
"Man......., Kamu kenapa sih buru-buru amat! Katanya kangen sama Arka, Giliran Arka ada, kamu cuekin, malah cepet-cepet ngajak pulang," omel Bu Endang kesal, merengut dengan wajah masamnya mengikuti langkah lebar Herman menuju parkiran.
"Ayok bukk...! Lelet banget sih..." Ucap Herman menengok ibunya di belakang.
"Kualat kamu man, ngatain ibu kamu ini lelet" teriak Bu Endang tak terima karena kata-kata Herman
"Akh... Ibu gak ada kualat," ucap Herman yang masih berjalan cepat.
BUGHHH...
Herman kepleset karena jalanan licin dan tangannya berdarah, sedangkan celana Herman sobek di bagian bokongnya.
"Sukurin! Rasain kamu Herman! Banyak dosa sih kamu sama ibu, Pake nanyain ibu segala... Beneran kan kualat kamu," ucap bu Endang di hadapan Herman mengatasi Herman dengan muka puas dan senyum terbit dari wajahnya.
"Ibu ini! Anak kena musibah, malah di syukurin, Bukannya bantuin gimana sih Bu, Bantuin Herman bangun Bu...," Ucap Herman meringis karena sakit di bokong dan tangannya.
"Bangun sendiri aja, Kaki kamu gak lumpuh kan? Ibu tunggu di mobil Gak pake lama." Ketus Bu Endang kesal, Bu Endang pun langsung meninggalkan Herman yang masih duduk di lantai. Dengan muka bahagia, karena melihat Herman menderita.
Herman hanya terbengong kaget melihat ibunya membuli dan meninggalkan dirinya.
"Ya Allah Bu, Bukannya bantuin hadeuh... "Keluh Herman yang berusaha bangun dengan sekuat tenaga, dengan langkah tertatih-tatih.
"Aduh pinggang, kayanya encok ini," keluh Herman.
"Bu.... Tega banget sama Herman Bu! Anaknya jatoh juga, malah di tinggalin sendirian." Ucap Herman saat tiba di kursi pengemudi.
"Derita lu! Emang Ibu perduli...." Ketus Bu Endang marah. Cepetan jalan, Gara-gara kamu! Mamah jadi sebentar main sama Arka, Lain kali Mamah gak akan pernah ngajak kamu kalau mau ketemu Arka." Ucap Bu Endang kesal.
Herman pun menjalankan mobilnya dan tak menggubris perkataan ibunya, Karena pasti dia tidak akan di izinkan lagi bertemu dengan Arka, Papah mertuanya pasti sudah ngadu ke Nissa dan Agam. Atas apa yang dia lakukan tadi.
___&&&
"Seru amat sih nih, Lagi ngobrolin apa?kok pada ketawa bareng?" tanya Nissa penasaran melihat para orang tuanya kompak tertawa.
"Sini Nis, ada cerita lucu dari Papah kamu...." Ucap Mamahnya Nissa masih dengan senyum cerah di bibirnya sambil menggendong Arka di pangkuannya.
"Loh... Bu Endang mana ...? Kok gak kelihatan udah pulang ya....? Sini Arka Mah, biar Nissa yang gendong," tanya Nisa sambil melihat sekeliling heran karena tidak melihat Bu Endang dan Herman.
"Gak usah di cari Nis, Bu Endang sama anaknya yang gesrek itu udah pulang." Ucap Mamih Lisa menjawab karena melihat gerak kepala Nissa.
"Oh.... Ya sudah baguslah si Herman sudah balik, jengah Nissa ngeliat dia lama-lama Ngelunjak. Nissa juga gak bakalan kasih izin lagi dia buat ketemu Arka.
Sayangnya Mamah anteng banget, kok diem aja? kenapa hmmm?" tanya Nissa kepada Arka... Sepertinya lemas.
"Mah Arka macih antukkk... Mu bobo agi " ucap Arka dengan suara lirih.
"Ya udah bobo lagi yuk di kamar Mamah, ada adik-adik kamu juga disana."
"Mau Mah... Bobo ma adik,"
"Ya udah.... Mah... Mih... Nissa ke atas dulu ya... Pengen rebahan juga capek rasanya..."
"Ya sudah kamu istirahat, Keputusan kamu buat ngelarang Herman kesini Papah sangat setuju, karena tadi dia bikin onar lagi, si Herman gendeng itu, malah ke atas ke kamar kamu, Papah tadi ngikutin dia dan mergokin dia di depan kamar kamu dan Agam..." Ucap Papah jelas... Nissa mengerutkan dahinya mendengar kata-kata Papahnya itu.
