MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
CLBK... DUDA DAN JANDA


Seminggu ini Kokom benar-benar frustasi dan bingung, tidak tau harus melakukan apa? Pekerjaan rumah pun berantakan, semua pekerjaan rumah tidak ada yang beres, Nita yang melihat ibunya seperti cacing kremi pun memijit kepalanya pusing.


"Mah, stop jangan mundar-mandir terus kepala ku pusing liatnya, duduk Mah aku lapar, udah siang gak ada makanan kaya gini," marah Nita pusing melihat kokom yang hanya melakukan kegiatan unfaedah.


"MAMAH...! dengerin aku gak sih Mah?" teriak Nita lagi.


"Kamu bisa diem gak sih Nit, keluar sana! main kek, kerja kek," ketus Kokom.


"Mah... aku mau kerja apa? sampe sekarang aja Papah belum ngasih aku kerjaan"


"Ya udah kamu balik lagi aja ke si Arka gak apa-apa dah jadi kasir juga lumayan gajinya"


"Ogah... gengsi lah aku... udah ngehina sama ngerusuh kemaren di tempat kerjanya, masa sekarang ngemis-ngemis lagi, mau di taroh di mana harga diriku ini Mah."


"Kaya kamu punya harga diri aja Nit, udah kamu jangan ganggu Mamah karena Mamah juga lagi pusing."


"Mamah lagi pusing apaan? siapa tau nita bisa bantu."


"Beneran kamu mau bantu?"


"Ya kalau gak sulit, aku bisa bantu."


"Kita satronin rumah Bapak kamu, bisa gak kamu, buka-buka kunci?"ucap kokom mendekati Nita sambil berbisik.


"Ngapain harus buka kunci sih Mah, jendela belakang kan gak pernah di kunci cuma di tutup gitu aja" ujar Nita sambil memainkan kukunya.


"Emangnya ada yang kebuka" tanya Kokom bingung.


"Lah... si Mamah lupa kan emang tuh jendela gak pernah di kunci, cuma di tutup doang"


"Kok Mamah bisa lupa ya."


"Berarti Mamah udah pikun, ya udah kapan mau eksekusi" ucap Nita.


"Nanti lah.... Mamah mau liat situasi dulu" ujar Kokom yang menghembuskan nafasnya kasar, memikirkan bagaimana cara masuk dan menemukan sertifikat itu.


"Mamah mau keluar dulu. Pinjem motor kamu ya." Ujar Kokom mengambil kunci motor di meja.


"Mau kemana Mah?" tanya Nita.


"Jalan-jalan, Mamah suntuk di rumah" Ucap Kokom yang langsung ke luar dan mengendarai motor Nita yang di belikan Papahnya.


Kokom pun mengendarai motornya sembarang arah dan tanpa terasa, motor yang Kokom kendarai sampai di pinggir kantor kecamatan tempat Herman bekerja. Kokom pun mendekati tenda mie ayam yang berada di depan kantor kecamatan.


"Mending aku makan dulu, bentar lagi mas Herman juga pulang," gumam Kokom yang langsung memarkirkan motornya dan mendekati si penjual mie ayam.


"Bang mie ayam nya satu, makan sini ya" ujar Kokom memesan mie ayam dan langsung duduk di tempat yang sudah di sediakan.


\_\_\_\_\_\_\_&\_\_\_\_\_\_\_


Di lain tempat, Herman yang sedang menjalani hari-hari damainya, mulai membenahi setiap hal dalam hidupnya, walaupun hidupnya kini sendirian dan terkesan monoton, tapi Herman menikmati kesendirian ini.


dalam hidup Herman sebagai cassanova yang tidak pernah jauh dari wanita, baru kali ini Herman merasakan apa yang di namakan patah hati, dan penderitaan karena di hianati, bertahun-tahun Herman menaruh kepercayaan kepada kokom, dan menyayangi Nita sepenuh hati seperti anak kandungnya sendiri, bahkan sampai melupakan anak kandungnya sendiri, Herman tidak habis pikir, kenapa kokom tega, memanipulasi dan hanya ingin harta yang dia miliki, bahkan Kokom tidak mau memiliki anak darinya.


Herman termenung sendiri di kursinya, semua pekerjaannya telah selesai dia kerjakan, tidak ada lagi pekerjaan, jadi Herman hanya bengong sendiri sambil memegang dagunya dengan tangannya.


"Lu kenapa bro? perasaan habis cere hidup lu hampa, nyesel cerai dari si Kokom?!" tanya Darto menghampiri Herman yang masih bengong di kursinya, untung saja pekerjaannya sudah selesai, kalau belum bisa, gawat nanti, karena Pak camat sedang berada di kantor.


