
"Mas, bisa minta tolong antar aku ke ruang ganti nggak?"
Jiwo sedikit terkejut lalu dia menatap bayu yang berdiri di sampingnya. Bayu hanya menangkat kedua bahunya. Kemudian Jiwo kembali menatap wanita yang sedang meringis kesakitan.
"Baiklah!"
Dalam hati, wanita itu bersorak. "Yess!"
Saat Jiwo hendak bergerak mengulurkan tangannya.
"STOP!"
Sebuah suara kencang seorang wanita dari arah belakang Jiwo jongkok langsung menghentikan gerak tangannya, Jiwo dan kedua orang yang ada di dekatnya langsung menoleh ke arah sumber suara, begitu juga dengan pengunjung yang lain.
"Astaga! Istri istriku!" pekik Jiwo begitu dia tahu siapa yang berteriak. Disana, lima istri Jiwo sudah berdiri dengan tatapan mata yang sangat tajam. Anisa, Andin, Alana, Anum dan Alifa segera mendekat ke arah suami yang sedang berjongkok di depan wanita yang sedang pura pura merintih kesakitan.
"Mister lagi ngapain? Berjongkok di depan wanita lain?" tanya Anisa dengan tatapan yang sangat menakutkan. Bayu yang ada di sebelah Jiwo sampai bergidig ngeri melihatnya.
"Jangan salah paham, Dek. Aku cuma mau nolongin dia, kakinya terkilir," jawab Jiwo sedikit merasa takut.
"Itu karena keinginan Mister?" cerca Andin yang tatapannya tak kalah mengerikannya dari Anisa.
"Ini Mbaknya yang minta ditolongin oleh Mister," entah apa tujuan Bayu menjawab seperti itu, tapi ucapannya sukses membuat kelima istri Jiwo beralih menatap tajam wanita yang sedang memegangi pergelangan kakinya.
"Kenapa Mister mau nolongin? Yang lain kan ada, kayak pria sebelah Mister itu?" Alana ikut besuara.
"Dia nggak mau, maunya di tolong sama Mister," jawab Bayu lagi membuat wanita yang sedang pura pura kesakitan itu melotot ke arahnya.
"Minggir! Biar aku yang nolongin," ucap Anisa langsung berjongkok di dekat suaminya hingga Jiwo dan Bayu terpaksa bergeser. "ini yang sakit?" Anisa langsung memegang pergelangan kaki wanita itu dengan kencang.
"istri istri kamu kenapa mengerikan banget, Wo?" bisik Bayu. Jiwo menatap Bayu sambil cengengesan.
"Aduh duh duh, sakit, Mbak," rintih wanita itu. Dia kesakitan karena cengkraman tangan Anisa bukan karena terkilir.
"Tenang, Mbak. Dia bukan hanya ahli menyembuhkan tulang yang patah, tapi juga ahli mematahkan tulang yang tersambung," ucap Anum dengan santainya.
Wanita itu sontak saja menegang dan ketakutan. "Udah, Mbak, nggak usah, nggak apa apa kok. Sepertinya kaki aku udah sembuh."
"Loh, belum dipijat kok udah sembuh?" tanya Anisa.
"Iya, Mbak, udah sembuh dengan sendirinya," balas Wanita itu dengan menarik kakinya secara paksa hingga terlepas dari cengkraman Anisa. Wanita itu langsung berdiri dan berjalan cepat menuju ruang ganti. Jiwo dan Bayu melongo melihatnya.
"Bener kan firasatku, pasti dia pengin godain kamu, Wo," ucap Bayu antusias.
"Mana aku tahu," balas Jiwo lalu dia menatap istrinya yang sedang menuntut penjelasan. "Sumpah, Dek! Aku nggak tahu apa apa."
"Makanya, aku udah firasat, pasti hal kayak gini bakalan terjadi," ucap Anisa.
"Kalian ngikutin aku?" tanya Jiwo dengan wajah terkejut.
"Iya lah, kenapa? Mister nggak suka?" balas Andin.
"Gimana ceritanya? Terus kalian bisa sampai sini naik apa?"
Anisa lantas menceritakannya cara mereka mengikuti suaminya. Tadi, begitu Jiwo berangkat mau fitnes, Anisa langsung saja menyambar kunci motor roda tiga milik Jiwo dan mengendarainya mengikuti motor suaminya. Begitu melihat Jiwo sampai di tempat tujuan, Anisa dan rombongan berhenti di deretan gerobag pedagang cemilan yang letaknya tak jauh dari tempat kebugaran. Mereka memilih berwisata kuliner terlebih dahulu. Setelah merasa cukup kenyang, mereka segera memarkirkan kendarannya dan masuk tepat disaat Jiwo hendak melakukan pertolongan.
"Ya ampun! Kalian ini yah? Benar benar ..." ucap Jiwo merasa gemas dengan tingkah istrinya. "Ya udah, sekarang kita pulang aja, ayok?"
"Loh, kok pulang? Katanya pengin olahraga?" tanya Andin.
"Pasti karena ada kita, jadi Mister nggak bisa bebas cuci mata," tuduh Anum.
"Astaga! Bukan begitu," bantah Jiwo.
"Terus ngapain ngajak kita pulang? Sedangkan Mister sendiri belum lama datang?" cerca Alana.
Jiwo seketika terbungkam sembari menggaruk kepalanya dan bingung hendak memberi jawaban seperti apa. "Terus kalau aku olah raga, kalian mau ngapain?"
"Ya kami mau ikut olahraga juga? Ya ngga?" balas Anisa sembari meminta kekompakan pada istri yang lain.
"Iya, dong, kita ikut olahraga juga," timpal Alifa.
"Dengan memakai daster?"
"Emang apa salahnya? Daster juga pakaian."
"Astaga! Baiklah terserah kalian," ucap Jiwo sambil menoleh ke arah Bayu. "Bayarannya jadiin satu dengan punyaku ya, Bay?"
"Beres."
"Yeeehh!" sorak istri istri Jiwo serentak dan sangat mengundang perhatian.
"Mas," panggil Andin kepada Bayu. "Ajarin kita yah? Kita belum terbiasa olahraga di tempat seperti ini."
Sontak saja Jiwo langsung mendelik. "Apa apaan! Orang suaminya aja bisa, ngapain minta diajarin pria lain? Nggak bisa! Sini, aku ngajarin."
...@@@@@...