
Mario dan Bobi tiba di parkiran gedung PT Wijaya. Walaupun di negara asing, nama Perusahaan yang di pajang tetap nama yang sama dengan perusahaan pusat yang ada di Jakarta, walaupun di sini, gedung yang hanya lima lantai, tidak setinggi yang di Jakarta, tapi cabang perusahaan yang ada disini, sudah menunjukan profit yang cukup signifikan.
Mario dan Bobi turun dari mobilnya.
Mereka berdua menuju ke dalam gedung. Dan mendatangi resepsionis.
"Permisi, bisa saya bertemu dengan ibu Alisha" tanya Mario kepada resepsionis tersebut.
"Maaf dengan siapa? Dan apakah bapak sudah membuat janji?" ujar resepsionis menatap Mario lekat. Ada sedikit Rasa kagum di dalam matanya.
"Bilang saja dari Mario" ucap Mario.
"Baiklah tunggu sebentar" ujar resepsionis tersebut lalu mengambil hp dan menelpon sekertarisnya.
"Maaf Pak. Ibu Alisha tidak ingin bertemu dengan anda Pak" Ujar resepsionis tersebut.
"Gimana ini Bob" Tanya Mario cemas.
"Kita keluar dulu," Ujar Bobi.
"Ya udah makasih mba"
Mario dan Bobi pun keluar dari kantor tersebut dan duduk sambil melihat ke arah lobby pintu.
"Kita tunggu aja disini" ujar Bobi.
"Semoga dia keluar nanti jam makan siang, kalo enggak besok saat dia berangkat ke kantor pagi-pagi, lu harus stand by di depan pintunya" Ujar Bobi menemani Anda.
_________&_________
"Ya Allah, dia datang lagi. Mau ngapain sih" Ujar Alisha gelisah, Alisha tidak nyaman dengan keadaan ini. Alisha bangun dari kursi kebesarannya dan berjalan mundar-mandir sambil menggigiti kuku jempolnya, kebiasaan Alisha jika sedang bingung.
"Ia Mamah... Aku harus telepon Mamah. "
Alisha segera menyambar tas nya dan mencari Handphone nya dengan tidak sabaran, setelah mendapatkan HP nya Alisha mencari kontak ibunya dan menghubungi ibunya.
[ Halo assalamu'alaikum Mah, lagi di mana? Mamah ke kantor sekarang gak Mah? ] tanya Alisha dengan rentetan pertanyaan.
[ Kamu kenapa sih sayang, satu-satu nanyanya. Mamah masih di rumah? Kalau kamu butuh Mamah, Mamah Otw nih sekarang ]
[ Mario nyamperin Alisha ke kantor, dia pengen ketemu sama Alisha, tapi aku takut. Aku masih belum siap Mah, kalau ngehadapin dia sendirian ]
[ Jangan di temuin dulu. Mamah pengen tau seberapa kuat dia merjuangin kamu Nak ]
[ Ia Mah... Ya udah mamah kesini ya, Kita makan di kantor, aku takut dia malah nungguin aku di bawah ]
[ Ya udah kamu hati-hati, Jangan temuin dia dulu 4 hari lah, bikin dia uring-uringan kan gak lama tuh ]
[ Ia Mah makasih ... Ya sudah aku balik kerja lagi ]
[ Ia sayang ] sambungan pun di matikan oleh Alisha, Perutnya tiba-tiba terasa keram.
'Apa mereka merasakan kehadiran ayahnya dan ingin bertemu dengan ayahnya ya* Pikir Alisha. Dia pun kembali duduk di kursi kebesarannya dan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi, mata Alisha menatap ke atas. Dengan tatapan yang entah seperti apa. tapi yang pasti banyak sekali pikirannya saat ini. Sehingga membuat perut nya kembali keram. Kemudian dia mengelus pelan perut yang sudah membesar itu walaupun baru genap 7 bulan dan sebentar lagi akan di adakan 7 bulanan oleh Nissa, Mamahnya Alisha, walaupun hanya akan di hadiri orang tua, kakak-kakaknya Alisha dan seorang ustad untuk berdoa yang di bawa oleh Nissa nanti.
