
Bertahun-tahun pun berlalu, hidup Nissa dan Agam di penuhi dengan kebahagiaan dan lancar jaya, perusahaan keduanya semakin maju, sehingga mengukuhkan keluarga mereka menjadi keluarga yang paling berpengaruh di negeri ini, walaupun masalah masih saja menimpa mereka, untuk masalah Herman yang di kirim ke Papua, Herman di tinggalkan di sana hanya satu tahun saja... Itu pun karena permintaan dari Bu Endang yang akan meminta Herman untuk tinggal di kampung halamannya dan menikah dengan wanita desa disana, Herman menikahi janda yang mempunyai anak satu perempuan, dan di desa Herman termasuk ke dalam keluarga yang berkecukupan karena memiliki banyak tanah, dan Herman harus menerima itu semua dengan lapang dada, kalau tidak ingin dirinya di kirim lagi ke Papua, karena tidak menutup kemungkinan Herman akan menganggu Nissa dan Agam, dengan dalih Arka, padahal semua orang tau, yang ada di otak Herman hanya uang dan harta, karena dia tidak ingin hidup susah.
Walaupun Agam dan Nissa sudah tidak muda. Tapi tetap saja selalu ada ulet bulu yang berkeliaran tapi tidak bisa membuat Agam berpaling dari istrinya, Agam bahkan tidak segan-segan untuk melakukan kekerasan Fisik kepada wanita atau pria yang berusaha untuk menganggu kenyamanan keluarganya terutama kenyamanan istrinya...bahkan Agam semakin bucin terhadap Nissa yang menurutnya semakin tua, semakin menggoda iman. ketiga anak Nissa dan Agam, yaitu Raka, Rayyan dan Alisha, sudah dewasa, mereka bertiga sekarang sudah menempuh pendidikan di Universitas ternama di negeri ini, Otak mereka bertiga sangat pintar, sampai- sampai menjadi kebanggaan tersendiri untuk keluarga mereka.
Seperti saat ini ke tiga anak Agam dan Nissa kuliah di tempat yang berbeda, mereka mengambil jurusan yang berbeda pula sesuai keinginannya mereka masing-masing.
Alisha wijaya adalah anak kembar si bungsu di keluarga agam, tangannya sedang sibuk menulis catatan yang di terangkan oleh dosen yang sedang mengajar di depan.
"Ran, lu liat deh, pak Mario makin ganteng ya, kaya opa-opa korea gitu, sesuai lah sama standart lu..." ucap alisha menggoda kiran dengan berbisik, karena alisha tau kalau kiran mengagumi pak Mario.
"Berisik lu, gue gak suka cuma kagum doang keles, dosen killer kaya gitu..." bisik kiran langsung di telinga Alisha menanggapi ocehan Alisha yang tidak bermanfaat.
"Kalian mau terus ngobrol, Apa mau keluar saja dari kelas saya," tiba-tiba pak Mario melihat ke arah Alisha dan Kiran, dan membuat semua mahasiswa dan mahasiswi melihat ke arah meja Alisha dan Kiran, mereka berdua tertegun sesaat, apalagi Kiran yang nampak langsung pucat dan berkeringat dingin, karena kiran begitu takut dengan dosen killer satu ini.
"Atau kalian bisa jelaskan apa yang saya bahas ini," tanya dosen Mario kembali dengan mata tajam yang sayangnya mampu menghipnotis para Mahasiswi yang terhipnotis oleh ketampanannya, dan melupakan betapa kejamnya dosen yang satu ini.
"Hmmmm... ini ... management adalah...." Kiran sangat gugup karena tiba-tiba di berikan pertanyaan langsung oleh pak Mario di sertai tatapan tajam nya itu.
"Manajemen bisnis dapat diartikan sebagai kegiatan perencanaan, pengerjaan hingga proses mengawasi. Hal tersebut dilakukan pada usaha atau bisnis tertentu. Sedangkan tujuannya itu sendiri berkaitan dengan cara tepat untuk mencapai tujuan usaha yang dilakukan. itu adalah arti dari management bisnis yang sedang kita pelajari ini pak," ucap Alisha.
Kiran menutup mulutnya tak percaya, ternyata sahabat nya ini memang mempunyai otak yang encer, padahal dia dan Alisha selama pembelajaran tidak terlalu mengikuti ceramahnya pak Mario, karena Kiran hanya menatap wajahnya Pak Mario saja, yang begitu tampan hari ini.
