
Kenapa Nak? Siapa tadi yang telepon?" ucap Nissa setelah mendengar Arka berbicara dengan seseorang di telepon.
"Oh.... Ini Mah sama mandor pembangunan Supermarket."
"Ada masalah...?"
"Sedikit"
"Soal apa?"
"Bapak datang kesitu, dan gerak-geriknya mencurigakan"
"Pasti, gak jauh-jauh dari manfaatin kamu doang, otak Bapak kamu kan gak jauh-jauh dari itu"
"Yah... Mamah lebih kenal sama Bapak dari pada Arka kan Mah."
"Itu dan kamu harus hati-hati, Herman punya 1001 cara yang di luar nalar buat dapetin apa yang dia mau, pasti nanti dia gunain kata-kata, kamu sebagai anak Bapak, kamu harus berbakti sama Bapak darah lebih kental dari apapun, jurus andalannya Herman."
"Mamah sampai hapal sedetail itu."
"Mamah udah tau sifat dia, dan Mamah juga dulu kan korban perselingkuhan dia dengan Fina."
"Terus gimana kabarnya Tante Fina Mah?"
"Fina Alhamdulillah sehat, dia hidup bahagia sama suaminya sekarang, walaupun tadinya mertuanya Fina gak setuju tapi sekarang mereka udah luluh."
"Semoga keluarga kita aman tentram terus ya Mah."
"Ia Nak, Amiiin"
"Aku mau ke Alisha ya Mah"
"Ia sayang"
Drt....drt...drt...
Suara HP Arka berbunyi dan Arka mengambil HP nya, tertera no baru yang tidak Arka ketahui siapa yang menghubungi nya itu.
"Siapa lagi Nak? HP kamu laku banget perasaan dari tadi"
"Gak tau Mah No nya gak ke save"
"Coba angkat aja di loud speaker tapi ya, Mamah pengen denger"
[ Halo assalamu'alaikum ]
[ Waalaikum salam, Arka ini Mamah Kokom ]
[ Maaf Tante, Mamah saya cuma satu, jadi jangan ngaku-ngaku ya ]
[ Anak durhaka, sombong kamu mentang- mentang anak orang kaya ]
[ Udah deh Tante, to the point aja, mau ngapain? ]
[ Ok. Mamah mau kamu balikin sertifikat tanah ]
[ Saya bilang Mamah saya cuma 1 apa kuping Tante budek ] ucap Arka yang langsung memotong ucapan Kokom
[ Kurang ajar kamu Arka saya lagi ngomong, kamu potong ]
[ Salah sendiri, budek atau bebal sih? ]
[ Terserah kamu, yang pasti saya mau kamu kasih saya sertifikat tanah yang di berikan oleh ibu Endang ]
[ Anda siapa memang, punya hak apa anda minta sertifikat itu? wong tanah itu punya saya, dari Nenek saya sendiri ]
[ Itu tanah bukan hak kamu, Asal kamu tau tanah itu milik suami saya, jadi otomatis tanah itu milik saya dan anak saya Nita ]
[ Memangnya anda dan anak anda itu siapa? saya itu cucu kandungnya Nenek endang, anda hanya istri Bapak. Sedangkan anak anda hanya anak sambung. Gak punya ikatan darah ]
[ Diam kamu Arka! Saya serius jangan main-main sama saya ]
[ KAMU YANG JANGAN MAIN-MAIN SAMA SAYA... SAYA BISA SAJA MEMBUAT HIDUP ANDA DAN PUTRI ANDA MENDERITA DENGAN KEKUASAAN PAPAH SAYA.... apa anda tau saudari Kokom yang terhormat Papah saya bisa mengirim bapak Herman ke Papua, dan bagaimana jika kalian berdua saya deportasi dari negara ini, atau saya kirim ke Aprika biar di makan singa sekalian ]
[ Kamu mengancam! ]
[ Untuk apa saya mengancam, bukan hal sulit melakukan itu semua ]
[ Kamu anak durhaka Arka, kamu itu sudah kaya, untuk apa lagi kamu ingin memiliki tanah peninggalan dari ibu Endang ]
[ Yang namanya sudah menjadi hak milik untuk apa saya menyerahkan ke tangan anda! Tanah itu adalah amanah Nenek saya. Jadi anda jangan pernah mengusik tentang tanah itu lagi ]
Tut...Tut..Tut .. sambungan telepon pun di putuskan sepihak oleh Arka.