"Kagak, gue lega dan tenang sekaligus bahagia sih, bisa lepas dari dua perempuan benalu itu, cuma sampai sekarang gue gak habis pikir aja, kenapa dia tega, semakin gue mikir semakin gue gak nemuin jawabannya." Jawab Herman.


"Bosen gue, Denger lu ngeluh tentang itu mulu, tiap curhat masalah kelakuan si kokom mulu. Ya udah sih man, mau lu pikirin berapa kali pun emang niat si Kokom awalnya nikahin lu ya buat harta lu doang Tapi kan selama ini, dia juga udah jadi istri yang baik buat lu man, ikhlasin biar hidup lu juga tenang. Kalau terus lu pikirin gak bakalan ada habisnya, bisa-bisa lu stres" ujar Darto.


"Ia lu bener, ngapain gue masih mikirin kelakuan si Kokom. Semuanya juga udah berlalu tinggal gue hidup bahagia."


"Nah gitu, move-on dari rasa sakit hati lu, anggap aja ini tuh pelajaran buat lu. Supaya lu gak nyakitin hati wanita, mungkin juga ini akibat karena dulu lu pernah nyakitin dua wanita di pernikahan lu sebelumnya." Ujar Darto bijaksana, Darto sedikitnya tau tentang kisah rumah tangga Herman, karena kepada Darto lah Herman selalu menceritakan kisah hidup dan masalahnya, begitu pun dengan Darto selalu menceritakan masalahnya dan sharing dengan Herman.


"Jadi lu mau nyari istri baru, apa mau ngapain? saran gue, sekarang lu kerja yang bener dari pada bengong, tar di tegor pak camat! udah bini gak ada, kerjaan juga ilang!"


"Kerjaan gue udah kelar bro, lagian bentar lagi juga pulang, ya gue bengong aja,"


"Jangan ngelamun disini, tar lu kesurupan baru nyaho lu."


"Akh lu nakutin gue aja."


"Mending saran gue, lu perbaiki hubungan lu sama anak kandung lu man yang cowok. Walau bagaimanapun cuma dia satu-satunya pewaris lu, atau gak...lu nikah lagi sama gadis atau janda yang gak punya anak, biar lu aja yang nyetak anak banyak, seenggaknya di hari tua lu, lu gak bakalan sendirian." Ujar Darto.


"Bahasa lu nyetak anak! Lu pikir nyetak gambar!" Ucap Herman sedikit kesal.


"Si Putri gue liatin kayanya, udah gak seagresif dulu sama lu."


"Gak tau juga, mungkin dia dulu cuma mau maen-maen sama gue, makanya sekarang dia mundur alon-alon"


"Terus gak lu pepet si Putri aja,"


"Gue gak pantes buat dia to, lu liat dong si Putri, cantik dan masih gadis pinter lagi."


"Ekh...gadis dari mana? orang dia janda tanpa anak,"


"Oh ia yak...gue lupa, habis penampilan nya kaya anak gadis, masih singset aja, beda sama gue udah tua,


"Emang dia masih mau sama gue"


"Hmm... Tar deh gue ajak dia pulang bareng."


"Nah gitu dong, masa mantan Cassanova tobat."


"Kurang ajar lu!"


"Udah akh... Gue balik ke meja gue dulu, lu jangan lupa beraksi ya nanti" ucap Darto yang menepuk pundak Herman dan langsung pergi, Herman pun tersenyum sendiri saat mengingat wajah Putri. Semenjak dia menolak cinta Putri dulu, secara halus Putri mencoba untuk menghindari Herman. Putri mendengarkan kata-kata temannya, untuk menjauhi Herman yang masih suami orang. Dan Herman yang masih sibuk dengan perceraian nya dengan Kokom tidak begitu memperhatikan perubahan Putri dan membiarkan dia dan Putri semakin menjauh.


Jam pulang pun tiba, Herman segera membereskan kertas-kertas pekerjaan nya. Dan di masukan ke dalam laci, lalu buru-buru mengambil tas kerjanya dan menghampiri Putri yang masih ada di mejanya.


Herman pun tersenyum saat melihat Putri sedang fokus dengan laptopnya. Dia pun mendekati Putri.


"Hay Put" Ucap Herman saat sudah ada di depan meja Putri.


"Astaghfirullah mas Herman, ngagetin aku aja." ucap Putri yang kaget dan mengelus- ngelus dadanya.


"Maaf... Maaf... habisnya kamu serius dan fokus banget, kok belum pulang Put, belum kelar kerjaan nya ya?" Tanya Herman.


"Belum mas, dikit lagi..., nah akhirnya selesai juga laporannya, pegel banget ini punggung sama tangan," ucap Putri sambil merenggangkan tangannya yang terasa pegal.


"Udah kelar? ya udah ayok pulang, aku anterin ya!?" Ajak Herman membuat putri menatap Herman intens.


