
POV Nissa
Alhamdulillah akhirnya acara tujuh bulanan ku selesai, aku melihat kemeriahan acara ini yang di susun oleh mamah dan mengundang warga sekitar serta anak-anak panti, mereka semua membacakan doa bersama untuk kelancaran persalinan dan kesehatan bayi dalam kandunganku, aku sangat menikmati euforia ini, Alhamdulillah selalu ku panjatkan syukur ku kepada pencipta ku. Ku lihat ada mantan ibu mertuaku datang dengan susternya, aku mulai khawatir takutnya dia datang bersama anaknya, tapi syukurlah anaknya tidak datang jadi tidak menggangu acara yang bahagia ini, karena aku yakin jika mas Herman datang dia pasti akan ngerusuh, lagi pula mamah sama papah gak bakalan ngijinin dia masuk ke dalam rumah, karena apa yang udah dia lakuin di pesta perusahaan kepadaku kemaren, pasti pulang-pulang mas Herman babak belur gak berbentuk lagi tuh muka. Karena badanku sangat lelah hari ini, aku ingin rebahan saja di kamar sampai pagi, soal makanan aku udah minta ke mamah untuk di antarkan saja ke kamarku, tak ku sangka acara 7 bulanan seperti orang hajatan walaupun lebih singkat tapi aku benar-benar bahagia.
Esok harinya aku bangun dengan tubuh masih agak sedikit lemah dan capek, tapi kupaksakan ke kamar mandi untuk membersihkan diri supaya lebih segar, dan benar saja setelah mandi badanku lebih segar dan sudah tidak lemas lagi, tapi perutku sangat lapar. Aku pun berjalan ke dapur untuk mencari mamah dan makanan di dapur, saat aku ke dapur aku mencium wangi makanan yang sangat lezat dan nikmat, pas kubuka benar saja makanan enak sudah tertata rapi, ini sarapan apa makan siang sih, pas kulihat ternyata udah jam 1 ternyata, lama juga ya aku tidur, untung shubuh aku gak kesiangan.
" Walah..... Walah.... Bumil baru bangun jam segini, jam 1 loh ini siang banget, jangan di biasain ya Nok.... Pamali kalo kata orang jaman dulu mah, bumil tidur pagi bangun siang " ucap mamahku, aku hanya senyum sedikit karena bersalah.
" Ia mah maaf, Nis capek banget ngantuk mah, gak lagi-lagi mah "
" Ya udah makan dulu yah, enak-enak nih mamah masak buat kamu ".
" Sip mah, "ucapku yang langsung mengambil piring dan menyendok nasi serta beberapa lauk, ke piring, aku makan dengan lahap nya karena masakan mamah sangat enak di tambah aku pun sangat lapar. Mamah hanya mendecak melihatku makan seperti ini.
" Non Nissa , di luar ada tamu wanita tiga orang , katanya dari perusahaan tempat mba Nissa dulu kerja, ingin bertemu sama non ".
Ucap bibi datang menghampiri ku dan mamah di dapur, cewek tiga orang siapa ya, apa cewek cewek rempong kemaren ya.... Mau ngapain ya.... Pikirku.
" Ya udah bi suruh masuk aja, tunggu di ruang tamu aja bi, aku makan dulu belom kelar " ucapku ke bibi, yang hanya di balas anggukan oleh bibi, setelah itu bibi pun langsung pergi.
" Siapa Nis "
" Gak tau mah, palingan cewek rese kemaren yang ngatain aku di pesta "
" Ngapain mereka kesini punya nyali mereka, kamu tunggu disini aja biar Mamah yang HADEPIN, belom tau mereka siapa mamah, tak bawain pentungan baru tau rasa " ucap mamahku kesal, sambil melipat baju tangan nya.
" Gak usah mah, palingan mereka mau minta maaf, kemaren kan Nissa kirim Video mereka sama video mas Herman ke Bu Wina dan pak Boy mah, terus Nissa kasih somasi juga, kalo dalam waktu 1 x 24 jam mereka gak ke rumah kita dan minta maaf Nissa bakalan laporkan mereka ke Polisi " ucapku yang masih sambil mengunyah nasi yang masih banyak, kenapa masih banyak karena aku nambah, maklum bumil yang satu ini makannya paling banyak.