"Ngapain dia ke kamar aku Pah...?" Tanya Nissa penasaran.
"Papah juga gak tau, yang pasti kamu harus hati-hati mulai sekarang."
"Ia pak, Nissa ngerti tadi mas Agam sudah kasih tau Nissa."
"Terus Agam nya mana Nis?" tanya Mamih Lisa.
"Ke kamar Mih, Lagi liatin Rayyan dan Alisha, Di kamarnya..." Ujar Nissa menjelaskan.
"Ya sudah Nissa ke atas dulu ya semuanya... assalamualaikum."
"Waalaikum salam" jawab keempatnya kompak.
_&&&___
Hari ini Herman sudah mulai melakukan pekerjaan nya yang baru, yaitu sebagai asisten supir ambulance di rumah sakit dekat rumahnya, Herman kedapatan sift pagi...., Dan karena tidak mau mengecewakan temannya yang telah membantu untuk mendapatkan pekerjaan ini, Herman bangun dari shubuh dan mempersiapkan dirinya serapih dan sepagi mungkin. Dan agar tidak telat Herman berangkat pagi-pagi sekali. Karena dia bekerja jam 7 pagi setiap shift pagi. Bahkan Herman sampai melewatkan sarapan nya dan lebih memilih sarapan di rumah sakit dengan membawa roti yang disiapkan ibunya.
Hari ini Herman memulai pekerjaannya dengan sang sopir ambulans yang akan menjemput ibu-ibu yang akan melahirkan. Tapi di tengah jalan, mobil rumah sakit tiba-tiba di hadang oleh dua mobil Jip yang di isi oleh masing-masing 4 orang jadi totalnya ada 8 orang.
"Aduh.... Siapa ya bang? mana serem amat lagi..." Tanya Herman gugup melihat orang berpakaian hitam keluar dari mobil masing-masing.
"Gak tau... Apa kita di begal ya?" tanya sang sopir yang bernama Kardi, dengan gugup karena takut, pintu mobil ambulans di gedor-gedor kencang dan Seketika mereka berdua kaget saat pintu kaca juga di ketuk dengan kencang.
"Ampun pak jangan bunuh saya, Kasian saya, saya belum nikah Pak...!" Ucap Kardi menutup matanya dan merapatkan tangannya sambil menunduk ketakutan karena suara ketukan semakin keras.
Tok.....tok....tok.....
"Herman keluar lu....." Ucap salah seorang penculik yang memakai baju hitam.
"Herman gak tau bang, Mana kenal Herman sama yang beginian, Herman lelaki yang baik hati dan tidak sombong, gimana Herman bisa kenal dengan preman kaya mereka," ujar Herman panjang lebar, tapi jelas sekali raut wajah Herman yang takut karena mereka mengenali dirinya.
"Mau apa mereka ya? Kenapa mereka kenal padaku?" ucap Herman dalam hati.
"Eh budek lu ya ... Keluar gak.... mau mobil ini gue ancurin hah..." Ujar salah satu penculik yang terus menggedor-gedor kaca mobil.
"Aduh... Pak jangan sakitin saya Pak. Saya cuman orang miskin yang gak punya apa-apa pak, Istri aja saya pun tak punya Pak... " Teriak Herman dari dalam mobil. yang masih enggan keluar. Karena takut di apa-apain.
"Banyak cingcai lu nih codot satu, Keluar kagak..! gue tembak juga nih jidat lu biar isdet sekalian." Bentak penculik kasar dengan muka merah menahan marah.
"Udah lu keluar aja, Dari pada lu di tembak, tar gue ikutan kena tembak juga. Jadi dari padanya kita berdua mati, Mending lu aja yang mati nya ya...!" Ucap Kardi tambah gesrek.
"Loh kok gitu bang.... Ngorbanin gue, namanya itu enak di elu gak enak di gue"
"Kan lu yang di cari, Sudah sana keluar, entar gue lapor ke atasan kalo lu di culik. Sudah buruan keluar sana... ! Tar kita yang di bunuh berdua" dorong Kardi ke tubuhnya Arman.
"Awas lu bang kalo sampai gue kenapa-kenapa," Ancem Herman yang pelan-pelan membuka pintu mobilnya secara perlahan.
Sretttttt
Herman menumpukan kedua tangannya dan keluar dengan sangat hati-hati.
"Bang saya jangan di apa-apain ya bang tolong bang, Saya masih pengen nikah lagi," ucap Herman gemetaran. Di seluruh badannya.
"Eh cecunguk, nikah udah 3 x masih kurang lu?"
