MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
BAB 61 PENGANTIN BARU YANG DI USIR


POV Author


Setelah melewati proses yang panjang, dan debat yang tak ada hentinya, akhirnya di putuskan Herman dan Popi di haruskan menikah hari itu juga, dikarenakan kedua orang tua Popi masih di luar kota, maka langsung di telepon ayah Popi untuk segera kembali, karena Popi membutuhkan ayahnya sebagai wali nikah. Sambil menunggu kedua orang tua Popi datang, Herman di tahan di rumah pak RT agar tidak kabur, sedangkan Popi di Giring untuk di kembalikan ke rumah nya sementara waktu ini.


Muka Popi pucat saat pak RT menelpon orang tua Popi, karena di pastikan ini akan menjadi masalah besar, apalagi ayah Popi sangat menjaga nama baik keluarga.


Keesokan hari nya hari yang di tunggu untuk menikahkan Popi dan Herman pun tiba, orang tua Popi pun sudah sampai di rumah, dan benar saja ayah Popi yang bernama Burhan sangat marah, karena popi telah mencoreng nama baik keluarga besar ayahnya.


Plak.....


" Dasar anak kurang ajar kamu, puas kamu Popi, udah taruh kotoran di wajah bapak HAH " ucap ayah Popi marah, dan memukul Popi sekuat tenaga hingga Popi jatuh terhuyung, dan meninggalkan bekas merah dan darah dari sudut bibir Popi saking kencangnya.


" Sudah pak, istighfar ingat darah tinggi mu pak, nyebut pak.... Nyebut...... Jangan sampe karena Popi kamu masuk rumah sakit pak, sudah nyebut.... " Ucap ibu Rukmini. Ibu popi yang menghalangi pak Burhan untuk memukuli Popi lagi, Bu Rukmini sama sekali tidak iba dengan keadaan Popi, walaupun sekarang Popi sedang menangis sesenggukan di lantai.


" Siap-siap kamu popi, hari ini kamu mau nikah sama lelaki itu, lagian Nemu di mana sih Popi? lelaki macam gitu!" ujar ibu rukmini kesal.


" Mah.... Hiks.... Hiks.... Huhuhuhu..... Maafin Popi mah, aku tau aku salah mah.... "


" Mamah tuh udah ilfill sama sifat kamu dari dulu gak pernah bener, setengah jam lagi kamu harus udah siap," ujar ibu Popi kembali, dan langsung meninggalkan Popi sendirian.


Popi pun melangkahkan kaki nya ke arah kamar dan bersiap-siap memakai pakaian gamis dan mengoleskan make up natural ke wajahnya, karena acara akad yang sangat sederhana yang akan di lakukan di rumah Popi, jadi persiapan serba mendadak, bahkan untuk gaun pernikahan pun, hanya memakai baju yang ada, tidak membeli baju yang baru.


Popi tidak pernah menyangka sebelumnya, kenapa pernikahan nya bisa seperti ini, bahkan ini sangat jauh dari pernikahan khayalan Popi, yang harusnya di adakan di hotel mewah dengan ribuan undangan. Kini Popi hanya bisa meratapi nasib nya, yang sangat buruk, Popi senang bisa menikah dengan Herman, cowok tampan dan mapan, tapi itu dulu, sebelum Herman di pecat, apalagi sekarang Herman impoten tidak bisa membuat hasrat Popi tersalurkan.


Saat Popi masih bersiap di kamar, di dapur banyak ibu-ibu yang sedang membuat makanan untuk acara persiapan pernikahan Herman dan Popi, tapi sambil bekerja membuat makanan, ibu-ibu malah rame menceritakan kelakuan Popi dengan Herman selama ini kepada pak Burhan dan Bu Rukmana, makin marah lah pak Burhan dan Bu rukmini.


" Bu Ruk.... Si Popi sama laki nya itu udah kenapa di suruh nikah, apa Bu Ruk tau alasannya?" tanya salah seorang ibu-ibu gendut yang kemaren paling semangat grebek Popi dan Herman,.


" Ia saya tau Bu.... Popi sama cowok itu berzina kan di rumah ini, mangkanya di suruh nikah hari ini juga " jawab Bu Rukmini.


