
"Bener-bener emang si Nissa. Nyuruh motongin rumput segala, dikira aku tukang kebun apa!" omel Ruth dalam hatinya.
Ruth terus aja misuh-misuh, berjalan ke halaman belakang, sambil membawa gunting yang besar di tangannya. Langkah Ruth begitu santai, padahal Ruth tidak tau, kalau mbok Jum sedang memperhatikan pekerjaan yang di lakukan oleh Ruth. Mbok Jum yang merasa kesal akan tingkah Ruth yang malas-malasan merapihkan rumput, menghampiri Ruth yang sedang duduk-duduk di gajebo.
"Ruth...! Kok malah enak-enakan duduk? Itu motong rumputnya belum di kerjain!" Ujar mbok Jum.
"Entar aja lah mbok, aku capek habis ngerjain di dalam rumah. Lagian ini tuh bukan kerjaan aku mbok, masa kerjaan tukang kebun di kasih ke aku," ujar Ruth kesal.
"Lah kan kamu di mintain tolong, kalau gak bisa ngomong aja, biar Bu Nissa manggil orang lain, terus duitnya di kasih orang lain" ujar mbok Jum memancing Ruth.
"Emang ada duitnya ngerjain rumput kaya gini mbok?" tanya Ruth bingung.
"Ya iyalah, Bu Nissa itu majikan yang gak pelit sama orang, dia mah royal dan setia lagi, makanya pak Agam gak bisa jauh-jauh dari Bu Nissa, cinta mati sama Bu Nissa, karena Bu Nissa itu baik, tapi Bu Nissa bakalan jadi kejam kepada seorang pelakor yang berniat buat ganggu rumah tangganya" ujar mbok Jum.
Glek....
Ruth sulit menelan salivanya saat mendengar ucapan mbok Jum. Muka Ruth seketika menjadi pucat dan wajah Ruth yang pucat bisa di lihat dengan jelas oleh mbok Jum.
"Maksudnya kejam gimana mbok? Emang Bu Nissa bisa ngapain? kan Bu Nissa itu orangnya lemah lembut" Ucap Ruth mencoba menetralkan ketakutan dalam dirinya.
"Kamu itu gak tau sih, sebaik-baiknya manusia kalau di ganggu, apalagi di tusuk dari belakang ya bakalan berubah jadi monster, lelaki seperti Pak Agam itu banyak fans nya dan banyak juga yang mencoba ngerayu, bahkan terang-terangan menawarkan diri menjadi istri kedua dan semua itu bisa di hadang oleh Bu Nissa bahkan kamu tau, ada wanita yang sampai kehilangan kaki nya karena terang-terangan menggoda pak Agam" ujar mbok Jum.
"Ya udah cepetan kerjain sana! keburu Bu Nissa pulang, lumayan loh uangnya" ujar mbok Jum dan Ruth hanya menganggukkan kepalanya lemas. Mbok Jum pun kembali ke dalam rumah, tapi masih memperhatikan Ruth dari balik jendela, dengan langkah lunglai Ruth pun mengerjakan pekerjaannya memotong rumput yang panjang, yang luasnya lumayan luas.
Siang berlalu, dan sore pun tiba. Ruth yang sangat kotor karena berjibaku dengan rumput dan tanah, menjadikan penampilannya acak kadul, bahkan banyak serpihan tanah dan rumput yang mengenai wajahnya, rambut Ruth pun tidak karuan. Setelah selesai dengan kebun belakang, Ruth pun kembali ke rumah Nissa dan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari tanah yang mengenai badannya.
Badannya Ruth, semuanya merah-merah, karena terkena daun rumput-rumput tersebut, dan saking tidak kuatnya karena gatal, Ruth menggaruk-garukan tangannya ke seluruh tubuh hingga membuat kulit badan Ruth lecet-lecet. Badan Ruth terasa perih dan gatalnya semakin menjadi. Padahal sebelumnya tanpa sepengetahuan Ruth rumput tersebut sudah di taburkan bubuk penyebab gatal oleh Nissa di pagi buta, dan ketika kulit Ruth menyentuh daun-daun rumput tersebut reaksi gatal nya akan terasa luar biasa.
[ Wk...wk... wk...(maaf iklan dulu sebentar, Author lagi menghabiskan tawa terlebih dahulu, dalam membuat cerita ini) ]
"Ya tuhan, ini gatel banget sumpah!" Ujar Ruth masih sambil menggaruk tangannya.
