MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
MANTAN DATANG NGERUSUH


"Ngapain sih nyai Kunti nemuin gue lagi. Perusuh dimana-mana selalu ada aja" keluh Mario kesal. Mario kembali melanjutkan pekerjaannya. Tapi tiba-tiba saja pintunya terbuka dengan kasar.


"Bu... Bu... Anda tidak bisa memaksa masuk seperti itu Bu!" Ucap Romi saat melihat Marlina, wanita yang ingin bertemu dengan Mario di bawah tapi memaksa untuk masuk ke dalam perusahaan. Bahkan Marlina dengan sengaja merebut card dari Security dan memaksa masuk ke dalam lift.


"Maaf Pak, Ibu ini sudah saya bilangin tapi maksa." Ucap Mario menatap marah ke arah wanita dengan dandanan natural dan pakaian modis itu. Mario menatap Romi dingin dan diangkat nya tangan Mario untuk diam. Tak lama kemudian dua Security pun tiba di depan ruangan Mario yang pintunya terbuka lebar.


"Maaf Pak Mario, kami kecolongan" ucap salah satu Security tadi.


"Gak apa-apa kalian tunggu saja di luar" ucap Mario melihat kedua Security yang sedang ngos-ngosan.


"Jangan keluar Rom, kamu nemenin saya aja disini." Ucap Mario dingin.


"Mario... Maaf kalau aku maksa, Tapi aku bener-bener pengen ngomong sama kamu penting berdua." ungkap Marlina, dia maju dan langsung menghampiri Mario hendak memeluk Mario yang masih duduk di kursi, karena reflek Mario pun mendorong kasar tubuh Marlina hingga terjatuh.


"Yo... Kenapa kamu dorong aku...!" Ucap Marlina marah menatap Mario.


"Lagian kamu itu gak sopan! udah datang maksa, main meluk-meluk orang seenak jidat. Situ siapa? emak saya bukan, bukan muhrim ya Tante! jangan peluk saya seenaknya" ucap Mario sengit.


Romi yang melihat Marlina jatuh dan mendengar kata-kata kata pedas dari bos Mario sampai terkikis geli, Marlina yang mendengar Romi tertawa langsung mendelikan matanya tajam ke arah Romi.


"Kenapa Bu? matanya melotot kaya gitu, mau saya colok sama tusukan sate?" ujar Romi sewot. Marlina pun bangun dari duduknya di lantai.


"Kamu tuh gak usah sombong ya! Masih jadi jongos Mario aja sombong, gak ngehargain saya kamu! Saya ini tamu spesial nya Mario" teriak Marlina.


"Spesial pakai telor Bu, Hihihi" tawa Romi melihat wajah Marlina semakin memerah karena menahan marahnya.


"Kamu mau apa kesini? Saya sibuk, Kalau gak ada yang mau di omongin mending kamu keluar saja, Kalo enggak itu Security di luar bakalan nyeret kamu keluar dari ruangan ini" ucap Mario dingin.


"Mario please, aku butuh ngomong berdua sama kamu. Tolong kamu usir assisten kamu sama dia Security itu" Pinta Marlina.


"Lima menit, Kalau gak ngomong, seret aja keluar wanita ini dan jangan pernah biarkan dia masuk ke gedung Perusahaan ini lagi" Ucap Mario.


"Mario please...! Ok... Aku minta maaf sama kamu Mario, please jangan lakuin ini sama aku. Aku gak bisa jauh dari kamu. Please maafin aku dan balik lagi sama aku ya...!" Pinta Marlina dengan wajah melasnya menghampiri Mario dan berusaha untuk meraih tangan Mario. Tapi sebelum Marlina memegang tangan Mario. Tangan Marlina sudah keburu di hempaskan oleh Mario dengan kasar.


"Definisi makhluk kasar yang tidak tau diri, maaf ya mbak. Udah lama banget saya maafin kamu. Tapi maaf lagi, saya udah gak mau berhubungan sama kamu lagi. Karena apa? kamu tau mbak?" Tanya Mario dengan dingin. Marlina hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tau tapi masih serius mendengarkan.


"Karena saya gak suka barang bekas sahabat saya. Bukannya saya terlalu sok dengan keperawanan seorang wanita. Enggak sama sekali! asal wanita itu jujur, tapi saya paling benci dengan seorang penghianat!" ujar Mario dingin membuat Marlina semakin pias wajahnya.


"Apa kamu gak bisa lupain perbuatan aku dulu Mario? apa kenangan manis kita gak bisa jadikan pertimbangan kamu...?" Lirih Marlina mencoba menyakinkan Mario.


