
POV Nissa
" Mamah udah telepon papah kamu, besok dia akan pulang, dan akan buat perhitungan dengan si Herman, jadi mamah harap kamu jangan cegah papah kamu untuk mengurus tikus got kecil itu."
" Ia mah, aku gak akan melakukan apa-apa... Karena aku juga punya rencana sendiri buat menghancurkan si Herman
"ucapku lemas.
"Ya sudah tidur lah besok kamu harus istirahat, buat persiapan 7 bulanan kamu Nis " ucap mamah yang langsung menutupi badanku dengan selimut. Seketika aku pun lupa besok adalah acara 7 bulanan ku yang sudah ku rancang jauh-jauh hari di rumah ini, untung saja mamah mengingatkan kalo tidak, acara ku bisa kacau, ku elus perut ku lagi, untuk memberi kekuatan kepada ku dan anakku, mencoba untuk ikhlas pada semuanya, seharusnya ketika aku sedang hamil ada suami yang memperhatikan ku, dan memberikan kasih sayang, tapi di kehamilan ini aku hanya di temani oleh ibuku sendiri. " Sayang, mamah janji walaupun kamu hanya punya ibu , nenek , dan kakek, kami semua akan memberikan kasih sayang melimpah buatmu nak, dan juga kamu tidak perlu tau siapa ayah kandung kamu, karena dia tak pantas menjadi ayah kamu nak, "ucapku berbicara dengan anakku di dalam kandungan, sambil mengelus perutku, dan sepertinya dia mengerti karena selepas mengatakan itu anakku langsung bergerak aktif , dan menendang. Aku pun tersenyum, melihat pergerakan bayi kecilku,,, penyemangat ku, ku elus terus perutku sampai akhirnya aku tertidur.
Esok harinya saat aku bangun..... Rumah masih keadaan sepi, karena masih waktu subuh dan Alhamdulillah badanku sudah segar, tapi aku sangat lapar, akupun ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan mengambil wudhu untuk melaksanakan kewajiban ku, walaupun perut sudah buncit, aku masih bisa untuk menjalankan sholat seperti biasanya. Setelah kewajiban ku selesai ku laksanakan, lekas aku pergi ke dapur untuk melihat makanan, ternyata tidak ada apa-apa.
" Nis kamu di dapur sayang " suara mamah mengagetkan ku, karena rumah dalam keadaan gelap dan di luar pun masih gelap. Aku bergidik hiiiii.
" Ia mah.... Nissa di dapur " ucapku dan mamah terlihat wujudnya ke arah dapur.
"Mamah kira ada maling kletak.... Kletek Nis , kamu pagi pagi bikin mamah jantungan aja"
" Heheheh maaf ya mah, habis Nissa lapar, tapi gak ada makanan " ucapku ngambek sambil memanyunkan bibirku.
" Ya udah kamu tunggu aja disitu mamah mau bikinin sarapan, mbok Jum belom keluar ya "
" Belom kayanya mah, lagian ini masih pagi banget ".
" Makan roti dulu ya buat ganjel "
" Ga mau mah enek , Nissa mau bikin susu hamil aja dulu mah "
" Terus kamu mau apa buat makannya, jangan Ampe gak makan nasi tar cucu mamah laper ".
" Hmmmm masakin mie mah, Dede utun kan udah gede boleh kali mah makan mie instan, semenjak aku hamil kan belom pernah sekalipun aku makan mie instan ".
" Ya udah mamah bikin dulu mie goreng aja ya "
" Ia mah yang spesial ya pake telor heheheh "
Mamah ku memang, mamah terbaik Yang selalu ada buatku, dan selalu menjadi kekuatan dan penopang setiap aku sedih dan senang, Alhamdulillah aku beruntung mempunyai orang tua yang menyayangi ku dengan tulus, setelah mie goreng nya jadi akupun langsung memakan lahap habis hanya dalam itungan menit, saat mie goreng ini tandas papahku pun terlihat dari pintu depan dengan memakai pakaian Koko dan sarung, sepertinya habis dari mesjid.