Karena lelah Alisha menuju kamar yang berada di dalam kantornya, yang memang di Desian oleh ayahnya saat Alisha memutuskan untuk belajar bisnis di Perusahaan itu.
Sungguh Alisha sangat letih. Bahkan untuk berjalan kaki ke kamar nya saja, Alisha sangat pelan dalam berjalan.
_____&_____
Nissa langsung menyiapkan makanan untuk putri kecilnya itu. Dia pun agak kesal dengan kelakuan Mario yang malah terus- terusan menganggu anaknya itu, Baru saja kesehatan mental Alisha sembuh, ini si Bengkong udah maen datang aja, mau ngapain sih sebenarnya?
"Selamat siang Bu" Ujar Edward sekertaris Agam. Nissa meminta Agam menerima laki-laki yang jelas tulen suka sama perempuan untuk bekerja sebagai sekertaris Agam.
"Siang Edward.... Everything is Ok" tanya Nissa menatap Ok.
"Semuanya baik-baik saja Bu" Ujar Edward sambil menganggukkan kepalanya. Nissa yang melihat itu tersenyum puas dan langsung masuk ruangan putrinya. Saat masuk dia melihat ruangan kosong. Nissa pun langsung ke luar ruangan lagi.
"Ed.. apa putriku keluar ruangan?" tanya Nissa.
"Tidak Bu... Sejak tadi saya disini. Saya tidak melihat ibu Alisha keluar dari ruangan beliau".. ujar Edward menatap Nisa bingung
"Ya udah makasih ya" ujar Nissa yang langsung masuk lagi ke dalam kantornya Alisha. Nissa menghampiri kamar yang di desain khusus untuk anaknya itu, saat membuka pintu. Nissa melihat Alisha sedang tertidur dengan tenang. Nissa tidak ingin menganggu tidur anaknya itu, makanya Nissa memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Nissa duduk di kursi kebesarannya Alisha dan memeriksa berkas-berkas yang Alisha kerjakan tadi.
Tak lama kemudian Alisha pun bangun dari tidurnya, dia mulai beranjak dan keluar dari kamarnya. Alisha tersenyum melihat ibunya yang sedang serius memeriksa berkas yang belum di kerjakan nya itu. Dan menghampiri ibunya.
"Mah, maaf aku ketiduran" Ujar Alisha.
"Gak apa-apa sayang, kamu jangan capek-capek ya! Mamah disini kan untuk bantuin kamu, gimana badan kamu?"
"Udah enakan Mah, Alhamdulillah tadi agak nyeri sih karena keram"
"Loh kenapa? kamu gak apa-apa kan sayang?" Tanya Nissa khawatir. Nissa pun mengajak anaknya untuk duduk di sampingnya dan langsung menyiapkan makanan yang sudah dia bawa. Karena memang sudah waktunya jam istirahat.
"Sekarang kamu makan yang banyak ya! Cucu-cucu Mamah mungkin protes karena mereka kelaparan." Ujar Nissa merenggut.
"Ia Mah aku makan, aku juga sudah lapar" ujar Alisha yang langsung memakan masakan Mamahnya yang selalu enak tak terkira.
_____&_____
"Yo... Udah setengah jam kita nunggu dia gak keluar juga." Ujar Bobi sambil memegang perutnya yang mulai terasa lapar.
"Ya udah kita cari makan dulu, Habis makan kita masuk lagi ke kantor nya Alisha mungkin aja dia dapat pencerahan dan mau bertemu denganku" Ujar Mario lemas.
"Gak usah jangan. Mending kita makan langsung pulang, karena percuma besok pagi kita harus udah standby di depan rumah Alisha tanpa ketahuan terus pas lihat Alisha ada di luar langsung kita masuk, biasanya si Satpam juga jarang tutup gerbang jam-jam segitu, karena kan Bos nya mau keluar" ujar Bobi seperti mendapatkan pencerahan.