"Maaf mbak! waktu anda sudah habis, Jadi silahkan keluar dari ruangan saya! Dan satu lagi, Jangan ganggu saya lagi! Karena saya mau menikah dengan wanita pilihan saya. Wanita yang sangat saya cintai melebihi diri saya sendiri. Dan kamu bilang tentang kenangan kita?! Saya rasa, masa lalu itu hanya pelajaran buat saya untuk tidak terjerumus ke dalam wanita picik yang lainnya, jadi wanita yang awalnya baik tapi menyimpan kebusukan di dalamnya. Pak silahkan tarik wanita ini keluar, dan ingat-ingat wajahnya, jangan sampai dia masuk lagi ke gedung ini. Kalau kalian kecolongan lagi, saya akan pecat kalian!" ujar Mario dingin.


"Mario... kamu gak mungkin nikah sama wanita lain! Kamu itu cinta matinya sama aku doang Mario..." Teriak Marlina histeris.


Marlina berusaha untuk mendekati Mario, tapi tangannya keburu di tarik paksa oleh dua Security.


"Lepasin gue... Kurang ajar kalian berdua...! Lepasin...!" Teriak Marlina.


"Yo.... Tolongin aku Yo.... MARIOOOO!" teriak Marlina yang menggema di sekitar lorong. Marlina pun di tarik paksa oleh kedua Security dan langsung di bawa turun menggunakan lift. Setelah di bawah, Marlina masih saja teriak sehingga menjadi pusat perhatian para pegawai yang di Lobby, saat sampai di luar, kedua Security pun langsung melepaskan tangan mereka dari tangan Marlina. Dan Marlina pun mencoba memaksa masuk kembali ke dalam gedung.


"Jangan memaksa kami untuk bertindak lebih kejam kepada ibu. Sekarang lebih baik ibu pergi dari sini! sebelum saya laporkan ke polisi!" ucap salah satu Security yang berbadan tinggi tegap.


"Kalian berdua awas aja.. ya...! Kalian ini gak tau siapa saya ya...? Kalau saya jadi menikah dengan Mario... Kalian berdua yang akan pertama saya pecat dari kantor ini...!" Ancam Marlina, sambil terus menunjuk dengan telunjuk tangannya.


"Ya... Ya ... ya ... Kalau mau ngehalu, di rumah aja Bu! jangan disini! Silahkan pergi...!" Usir Security tadi.


"Awas kalian berdua!" ucap Marlina yang langsung pergi Dari kantor Mario.


"Kurang Asem...! Si Mario... Udah berani dia sama gue! gue gak percaya dia mau nikah! Ini pasti akal-akalan dia aja buat ngejauh dari gue. Selama ini gue gak pernah denger dia deket sama cewek. Gak...gak...gak... dia pasti bohong! Ia ... dia pasti bohongin gue! Mario...Mario... Gue tau lu tuh bucin sama gue! Lu pasti balik lagi jadi milik gue!" gumam Marlina berbicara dengan dirinya sendiri. Marlina tersenyum menyeringai. Membuat orang orang di sekitar yang melihatnya menjadi bergidik ngeri.


"Apa lu... Liat-liat... Belum pernah liat cewek cantik lu ?" sewot Marlina kepada lelaki yang melihat dia.


"Dih PD... Cantik dari mana? gila ia, Ngomong sendiri sama senyum sendiri. Kalau gila jangan disini mbak, Sono ke RSJ aja, Ini tempat orang waras" Ujar lelaki tersebut.


"Ekh kurang ajar lu... !" Marlina ingin memukul lelaki comel tadi tapi keburu si lelaki itu kabur.


"Dih Dasar kadal! mulut kaya comberan got, tapi nyali kaya kerupuk!" Ujar Marlina, dia pun pergi dari halaman depan gedung perusahaan Mario.


______&______


"Lu inget-inget muka dia, kalau dia berani maksa masuk lagi kesini, atau bikin keonaran lagi, langsung aja usir! Jangan sampe masuk ke ruangan gue lagi." Ucap Mario yang kembali dengan setumpuk berkas yang tiada habisnya.


"Beres Bos, Nih sih Bos pasti matanya lagi katarak ya. Pas pacaran sama dia," Ucap Romi yang masih betah diam di ruangan Bos nya itu.


"Bukan katarak gue Rom, tapi gak sadar, Kayanya gue di pelet deh, sama cewek itu dulu. Mangkanya kalau gue inget dulu pernah suka sama dia, gue jadi takut sendiri, hiiiii" ucap Mario sambil menggoyangkan pundaknya.


