
"Zaman sekarang mana ada maling ngaku. Penjara penuh kalau pada ngaku, saya punya bukti. Bahwa barusan tadi kamu boncengan sama suami saya" ucap Kokom dengan mengeluarkan HP dari tasnya. Mendengar suara ribut-ribut semakin tegang, para tetangga yang tadinya hanya melihat dari jauh mulai berdatangan dan mendekati Kokom dan Putri, sedangkan Putri yang melihat rumahnya menjadi sasaran tontonan gratis para warga hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Putri pun mulai kesal dengan mantan istrinya orang yang pernah dia taksir dulu.
"Ini..... Lihat, Ibu-Ibu, semua bisa lihat kan? Dia boncengan dengan suami saya sehabis kerja." Ujar Kokom memperlihatkan foto yang di ambil Kokom diam-diam. Saat membututi Herman dan Putri sampai rumah Putri.
"Kapan ibu ngambil foto itu, Tadi siang?" Ujar Putri masih terlihat santai, tapi sebenarnya ingin menjambak mulut Kokom yang semena-semena itu.
"Ia tadi siang, Kenapa...? Kamu malu karena sudah tertangkap basah selingkuh dengan suami saya ya" Ujar Kokom marah, para tetangga yang menyaksikan pertengkaran masih diam, Belum ada yang mengeluarkan suara apapun.
"Memang di foto itu terlihat saya memeluk laki-laki itu. Enggak kan? Lagi pula apa salahnya teman kantor mengantarkan temannya sendiri ke rumah saat satu arah. Lagi pula, apa anda lupa, anda dan Pak Herman itu sudah cerai hampir dua Minggu yang lalu, terus bagian mananya saya di tuduh menjadi pelakor dan merebut suami anda, yang bahkan sekarang status dia adalah mantan suami. Ingat Bu hanya mantan suami...!" Ucap Putri menekankan kata mantan suami dengan menunjuk-nunjuk ke arah muka Kokom.
"Ia lagian juga yang tadi saya lihat Bapak, ini hanya mengantarkan sampai depan pintu pagar lalu pulang, Tidak ada tindakan asusila atau apapun. Jadi letak kesalahannya di mana Bu? Mending ibu jangan bikin ribut di area komplek kami deh Bu!" ujar tetangga Putri yang memang melihat Putri di antarkan oleh Herman siang tadi.
"Nah... Dengar kan penuturan tetangga saya? Lagian gini ya Bu, Kamu sama mas Herman kan udah cerai, jadi wajar-wajar saja, jika mas Herman dekat dengan wanita lain. Dan wajar juga saya nebeng mas Herman pulang, karena jalanan kita searah. Selain irit ongkos saya juga cepat sampai rumah. Sekarang salahnya di mana coba...?" Ucap Putri lagi dengan melipat tangan di depan perutnya.
"Kamu ya... Udah salah malah cari pembelaan, pokoknya saya gak mau tau jauhin Herman. Karena saya dan dia mau rujuk. Ngerti kan kamu! Jangan jadi penghalang antara saya dengan Herman." Teriak Kokom yang kesal karena merasa tersudut kan, Kokom pikir dengan menyebut Putri pelakor, banyak yang berpihak padanya, tapi ternyata malah zonk, tetangga disini malah menyerang dirinya balik.
"Ya... kamu bilang aja sama mas Herman sana untuk jauhin saya, jangan malah kamu marah-marah dan ngerusuh di depan rumah saya, mau saya laporkan kamu ke Polisi atas tuduhan menganggu kenyamanan orang lain." Ujar Putri kesal.
"Kamu...." Ujar Kokom menunjuk muka Putri. Mata Kokom melotot menandakan kemarahan yang memuncak hingga ke ubun-ubun.
"Apa....? Mau saya laporkan ke Polisi sekarang" ucap Putri menantang.
"Udahlah Bu, mending ibu sama si mbak nya pulang aja dari sini, jangan menganggu lingkungan kami. Kalau masih bebal, kamu laporkan ke pak RT untuk di usir secara paksa dari sini." Ujar tetangga Putri yang lainnya.