" Ia ibu benar sekali, tapi mereka itu melakukannya disini Bu di dapur ibu, bukan di kamar di siang bolong juga.... Kami waktu melihat nya gak nyangka mereka begitu lihai nya, gak pake apa-apa "  kata ibu gendut itu.


" Astaghfirullah si Popi ngotorin aja rumah kita pak... Ibu gak habis pikir dengan kelakuannya, apa kita terlalu memanjakan dia pak hiks....hiks..." ucap Bu Rukmini sambil menangis.


" Bapak juga gak tau Bu.... Kenapa kelakuannya jadi binal kaya gini ... Di sekolahin tinggi-tinggi, malah punya akhlak minim " ucap pak Burhan, yang hanya menghela nafas kasar. Memikirkan bagaimana nasib putri nya nanti dengan laki-laki yang tak jelas itu. Para ibu-ibu yang sedang memasak pun hanya bisa melihat iba dengan pasangan suami istri ini, mereka menyayangkan sikap Popi seperti ini. Padahal pasutri di depan mereka ini sangat baik, dan mempunya attitude yang baik pula.


Akhirnya rombongan pak RT, pak penghulu dan Herman pun datang, sedang kan keluarga Herman sendiri tak ada seorang pun yang datang.


Pak Burhan pun mempersilahkan rombongan pak RT untuk masuk ke rumah nya, dan sudah menyiapkan tempat duduk untuk acara akad nanti. Mereka pun duduk di tempat yang sudah di sediakan begitupun dengan Herman dan pak Burhan, tinggal menunggu Popi keluar bersama ibu Rukmini.


" Pak Herman apa tidak ada keluarga yang hadir di acara pernikahan pak Herman kali ini ?" tanya  pak RT tiba-tiba, membuat pak Burhan bingung dan baru sadar, dengan keluarga Herman yang sama sekali tidak datang, dan itu seperti tidak menghargai.


" Tidak ada pak, saya di Jakarta ini, hanya tinggal berdua dengan ibu saya.." ucap Herman lemas, karena sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, mangkanya dari kemaren dia hanya diam tak banyak bersuara.


" Maksud pak Herman? katanya pak Herman itu dari kampung, dan calon suami mba Popi "


" Maaf pak kemaren saya berbohong pak " ucap Herman yang langsung mendapatkan pelototan dari pak Burhan.


" Sekarang saya tanya sama kamu, sebelum kamu menikahi anak saya, saya mau tau siapa kamu? pekerjaan kamu apa? dan kalo bisa kamu hubungi ibu kamu sekarang untuk hadir di acara nikahan kamu hari ini," ucap pak Burhan marah dan kesal.


" Maaf pak saya asli sini, Jakarta, rumah saya gak begitu jauh sih dari sini, tapi untuk menghubungi ibu saya sepertinya tidak mungkin karena saya di usir oleh ibu saya dari rumah " ucap Herman langsung menundukkan kepalanya malu .


" Kenapa di usir pak Herman? " tanya pak RT bingung, tapi sebelum menjawab, tiba- tiba Popi sudah keluar dengan ibu rukmini, lalu duduk di samping.


" Gak apa-apa di lanjutkan saja pak, ibu saya tidak akan mau hadir di pernikahan saya kali ini," ucap Herman di anggukan oleh semua orang, tapi tidak dengan pak Burhan yang masih menyimpan begitu banyak pertanyaan.


Acara akad pun selesai, dengan pembacaan amin oleh semua orang, dan satu persatu orang-orang Yang ada di rumah Popi pun pergi meninggalkan rumah setelah makan terlebih dahulu.


Sekarang di rumah itu hanya ada Popi, pak Burhan, ibu Rukmini, dan juga Herman. Popi dan Herman hanya bisa menundukkan kepala mereka, karena takut dengan ekspresi wajah pak Burhan yang sedang menahan kekesalannya.


" Sekarang jawab pertanyaan saya yang tadi, sekarang kamu kerja di mana...? dan kenapa ibu kamu tidak bisa hadir di acara pernikahan kamu ini, ini pernikahan kamu yang pertama kan ?" tanya pak Burhan ketus masih dengan mode sabar belom meledak.


" Anu... Anu... Itu apa " jawab Herman gugup .


