
"Baiklah, terimakasih kepada bapak Arsen selaku moderator acara ini, tujuan saya melakukan konferensi pers ini adalah untuk memperkenalkan anak saya kepada khalayak ramai dan juga untuk menggabungkan perusahaan anak saya dengan perusahaan keluarga turun temurun, yang akan saya wariskan ke anak tunggal saya yaitu Agam, karena saya pun sudah tua dan ingin beristirahat dengan istri saya tercinta, jadi semua tanggung jawab perusahaan akan di serahkan kepada anak saya Agam." Ucap Pak Bram panjang lebar. Agam hanya memperhatikan perkataan papahnya yang menurutnya menyindir sejumlah pihak.
"Dan selanjutnya mari kita persilahkan kepada bapak Agam untuk menyampaikan kata sambutannya," ucap Arsen.
"Khmmm... Gimana ya? Sebenarnya tak ada yang ingin saya sampaikan, karena semua telah di katakan oleh Papah saya, saya merasa sangat bangga bisa menjadi anak dari seorang yang hebat seperti orang tuaku Papah Bram dan Mamah Lisa, didikan mereka menjadikan aku seperti sekarang ini," ucap Agam.
"Wah hubungan anak dan orang tua yang sangat harmonis ya," ucap Arsen.
"Pak, apakah ada sesi tanya jawab?" ucap salah seorang wartawan.
"Tentu saja ada... Silahkan bagi yang ingin bertanya di persilahkan, tapi akan kita pilih dan batasi pertanyaannya karena kita juga mengingat waktu konferensi ini yang hanya terbatas, Silahkan untuk wartawan di sana ," ucap Arsen sambil menunjuk ke arah kerumunan wartawan.
"Ia maaf pak, Saya ingin bertanya, Mengapa selama ini Pak Bram menyembunyikan Identitas anaknya Pak," tanya wartawan tersebut.
"Ia sebenarnya saya tidak ingin menyembunyikan fakta tentang anak saya Agam, ini semua mutlak permintaannya" jawab Pak Bram melirik anaknya.
"Ahhh ia... Saya hanya ingin di kenal sebagai orang biasa saja pada awalnya, jadi saya bisa menemukan teman-teman yang tulus karena saya bukan karena latar belakang saya, begitu pun dalam bisnis, saya ingin di kenal sebagai Agam, sebagai diri saya sendiri yang bisa membangun perusahaan saya sendiri tanpa ada latar belakang mengikuti yang saya, ya walaupun modal awal tetap di berikan dari orang tua saya," ucap Agam. Dan Arsen menunjuk wartawan lain yang ingin memberikan pertanyaan dari banyaknya yang mengangkat tangan.
"Lalu bagaimana Pak dengan perusahaan yang anda bangun, kami dengar para pemegang saham itu menarik saham mereka, apakah mereka sudah tau kalau bapak itu adalah pewaris dari LALISA GRUP?" tanya wartawan lainnya .
"Kalau untuk para pemegang saham, Saya tidak terlalu ambil pusing tentang mereka yang ingin menarik sahamnya, tapi mereka semua belum tau saja siapa saya sebenarnya," jawab Agam.
"Wah rugi sekali dong mereka saat ini, melepas kerja sama dengan perusahaan besar," celetuk salah satu wartawan.
"Entahlah itu urusan mereka, bukan keinginan saya mereka menarik semua saham mereka, yang pasti itu tidak merugikan saya sama sekali," jawab Agam tegas.
"Ok. baiklah, saya rasa Pertanyaan di cukup kan sekian dulu saja, karena waktu yang sudah sangat menipis, Kalau begitu kita akan mengakhiri konferensi pers hari ini, dan terima kasih kepada rekan-rekan wartawan yang sudah hadir disini," ucap Arsen dan acara pun di tutup dan telah selesai. Para wartawan pun keluar dengan rapih seperti anak SMA baru pulang sekolah.
Setelah acara konferensi pers itu selesai, Agam langsung mengambil HP nya, karena saat konferensi berlangsung HP Agam selalu berkedip-kedip tanda ada panggilan telepon masuk, Agam pun melihat HP nya dan begitu banyak panggilan masuk dari para penghianat itu, termasuk Riki, Agam hanya tersenyum sinis, dan tidak mau menanggapi mereka, tugasnya sekarang hanya ingin memindahkan Head Office perusahaan orang tuanya ke Jakarta, agar bisa selalu bersama istri tercintanya.
"Sekarang mau pulang apa ke kantor gam," tanya Pak Bram saat sudah di lobby Hotel.
"Kantor Pah, mulai hari ini Agam kayanya super sibuk."
"Oh ia.... Mau papah bantuin untuk urus kepindahan Head Office,"
"Boleh Pah, Papah nanti atur yang dari Bandung aja, jadi Agam gak terlalu sering bulak balik Jakarta-Bandung."
"Ya sudah nanti asisten Papah yang bakalan bantuin kamu,"
"Ok. Pah, Agam duluan ya Pah."