" Oh bagus itu... Ya udah biarin aja mereka menunggu lama di ruang tamu, kamu makannya pelan-pelan aja ya Nok ga usah buru-buru " ucap mamah yang ku balas dengan jempol tanda Ok.
Setelah selesai makan, dan membutuhkan waktu sekitar setengah jam aku dan mamah melangkah ke arah ruang tamu, dan saat ku lihat mereka bertiga sedang enak-enakan makan cemilan yang bibi sediakan, aku dan mama melongo cemilan itu habis padahal sebelumnya toples itu ada tiga dan isinya penuh, ni cewek tiga norak, laper, apa doyan.
" Hmmmmm gimana enak ya cemilannya, oh tentu dong enak cemilan saya kan mahal, gak kaya situ mulutnya murah, ya kan..... Ekh keceplosan... " Ucap mamahku sengaja menyindir mereka bertiga, dan bisa kulihat mulut wanita bertiga itu mangap semua dengan kata-kata sarkas mamah, lalu kami berdua pun duduk di depan mereka bertiga.
" Ekh biasa aja tuh mulut mangapnya, tar laler masuk mampus kalian " ucap mulut pedas mamah, aku hanya menggeleng kepalaku saja melihat kelakuan ajaib mamah kepada orang yang tidak di sukai.
Seketika mereka langsung menutup mulut mereka kompak, bisa aja mereka kaya janjian.
" Mau apa kalian datang kemari, kalo gak penting mending keluar aja, " ucapku yang mengagetkan mereka bertiga dan berhasil membuat mereka menatap ke arahku.
" Bu Nissa kami mohon maaf sebesar-besarnya Bu, kemaren itu kami ke hasut, dan kemakan omongan Popi Bu, kami bertiga benar-benar minta maaf Bu, sudah memfitnah ibu, dan menzolimi ibu kemaren " ucap salah satu wanita yang aku tidak tau siapa namanya, tapi ku lihat dari matanya dan raut mukanya sepertinya dia serius meminta maaf, bukan nge Frank.
" Kenapa kalian bisa gampang ke hasut sama Popi, tanpa ada bukti yang jelas, maen asal nuduh aja, asal kalian tau, karena mulut kalian yang tidak punya tata Krama membuatku malu di hadapan karyawan lainnya, padahal aku sebelumnya tidak pernah punya masalah sedikit pun ataupun mengusik kalian. "
" Kami benar benar minta maaf Bu Nissa, kami menyesal, sebelumnya memang kami semua berteman dekat dengan pak Herman, beliau itu seperti bintangnya di Divisi admin Bu, selain orangnya supel, dia juga ramah dan suka membantu mangkanya kami percaya aja apa yang di katakan Popi, apalagi kami menanyakan langsung ke pak Herman, dan itu benar adanya, raut wajah pak Herman pun begitu sedih saat menceritakan kisahnya dengan Bu Nissa, apalagi di pesta itu dia selalu melihat ke arah Bu Nissa, jadi saya dan yang lainnya merasa geram, kok bisa ibu begitu tega dengan pak Herman yang tampan, ramah dan baik " ucap wanita di sampingnya.
" Hoek , " ucapku seketika di buat mual oleh pernyataan para fans garis keras Herman ini, pantas saja mereka langsung nyerang aku, gini toh caranya si Herman naklukin cewek-cewek.
" Kamu kenapa Nis " ucap mamah khawatir memegang punggung ku.
" Aku gak apa-apa mah tenang aja mah "
" Bu Nissa gak apa-apa Bu, saya juga Bu mau minta maaf, saya cuman ikut ikutan Bu, bahkan saya gak ngucapin sepatah kata pun kan Bu " ucap wanita yang satu nya lagi.