"Ok. Untung saja jawaban kamu benar. kalau salah, silahkan tinggalkan kelas saya, dan akan saya beri nilai E untuk kalian berdua mengerti." Tegas pak Mario memberikan peringatan kepada Alisha dan Kiran.
"Maaf pak, Kami mengerti, dan tidak akan mengulangi nya lagi," ucap Kiran sambil menunduk malu.
Kiran mengajak alisha ke kantin untuk makan siang, karena mereka berdua sudah kelaparan sangat, akibat penjelasan dosen Mario yang membuat kepala kiran sampai mengebul penuh asap, kalau di paksakan pasti akan keluar asap dari telinganya. Kiran membawakan bakso pesanan Alisha dan minuman untuk mereka berdua yang di antarkan oleh penjaga minum tersebut ke kursi mereka.
"Wah... Terima kasih nih baksonya, Tumben banget lu traktir gue, Ulang tahun ya lu? Tapi perasaan ulang tahun lu kan baru bulan kemaren," bingung Alisha sambil meracik bakso dengan di ruangnya saus, kecap dan sambal sebanyak 2 sendok, Alisha memang pencinta pedas. Setelah itu Alisha memotong bakso menjadi bagian kecil agar gampang untuk di makan.
"Gak apa-apa, Ini semua karena lu udah bantuin gue jawab, Otak lu emang tokcer banget dah BESTie, Cepet banget mikirnya, kaya yang suka balapan di sirkuit.
"Alisha gitu loh... " Ucap Alisha jumawa sambil menepuk dadanya bangga.
"Tapi gue bingung, Lu emang gak terpesona ya sama kegantengan nya pak Mario.Dia itu ganteng banget sih, menurut gue Muka baby face gitu padahal umur lumayan sudah tua."
"Gak ... Biasa aja si mario mah... Gue gak terpesona kali ya.. karena kalau mau liat yang ganteng udah sering, 2 sodara gue, ganteng semua, bang Arka sama si Rayyan."
"Ia sih keluarga lu mah emang bibit unggul, gak ada yang jelek." Ucap kiran yang memang sebenarnya sudah menyukai Arka dari dulu, dari pertama dia main dengan Alisha.
&&&
"Mamah..... I'm home....." Suara Alisha menggema ke seluruh isi rumah.
"Astaghfirullah Alisha... Kamu itu teriak- terus terus kalo di rumah, kaya di hutan coba." Alisha hanya tertawa melihat kemarahan mamahnya yang membuatnya semakin lucu.
"Mamah lagi apa Mah?" tanya Alisha penasaran menengok ke arah panci ibunya.
"Enggak ini lagi bikinin SOP iga, Gak tau tiba-tiba Papah kamu minta bikinin, kamu kok sudah pulang jam segini biasanya sore?" tanya Nissa sambil terus menambahkan seasoning Ke dalam panci.
"Sudah gak ada lagi jadwal Mah, Dosennya dua duanya gak masuk jadi dari pada luntang lantung gak jelas, mending pulang saja."
"Oh..... Oh ia nak... Temennya papah ada yang mau kenalan sama kamu."
"Apaan sih Mah, Jangan main jodoh- jodohin akh... Gak seru, Alisha itu masih pengen kuliah, pengen ngembangin butik Mamah jadi tambah gede... Malahan Alisha habis lulus nih, pengen ke Francis buat belajar design baju," ujar Alisha sambil memakan cemilan yang ada di meja.
"Bukan mau jodoh-jodohin, Cuma kenalan aja, Papah sama mamah itu bebasin kamu sama siapa saja, Yang penting agamanya baik, Sholeh dan yang pasti bukan benalu atau penipu. Cuma ya, untuk menjaga kesopanan aja sayang, papah gak enak nolaknya karena kan mereka rekan bisnis Papah, kamu tinggal ikut kita makan malam, ngobrol terus kamu bisa ambil keputusan," Jelas Nissa panjang lebar menatap putri bungsu nya itu yang sudah beranjak dewasa, dan sangat cantik.
"Ya sudah cuma makan malam aja kan? gak ada paksaan perjodohan."
