MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
MATA-MATA


Tiga hari pun berlalu ....


Agam dan Nissa melewati hari-hari mereka dengan tenang, tak ada lagi gangguan dari Riki, namun itu hanya dari pemikiran Nissa, hanya Agam saja yang mempunyai firasat bahwa Riki sedang merencanakan sesuatu.


Seseorang yang bernama Abas yaitu orang suruhannya Agam, memberitahu kan jika meeting para pemegang saham akan di lakukan di Hotel tiga hari lagi, jika terhitung dari tanggal kemarin, maka hari ini adalah tepatnya. Agam memang pintar, sekaligus licik bisa menyusupkan orang nya di perusahaan Riki, tanpa sepengetahuan siapa pun, maka saat hari ini tiba, Agam akan mengeksekusi rencananya sekaligus membalas para penghianat itu.


"Maaf pak, ada yang mencurigakan di luar sana pak," ucap security Agam melaporkan langsung kepada Agam.


"Mencurigakan maksudnya?"


"Sudah 4 hari ini, saya sedang mengamati mobil yang ada di ujung jalan pak, dan ini foto plat mobil nya. Tapi ketika melewati mobil itu, Selalu ada orang yang berada di mobil sepanjang hari, dan dari tatapan matanya dia lebih mengarah ke rumah ini pak, bahkan dia menggunakan teropong, lalu saya pura-pura melewati lagi kemarin, orang itu masih sama dan sedang menggunakan teropongnya ke arah sini," jelas Security tersebut.


"Mencurigakan...! Tangkap dia dengan beberapa Bodyguard, lalu bawa ke ruang rahasia," ucap Agam tegas.


"Baik pak!" ucap Security tersebut, lalu izin undur diri untuk kembali ke pos nya. Pak satpam tersebut meminta kepada para Bodyguard nya pak Agam yang berbadan besar sebanyak 2 orang untuk meringkus mata-mata yang mobilnya masih setia parkir di sebrang ujung jalan. Dengan langkah yang pasti 2 bodyguard yang bergerak duluan menggunakan sepeda motor mendatangi mobil tersebut dan turun, tanpa basa-basi mereka langsung memecahkan kaca depan di sebelah sopir.


Prang.....


"Keluar lu!" Ucap bodyguard ke 1 yang langsung mengambil kunci mobil, membuka paksa pintu mobil, dan menarik orang itu keluar, dan dengan tangkasnya di plintir tangannya orang suruhan Riki tersebut.


"Aw,,,,,, sakit, Ada apa ini, ada apa? Siapa kalian beraninya merusak barang saya seenaknya, saya akan laporkan kalian ke Polisi, berani kalian!" ucap orang suruhan Riki.


"Diam lu....! Mulut bau jigong... Tutup mulutmu itu..." Ucap bodyguard pertama yang langsung menarik mata-mata Riki tersebut menuju ruang rahasia Agam. Setelah sampai di ruangan Agam, orang tersebut langsung di ikat dengan tali besi yang sangat kuat.


"Lepasin gue.... Sialan.... Gue gak main- main ya, Gue bakalan laporin kalian semua ke Polisi.... Lepasin gue bilang, bangsaaat...." Teriak mata-mata Riki, 2 Bodyguard yang menjaganya tidak menanggapi, malahan mereka asik melihat Video dangdut di youtup.


Tak lama terdengar suara hentakan sepatu dari arah tangga, dan terlihat Agam turun seperti mafia di film-film action, sosok yang tampan tapi berbahaya.


"Jadi ini mata-mata yang selalu memperhatikan rumahku! apa kamu di suruh sama Riki?" Tanya Agam dingin dengan sorot mata tajam yang langsung mencengangkan dagu si tersangka dengan kuat.


"Siapa kamu? Aku bukan mata-mata, Aku penghuni rumah itu, kamu salah tangkap orang" teriak mata-mata Riki.


"Jadi hal apa saja yang sudah kamu laporkan ke Bos kamu itu? Burhan buka HP orang ini" ucap Agam ke Bodyguard yang pertama.


"Baik bos!" ucap pak Burhan yang mengambil HP beserta tas milik orang suruhannya Riki yang dia bawa dari mobil.


"Buka!" ucap Agam


"Berapa sandi nya?" ucap Burhan pada tersangka yang di ikat.


"Itu melanggar privasi, saya tidak akan memberi tahu!"


"Oh jadi gak mau kasih tau, Ok." ucap Burhan yang langsung menghadapkan HP tersebut ke muka tersangka, dan klik HP pun terbuka. Setelah HP terbuka, HP tersebut langsung di serahkan kepada Agam.


" Hmmm.... Mengerikan....! Riki bukan cuma hanya seorang psikopat, tapi juga gila! Burhan kamu tau kan apa yang mesti kamu lakukan...." Ucap Agam.


