
"Beres, Bos. Kita disini punya orang yang siap membantu mengusir para wanita itu."
"Siap, Bos."
"Sipp!"
Klik!
Sambungan telfon pun berakhir. Senyum Bejo terukir lebar. Dalam benaknya terbayang bayaran yang akan dia terima jika rencananya berhasil dia jalankan. Kedua rekannya juga turut dalam kesenangan yang Bejo rasakan. Kini Bejo dan ketiganya sengaja mengontrak di rumah petak yang jaraknya cukup dekat dengan letak Rw Jiwo berada.
"Lebih baik kita pulang dulu, kita ambil beberapa pakaian," usul Bejo pada dua rekannya.
"Naik Bis?"
"Iya, lah, kita ambil mobil lagi. Mobil lama biarkan saja di tahan orang orang kampung. Kita ambil juga percuma. Tidak aman bagi kita."
"Baiklah, kita berangkat sekarang."
Ketiga pria berbadan tegap itu segera saja beranjak keluar dari kontrakannya. Bermodalkan tanya tanya ke warga sekitar, akhirnya mereka tahu cara pulang naik Bis dari kota ini menuju ke kotanya yang berjarak sekitar lima jam.
Sementara itu waktu terus merangkak maju. Tanpa terasa kini sore telah menjelang. Terlihat dari halaman sebuah rumah, nampak Jiwo baru saja memarkirkan motor roda tiganya. Sudah menjadi kebiasaan, setiap Jiwo pulang berdagang, selalu disambut oleh para istri dengan meriah.
Jiwo hanya bisa mengulas senyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dia lantas masuk ke dalam rumah, meninggalkan istri istrinya yang sedang sibuk memberesi barang dagangannya.
"Laris, Wo?" tanya Emak yang sedang duduk di ruang tamu bersama istri Jiwo yang lain. Pria itu lantas mendaratkan pantatnya di salah satu kursi yang ada disana.
"Alhamdulillah, Mak. laku," jawab Jiwo. Matanya melirik Alana yang duduk disebelah Emak dan mereka saling melempar senyum. "Kamu badannya udah enakan?"
Alana yang dilempar pertanyaan agak kaget sejenak, namun tak lama kemudian dia mengulas senyum dan maksud dengan apa yang Jiwo tanyakan. "Enak dong, Mister. Segar banget malah."
"Syukurlah," ucap Jiwo dengan pandangan yang penuh arti. "Gimana tadi di rumah? Aman?"
"Aman, Mister," balas Anisa.
"Ya udah aku masuk ke kamar dulu," Jiwo lantas beranjak menuju kamarnya. Sambil istirahat, Jiwo menghitung sejenak uang hasil penjualan hari ini. Senyum penuh rasa syukur tersungging menghiasi bibirnya.
Setelah istirahat yang cukup, selanjutnya yang Jiwo lakukan adalah mandi, makan dan ngobrol bersama Emak dan para istrinya. Meski kegiatannya hanya seperti itu saja, tapi bagi Jiwo ini sangat menyenangkan. Rumah terasa rame dan hangat.
"Mister," panggil Adiba. "Kenapa Mister nggak buka lapak yang di pasar untuk jualan celana kolornya?"
"Kenapa memangnya?"
"Bener, Mister. Jadi nggak ngandelin Mister keliling saja. Kita juga punya kegiatan. Nggak di rumah mulu," Sambung Aisyah.
"Iya, Wo. Lagian daripada lapak bekas bapakmu dianggurin, mending digunakan oleh mereka," sambung Emak.
"Ya udah kalau memang itu mau kalian, nanti aku pikirkan. Nanti kalau aku libur, kita bahas sama sama, ya?" Dan semua istri Jiwo mengiyakan dengan kompak.
Hingga malam telah beranjak. Setelah selesai ngobrol, Jiwo memilih berdiam diri di kamarnya sambil bermain ponsel. Hingga beberapa saat kemudian, fokusnya terganggu dengan suara ketukan di pintu kamarnya. Jiwo tahu, pasti itu salah satu istrinya yang akan menemaninya tidur.
"Masuk saja, tidak dikunci," ucap Jiwo sedikit berteriak. Tak lama setelah itu pintu terbuka dan seorang wanita masuk sambil memelempar senyum.
"Baru jam delapan, udah mau tidur?" tanya Jiwo lembut sambi duduk bersandar tembok.
"Ya nggak apa apa, menenami Mister lebih awal. Lagian sekarang atau nanti sama saja kan?" jawab sang istri yang diberi nama panggilan Aluna.
"Emang yang lain udah pada tidur?"
"Nggak tahu, tapi mereka udah pada masuk kamar, Ini pintu kamar dikunci ya, Mister?"
Jiwo hanya manggut manggut. Namun beberapa detik kemudian Jiwo dibuat terkejut saat Aluna tiba tiba duduk diantara paha Jiwo dan membelakangi pria itu bersandar bersandar di dadanya. Aluna juga dengan cueknya menarik kedua tangan Jiwo dan melingkarkan dipinggangnya.
"Akhirnya, kita jadi juga kencan di kamar ya, Mister," ucap Aluna dengan wajah ceria. Jiwo yang beberapa saat tadi masih dalam kondisi terkejut akhirnya tersadar juga dan langsung mengulas senyum.
"Ada ada saja kamu, Dek," balas Jiwo sambil mengeratkan pelukan dipinggang Aluna dan manaruh dagunya di pundak wanita itu. "Kamu senang?"
"Senang banget, Mister. Kapan lagi bisa berduaan dengan Mister kayak gini," jawab Aluna antusias.
Mereka larut dalam obrolan yang penuh kehangatan. Jiwo yang tangannya sesekali bergerak dipinggang Aluna merasakan ada yang aneh. Tangan Jiwo mencoba memegang bagian pinggang dan lagi lagi merasa ada yang aneh.
"Dek,"
"Hum? Apa Mister?"
"Kamu tidak memakai segitiga bermuda?"
Aluna bukannya menjawab, tapi dia malah menutup wajahnya lalu menangguk.
"Astaga!"
...@@@@@...