"Tumben lu pinter" ujar Mario.
"Gue tuh pinter aslinya, lu aja yang gak nyadar, ayolah kita makan! lapar nih."
"Ya udah kita makan di restoran" ujar Mario yang pergi bersama Bobi menuju parkiran mobilnya.
'Biarlah besok aku datang lagi, aku harus selalu semangat untuk mendapatkan Alisha' ujar Mario dalam hati.
_____&&&&&_____
Sudah beberapa hari ini bahkan lewat seminggu kehidupan Herman semakin baik-baik saja. Tapi dia merasa kesepian tak ada sanak saudara, istri apalagi anak yang menemani. Di dalam kesendiriannya, Herman menyempatkan diri untuk ke rumah sakit berobat masalah kesuburannya, Herman sudah memutuskan untuk menceraikan Kokom, dan Herman juga sudah memasukan berkas laporan perceraiannya ke pengadilan agama. Herman rutin meminum obat penyubur ******, agar dirinya bisa sembuh dan bisa mempunyai anak. Jujur Herman ingin mengasuh dan menggendong anaknya, karena dulu dirinya telah gagal ikut membesarkan Arka karena keserakahannya dan hasutan dari Kokom. Bahkan dia sampai sangat menyayangi anak sambungnya sendiri, Kokom memang licik.
Surat panggilan pun datang ke rumah Kokom yang saat ini sedang tinggal bersama mantan suaminya. Mantan suami Kokom memberitahukan kepada tetangga dan semua orang yang ada di lingkungannya, kalau Kokom dan Nita itu adalah Kaka dan keponakannya, karena mereka berdua telah di usir oleh suaminya karena Pelakor.
Kokom melihat surat itu dan membukanya. Seketika air mata Kokom mengalir setelah membaca isi dari surat tersebut. Kokom meremas surat tersebut dan berniat akan ke rumah Herman menjelang sore nanti saat Herman, sudah selesai bekerja.
Nita yang berniat ingin kerja di Supermarket milik Arka harus menahan kesabarannya, karena bangunan itu belum jadi, masih dalam tahap finishing. Nita selalu rajin datang ke sana, tapi melihat dari kejauhan. Dan saat gedung itu membuka lowongan Nita akan langsung melamar dan akan memberitahukan kepada semua orang kalau dirinya masih satu saudara dengan pemilik Supermarket ini.
Dan sekarang karena tidak ada kerjaan Nita masih saja tidur di kamarnya, karena sekarang ayah kandungnya lah yang menghidupi dan memberikan Nita uang jajan, sebenarnya ayah kandung Nita telah memiliki istri tapi rumahnya jauh dari tempat itu, Saiful ayah kandung Nita. Menempatkan istrinya yang sekarang di rumah ibunya yang letaknya lumayan jauh dari kontrakan tempat dia tinggal sekarang. Karena letak pabrik dimana Saiful bekerja. Tidak memungkinkan untuk dirinya pulang pergi dari rumah ke pabrik, jadinya Saiful memutuskan untuk mengontrak dan pulang seminggu sekali. Walaupun pada akhirnya dia juga harus selingkuh dengan mantan istrinya karena kebutuhan biologis nya yang sangat tinggi dan Kokom juga membutuhkan tempat tinggal, Saiful memanfaatkan keadaan itu, bagi saiful di dunia ini tidak ada yang gratis, jika Kokom dan anaknya ingin menjadi tinggal bersamanya. Kokom harus mau, membersihkan rumah, melayani saiful baik pakaian, makanan dan kebutuhan batin. Kokom pun menyanggupinya karena dia juga butuh belaian apalagi Herman semenjak dia ngambek dan marah-marah, sudah sebulanan lebih dia tidak menyentuh Kokom.
Braaakkkkk....
Suara dentuman pintu terbuka terdengar sangat keras.