"Siap bos... Laksanakan!" ucap Burhan, Agam pun meninggalkan ruangan rahasia tersebut. Untuk kembali ke rumah, karena semenjak kerusuhan yang di buat Riki, Agam lebih mengutamakan dan fokus pada keluarganya sehingga Agam tidak sama sekali ke luar rumah, walaupun Nissa berniat ke luar rumah, Agam harus ikut kemanapun Nissa pergi.


"Sayang... Kamu habis dari mana? " Tanya Nissa.


"Ada mata-matanya Riki, tapi tenang aja mereka sudah di eksekusi yank."


"Ohhhhhhhh biarin saja.. dia gak ngelakuin apa-apa kan...?"


"Enggak, cuma buat laporan aja ke majikannya, tapi semua laporan itu semuanya tentang kamu, aku gak ngerti mengapa Kamu di demenin sama orang gila!"


"Biarin yank, Itulah kelebihan ku bukan hanya orang sehat yang mencintai ku, tapi orang gila juga termasuk," balas Nissa.


"Yang penting, Jangan kamu ikut-ikutan menjadi gila yank "


"Enggak lah! tenang aja aku masih dalam tahap awas kok yank, bukan siaga!"


"Dikira gunung meletus kali"


"Hahahaha...., anaknya kangen nih yank"


"Anaknya apa Ema nya yang kangen"


"Anaknya lah... Aku ngapain kangen sama kamu, kan tiap hari ketemu," elak Nissa.


"Masa sih... Mamahnya Arka gak kangen sama ayah yang ganteng ini,"


"No..no..no, Tidak!" ucap Nissa sambil menggelengkan kepalanya yakin.


"Sayangnya Ayah.... Kalian lagi apa di dalam perut Mamah? kangen sama Ayah yah...nih Ayah elus-elus perutnya. Ucap Agam menggoda Nissa.


"Ikh, kok cuma di elus-elus perutnya doang yah."


"Lah kan tadi bilangnya anaknya doang yank kangen!"


"Akh... Pokoknya aku ngambek... Ayah tidur sana di bawah malem ini... Jangan bobo Meluk aku ya," ucap Nissa mencebikan bibirnya.


"Yakin aku tidur di bawah, nyariin gak? kamu mana bisa tidur kalau gak ada di ketek aku yank."


"Ikh... Ayahnya jorok... Aku ngambek pokoknya, mending aku bobo sama Arka saja entar malam, kamu jangan ikutin aku ya!" ucap Nissa beneran marah dan meninggalkan Agam sendirian.


"Yeh... Bumil satu ini, bawaannya ngambek terus, Dinda tunggu kakandamu datang sayang!" ucap Agam lebay.


Persiapan meeting pun sudah 90% di selesaikan, dan para pesertanya pun sudah berdatangan, total peserta meeting ada 7 orang dan Riki orang terakhir yang belum datang, karena dari tadi menelpon Mata-Mata suruhannya, tidak di angkat sama sekali, jadinya Riki tidak mengetahui Kabar Nissa terupdate, apakah ada di luar rumah atau hanya di dalam rumah. Saat sampai di ruangan meeting, Riki langsung duduk di kursi paling depan dan menatap para pemegang saham.


"Maaf saya terlambat, saya langsung To The Point saja, tujuan saya ingin bertemu dengan Rekan-rekan sekalian, saya ingin memberikan sebuah penawaran yang sangat menguntungkan untuk Rekan-rekan. Jika Rekan-rekan semua bisa melakukan apa yang saya inginkan."


"Memangnya, apa yang ingin anda lakukan pak? apa ada kaitannya dengan saya?" ucap bapak pemegang saham yang bernama Frans.


"Tentu sangat berkaitan, karena Rekan-rekan adalah pemainnya."


"Maksudnya?" ucap pemegang saham lainnya yang bernama Yosep.


"Rekan-rekan semua adalah para pemegang saham, di perusahaan usaha Agam Tirta Gemilang kan?"


"Ia benar... " Ucap Yosep lagi, dan bapak yang lain hanya mendengarkan.


"Yang saya inginkan sekarang adalah menghancurkan perusahaan Agam itu hancur sehancur hancurnya, hingga tak bersisa."


"Apakah anda bisa pak? Agam adalah orang yang cerdik dan licik, dia bisa saja menggunakan cara apa pun untuk mendapatkan keinginan nya," ucap bapak yang bernama Brama.


"Tentu saja pak Brama, saya sudah memiliki rencana, tapi saya butuh bantuan Rekan-rekan," ucap Riki.


"Apa itu?"


"Ini rahasia perusahaan pak Bobi"


"Lalu apa yang harus kita lakukan. Dan bayarannya bagaimana? karena kami tidak ingin berurusan dengan pak Agam, kalau harganya tak sesuai dengan apa yang kami mau!"