"Kayanya sih Bos. Lumayan cantik sih orangnya, tapi kelakuannya imat-imat dah..." Ujar Romi yang mengetukkan kepalanya.


"Amit amit kali...! Tuh mulut terbalik mulu, Kaya otak lu, udah keluar sana. Kerjaan gue masih banyak, mana berkas gak abis- abis. beranak-pinak nih ya berkas" ujar Mario sambil melihat berkas yang masih menumpuk.


"Ya udah Bos. Selamat berpusing ria. saya keluar dulu Bos. Tapi jangan lupa Bos, sebelum makan siang Bos ke KUA. buat urus surat menikah Bos." Ujar Romi.


"Ia lu temenin gue ya..." Ujar Mario.


"Ok bos... asal di traktir makan."


"Makan Mulu...! Tenang aja, tar lu gue traktir cilok dah sana keluar!" ujar Mario mengusir Romi dengan gerakan tangannya.


"Ya Allah cuma cilok toh, Gak ada yang kerenan dikit Bos, Bakso kek," Romi merengut dan membuka pintu ruangan Mario dan langsung menutup nya kembali secara perlahan. Mario yang melihat kelakuan asistennya yang absurd itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


'Pening pala ku rasanya' Batin Mario.


______&______


Arka dan Rayyan masih tinggal di Amerika. Setelah kemarin acara lamaran Alisha. Karena ijin kuliah Arka dan Rayyan seminggu. Jadinya Arka, Rayyan dan Agam memanfaatkan waktu mereka bertiga di Perusahaan Agam yang ada di Amerika. Sedangkan Nissa, sedang menemani Alisha yang sedang hamil. Agar gampang melahirkan nantinya.


Mereka bertiga di dalam mobil menuju ke gedung tinggi di tengah kota padat itu. Saat mereka bertiga turun. Wajah mereka pun menjadi pusat perhatian karena wajah Asia yang sangat tampan tapi dengan tinggi badan yang tidak kalah dengan penduduk Amerika yang tinggi menjulang. Sehingga kebanyakan kaum hawa harus terdiam terpesona dan terlalu melihat mereka bertiga.


"Ray... Kamu mau gak mimpin perusahaan yang ada disini Ray" Tanya Agam kepada anaknya Rayyan, ketika mereka berjalan bertiga.


"Rayyan tinggal sendirian di LA, males lah Pah. Lagian Rayyan kan masih kuliah" Ucap Rayyan lemas.


"Kamu harus mandiri Rayyan. Sekalian aja, kamu kuliah disini kan bisa ngambil S2 disini" ucap Agam.


"Kalau Abang, Mau gak Mimpin Perusahaan Papah yang ada di Jepang Ka" tanya Agam kepada Arka.


"Gak Pah... Aku kan gak suka bisnis, Palingan aku mau buat Perusahaan aku sendiri di bidang Arsitek" Ucap Arka.


"Ya udah kalau itu jadi kemauan kamu Ka. Kalo kamu butuh apa-apa, kamu bilang sama Papah" Ucap Agam.


"Beres Pah... Arka juga mau pindah ke MIT Pah... Kuliahnya." Ujar Arka.


"Semester kapan...?" Tanya Agam.


"Semester depan Pah... Arka dapat pertukaran pelajar dari MIT, dan Arka dapat kesempatan itu, Kalau nilai Abang bagus, Abang terusin palingan" ucap Arka.


Agam melirik ke arah putra sulungnya itu.


"Arka udah bilang Mamah?" tanya Agam


"Belom sih Pah, tapi nanti Abang pasti cerita,"


"Kok lu main pindah aja si bang, terus yang nemenin gue di Bandung siapa?" Tanya Rayyan dengan wajah imutnya.


"Yakk... kamu pindah juga aja kuliahnya ke STAN atau gak ke Harvard kan bisa dek..." Ucap Arka.


"Tar dah... Rayyan tanya ke pihak kampus dulu,"


"Nah bener itu Ray! Jadinya Rayyan juga bisa sesekali belajar disini" ujar Agam.


"Itu Mah emang maunya Papah" ucap Rayyan merengut, dan itu membuat Agam dan Arka tertawa melihat wajah kesal Rayyan.


Drt... drt...drt...


Dan tanpa Arka ketahui, HP Arka terus saja berbunyi dari tadi, panggilan telepon dari Herman terus saja menghubungi tanpa henti. Sengaja HP Arka sudah di ubah dengan mode silent, karena tidak mau menganggu kebersamaan dirinya dengan orang tuanya.