
Skip cerita liburan di Padang.....
Beberapa bulan pun berlalu, setelah badai yang menerpa telah di lewati, bahkan Kabar terakhir tentang Riki yang sebelumnya tidak mau pergi ke Inggris sampai di berikan obat tidur hingga pingsan dalam perjalanan, untung saja ada pak Burhan orang suruhannya Pak Surya bersama dengan Johan membawa Riki dan membopongnya hingga masuk pesawat kelas bisnis, sepanjang perjalan Riki tertidur, dan bangun saat sudah tiba di bandara udara Heathrow di Inggris, dan sudah dapat di pastikan Riki marah dan ngamuk sampai di usir secara paksa oleh pihak keamanan bandara, karena dianggap mengganggu kenyamanan penumpang lain, tak ada lagi kesempatan untuk Riki bisa kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Nissa, dan Riki di pastikan akan tinggal selamanya di England atas pengawasan pak Burhan dan anak buahnya.
Kehidupan Nissa dan Agam pun di lewati dengan kebahagiaan, Nissa melewati masa kehamilan dengan kedamaian yang hakiki, Agam yang menjadi suaminya pun selalu siaga, walaupun pekerjaan yang sangat sibuk dan membludak karena bergabungnya dua perusahaan, tapi kesibukan Agam tidak mempengaruhi kehangatan keluarga kecil mereka, malahan Agam menjadi bapak yang sangat menyayangi Arka dan calon anak- anaknya. Agam Menjadi suami yang siaga untuk istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan, tak ada satu momen pun yang terlewati, semua keinginan Nissa selalu di penuhi oleh Agam, apa pun itu, bahkan ngidamnya Nissa yang menurutnya aneh, seperti saat ini usia kandungan Nissa sudah berjalan 9 bulan dan HPL nya tinggal 2 Minggu lagi, Nissa yang ngidam aneh tiba-tiba menghubungi Agam di tengah Agam sedang meeting penting bersama para staf nya. Sedangkan si tampan Arka kemarin di jemput oleh orang tuanya Agam dan di bawa ke Bandung untuk di ajak tamasya ke kebun binatang di safari Bogor.
[ Haloo... Mas... Kamu pulang sekarang bisa? aku lagi pengen banget makan soto Banjar mas ] ucap Nissa berbicara di telepon bersama suaminya, dimana Agam sedang melakukan rapat penting bersama para staf nya.
[ Sayang kamu mau ke Banjar nantinya? Abis mas selesai meeting tar mas pulang ya, lalu kita ke Banjar ]
[ Ya sudah aku ke kantor kamu aja ya mas...? ]
[ Kamu mau ke kantor? kamu kesini di antar sama mbok Jum aja ya... Jangan lupa harus sama pak Dadang juga ]
[ Ok mas ] telepon langsung saja di matikan.
"Silahkan lanjutkan...." Ucap Agam, dan Direktur Pemasaran pun langsung meminta rekan kerjanya untuk kembali melanjutkan presentasi nya.
Nissa pun sampai di kantor Agam, gedung mewah tinggi menjulang, yang isinya di penuhi ribuan pekerja yang pintar dan berdedikasi tinggi, Nissa turun dari mobil dengan anggun memakai gamis berwarna pink dusty dengan pasmina senada, dan di tunjang dengan make up yang natural, tapi semakin menambah aura kecantikan yang mempesona dengan perut besarnya, Nissa berjalan perlahan sekali melewati Lobby kantor Agam menuju lift.
"Tunggu dulu...!" Ucap Nissa yang tertahan di tengah-tengah Lobby matanya menyipit ke arah perempuan yang memakai pakaian kurang bahan, itu sangat menyalahi peraturan, karena semenjak perusahaan ini di gabung, dan ada insiden seorang karyawan yang dengan sadar dan sengaja membuka pakaiannya di depan Agam, semua karyawan di wajibkan memakai celana panjang atau rok di bawah lutut.