"Ia berisik sore-sore, ganggu aja orang lagi pada istirahat. Pake fitnah segala lagi. Kalau udah cerai mah, seharusnya situ yang sadar diri, Kalau emang mau rujuk, Ya ngomong sama laki nya bukan ngelabrak pihak cewek," Ujar tetangga yang lainnya.
"Diam kalian semua! Saya gak punya urusan sama kalian, Semua." Teriak Kokom dengan nafas ngos-ngosan.
"Udah Mah... Ayok kita pulang! Dari pada kita makin di pojokan, aku gak mau masuk penjara walaupun cuma sehari Mah" bisik Nita yang makin takut karena para tetangga Putri yang menatap mereka berdua tajam.
"Awas ya kamu janda gatel! Urusan kita belum selesai, aku bakalan bales perlakuan kamu sama saya, Ingat itu!" ucap Kokom yang akhirnya langsung pergi ke arah motornya. Duduk di motor karena Nita yang mengendarai motornya dan akhirnya Kokom dan Nita pun pergi dari rumah Putri.
"Ibu-Ibu ... maaf ya atas keributannya dan terima kasih sudah bantuin saya tadi" Ucap Putri tulus kepada para tetangganya.
"Ia sama-sama neng Putri, Kalau gitu kita semua bubar saja ya ibu-Ibu" Ucap tetangga sebelah rumah Putri yang membelanya tadi.
"Sekali lagi makasih ya" Ucap Putri saat melihat semua ibu-ibu yang jumlahnya berkisar 6 orang itu bubar dan menuju rumahnya masing-masing. Putri pun melihat ibu-ibu itu masuk kerumahnya. dan menghembuskan napasnya kasar mengelus dadanya.
'Astaghfirullah... Astaghfirullah... astaghfirullah' Ucap Putri beristighfar dalam hatinya, berkali-kali.
"Ya Allah mungkin ini adalah hukuman, atas niat jelek ku dulu. Ampunilah hamba yang pernah khilaf dan lupa ya Allah" Gumam Putri setelah mengucapkan kalimat minta ampun kepada Allah, Putri pun masuk ke dalam rumahnya dan beristirahat di dalam kamar, Putri merebahkan badannya yang letih. Rasa lapar yang kini mendera perutnya pun Putri abaikan. Putri masih saja memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan.
"Apa aku harus menjauh lagi dari mas Herman, baru saja aku berharap agar bisa bersama mas Herman. Mungkin memang mas Herman bukan jodohku," Lirih Putri bersedih. Putri pun memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur, walaupun perut-perutnya terus berbunyi minta di isi. Alhasil Putri kembali membuka matanya, karena keadaan perutnya yang tidak bisa di ajak kompromi.
"Lebih baik aku makan dulu, biar ada tenaga." Ujar Putri yang langsung bangun dari tidurnya dan menuju dapur membuat makan malam untuk dirinya sendiri.
_____&_____
Arka langsung pergi meninggalkan Bapaknya seorang diri di restoran setelah membayar makanan yang dia makan bersama Herman. Arka merasa sangat kesal sekali dengan sifat dan kelakuan bapaknya yang tidak pernah berubah, selalu berusaha untuk memanfaatkan orang dan tidak tau sikon yang tepat. Arka hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Dia pun melangkahkan kakinya ke arah tempat parkir khusus parkiran mobil karyawan. Arka sudah tidak mood untuk melakukan pekerjaannya.
Saat sudah melihat mobilnya, Arka pun masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi, tapi tangannya tidak langsung menghidupkan mesin mobil. Arka malahan mengambil HP dari tas tangan yang selalu dia bawa-bawa. Arka pun menelpon wakil kepala sekaligus asistennya di Supermarket ini.
[ Siang Pak Arka, Oh baik Pak, kalau boleh tau kenapa ya Pak? ] Tanya Budi.
[ Saya hari ini mau ke Amerika ke tempat Mamah sama Papah saya ] ucap Arka langsung.