"Kamu kenapa Ruth?" Tanya mbok Jum yang Ruth baru keluar dari kamar mandi dan melihat kulit tangan Ruth yang lecet dan merah-merah.
"Gak tau mbok, ini gatel banget abis motongin rumput di belakang tadi" ujar Ruth yang masih garuk-garuk di badannya.
"Jangan terus di garuk, nanti berdarah" Ujar mbok Jum ngilu melihat kulit Ruth yang semakin merah dan lecet-lecet.
"Tau lah mbok, punya salep gak? atau bedak anti gatal gitu mbok, ini gatel banget gak tahan aku jadinya."
"Bentar aku lihat dulu. Di kotak obat kali aja ada salep" ujar mbok Jum yang meninggalkan Ruth sendirian.
Setelah beberapa lama mbok Jum pun kembali ke dapur dan menghampiri Ruth, yang masih garuk-garuk di tangannya.
"Ini kamu olesin ke luka kamu, sama ini salep buat gatal-gatal, kalau kurang, ini bedak buat gatal, mending kamu pulang sekarang, tar besok kalau kulit kamu masih kaya gini, gak usah kerja dulu, biarin aku yang kasih tau ibu" ujar mbok Jum sambil memberikan salep dan bedak gatal ke tangan Ruth. Setelah Ruth menerima obat gatal, dia pun langsung berdiri untuk pergi.
"Makasih ya mbok" ucap Ruth, mbok Jum hanya menganggukkan kepalanya saja, merasa linu dengan keadaan Ruth saat ini (yang sebenarnya dalam pikiran mbok Jum menertawakan Ruth)
Ruth pun pergi meninggalkan rumah ini, pas saat Ruth membuka pintu dan keluar dari rumah. Ruth berpapasan dengan kedatangan Nissa dan Alisha yang turun dari mobil.
Nissa dan Alisha yang melihat keadaan kulit Ruth hanya bisa mengernyitkan dahinya saja. Nissa dan Alisha menghampiri Ruth yang masih berdiri di depan pintu depan.
"Badan kamu kenapa Ruth?" tanya Nissa sambil melihat tangannya Ruth yang luka- luka.
"Gak tau bu, saya habis motongin rumput jadi gatal-gatal dan merah, saya garuk-garuk malah jadi lecet-lecet kaya gini" Ujar Ruth dengan nada semenyedihkan mungkin.
"Oh.... Mah, aku masuk duluan ya capek banget " ujar Alisha.
"Ia sayang hati-hati ya jalannya pelan-pelan" Alisha hanya menganggukkan kepalanya saja dan langsung masuk ke rumahnya.
Ruth yang memperhatikan ke dalam mobil mencari keberadaan Agam tapi yang di cari tidak ada.
"Kamu lagi cari apa Ruth?" tanya Nissa menyipitkan matanya.
"Oh... suami saya, dia pulang ke Indonesia, memangnya kenapa kamu nyari suami saya, ada perlu sama mas Agam?" jelas Nissa. Mendengar perkataan Nissa Ruth pun sedikit kecewa, karena tidak bisa melihat sang pujaan hati, dan tau kapan lagi akan bertemu dengan Pak Agam.
"Kamu kok lemes gitu" Tanya Nissa menyelidik melihat bahasa tubuh Ruth yang berubah menjadi tak bersemangat.
"Oh... Enggak bu.. enggak saya cuma bertanya, badan saya juga gak apa-apa bu" ujar Ruth sambil menggoyangkan tangannya.
"Ya udah gini aja, badan kamu kan lagi sakit, besok gak usah kerja dulu aja ya" ujar Nissa melihat keadaan tangan Ruth yang makin memerah seperti melepuh.
"Ini uang buat kerja kamu dan ini untuk berobat, lebih baik kamu berobat dulu sebelum pulang biar cepet sembuh" ujar Nissa sambil memberikan uang ke Ruth dan di terima Ruth dengan senang hati.
"Kalau gitu saya permisi pulang dulu ya Bu"
"Ia hati-hati di jalan, jangan lupa berobat ya" ucap Nissa.
Ruth pun pergi meninggalkan Nissa dan rumahnya, sedangkan Nissa hanya diam melihat kepergian Ruth menggunakan sepeda, terlihat seringai tipis di bibirnya Nissa, membuat wajah yang ayu dan cantik itu menjadi menakutkan dan kejam.
'Wanita Kegatelan itu harus di balas dengan Gatal-gatal juga. Hehehe...' tawa Nissa dalam hati.