"Kayanya istrinya si Herman perlu di berikan shock terapi deh Nak" Ucap Nissa yang geram dengan kelakuanĀ istri bapak nya itu.
"Biar Arka bicara sama Bapak"
"Aku chat Bapak aja, biar Bapak juga tau kelakuan istrinya kaya apa,"
"Ya sudah, Mamah juga bakalan kasih tau Papah nanti habis dia pulang dari kantor, ya sudah Mamah pergi dulu liat Alisha ya ka."
"Ia Mah" jawab Arka yang sedang mengirim chat ke bapaknya mengenai masalah istri Bapak nya itu.
&&&&
"Gimana Mah Berhasil? Arka mau kasih sertifikat itu kan Mah" tanya Nita penasaran.
"Boro-boro Nit, malah Mamah di ancem sama si Arka."
"Kok dia gak punya sopan banget sih mau ngancem Mamah"
"Tau tuh, didikan anak orang kaya sih gitu, masa kita berdua mau di kirim ke Aprika."
"Hahahaha si Arka itu ngehalu, mau ngirim kita ke Aprika. Kaya dia punya kuasa aja main kirim orang segala."
"Tau tuh... Mamah pusing Nit, apa kita samperin aja dia rumahnya?"
"Jauh Mah... Lagian kalau Bapak sampai tau bisa abis kita Mamah, untung aja Bapak sekarang lagi tidur jadi gak denger apa-apa tadi."
"Ia kamu benar Nit. Terus gimana sama Arka?"
"Nanti aja kita bicarain lagi Mah, mending kita istirahat dulu aja, besok aku mau cari kerja, aku mau tanya temen-temen aku sekarang"
"Ia semoga kamu dapet kerjaan ya Nit."
"Ia Mah, do'ain Nita."
Kokom dan Nita pun masuk ke dalam kamar nya masing-masing, Mereka mengistirahatkan kepala mereka sejenak karena telah kehilangan pakaian mereka, sungguh ini di luar rencana mereka, mereka berdua berpikir Arka adalah anak yang polos dan mudah untuk di kendalikan karena dia sangat pendiam. Tapi ternyata dia memiliki sifat yang menyebalkan sekaligus membahayakan.
Herman terbangun di malam hari dan mendapati kalau dirinya belum makan sama sekali. Dan istrinya bukan membangunkan Herman malah tidur dengan nyamannya. Herman pun bangun dan keluar kamar menuju dapur untuk mencari makanan. Pas di lihat tudung saji yang ada di meja. mata Herman kaget melihat makanan di atas meja telah raib tak bersisa hanya menyisakan Nasi se centong saja mungkin.
"Mereka itu ternyata gak sadar-sadar ya! Masa saya gak di sisain lauk sama sekali bener-bener penghuni rumah ini, udah bosan tinggal disini apa ya! gak jera-jera perasaan" ucap Herman jengkel, karena perut yang terasa sangat lapar, Herman memutuskan keluar rumah untuk mencari makanan di jalanan, apa pun makanannya asal halal dan enak. Herman menyalakan sepeda motornya dan keluar rumah dengan kecepatan sedang, saat memasuki jalan besar, Herman melihat banyak sekali makanan yang berjejeran di pinggir jalan, Herman melihat tempat yang menjual pecel ayam, langsung saja motor di belokan dan berhenti di pinggir tenda pecel ayam tersebut, Herman pun memesannya dan saat pesanannya sudah matang langsung memakannya dengan lahap. Setelah kenyang Herman langsung pulang kerumah.
Kokom yang sedang tertidur kaget, karena menyisir suaminya yang tidak ada. Mata Kokom langsung terbuka melihat Herman tidak ada di kasur bersamanya, Kokom pun langsung ke luar kamar dan menunggu Herman dengan setia di kursi sambil nonton TV.