[ Baiklah Pak Arka, nanti untuk urusan Supermarket akan saya usahakan handle semaksimal mungkin ]
[ Ia pak Budi, Saya mohon bantuan dan bimbingannya ya Pak, saya juga sedang melakukan skripsi jadi mungkin ke depannya akan sering absen di toko. Tapi insya Allah Papah juga bakalan bantu saya, karena mungkin saya tidak akan ke Supermarket dalam waktu yang lama Pak ]
[ Baiklah Pak Arka, semoga sukses untuk skripsi nya dan hati-hati untuk perjalanan ke Amerika nya Pak Arka ]
[ Ia Pak Budi terima kasih, kalau begitu saya titip Supermarket. Saya percayakan ke Bapak ]
[ Ia Pak baik, terima kasih ] ucap Pak Budi. Arka pun langsung menutup sambungan teleponnya.
Setelah menghubungi Pak Budi masalah tentang Supermarket dan operasi Supermarket. Arka pun segera menyalakan mobilnya dan tujuannya kali ini adalah Bandung untuk bertemu dengan Rayyan, karena malam ini Arka dan Rayyan akan berangkat ke Amerika, menggunakan jet pribadi milik Agam.
Arka sama sekali tidak membawa pakaian apa pun, karena di Amerika sudah tersedia pakaian Arka saat Arka menginap, sudah di sediakan di kamarnya sendiri.
Setelah menempuh perjalan yang cukup jauh dan Berjam-jam. Arka pun sampai di depan kosannya Rayyan, langit di luar sudah gelap, karena gelapnya malam- malam sudah menyapa, sebelum ke kosannya Rayyan. Arka dan Rayyan sudah janjian agar Arka tidak menunggu lama, alhasil saat Arka menghubungi adik ya itu lewat sambungan aplikasi yang berwarna hijau, Rayyan sudah tau dan tanpa mengangkat telepon dari Arka, Rayyan sudah siap dengan tas ransel di punggungnya.
Rayyan pun masuk ke dalam mobil di kursi penumpang, dan menaruh tas ranselnya di kursi belakang.
"Abang gak bawa apa-apa bang ke Amrik?" Tanya Rayyan, saat Rayyan tidak melihat barang apapun di mobilnya.
"Enggak lah, bawa HP dan dompet doang palingan, di rumah Mamah di Amerika pasti ada baju gue" Ucap Arka sambil menyalakan mobil dan melajukan mobilnya dengan pelan meninggalkan jalanan kossan.
"Emangnya lu gak mau bantu apa di pesawat, kita kan terbang berjam-jam. Gak mau ganti baju gitu" Tanya Rayyan lagi.
"Bener juga lu dek, tapi Abang males balik lagi ke kossan"
"Ya udah tar kita beli di toko di jalan depan, kan ada toko baju biasa. Abang beli baju tidur aja, tar di dry cleaning aja biar cepet kering" ujar Rayyan.
"Lu tau tempatnya dek?"
"Tau bang, tar gue tunjukin tokonya" ucap Rayyan.
Arka pun mengendarai mobil keluar dari komplek kossan di daerah situ sambil berkendara Rayyan terus saja melihat ke luar jendela, mencari toko yang selalu dia kunjungi kalau sedang butuh pakaian santai.
"Nah itu dia bang tokonya, melipir dulu sebentar bang." ucap Rayyan. Arka pun melipir ke arah kiri karena tokonya sebelah kiri, setelah itu memarkirkan mobilnya.
Setelah parkir Arka pun keluar bersama Rayyan dan masuk ke dalam toko tersebut.
Penampilan Arka dan Rayyan yang sederhana tapi dengan visual yang mencolok karena ketampanan yang di miliki oleh dua adik-kakak ini, memancing kaum hawa untuk melirik mereka berdua.
Para staf toko pun langsung menyerbu secara bersamaan Arka dan Rayyan saat sedang masuk lebih dalam ke area toko.
"Selamat malam tuan, Mau cari baju apa? biar bisa saya bantu," ucap staf yang datang lebih dulu dan bicara lebih dulu.
"Kami mencari dua pasang baju tidur untuk kami berdua." ujar Rayyan membuat para staf wanita yang tadinya bahagia karena melihat wajah tampan ke dua laki-laki ini, seketika mengernyitkan dahinya nya.