[ Halo yank.... Aku sudah di bawah nih, bisa kamu tolong panggilin Arsen untuk turun kebawah yank ]
[ Kok Arsen sih yank, Aku yang bakalan turun jemput kamu ]
[ Kalau gitu bawa Arsen juga. Karyawan kamu gimana sih? gak taat peraturan banget pakai baju kurang bahan ]
[ Memangnya masih ada ya? Ya sudah, aku turun bersama Arsen ]
[ Ia yank ... Gak pake lama ] sambungan telepon pun di matikan oleh Nissa,
"Hei Kamu, tunggu....!" Ucap Nissa yang memberhentikan salah satu karyawan Agam secara random.
"Ia Nyonya Bos besar.... Ada yang bisa saya bantu?" ucap karyawan Agam sangat gugup, karena melihat muka Nissa yang menyeramkan seperti ingin menerkam seseorang.
"Jangan panggil saya nyonya, emang kamu bawahan saya, panggil aja ibu. Oh ia, Tuh kamu lihat kan cewek yang lagi berdiri di depan coffee shop yang pake rok pendek?" tanya Nisa.
"Oh.... Ia Bu saya lihat kenapa Bu?"
"Dia karyawan sini, apa tamu?"
"Karyawan sini Bu"
"Panggil dia, suruh ke sini!"
"Baik Bu...!" Ucap karyawan tersebut, karyawan tersebut berbicara dengan wanita yang berpakaian mini, terlihat wanita itu melirik ke arah Nissa, mereka berdua pun datang menghadap ke Nissa, dan sementara Nissa pindah ke tempat ruang tunggu untuk duduk.
"Ini namanya Sintia Bu, apa ada lagi yang bisa saya bantu bu?" Tanya karyawan laki-laki tadi.
"Tidak ada, silahkan kamu boleh kembali"
"Baik Bu" karyawan laki-laki itu menganggukan kepalanya dan pergi.
"Kamu tau? Peraturan disini di larang menggunakan pakaian kurang bahan seperti yang kamu pakai!"
"Ia, saya tau...! Memangnya kenapa?" ucap Sintia pongah.
"Lalu, kenapa kamu masih memakai pakaian seperti itu di kantor ini?"
"Lah ibu siapa? ngatur-ngatur saya, Paman saya saja yang manager disini ngizinin kok, situ ibu hamil sok-soan ngatur-ngatur gue, Lu tuh kayanya gak tau fashion ya? Di lihat dari bajunya aja kampungan, staf biasa kali ya lu ha ha ha...."
"Lancang kamu! Menghina Nona saya. Kamu gak tau siapa Nona saya ini," ucap mbok Jum...
"Sudah mbok.... Gak usah, biarin aku yang beresin orang kaya gini."
"Sopan lu.... ! Lu pikir gue takut hah! Gak penting paman lu siapa dan jabatan lu apa, kalo lu sudah ngelanggar, lu harus kena surat peringatan," ucap Nissa menekan jari telunjuk Sonia kuat-kuat.
"Sakit begoookk.... Wah makin ngaco nih ibu hamil, gue gampar lu!" ucap Sintia kesal yang langsung melayangkan tangannya, tapi keburu di tangkap oleh Arsen.
"Lancang kamu! Mau menampar istri dari pemilik Perusahaan ini," ucap Arsen marah yang langsung menghentakkan tangan Sintia. Sintia membelalakkan matanya kaget, apa yang Arsen katakan tadi, di depannya ini istri dari Bos besarnya.
"Dan lihat pakaian kamu, sangat tidak sesuai dengan peraturan yang di terapkan oleh perusahaan ini," marah Arsen membentak Sintia keras karena suara Arsen yang yang menggelegar menjadi perhatian seluruh karyawan yang ada di Lobby dan seketika Lobby pun menjadi hening.
"SIAPA YANG MAU MENAMPAR ISTRI SAYA," tiba-tiba ada suara menakutkan yang datang dari arah belakang Sintia, seperti suara hantu yang menakutkan.
"Ini dia pak, Tersangka nya. Saya juga gak tau dia itu pegawai sini atau bukan? tapi saya rasa dia bukan pegawai sini, karena di lihat dari pakaian nya," ucap Arsen. Sintia hanya menunduk takut, keringat dingin langsung keluar dari tangan dan dahinya, bahkan tangannya gemetar hebat.
"Sayang kamu gak apa apa?" ucap Agam melihat keadaan Nissa."