Herman pun sudah sampai di pekarangan rumahnya dan dia pun menaruh motor di garasi rumahnya agar Herman tidak ada pencuri, setelah motor masuk, Herman masuk ke dalam rumah dan melihat Kokom sedang nonton TV sendirian.
"Pak dari mana?" Ucap Kokom yang melihat kedatangan suaminya tanpa izin darinya.
"Kamu nanya?" jawab Herman malas.
"Pak, kalau mau keluar dulu bisa bilang dulu kan"
"Aku mau keluar kemana pun terserah aku, gak ada hak kamu buat larang-larang aku"
"Pak ... Kenapa kamu berubah Pak, kamu lebih kejam sekarang, tidak lembut seperti dulu lagi"
"Kamu bilang saya berubah... Kamu yang berubah Kom... KAMU BERUBAH JADI SERAKAH, GAK TAU MALU, DAN LUPA AKAN TUGAS KAMU SEBAGAI ISTRI YANG NGURUS SUAMINYA"
"Pak, tapi saya sudah berusaha jadi istri yang baik," ujar Kokom yang mulai menangis karena kaget mendengar bentakan Herman.
"Itu dulu! sekarang kamu banyak mangkirnya, kamu melupakan tugas kamu, malah mengerjakan hal yang tidak penting."
"Aku hanya ingin seperti Nissa Pak, yang memiliki barang-barang bagus Pak, biar bisa ku pamerkan ke tetangga sini dan mereka akan menghormati ku"
"Seharusnya kamu itu mikir, kita siapa? Nissa itu siapa? Asal kamu tau suaminya si Nissa itu, orang paling kaya di negara kita ini, kamu gak bakalan mungkin bisa kaya Nissa, otak kamu di pake jangan cuma buat pajangan doang. Capek saya sama sifat kamu yang keras kaya batu."
"Tapi Bapak juga gak seharusnya bakar barang dan pakaian aku Pak, itu semua barang bagus dan mahal"
"Ia di beli dari jual tanah ku. Puas kamu Kokom!"
"Pak kita bisa kaya, asal kita miliki tanahnya yang di wariskan untuk Arka Pak, kata kamu nilai jual nya tinggi Pak, Kita bisa kaya."
"Cukup ya Kom! Jangan buat kesabaran saya habis dan menceraikan kamu Kom, sekali lagi saya mendengar kamu menuntut sesuatu yang bukan milik kamu, atau tentang tanah Arka. Kamu bisa saya jebloskan ke Polisi.
"Pak.... Kenapa Bapak tidak mau ambil lagi sertifikat itu?" ucap Kokom yang masih kekeh dengan jawabannya itu.
"Diam Kokom! sudah saya peringatkan kamu, kamu ngurusin masalah rumah aja gak bener. Sok-soan minta hak kamu. Kewajiban kamu udah kamu lakukan enggak? Kamu udah gak pernah siapin baju kerja aku lagi, suka keluar sore, karena jalan sama cowok punya arti yang beda, ngerti kamu, sekarang mana? bahkan kamu aja gak nyisain makanan buat aku, suruh anakmu itu yang kerja, biar bisa bantuin keuangan kita. Jangan game aja yang dia urusin, kamu bahkan gak menyisakan makanan untukku sedikit pun" ucap Herman tegas terhadap istrinya Kokom.
"Ya tuhan... Pak, aku lupa. Ini karena aku kebanyakan ngerumpi jadi aku lupa Pak. maafin aku Pak" ucap Kokom setelah berhenti menangis.
"Telat.... Kamu sekarang istri yang gak berguna Kom!" ucap Herman yang masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci kamarnya itu.
"Pak... Bapak tunggu... Kita belum selesai bicaranya Pak."
Tok....tok..tok...
Kokom terus saja mengetuk pintu kamarnya, tapi saat ini Herman sama sekali tidak mau membuka pintu kamarnya itu.
Di dalam kamarnya, Herman mengambil HP di dalam tasnya dan mata Herman terkejut saat mendapatkan pesan dari Arka.