" Pantes aja ya, papah dari tadi assalamu'alaikum gak ada yang denger, lagi pada makan tohh.... Kok papah gak di tungguin mah, biasanya makan bareng "
" Ini mah air putih anget nya, biasa itu bumil, pagi pagi laper dan ngidam pengen mie goreng pake telor katanya " ucap ibu sambil menyiapkan cemilan dan air putih untuk papah.
" Ohhhh anak manja papah, udah mau punya anak masih aja manja yaa..... Ngidam apa lagi tar papah beliin ".
" Apa yaa.... Belom ada kayanya buat sekarang mah, kan mie goreng nya udah keturutan pah, "ucapku.
" Ia pah nanti sore..... Papah gak kemana- mana kan hari ini " tanyaku sambil memakan cemilan yang di sediakan mamah untuk papah, pas ku lihat, yah... Tinggal dikit.
" Tar palingan jam 9 an papah mau keluar sebentar nak, mau ada urusan.
" Ohhhh ya udah tapi jangan lama-lama ya " ucapku. Aku pun hanya meng iyakan ucapan papah tanpa bertanya papah mau melakukan apa, dalam pikiran ku hanya satu hari ini lancarnya acara 7 bulanan ku, tanpa adanya gangguan dari si Herman...... Jangan mengumpat Nissa, "batinku.
______________
POV Author
Ibu Nissa mulai menyiapkan makanannya untuk sarapan, makanan lezat dan enak pun di sajikan di atas meja, dan Nissa dan ayahnya yang sejak tadi berkumpul di meja makan, akhirnya bisa menghirup bau masakan yang menggugah selera, walaupun ini hanya sarapan, tapi mamahnya Nissa selalu membuat sarapan yang berat, agar hari hari yang di jalani anak dan suaminya lancar, karena tidak lapar lagi saat akan menjelang siang. Mereka pun makan dalam diam, karena ada aturan dari ayahnya Nissa , jika sedang makan di meja makan bersama-sama tidak boleh berbicara sama sekali tunggu sampai makanannya habis.
" Aku udah selesai " ucap Nissa yang telah menghabiskan makannya padahal baru beberapa menit yang lalu dia menghabiskan seporsi mie goreng plus telor mata sapinya, dan sekarang memakan nasi dengan jumlah lauk yang banyak, nafsu makan ibu hamil memang berbeda. Setelah itu Nissa langsung mengambil bekas makan ya dan mencuci di wastafel seperti biasanya.
" Mah... Papah aku mau ke kamar dulu ya mau rebahan, ni engap banget " ucap Nissa yang mengelus perutnya karena sedikit begah.
" Ia masuklah... Hati-hati jalannya... " Ucap pak Dito ayahnya nisa ya ngeri melihat cara jalan Nissa.
Bu Arum pun membereskan meja makan, dan langsung di bantu oleh mbok Jum yang mencuci semua peralatan piring dan masak.
" Pah gimana rencana buat si Herman jadi, mamah gak mau nanti dia datang dan merusak acara 7 bulannya Nissa, mamah minta pokoknya papah harus balas si Herman itu dengan keji.... Karena dia udah gak tau diri dan banyak nyakitin anak kita " ucap mamahnya Nissa sambil menangis membayangkan nasib putrinya yang buruk karena ulah Herman, menantu pilihan mereka yang di harapkan bisa membahagiakan Nissa, malah sebaliknya .
" Tenang saja mah, semalam saat mamah telepon papah, karena Nissa menangis gara-gara si badut itu, papah langsung telepon si gondrong buat minta bantuan, untungnya papah yang memang mau niat pulang udah di pesawat mah, jadi papah cepat nyampe rumahnya, dan hari ini anak buah nya gondrong yang akan bertindak untuk eksekusi si Herman " ucap bapak Dito menceritakan rencananya yang di susun secara rapih.
" Bagus Pah, Herman emang harus di kasih pelajaran, kemaren dia sempat di penjara tapi di keluarkan lagi sama Nissa, karena ga enak sama Endang, tapi malah semakin menjadi. " terang Bu Arum menggenggam tangannya erat menumpahkan semua kesedihan.