" Ternyata pesona nya si Herman emang sedahsyat itu ya, sampai-sampai kalian bertiga bisa takluk, hati-hati aja jangan sampai kalian jadi korban dia, kemaren aku memang sangat sakit hati hingga membuat dada ku sesak, karena kata-kata kalian semuanya, apalagi kata-kata jahat nya Popi sama Mila, saya masih mengingat dua nama dan wajah itu, saya itu cuman wanita biasa yang lemah apalagi sekarang saya lagi hamil jadi gampang moody dan sensitif, saya maafkan kalian bertiga hanya saja saya tetap akan meminta ke Bu Wina surat SP1 untuk kalian bertiga biar tidak ada yang mencontoh dan bisa di jadikan pelajaran agar kalian bisa menjaga lidah kalian, dan mengambil hikmah dari kejadian ini " ucapku tulus, setulus lagu tulus...... Gak nyambung kayanya.
" Terima kasih Bu atas bantuannya, setelah kamu semua tau kejadian yang sebenarnya, kamu juga jadi ilfil Sama pak Herman Bu, dia juga di panggil hari ini langsung keruangan Direktur, dan kami tidak tau nasib dia gimana nantinya. " Ucap salah satu wanita yang duduk di tengah yang bernama Nanda.
" Oh... Tapi saya udah gak perduli, gimana nasib Herman, itu bukan urusan saya lagi"
" Baiklah Bu Nissa, kalo begitu kami permisi undur diri ya Bu untuk pulang " ujar wanita sebelah kanan yang bernama Lusi.
" Kalian gak mau makan dulu nih, makan siang sih udah siap "ucapku menawarkan.
" Enggak Bu gak apa apa , sebelum kesini kamu makan dulu Bu di jalan tadi, tapi maaf ya Bu cemilannya habis, enak sih Bu bikin apa beli Bu?
" Oh itu buatan mamah saya, soal yang tadi di bilang mamah saya, jangan di ambil hati ya mamah saya sebenarnya orang baik kok " ucapku memuji mamah, dan melihat wajah mamah menjadi pongah merasa bangga, aku hanya tersenyum melihat tingkah mamah.
" Gak apa-apa Bu kami yang salah memang, kalo begitu kami bertiga permisi ya Bu assalamu'alaikum " ucap Lusi.
" Ia waalaikum salam " ucapku sambil mengantarkan mereka bertiga keluar di temani mamah.
Saat mereka semua sudah melewati gerbang aku dan mamah pun langsung menuju ke dalam rumah.
" Mamah tadi diem Bae, biasanya paling berisik " ucapku saat sedang Jalan berdua dengan mamah menuju ke arah kebun.
" Mamah pengen liatin doang, kalo mereka rese baru mamah bertindak, he he he"
" Oh gitu... Ya udah yukkkk kita nonton Drakor bareng "
" Enggak kamu jangan ganggu mamah, kamu nonton aja di HP kamu sendiri jangan ganggu mamah, kalo enggak beliin mamah laptop juga biar kita bisa nonton masing-masing "
"Ya salam Ema-Ema dasar, ia nanti Nissa beliin, online dah " ucapku memegang jidat, terperangah dengan kelakuan ajaib mamah.
Saat malam tiba ayah pun datang ke rumah dengan membawa ikan bakar bawal, setelah di sajikan di meja makan, aku pun langsung meneteskan air liur ku, harum dari bakarannya sungguh menggugah selera, langsung saja tangan ini mengambil potongan besar ikan bawal ini tanpa malu.
" Heheheh lapar mah Ama doyan "
" Ya udah ga apa apa habiskan ya Nis " ujar papah menggelengkan kepalanya heran.
" Oh ia Nis, tadi papah ketemu sama ibu Endang, mantan mertua kamu, papah ceritain aja kelakuan si Herman mantan suami kamu itu sama ibu nya. Biar ibunya tau kalo anak yang selama ini di bela dan di banggain sama dia cuman pecundang dan manusia suka mengakui barang punya orang. " Ucap papah
Glekkk
waduh perang dunia itu pasti biarin aja lah, batinku.
" Biarin aja lah bagus.... Percuma Pah si Herman kan anak mamih, palingan ibu tetep belain anaknya, seperti biasa. " Ucapku.
" Ia juga sih.... Habis ini kamu langsung tidur ya Nis, gak boleh begadang " ucap papah.
" Ok lah " ucapku yang langsung merapihkan bekas makanku dan ke kamar untuk tidur.