"Aku gak apa-apa yank, tapi perut aku sakit," ucap Nissa yang sedikit meringis menyentuh perut nya.
"Pak bos... Kita harus bawa Bu Nissa ke rumah sakit sekarang, Bu Nissa kesakitan, lihat keringat nya," ucap mbok Jum khawatir yang langsung memegangi badan Nissa.
"Mbok Jum cari Dadang suruh siapkan mobil sekarang juga, aku tunggu di mobil." Mbok Jum pun langsung berlari ke parkiran bos besar yang ada di luar untuk mencari pak Dadang.
"Arsen, Kalau wanita ini pegawai kita pecat dia! Dan kasih surat peringatan kepada siapa pun yang yang memasukan dia ke kantor ini, karena membiarkan dia memakai pakaian seperti ini, dan sudah bicara lancang pada istri saya." ucap Agam pedas dan kejam.
Agam membopong tubuh gendut Nissa, yang masih meringis merasakan nyeri di perutnya, pak Dadang dengan sigap sudah ada di Lobby dengan mbok Jum di dalam mobil, mbok Jum membantu Agam memasukan Nissa ke dalam mobil dan langsung di bawa ke rumah sakit.
"Dan kamu....! ikut saya sekarang juga," ucap Arsen tegas. Dengan lesu Sintia mengikuti Arsen ke ruangan HRD langsung.
"Selamat siang Bu Tania" ucap Arsen yang sudah sampai di ruangan kepala HRD.
"Pak Arsen... Selamat siang pak... Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu? Tanya Bu Tania.
"Saya mau tanya apa wanita ini bekerja disini?" tanya Arsen yang langsung melihat ke arah Sintia bengis.
"Loh Sintia bukan? ngapain kamu dengan pak Arsen," tanya Bu Tania.
"Jadi dia karyawan perusahaan ini," tanya Arsen kembali.
"Maafkan saya pak, saya tidak tahu wanita tersebut adalah istri pak Agam pak," ucap Sintia mengiba kepada Arsen, Sintia keluarkan jurus andalannya yaitu air mata.
"Tolong pecat wanita ini Bu Tania dengan tidak hormat, dan siapa yang memasukan dia kerja disini," ucap Arsen dingin.
"Tolong Pak, Saya mohon pak Arsen, Jangan pecat saya Pak! hiks....hiks... Saya mohon dengan sangat Pak, ampuni saya Pak!" Sintia menangis memohon kepada Arsen hingga dia bersujud di kaki nya Arsen. Dan Arsen sama sekali tidak perduli. Tania selaku kepala HRD langsung mengeluarkan surat pemecatan langsung dan di berikan kepada Sintia.
"Dan di berikan surat peringatan ke tiga untuk yang memasukan dia ke kantor ini, sepertinya ada yang menyalahi wewenang disini, suruh orang itu menemui saya di ruangan saya Bu Tania." ucap Arsen kesal yang langsung pergi meninggalkan ruangan Bu Tania.
"Bu saya mohon, Jangan pecat saya Bu," ucap Sintia sambil menangis.
"Bikin ulah apa kamu sin? dan apa-apaan dengan pakaian kamu ini, kamu tau kan di kantor ini harus memakai pakaian sopan," kesal Tania, melihat pakaian yang di kenakan oleh Sintia. Tania hanya menggelengkan kepalanya, pusing karena ulah karyawati yang satu ini, untung saja sudah di pecat, ibu Tania pun langsung menghubungi Manager Pelaksana untuk keruangannya.
[ Halo .. Pak Surdi, apa benar Sintia ini adalah keponakan anda? ]
[ Ia Bu, ada apa ya Bu? ]
[ Kamu di panggil keruangan Pak Arsen , sekarang juga ]
[ Kenapa ya Bu? ]
[ Saya tidak tahu, lebih baik kamu ke ruangannya sekarang, kamu tau kan pak Arsen tidak suka menunggu lama ]
[ Baik Bu, saya kesana sekarang ] telepon pun di matikan oleh Tania.
"Silahkan kamu bereskan barang kamu dan keluar dari kantor ini," ucap Tania ke Sintia, dan Sintia hanya bisa menunduk sedih. Karena kehilangan perkejaan yang sangat dia banggakan."