersama yang lain. Meski wajah Bejo dan kedua rekannya terlihat sangar tapi mereka harus bisa menutupi jati diri mereka yang sebenarnya. Maka itu mereka harus bisa bersikap sopan.
"Gini, saya cuma mau tanya, sebenarnya apa pekerjaan kalian? Dan tujuan kalian kesini sebenarnya mau apa?" tanya Pak Haji.
"Loh, Pak, bukankah kami sudah bilang. Kami adalah pedagang dan kami kesini mencari tempat untuk memperluas usaha kami, Pak," jawab Bejo dengan tenang meski rasa heran dan was was menyertai dalam hati.
"Yakin kalian hanya pedagang?" kini Jiwo yang ambil suara membuat Bejo dan kedua rekannya menatap ke arah pria itu dengan tatapan heran dan penuh tanya.
"Oh mengembangkan usaha? Bukan mau menangkap tiga belas wanita yang kabur dari tangan kalian?" tanya Jiwo disertai sindiran.
Bejo dan kedua rekannnya sontak terkejut mendengarnya dan langsung memandang Jiwo dengan tatapan tajam. Dalam benak mereka bertanya, dari mana orang itu tahu tujuan mereka kesini mau apa?
"Hahaha ..." tawa Bejo pecah saat itu juga. Guna menutupi kegugupannya, Bejo dan dua rekannya terpaksa tertawa meski terdengar sangat hambar. "Maaf, sepertinya anda salah orang."
Jiwo tersenyum sinis. "Salah orang? Sayangnya ingatan saya masih kuat, saat dua istri saya dipaksa masuk ke dalam mobil. Oh iya, saya juga masih menyimpan rekaman perbuatan kalian loh, mau lihat?"
Deg!
Senyum Bejo langsung surut. Begitu juga dua temannya. Di tatapnya wajah Jiwo dengan tajam sembari mengingat kejadian yang Jiwo katakan tadi. Betapa terkejutnya mereka saat baru mengingat wajah Jiwo. Raut panik langsung terlihat jelas di wajah ketiganya.
"Sudah ingat siapa saya?" tanya Jiwo dengan senyum kemenangan.
"Sial!" pekik Bejo dan dia hendak berontak, tapi Jiwo dan rombongan langsung bergerak cepat mengamankan mereka. Meski sempat terjadi perkelahian, namun jumlah warga yang lebih banyak membuat Bejo dan rekannya kalah telak dan menyerah.
"Kita langsung saja, bawa mereka ke kantor polisi, Wo," usul salah satu warga.
"Iya, Wo, benar," sahut Pak Rt dan juga yang lainnya.
"Tenang, aku memang sudah memikirkannya. Tapi kita bawa mereka dulu ke rumah seseorang buat kejutan."
"Kejutan?"
...@@@@@@...