"Ia gam, Papah juga mau langsung ke Bandung, kangen berat sama Mamah "
"Dasar Papah bucin tua,"
"Kaya kamu enggak aja, Papah pulang ya assalamu'alaikum."
"Ia Pah hati hati, wa alaikum salam, ucap Agam yang memandang mobil ayahnya pergi.
"Pak Agam....!" Ucap Arsen yang buru- buru menghampiri Agam.
"Kenapa sen? Buru-buru amat kaya mau ngambil gaji aja."
"Wah itu mah lebih gercep lagi pak, tapi ini Pak ada telepon dari Pak Yosep, Pak Frans, Pak Brama dan Pak Deni , mereka semua ingin membuat janji bertemu dengan bapak hari ini di kantor, Bisa Pak"
"Jadwalku, gimana kosong...?"
"Kosong Pak, setelah jam makan"
"Baiklah, atur saja setelah makan, di ruanganku."
"Baik pak."
"Ya sudah, kita balik kantor kerjaan Ku masih banyak."
"Baik Pak, siap laksanakan!" Ucap Arsen yang langsung masuk ke dalam mobil bersama Pak Agam.
Agam dan Arsen pun sampai di gedung perusahaannya, walaupun perusahaan Agam terbilang baru, dan baru beberapa tahun, tapi karena kepintaran dan kejelian Agam, ia bisa mengembangkan perusahaan nya menjadi sebesar ini, saat Agam melewati kantor nya semua wanita tertuju pada Bosnya yang tampan itu, banyak sekali yang ingin merayu Agam, walaupun mereka tau kalau Agam sudah mempunyai istri, tapi memang dasarnya jiwa Pelakor, mereka tidak pernah takut bahkan ada yang terang-terangan nekat mendekati Agam di manapun Agam berada. Dan pada akhirnya para wanita itu berakhir di kirim ke benua yang paling jauh dari Indonesia dan menderita disana.
Jam makan siang pun tiba, Agam di kirimkan bekal makanan memalui aplikasi ojek online oleh istrinya tercinta, karena Agam hanya ingin makan, masakan istrinya yang super enak itu.
[ Assalamualaikum Haloo.. sayang.. makasih ya udah kirimin mas bekal, makin semangat buat cari dollar buat kamu ]
[ Wa alaikum salam, Jangan Dollar dong yank... Poundsterling sekali-sekali, kan kece tuh ]
[ Ia dah apa aja buat istri mas tercinta ini, kamu udah makan? ]
[ Udah yank... Tadi aku makan sama bini dan mba Sus, sepi gak ada kamu di rumah ]
[ Ya sudah jalan-jalan aja ke luar shopping gih ]
[ Boleh dong.. ajak sekalian bibi-bibi dan mba Sus sekali-kali ke Mall dan traktir mereka ]
[ Aku borong boleh? ]
[ Boleh lah, mau kamu borong sama Mall nya juga boleh ]
[ Ia dah Sultan mah bebas, jajanannya Mall nya langsung yang di beli ]
[ Ia kalo mau ku beliin pulau juga bisa ]
[ Buat apa... Aku belum butuh hal seperti itu, ya sudah yank aku mau bawa orang rumah buat healing di Mall ya, kita mau shopping, tapi kamu jangan marah kalo uang kamu habis! ]
[ Ia sayang tenang aja, uang aku unlimited ga bakalan habis ]
[ Sombongnya suamiku ...! Ya sudah Assalamu'alaikum yank ]
[ Waalaikum salam] ucap Agam lalu terdengar Nissa mematikan sambungan teleponnya, Nissa sungguh manis, wanita cantik dan mandiri, yang tidak pernah memanfaatkan kekayaannya, bahkan selama menikah baru kali ini dia berniat ingin shopping menghabiskan uangnya Agam, mengingat itu Agam hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Agam pun memakan masakan istrinya yang sangat lezat dalam hitungan menit tanpa tersisa.
Tok...tok..tok...
"Masuk," ucap Agam saat mendengar ketukan pintu dari luar.
"Maaf pak .. bapak-bapak gak tau diri sudah datang pak," ucap Arsen
"Ya sudah, suruh tunggu di ruang meeting saja, dan kamu temani saya, kita buli mereka sama-sama." Ucap Agam datar
"Baik Pak, saya undur diri untuk membawa mereka ke ruang meeting ... Rasanya Mulut saya udah gatal pengen ngejulidin orang," ucap Arsen yang melihat Agam hanya menganggukkan kepalanya saja.
Ke empat bapak-bapak mantan Investor di perusahaan Agam pun sudah memasuki ruangan meeting yang biasa mereka lakukan untuk meeting, mereka menunggu Agam untuk masuk keruangan sedangkan Arsen sudah duduk di kursi nya dengan santai, para Office Girl pun sudah membawa banyak cemilan dan minuman keruangan meeting tersebut.