"Mas Herman mau nganterin aku? Gak mau akh, aku gak mau deket-deket sama laki orang" ucap Putri sambil membereskan kerjaannya dan memasukan laptopnya ke meja kerja lalu menguncinya.


"Loh yang suami orang siapa Put? Kamu gak tau ya? Kalo aku udah cere sama istriku" jelas Herman, membuat Putri membelalakan matanya tak percaya.


"Kenapa mas Herman cere? bukan karena aku kan mas!? aku udah berusaha menjauh dari kamu mas, seperti permintaan kamu" sahut Putri.


"Ia aku tau dan aku mau ucapin makasih sama kamu. Tapi aku bercerai dengan istriku bukan karena kamu. Jadi kamu gak usah merasa bersalah, lagian aku juga bercerai udah lama."


"Kalo boleh tau kenapa mas?"


"Aib rumah tangga, aku gak bisa ceritain Put"


"Ohhh begitu, Maaf ya mas"


"Kenapa kamu minta maaf, Ayuk pulang aku anterin! Tapi kamu gak ada yang marah kan? aku anterin kamu pulang"


"Siapa yang mau marah mas, aku masih single dan sendiri."


"Alhamdulillah"


"Kok Alhamdulillah kenapa mas?" tanya Putri curiga.


"Yah gitulah..." ucap Herman tersipu malu-malu.


Mereka berdua pun ke luar bersama menuju parkiran motor, kantor kecamatan pun telah sepi, karena Putri dan Herman adalah pegawai yang keluar terakhir, jadi tidak ada yang melihat mereka pulang bersama.


Herman pun membawa motornya dengan membonceng Putri di belakang. Putri di belakang merasa sangat bahagia, walaupun dulu Putri memutuskan untuk melupakan Herman dan mencoba membuka hati untuk pria yang lain, tapi hati tidak bisa berbohong. Cinta itu masih ada, bahkan sekarang sepertinya semakin besar.


Herman menurun kan putri di depan rumahnya. Dan putri pun tersenyum kepada Herman.


"Makasih ya mas, udah anterin aku pulang dan maaf ga bisa nyuruh kamu mampir."


"Ia sama-sama, aku juga gak mau mampir, takutnya ada setan lewat. Bisa berabe nanti."


"Ia mas.. ya udah aku masuk dulu makasih ya mas." Ucap putri yang langsung masuk ke dalam rumahnya. Herman pun kembali mengendarai motornya dan pulang ke rumah.


Tanpa Herman ketahui, Kokom sudah mengikuti Herman dan Putri dari kantor kecamatan. Wajah Kokom sangat murka dan marah melihat itu.


Wajah Kokom berubah menjadi merah, dia mengepalkan tangannya erat.


"Jadi si janda itu yang membuatmu menceraikan aku Pak!? Aku akan buat perhitungan sama dia, kurang ajar" ucap Kokom. Dan dia pun segera menjalankan motornya kembali untuk pulang.


Di rumah Kokom membuka pintunya kasar, membuat Nita yang sedang rebahan menonton TV kaget.


"Dasar laki-laki!


"Mamah...! Apa-apaan sih datang-datang nendang pintu. Punya orang Mah, kalau rusak Mamah mau ganti!?" Ucap Nita marah, Nita benar-benar kaget sampe jantungnya berdetak dengan kencang.


Diam kamu Nita...! Mamah lagi marah, Mamah tuh pengen makan orang kalau bisa...!" Teriak Kokom dengan muka yang semakin memerah.


"Dih nyokap gue kanibal juga, Kenapa sih Mah? sini duduk cerita sama Nita, bukannya Mamah keluar buat healing ya tadi? Kenapa pulang-pulang berubah jadi tanos sih Mah, Nyeremin aja,"


"Siapa tanos...?" Ketus Kokom menatap anaknya.


"Itu yang main film. Orangnya serem banget, badannya gede, suaranya melengking kaya nenek sihir, ya ... percis seperti Mamah tadi pas lagi marah-marah," ujar Nita... becanda sambil cengengesan.


"Kamu ya ...! orang Mamah lagi kesal, malah becanda."


"Lagian Mamah... datang-datang marah- marah, kenapa sih Mah? Pasti habis ketemu sama Bapak ya Mah? jangan dulu temuin Bapak, tar kita susun rencana buat balas Bapak, kita rebut rumah itu dari bapak" ucap Nita membuat Kokom menatap Nita Tajam.


"Kamu gak tau sih Nit. Bapak kamu udah jalan lagi sama cewek lain. Padahal baru cerai seminggu Nit, Seminggu... coba Bayangkan!"


"Lah emangnya kenapa...? Bapak jalan sama cewek lain.. kan Bapak udah cerai dari Mamah, Lah Mamah masih jadi istri Bapak, tapi main sama Papah kaya suami istri" Ucap Nita santai.


Kokom pun semakin menatap tajam Nita...