" Tenang saja mah, apa yang akan di berikan ke Herman kali ini adalah hadiah yang gak akan Herman lupakan " . Ucap pak Dito dengan seringai mengerikan yang terbentuk di wajahnya.
____________
Hari ini adalah hari Minggu, hari yang indah untuk beristirahat, tak terkecuali dengan Herman, walaupun sekarang Herman sudah tidak memiliki istri yang selalu menemaninya, tapi hidup Herman terlihat lebih indah karena bisa dengan bebas mengobrol dengan wanita-wanita , di dukung dengan badan atletis dan wajah tampan, Herman dengan sangat mudah menaklukan hati wanita di manapun, saat sedang mengobrol dengan wanita yang baru saja berkenalan dengan Herman di taman, tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan perawakan atletis, yang Herman tau sebagai sopir dan Body Guard nya Nissa menghampiri nya.
" Pagi pak Bu Nissa ada di mobil, dan ingin bertemu dengan bapak, untuk mengobrol katanya " ucap pak Dadang supir Nissa yang langsung bicara kepada Herman tegas dan jelas, dan mengeluarkan aura yang mengintimidasi, sehingga membuat Herman kaget, dan gugup.
" Niii Niii saaa maksudnya.... Oh ya udah saya akan temui sekarang di mana " ucap Herman begitu gugup dan takut, sehingga Herman mulai berjalan dengan tidak beraturan sampai kesandung jatuh, tapi dia langsung bangun lagi, tanpa menerima tawaran dari pak Dadang untuk membangunkan badannya.
Saat Herman sudah sampai di depan mobil, tanpa pikir panjang Herman langsung saja masuk ke mobil, dan mobil pun langsung di tutup rapat oleh Dadang, dan di dalam telah menunggu anak buahnya pak Dito yang langsung menyumpal mulut Herman dengan kain yang sudah di berikan obat tidur, Herman pun langsung ambruk di kursi mobil, dengan posisi mulut mengangah dan mendengkur keras. Herman pun langsung di bawa ke sebuah gudang kosong yang letaknya jauh dari perkampungan, dan setelah masuk ke gudang tersebut Herman langsung di ikat disebuah kursi lalu di tinggalkan sendirian masih dalam posisi pingsan, tak berapa lama kemudian datanglah seorang wanita yang berpakaian lumayan modis membawa suntikan dan langsung membuka celana Herman dan menyuntikan sesuatu ke alat Vital nya Herman, yang masih dalam ke adaan pingsan, lalu wanita itupun langsung pergi, meninggalkan Herman yang masih belom sadarkan diri. Beberapa saat kemudian pun Herman bangun pingsannya dan dia sangat kaget, mendapati dirinya sudah di ikat dan berada di gudang tua yang kotor dan bau, seperti sudah bertahun-tahun tidak di gunakan.
" WOY......... WOY..... GUE TAU LU PADA ADA DI LUAR KAN..... LEPASIN GUE... JANGAN CEMEN JADI ORANG SINI HADEPIN GUE... LEPASIN GUE BRENGSEK " ujar Herman berteriak dengan Lantang langsung sampai suara nya serak karena mengeluarkan tenaga yang lumayan, untuk berteriak tadi, bahkan dari pagi Herman belom memakan apapun maka saat dia sadar dari pingsannya dia sangat lapar.
Saat sudah diam dan tidak berteriak, masuklah 2 orang lelaki berbadan besar, hitam dan banyak tato di lengannya, langsung saja tanpa aba-aba Herman di pukuli, wajahnya di tampar dan di tendang itu perutnya hingga, Arman tidak kuat karena lemas, serta badannya sangat sakit, setelah di hajar beberapa kali oleh orang suruhannya pak Dito, hingga dia pingsan kembali, saat pingsan Herman lalu 1 orang suruhannya pak Dito melepaskan ikatan Herman dan menggotong tubuh Herman keluar gudang tersebut untuk di kembalikan di jalanan sepi agar tidak ada yang melihat, dan sengaja untuk menghilangkan bukti. Setelah tubuh Herman di lempar begitu saja, di pinggir jalan, anak buah pak Dito pun langsung pergi meninggalkan Herman begitu saja.