"Gak ada sayang, Lagi pula Abang Abang kamu juga bakalan ikut."
"Oh ia Abang-Abang ganteng Alisha pada kemana mah?"
"Belum pada pulang lah, Kamu aja yang kecepatan pulangnya."
_____&&_____
Keesokan harinya...
Mario begitu serius di depan laptopnya. Mengetik laporan yang harus dia buat dengan cepat karena akan di serahkan ke Dekan kampus, tugas yang di berikan Mario kepada Mahasiswa dan Mahasiswi nya masih belum beres di kerjakan, Mario menghela napasnya keras, berusaha menahan amarah dalam dadanya, karena saat dia selesai memberikan materi di kelas nya tadi tiba-tiba ada yang menyatakan cinta kepadanya, dengan memberikan coklat, dan dengan muka kesal Mario bahkan mengambil coklat tersebut lalu di lemparkannya ke tanah lalu pergi dengan muka kesal tanpa mengatakan apapun.
Walaupun usianya sudah cukup untuk menikah, Tapi Mario tidak suka dengan anak kecil. Mahasiswi disini sebagian besar, adalah anak-anak manja yang suka menghamburkan uang orang tuanya dengan hal yang tidak penting, dan itu sangat Mario benci.
"Ekh ada pak Mario, Kenapa pak? tuh muka kusut banget? Kaya habis di tembak cewek aja..." Ejek teman Mario Ismail, yang baru saja masuk keruangan.
"Berisik deh lu... Bikin gue tambah kesel aja...."
"Yeh... Si Bambang malah marah."
"Iye beneran habis di tembak sama Mahasiswi sini, Gila gak sih mereka?"
"Jadi bener lu di tembak, Mangkanya cepetan nikah, biar gak jadi rebutan, Bu Tania juga cantik tuh, dia juga sering banget gue liatin merhatiin lu mulu kalau disini."
"Gak tau, gue pusing, Kalo sama Bu Tania jujur gue gak ada feel apa-apa."
"Ekh bentar ayah gue telepon." Ucap Mario yang mengangkat telepon dari ayahnya.
[ Assalamualaikum yah, ada apa? ]
[ Pulang sekarang nak... Ibumu masuk ke rumah sakit ]
[ Astaghfirullah ibu kenapa pak ]
[ Biasa kolesterol nya naik, kamu ke sini ya segera, sudah kelar kan ngajarnya? ]
[ Udah sih pak, Bentar lagi Mario langsung kerumah sakit ]
[ Tapi ibu kamu minta di bawain mantu Rio, Pas datang kesini, Kamu bawain ibu mantu ya! Biar darting ibu juga gak kumat ]
[ Mantu? Bapak ini ada-ada saja, Gimana Mario bisa bawa mantu, Pacar saja aku gak punya ]
[ Kamu ganteng Mario, kaya, mapan pula, udah saatnya kamu nikah, masa gak ada cewek yang kamu taksir sih ]
[ Ya sudah pak gimana tar ya, Rio mau siap-siap dulu ]
[ Cepetan ya lekkk! ibu kamu kasian ]
[ Ia pak! ] sambungan telepon pun di matikan oleh Mario, Kesal karena permintaan ibunya yang mengada- mengada.
"Kenapa lu...? Itu muka jadi tambah kusut aja."
"Tau lah pusing gue, Nyokap di bawa RS tapi nyokap minta gue harus punya calon istri... Kaya nyari istri itu gampang aja..
"Lagian lu terlalu banyak pilih-pilih."
"Selamat siang pak, Ini makalah saya " ucap Alisha yang masuk keruang dosen menyerahkan makalah yang sudah selesai di buat nya.
Sejenak.... Mario terpesona melihat kecantikan Alisha yang alami tanpa polesan make up berlebih.
"Nama kamu siapa," tanya Mario ke arah Alisha, dengan mata tajamnya.
"Alisha pak... Kenapa ya pak?"
"Alisha, Mau gak kamu bantuin saya, pura- pura jadi calon istri di depan ibu saya, tolong bantuin saya ya..." Tanya Mario dengan tatapan mengiba ke arah Alisha.
"Apa pak... Jadi calon istri," ucap Alisha bingung, Gak salah nih dosen apa dia udah gila...? Karena kebanyakan tugas...atau kelamaan ngejomblo sih,Batin Alisha.