Glekkkk
"Lah gimana mereka bisa tau? siapa sih mereka?" tanya Herman dalam hatinya.
"Ayok ikut, Lama banget sih," ucap preman tersebut langsung menarik tangan Herman seperti sedang menyeret nya ke dalam mobil.
"Ya Allah pak, jangan apa-apain saya pak... Saya normal pak.. gak suka sama pedang pak... Hiks...hiks...," ucap Herman yang mulai menangis. Herman gemetaran saat di seret oleh bapak-bapak berpakaian hitam ke dalam mobil. Tak ada satu pun dari mereka yang meladeni teriakan dan rengekan Herman, setelah semuanya masuk mobil, dua mobil hitam pun berjalan meninggalkan ambulans yang di tinggalkan sendirian.
"Ya Allah semoga si Herman gak kenapa- napa, nelpon Bos dulu mending," ucap Kardi yang langsung mengambil HP nya dan mencari kontak Bos nya.
[ Halooo bos pagi.... ]
[ Lu dimana Bambang....? Keluarga korban nelepon terus ...! Karena lu gak sampe-sampe, gimana sih...? ]
[ Aduh maaf nih Bos, terus yang mau lahirannya gimana Bos? ]
[ Palalu pitak gimana... gimana... Ya mereka cancel, di anterin sama taksi online ]
[ Syukurlah ]
[ Kok malah syukurlah, rating kita turun jadinya, karna nanti kita bakalan dikomplain ]
[ Bos... Kita di cegat sama orang jahat Bos.. si Herman di culik Bos, makanya gak nyampe-nyampe karna kita ketahan disini ]
[ Jangan becanda lu ]
[ Ngapain ane becanda Bos... Si Herman di bawa mereka Bos ]
[ Aduh gimana ini... Laporan gak ya...? ]
[ Ya laporan lah Bos... Gimana sih anak buah lagi kesusahan juga ]
[ Lu ada buktinya gak? ]
[ Yah kagak ada... Mana ane rekam Bos... Ane aja lagi ketakutan gitu ]
[ Susah kalau gitu di laporinnya, tapi tar ane coba, Lu pulang dulu aja sekarang ]
[ Ia bos ane pulang assalamu'alaikum,] ucap Kardi yang langsung mematikan sambungan teleponnya setelah itu Kardi menyalakan mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit, ini adalah hari terberat dan menakutkan untuk Kardi.
_____
Mobil melesat jauh dengan kecepatan tinggi, setelah mobil tersebut sampai di sebuah bandara. Herman di ikat tangannya dan di tutupi kepalanya oleh karung kecil, di seretnya Herman dengan kasar, terdengar suara Herman di dalam karung tersebut dengan suara yang tak jelas. Karena mulutnya di tutupi lakban, Herman di naikan di pesawat pribadi milik keluarga Bram Wijaya.... Penculik itu adalah suruhan Bram Wijaya.. ayahnya Agam, Herman di masukan di sebuah kamar, tetapi masih dalam kondisi mata di tutup dan di lakban, Herman di suntikan obat tidur agar tidak bising dalam perjalanan, waktu perjalanan yang lumayan cukup lama, membuat Bram tidur di kamarnya yang ada di pesawat tersebut, pesawat mendarat di sebuah pulau masih di Indonesia tepatnya di provinsi Papua yaitu Bandar Udara Domine Eduard Osok di Papua barat... Rencana Bram dan Dito pun dilaksanakan oleh Bram dengan rapih dan matang, Bram memang totalitas dalam mengerjakan sesuatu.... Herman pun di gotong dan di turunkan ke kursi roda karena masih dalam pengaruh obat tidur. Bram dan anak buahnya menuju suatu kampung yang sedikit jauh dari jalanan kota besar, dan menempati rumah kecil yang sangat sederhana yang nantinya akan di tempati Herman sebagai hukumannya karena berani menganggu Agam dan Nissa.
Beberapa jam pun berlalu, Herman yang di dudukan di kursi roda akhirnya terbangun juga.
"Di mana aku...?" Teriak Herman yang mulutnya sudah tidak di tutupi lakban lagi.
"Buka penutup nya," titah Rudi orang kepercayaannya pak Bram, kepada salah satu anak buahnya... "
Penutup muka Herman pun di buka dan......
"Anda... sepertinya saya pernah melihat anda, tapi siapa dan dimana ya?" ucap Herman terkejut melihat seseorang yang ada di hadapannya.
"Herman, selamat datang di Papua," ucap lelaki yang berada dihadapannya dengan senyuman menyeringai nya, melihat ekspresi Herman yang tiba-tiba terbelalak terkejut atas kata-katanya.