------+++_______
POV Herman
" Gaswat ini bener-bener gaswat, kebanggaan gue kenapa jadi letoy kaya gini sih, kagak biasanya lu Ujang, kenapa bisa jadi kaya gini, akh elah.... Surga kenikmatan gue kenapa impoten sih " ucapku marah-marah, saat keluar dari rumah Popi, niat hati ingin enak-enak sampai pagi malah boro-boro enak, ini Yang ada udah kaya gigoio aja habis di kasih makan gratis, di suruh muasin, kampret emang, "batinku aku masih kesal dan marah pada pusaka kebanggaan ku.
Langsung saja aku pergi dari sini dengan menggunakan motor milik Popi, biarlah besok sore aku jemput saja dia, jadi motor ini bisa aku pakai untuk ku bawa ke dokter.
Saat sampai di rumah, aku melihat ibu sedang menonton TV bersama suster seperti biasanya, aku pun hanya berlalu Tanpa menghampiri ataupun bertanya sapa sama mamah, karena aku sedang pusing dengan keadaan ku sendiri, aku langsung naik ke atas tapi saat tiba di anak tangga yang pertama
Buk...buk..buk...
" Aw.... Sakit Bu, kenapa sih nih pake pukul segala sama panci, dikira aku bahan masakan apa, kalo mau masak di dapur mah ". Ucapku sambil memegang kepalaku.
" DASAR SUAMI GA TAU DIRI KAMU HERMAN, PANTAS NISSA BUANG KAMU, CEREIN KAMU, KAMU UDAH BERZINA, BENALU TUKANG MANFAATIN UANG ISTRI, SEKARANG MALAH FITNAH DAN NGAKU HARTA BUKAN MILIK KAMU, MIKIR PAKE OTAK DONG JADI ORANG " ucap ibuku kesal dan masih saja terus memukulku dengan lidi .
Buk....buk....buk....
" Ibu ngomong apaan sih, Herman gak ngerti "
" JANGAN BELAGA GAK NGERTI KAMU, MALU-MALUIN KELUARGA KAMU, PERGI KAMU DARI SINI, IBU GAK SUDI PUNYA ANAK KAYA KAMU HERMAN, KAMU IBU SEKOLAHIN TINGGI-TINGGI TAPI KELAKUAN KAMU MINUS, PERGIIIIIIIIII, aduhhh kepalaku pusing "
Brukkk
" Bu bangun Bu Bu.... Ibu...... " Ucapku teriak, aku langsung menggendong ibu ke kamarnya di ikuti oleh suster di belakang.
" Bu.... Bangun Bu... Maafin Herman Bu... Bangun.... " Ucapku yang hampir menangis, jujur aku sangat takut sekarang, aku gak mau kehilangan ibu..
" Ini den minyak kayu putih den, di olesin aja ke hidungnya nanti ibu bangun den " ucap suster langsung memberikan minyak kayu putih itu padaku, aku pun langsung mengoleskan ke hidung ibu, dan benar saja beberapa saat ibu pun sadar.
" Bu.... Ibu gak apa-apa kan " ucapku sambil memegang tangan ibu .
" Man, otak kamu kenapa sih man, kamu jual kemana man, tega kamu man memfitnah Nissa yang udah baik sama kamu man, kurang apa dia sama kamu man, dari kamu nikah dia selalu cukupi kebutuhan kamu, bahkan kamu ngasih nafkah dikit dia gak protes man, kamu selingkuh dia gak bales apa-apa cuman ninggalin kamu doang, dan dia berhak ninggalin kamu, kenapa kamu masih aja ganggu dia man, ibu malu man, punya anak kaya kamu kelakuan minus man , hu...hu...hu... " Ucap ibuku yang seketika menyentil ku langsung.
" Ini juga karena Nissa Bu, dia gak mau rujuk sama aku bu, aku kesal Bu "
" Terserah dia man., Kamu gak punya hak dan gak bisa maksain, kamu aja gak terima di selingkuhi Fina, terus kamu maksa buat Nissa nerima kamu yang udah selingkuh man, itu otak di pake jangan mikirin nafsu Mulu man " aku hanya diam mendengarkan kata-kata ibu yang semua nya benar, tapi aku tetap menyangkalnya, karena aku gak salah, coba saja Nissa bilang dia itu kaya raya punya usaha restoran maju dan butik besar, gak bakalan aku selingkuh sama Fina. "Batinku.