" JAWAB !!! PUNYA MULUT KAN KAMU? " teriak pak Burhan.


" Maafkan saya pak, saya sekarang tidak berkerja karena barusan di pecat, dari tempat kerja saya pak " ucap Herman cepat karena kaget mendengar teriakan pak Burhan, begitu pun dengan Popi yang semakin ketakutan.


" Apa kamu bilang, kamu nganggur, terus mau kamu kasih makan apa anak saya? HAH, BATU KALI, astaghfirullah Bu anak mu kok pilih suami macam kaya gini " ucap pak Burhan marah sambil menghembuskan nafas dan mengelus dada.


" Terus kenapa ibu kamu gak bisa datang, walaupun kamu di usir harusnya sebagai orang tua, ibu kamu harus datang , apalagi ini pernikahan kamu yang pertama, walaupun dengan cara seperti ini."


" Maaf pak, ini pernikahan ke tiga saya pak, jadi ibu saya tidak akan mungkin datang, karena dia sudah membenci saya " ucap Herman takut-takut masih sambil menunduk.


" APA..... KESABARAN SAYA SUDAH HABIS BU.... Popi pergilah kamu dari sini..... Tinggalkan rumah ini, kamu benar- benar sudah mengecewakan bapak, kamu taruh kotoran ke muka bapak, pergi bapak gak mau lihat kamu ada disini "


" Pak tolong pak.... Maafin Popi.... Jangan usir Popi, kalo Popi tinggalkan rumah ini, Popi mau tinggal di mana pak, hiks hiks " ucap Popi menangis memohon ke pak Burhan sambil menyatukan tangannya meminta ampun .


" Bu uruslah anak mu itu Bu, bapak sudah tidak perduli lagi, " ucap pak Burhan dengan kekecewaan yang amat dalam, pak Burhan lebih memilih masuk ke dalam kamarnya daripada harus berdebat dengan anaknya yang menyebalkan itu.


" Bu.... Hiks hiks..... Tolong Popi Bu.... Jangan usir Popi Bu sama mas Herman dari rumah ini, kita berdua pengangguran Bu tolong Bu "


" Kamu di pecat juga Pop... Kalo sampai ayah kamu tau tambah marah ayah kamu... Lebih baik kalian berdua keluar saja dari rumah ini.... Kamu sudah punya suami sekarang Pop, dan Herman walaupun sekarang kamu belom dapat pekerjaan carilah, dan penuhi kebutuhan istri kamu Popi, kami sudah menyerahkan tanggung jawab kami sebagai orang tua Popi ke kamu, sekarang Popi tanggung jawab kamu Herman " ucap Bu Rukmini tegas.


" Ia Bu.... Saya akan berusaha untuk membahagiakan Popi "


" Sudah jangan nangis lagi, ini kan karena perbuatan kamu sendiri, jadi kamu sendiri yang harus nanggung akibatnya, lagian gila kamu Popi rumah mamah kamu jadiin tempat zina gak ada otak kamu, sekarang mendingan kamu pergi, sebelum ayah kamu ngamuk .


" Tapi Popi harus kemana Bu..? Hiks hiks"


" Itu terserah kalian berdua, ibu udah gak mau ikut campur, beresin barang barang- kamu sekarang !" ucap Bu rukmini... Yang langsung pergi meninggalkan Popi dan Herman berdua.


" Mas... Kenapa jadi kaya gini .... Kita mau tinggal di mana "


" Hayulah kita cari kontrakan saja Pop, kita keluar sekarang, kamu beres-bereslah yang cepet ya, aku gak mau kamu di bawain parang sama bapak kamu," ucap Herman yang langsung masuk kamar Popi untuk mengambil kopernya. Dengan lemas Popi pun memasukan semua pakaiannya ke dalam koper, tapi masih menyisakan barang-barang yang lain, karena Popi yakin, dia pasti kembali ke rumah ini. Saat Popi sedang packing Herman pun keluar duduk di teras.


Drt....drt.... drt.....


[ Ini belom seberapa Herman, penderitaan kamu baru saja di mulai ]


Deg


Pesan masuk ke HP Herman, tanpa menunggu lama Herman pun langsung menghubungi kontak pengirim chat tersebut, tapi sial sudah tidak aktif.