Nissa pun masuk ke dalam rumahnya dengan hati yang ceria, karena rencana pertama dia untuk membuat kulit Ruth melepuh pun successful (berhasil).
Ruth pun masuk ke klinik yang dekat komplek perumahan tempat dia tinggal, rumah Ruth dan Nissa lumayan jauh, tapi setiap harinya Ruth datang ke rumah Nissa menggunakan sepeda. Saat di dalam Ruth langsung ke bagian pendaftaran dan setelah selesai daftar, Ruth pun duduk di kursi tunggu yang di sediakan. Karena pasien hari ini sedikit, jadi Ruth tidak lama untuk mengantri. Ruth pun di panggil ke dalam.
{ Anggap saja pembicaraan nya dalam bahasa Inggris, soalnya author, gak bisa bahasa Inggris }
"Silahkan duduk bu" ujar Dokter yang melihat Ruth masuk ke ruangannya. Ruth pun duduk di kursi yang di tunjukan oleh Dokter wanita itu.
"Sakit apa bu? Gejalanya seperti apa?" tanya dokter wanita tersebut to the point.
"Ini Dok. Kulit saya tiba-tiba gatal sekali dan banyak bentol merah, karena gatal saya garuk-garuk terus dan akhirnya lecet-lecet seperti ini Dok" ujar Ruth menjelaskan penyakit yang dia rasakan.
"Coba anda berbaring dulu ya, biar saya lihat. Tubuhnya juga sama kaya gini" Ruth dan Dokter wanita itu, pindah ke brangkar dan Ruth tiduran di brangkar, Dokter wanita menyingkap kaos Ruth. Lalu melihat keadaan punggung Ruth, yang merah-merah, setelah melihat punggungnya, Dokter wanita itu melihat keadaan tangannya yang sudah lecet- lecet.
"Kamu habis bersentuhan dengan rumput liar ya?" tanya Dokter.
"Ia Dok, saya habis memotong habis rumput punya majikan saya"
"Ini Virus! dan kamu juga alergi, saya akan resepkan obat biar lukanya cepet sembuh dan juga bedak untuk meredakan kemerahannya" Ujar Dokter wanita itu yang langsung kembali ke tempat duduknya. Ruth pun mengikuti Dokter tersebut di belakangnya. Ruth lalu duduk menunggu Dokter berbicara, karena Dokter tersebut sedang mengetikan sesuatu di komputernya nya.
"Resepnya sudah saya kirim ke bagian apotek ya Bu, tinggal ibu ke apotek aja dan keruangan Administrasi nanti sebutkan saja nama ibu di sana" ujar Dokter wanita tersebut. Ruth yang sudah selesai urusannya hanya bisa bernafas lega.
"Terima kasih ya Dok" ucap Ruth yang langsung pergi meninggalkan ruangan Dokter wanita tersebut. Lalu berjalan menuju ke apotek dan ruangan Administrasi, setelah itu ia pulang ke rumahnya.
Nissa yang sudah bebersih badannya, terus saja bersenandung kecil, merayakan kebahagiaan nya karena berhasil mengerjai bibit pelakor itu. Nissa pun turun ke bawah untuk makan malam bersama anak dan mbok Jum. Alisha yang melihat Mamahnya begitu senang jadi mengernyitkan dahinya.
"Mah... Seneng banget kayanya tumben, biasanya kalau Papah ke indo, Mamah nangis, sedih, lemah dan lesu!" ledek Alisha.
"Enak aja! Mamah gak kaya gitu kali Nak, biasa aja" ucap Nissa ngeles.
"Ngeles aja nih, kaya bajaj. Padahal mah ia" Ujar Alisha.
"Mbok Jum mana Al?" Tanya Nissa
"Masih di kamarnya, sebentar lagi dia pasti keluar" ujar Alisha dan benar saja mbok Jum pun keluar.
"Ayok mbok kita makan! saya sudah lapar" ujar Nissa yang langsung menyendokan makanan ke piringnya.
"Non Nissa kayanya seneng banget ya Non Alisha?" tanya mbok Jum ke Alisha
"Ia tau nih mbok, habis dapet lotre kali."
"Enggak lah, aku lagi bahagia aja, Oh ia mbok, tau rumahnya Ruth kan? besok temenin aku ke rumahnya yakk dan bikinin makanan enak buat dia" ujar Nissa membuat mbok Jum dan Alisha menatap Nissa menyelidik.