[ Kalian sudah temukan Riki ] ucap Agam berjalan memasuki ruangan meeting dan langsung duduk di kursi kebesarannya sambil bicara di Handphone dengan anak buah organisasi mafia nya.
[ Sudah pak, Riki sekarang tinggal di rumah asistennya yang bernama Johan ]
[ Jadi beneran dia di usir oleh Papahnya]
[ Kabarnya benar pak, dan Riki juga sudah di pecat di perusahaan Suryadiningrat pak ]
[ Bagus... Berarti pak Surya mengambil langkah yang tepat untuk mengeluarkan anaknya yang bodoh itu ]
[ Ia pak benar ]
[ Kamu terus pantau, pas dia keluar eksekusi dia dan bawa ke ruang rahasia, tapi bukan di rumah saya, di markas kita ]
[ Siap pak laksanakan! ] sambungan telepon pun di putuskan, dan Agam melihat seluruh wajah para mantan Investor nya itu pucat pasif seperti habis melihat hantu atau apalah itu.
"Kenapa dengan wajah kalian bapak- bapak," ucap Agam heran.
"Pak Agam... Apakah benar pak Riki di pecat dari kantor nya? tapi kan dia itu anak pemilik perusahaan."
"Ia ... Yang saya dengar sih begitu Kabar nya memangnya kenapa? dan apa tujuan kalian ingin bertemu dengan saya, apa hanya ingin membicarakan tentang Riki," tanya Agam biasa.
"Tidak Pak Agam... Kami semua disini ingin meminta maaf kepada pak Agam, karena telah menarik semua saham kami pak, kami berencana ingin berinvestasi lagi pak," ucap Brama.
"Wah... Wah..wah... Gampang sekali kalian mengucapkan kata itu, memang kalian pikir perusahaan saya ini perusahaan kecil, yang masih ingin menerima Investasi," ejek Agam dengan kata sombong nya.
"Bukan begitu pak, tapi kami berpikir pak Agam itu sangat baik hatinya dan mau memaafkan kami. Pak Agam bisa bekerja sama dengan kita lagi, kan tidak menutup suatu fakta, bahwa karena Investasi kami perusahaan pak Agam bisa besar seperti sekarang," ucap Frans tidak tau malu.
"Kalian memang perwujudan dari orang- orang yang tidak tau diri, Tanpa uang kalian pun perusahaan saya masih tetap maju, karena saya mempunyai sokongan dana yang kuat, uang kalian itu hanya butiran debu sebenarnya, malah saya pikir kalianlah yang beruntung bisa berinvestasi dengan saya karena mendapatkan pundi-pundi uang yang banyak, kenapa jadi menuduh perusahaan saya yang butuh kalian, tau matematika kan kalian." hina Agam.
"Anda tidak bisa seenaknya menghina kami pak, kami kesini datang baik-baik ingin melakukan kerja sama dengan anda pak, dan anda juga salah kenapa tidak mengatakan dari awal kalau pak Agam itu anaknya pak Bramantyo dan sekarang perusahaan anda bergabung dengan perusahaan no 1 di negara ini anda Jangan sombong... Cuih.. " ucap Faisal kesal.
BRAKKKKKKKK...
"Jangan menguji kesabaran saya... ... Kalian semua yang mengkhianati saya karena terbujuk rayuan Riki dengan iming iming saham 4% dari saham Suryadiningrat, dan dengan seenaknya kalian menyalahkan saya, Apa kalian sudah tidak waras... ?" Teriak Agam marah sambil menggebrak meja.....
Seketika wajah 4 manusia tua itu menjadi pucat pasi bahkan mereka kompak sulit untuk menelan saliva mereka sendiri.
"Dari mana Pak Agam tau tentang pertemuan kami dengan Riki," ucap Bram dalam hati.
"Kenapa Pak Brama kaget bagaimana saya tau, saya tau semuanya, kata-kata busuk kalian dengan Riki di pertemuan tersebut.... Arsen putarkan rekaman suara mereka," suruh Agam ke Arsen.
"Baik pak..., Denger baik-baik para penghianat sekalian," ucap Arsen dan karena kata-kata Arsen ke empat bapak tersebut langsung kaget dan membelalakkan matanya.
"Kenapa....? Kalian tidak terima...! Tidak suka... Mau komplain... Masih punya muka buat komplain.... Dasar tuir-tuir gak ada otak.... Tutup tuh mulut bau jigong... " ucap Arsen pedas, menunjuk ke arah Frans dan langsung memutarkan rekaman suara mereka. Dan Frans hanya menahan kekesalannya.
Suara rekaman pun menggema.... Dan berbagai macam ekspresi dari ke empat bapak-bapak tersebut di tampilkan, Agam hanya menatap mereka jengah.....
"Gini nih.... Mental-mental otak udang di kasih milyaran tiap bulan, maunya malah yang ratusan juta," ucap Arsen julid dan menatap mereka seperti serpihan rengginang.