"Kenapa rekan-rekan sangat takut dengan Agam, dia itu seperti butiran debu untukku."


"Saran saya pak, Anda jangan terlalu meremehkan pak Agam, tapi itu terserah anda sih, saya hanya mengingatkan saja," ucap Yosep.


"Baiklah yang saya inginkan, Rekan-rekan semua menarik diri dari investasi Rekan di perusahaan Agam, saya ingin Agam lost cash dan jatuh, jika Rekan-rekan bisa melakukan itu, akan saya berikan saham di perusahaan ku sebesar 4%. Bagaimana?"


"Hanya 4% ... Apa anda sudah tidak waras pak? Kami berinvestasi di perusahaan Agam masing-masing memiliki saham 10%, sekarang anda ingin kami menarik investasi kami yang bernilai miliaran hanya untuk ratusan juta!"


"Bukan begitu, saham yang aku berikan ini cuma-cuma, dengan saham 4% di perusahaan saya, Rekan-rekan tidak perlu mengeluarkan uang, tapi uang yang akan mendatangi kalian."


"Tapi 4% itu sedikit sekali," ucap bapak botak yang bernama Deni yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.


"Saham itu sudah cukup, dengan memiliki saham Suryadiningrat walaupun hanya 4%, akan tetap membuat Rekan-rekan kaya raya" ucap Riki.


"Bagaimana, apakah rekan semua bersedia ?"


"Kami harus pikir-pikir dulu, tidak bisa memberikan jawaban sekarang, banyak yang harus di pertimbangkan," ucap Bram.


"Oh, ayolah.... Toh tanpa Rekan-rekan pun sebenarnya aku bisa menghancurkan perusahaan Agam, hanya saja aku ingin dia merasakan penghianatan yang dia lakukan dulu, tapi baiklah, aku akan menunggu jawabannya esok hari, nanti asisten ku yang akan mem follow up kepada rekan-rekan semua."


"Baiklah.... Kami akan memberikan jawaban besok." ucap Bram.


"Tidak, saya akan memberikan jawaban hari ini, benar kata pak Riki, perusahaan Agam berarti akan hancur, jadi untuk apa kita masih bertahan, harusnya kita angkat kaki dari sekarang, dari pada kita yang rugi. pak Riki! Saya akan memberikan jawaban saya sekarang, saya akan bergabung dengan anda" ucap Frans.


"Bagus ......saya harap Rekan yang lainnya mengambil langkah yang tepat,"


"Saya juga pak Riki," ucap Josh yang baru mengeluarkan suaranya.


"Saya juga pak Riki, lumayanlah 4% tanpa harus mengeluarkan modal sedikit pun." Ucap pak Yosep.


"Baiklah saya juga, saya akan bergabung dengan pak Riki," ucap Deni mantap.


"Bagaimana dengan anda pak Brama?"


"Saya ingin pikir dulu, besok akan saya katakan," ucap Brama.


"Baiklah.... Karena sebagian besar sudah setuju, tinggal menunggu jawaban dari pak Brama, maka rencana ini akan kita jalankan besok," ucap Riki.


"Meeting hari ini pun selesai... Terima kasih atas bantuan Rekan-rekan sekalian" ucap Riki yang langsung berdiri dan bersalaman dengan bapak-bapak pemilik saham di perusahaan Agam. Setelah semua keluar, hanya ada Riki dan Johan yang tersisa di ruangan tersebut. Padahal tanpa sepengetahuan siapapun, di ruangan tersebut, tepatnya di bawah meja, telah di pasangkan alat penyadap yang bisa merekam dan mendengarkan secara langsung semua pembicaraan yang mereka ucapkan tadi.


"HAHAHAHAH Johan.... Sebentar lagi rencanaku akan terlaksana dan Nissa akan menjadi milikku,"


"Ia Bos... Anda memang hebat Bos... Tapi yang membuat saya bingung ... Maaf se maaf-maafnya Bos.. kenapa Bos begitu ingin memiliki Nissa."


"Johan... Kamu tidak akan pernah paham, karena kamu belum pernah yang namanya jatuh cinta," ledek Riki.


"Ia dah, yang lagi bucin"


Drt... Drt...drt....


"Sebentar Jo ... Papah ku nelpon" ucap Riki.


[ RIKI, APA YANG KAMU LAKUKAN? hentikan semuanya, kamu gak usah ngurusin perusahaan Agam, bodoh kamu, Jika kamu gak mau dengarkan papah, sana balik lagi kamu ke London! ]


Deg...


Papah! kenapa tau apa yang aku lakukan? Sial! siapa yang lancang memberi tahu semuanya ke Papah....?