" Keluar man, ibu ga mau liat kamu dulu.... Kalo perlu kamu keluar dulu dari rumah ini seminggu man ".
" Herman mau tinggal di mana Bu kalo keluar dari rumah ini, Herman udah gak punya apa-apa lagi, pekerjaan aja Herman gak punya Bu, tolong Bu jangan usir Herman, aku janji Bu gak akan gangguin Nissa lagi "
" Terserah kamu man, yang penting ibu gak mau liat kamu, mending kamu keluar dulu siang hari terus pulang saat ibu udah tidur biar ibu gak liat muka kamu man, rasanya ibu pengen muntah kalo inget kelakuan bejad kamu man " ucapan ibu sekali lagi menohok jantungku.
" Ia Herman mengerti, istirahat lah " ucapku langsung bangun dan keluar dari kamar ibu, dan sampai di balik pintu kamar ini, ibu sama sekali tidak membalas ucapan ku dan hanya berdiam diri, apa aku udah keterlaluan, padahal aku hanya ingin memberi pelajaran pada Nissa, supaya dia sadar, dan malah balik lagi sama aku. Aku pun langsung ke atas untuk membersihkan diri dan langsung tidur.
Esok hari nya pagi-pagi, aku langsung bangun dan membersihkan diri, aku keluar kamar setelah merapikan diriku, dan langsung keluar rumah dengan pelan-pelan agar orang rumah tidak tau, setelah di luar ku bawa motor Popi untuk menjemput Popi di rumahnya sekalian mau minta sarapan, rencana setelah mengantarkan Popi, aku mau pinjam motor Popi buat periksa ke rumah sakit. Saat sampai di rumah Popi beruntungnya Popi sedang menyapu halaman rumahnya, ternyata aku datang kepagian, biarlah.
" Loh mas pagi pagi udah kesini, katanya ketemuan sore aja, pas aku pulang" ucap Popi saat melihatku menghampiri nya .
" Ia gak apa-apa, aku boleh pinjam motor kamu lagi pop, mau kerumah sakit, mau periksa si kepunyaanku ini "
" Ohh yaudah mas pake aja, tapi anterin aku dulu kerja ya mas."
" Ia gampang... Tapi aku boleh numpang sarapan gak "
" Kamu belom sarapan mas kasian banget, ya udah yuk bareng sama aku.
Setelah kami sarapan bareng, aku pun menunggu Popi yang sedang bersiap siap, Popi pun akhirnya keluar, lalu kami pun segera melaju ke tempat kerja Popi, tapi sengaja Popi ku turun agak jauh dari perusahaan, setelah mengantarkan Popi, langsung saja ku tancap gas menuju rumah sakit, saat sampai aku langsung ke dokter bagian spesialis kulit dan kelamin atau singkat nya SPKK, dan untungnya antriannya sedikit jadi aku gak perlu nunggu lama, saat di ruangan dokter, ku beritahukan semua masalah ku mengenai kepunyaanku.
" Dok maaf sebelumnya, alat Vital saya , tadinya tidak apa-apa dok, tapi sekarang tiba-tiba maen sebentar aja langsung keluar, dan juga setelah 2 kali seperti itu, sampai sekarang letoy aja dok kenapa ya dok "
" Dari gejala yang bapak sebutkan itu ejakulasi dini mengarah ke impoten pak, jadi harus di periksa lebih lanjut lagi semuanya, terutama ****** bapak, takutnya impotensi bapak sudah bahaya , dan sehingga tidak bisa di sembuhkan, dan lebih parahnya lagi bapak akan sulit mempunya anak, " ucap dokter .
DUARRRRRR
seketika meruntuhkan duniaku, badanku pun lemas, bagaimana ini kalo aku tidak bisa mempunyai anak, Nissa akan semakin menjauhi ku nanti, "batinku.