
POV Author
Nissa dan Agam pun memutuskan untuk pulang ke rumah mamah Arum, untuk menjemput Arka, perjalanan mereka kali ini memakan waktu yang lumayan cukup lama, karena macetnya jalanan dan hari pun sudah semakin siang, terlihat guratan ke khawatiran di dalam wajah Nissa atas sikap Herman, jika nanti Herman di pulangkan oleh dokter karena kejiwaannya yang stabil dan tidak gila sama sekali, padahal Nissa sudah membayangkan hidup tenangnya tanpa gangguan Herman.
"Gimana ini yank? kalo sampai Herman di keluarkan dari rumah sakit, aku takut dia akan semakin nekat, bahkan dia bisa saja mengambil atau menculik Arka diam-diam, aku takut berpisah dengan Arka yank," ujar Nissa menceritakan kegelisahan hatinya.
"Kamu tenang aja, aku ku pastikan dia akan terus berada di rumah sakit, kita harus membuat dia sadar, atau kita buat dia gila sekalian, tapi kamu lihat kan tadi? dia bertingkah anarkis seperti itu, pasti akan menjadi pertimbangan Dokter untuk berpikir dua kali, dan gak akan semudah itu mengeluarkan Herman dari sana," ujar Agam dengan tenangnya.
"Kamu yakin bisa membuat Herman sadar! kalau aku sungguh ragu, soalnya yang ada di otaknya itu hanya uang dan kekayaan, aku bahkan sangsi kalo dia ingin membantu merawat Arka, dia tuh hanya ingin numpang hidup enak sama kita, bukan benar-benar menyanyangi Arka," ujar Nissa mengecap kejelekan Herman.
"Tenang saja sayang, aku akan akan menyiapkan Bodyguard bayangan untuk menjaga Arka dan kamu, juga rumah kita, aku akan memberitahukan seluruh satpam komplek untuk mengusir Herman kalo dia sampai nekat," ucap Agam meyakinkan Nissa.
Dan sedikit rasa lega di hati Nissa, karena Nissa yakin Agam akan melakukan apa pun untuk melindungi dirinya dan anaknya.
"Aku hanya khawatir mas, apalagi melihat sifat implusip dia, yang seakan-akan dia adalah korbannya, bahkan tadi si Herman itu hampir mukul aku mas, benar-benar sifat kriminal nya keluar, kenapa dulu aku bisa menikah dengan pisikopat seperti itu, manusia yang tidak punya hati!" ucap Nissa kesal memikirkan semua yang terjadi dulu dan masa kini.
"Tenang saja yank, seorang Herman tidak akan pernah bisa melawan Agam, itu hanya perkara mudah, dan kamu harus tau manusia itu selalu mempunyai sisi terburuk nya," ujar Agam yang membuat Nissa semakin merasa lega.
Mereka pun terdiam dalam perjalanan, yang sudah mulai lancar itu, karena lelah Nissa sampai tertidur di mobil, dan Agam hanya tersenyum melihat Nissa mangap seperti itu. Agam pun mengelus-elus kepala Nissa dengan tangan kirinya sambil menyetir, tanda betapa sayangnya ia ke istrinya.
"Tidur mangap gini aja cantik, Istri siapa sih nih!" ucap Agam gemas.
Agam mengambil HP dan memfoto diam-diam istrinya yang sedang mangap tersebut dengan HP nya tanpa sepengetahuan Nissa, setelah itu di masukan kembali HP ke dalam saku jas nya.
Mereka berdua pun sampai di rumah mamah Arum, dan langsung saja masuk tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu, saat masuk ke ruang keluarga ada Arka yang sedang menonton TV di pangkuan neneknya.
Assalamualaikum,
"Haloo sayangnya mamah," sapa Nissa ke anaknya dan Arka langsung menjulurkan tangannya yang ingin di gendong saat melihat ibunya. Nissa pun menciumi pipi si gembul itu, dan bertambah senang saat melihat Arka tertawa.
"Anak papah anteng kan gak nangis," ucap mas Agam.
"Enggak gam, Arka mah baik banget gak rewel sama sekali, kalian udah jenguk kutu kupret itu, gimana jadinya?" tanya Arum mamahnya Nissa.
"Ia kita jadi kesana mah, cuma mah.... sepertinya Herman akan di bebaskan dari RSJ itu, karena sudah di periksa mental nya ternyata ia tidak gila," jelas Nissa kesal.
"Coba kamu bilang saja sama bu Endang, Nissa. Dulu kan bu endang pernah ngejamin kalau si Herman gak bakalan ganggu lagi! kalo enggak, biar mamah saja yang ngomong sama Bu endang," ucap mamah Arum.
"Bukannya kalau ibu tau, malah makin ribet ya mah nantinya?" tanya Nissa.
"Enggak lah, si Herman kan di usir sama bu Endang, dia juga pusing punya anak kaya gitu, mamah juga heran dapat sifat dari mana si Herman itu, demen banget selingkuh. Terus biar bu endang saja yang kasih wejangan ke si Herman. Siapa tau kalau ibunya yang ngomong bakalan luluh dia." Ujar sang mamah, yang menurut Nissa idenya sangat brilian.
"Ia mah, coba mamah bantu sama ibu, kali aja ibu mau ngomong sama Herman, aku cuman takut Herman bakalan nekat," kucoba untuk menyakinkan diri sendiri, kalo semuanya baik-baik saja.
Mas Agam pun menggenggam tangan Nissa erat, memberi kekuatan dan meyakinkannya, dan hanya dengan senyumannya saja, Nissa langsung di buat meleleh.
Karena hari sudah menjelang sore. Nissa dan Agam beserta Arka yang Nissa gendong, izin dan pamit untuk pulang.
Sementara itu Papah Nissa sudah 10 hari ini tidak pulang, kalau kata mamahnya mah, papahnya pengennya pindah ke Kalimantan biar gak capek bulak-balik, hanya saja mamahnya masih belum bisa jauh dari Arka, jadinya papahnya yang harus rela bolak-balik Jakarta-Kalimantan dua minggu sekali, sungguh sangat berat memang, jika LDR itu.
"Ya sudah mah, kita berdua pamit pulang dulu ya," ucap mas Agam.
Mereka pun mencium tangan mamahnya dengan takjim, karena itulah hal yang selalu di ajarkan orang tuanya.
Perjalanan dari rumah mamah ke rumah Agam dan Nissa tidak terlalu jauh, dan Nissa pun memutuskan untuk tertidur sejenak, entah kenapa Nissa sangat ngantuk banget akhir-akhir ini, apa ia kurang tidur? Nissa pun memejamkan mata nya, dan beruntungnya Arka juga tertidur di kursi belakang menggunakan kursi set bayi.
"Yank bangun udah sampai nih, tidurnya nyenyak banget," ucap mas Agam iseng sambil mencubit pipi Nissa.
"Aw...ia mas, Sakit pipiku mas, kalo kendor gimana? Tanggung jawab kamu ya buat perawatan nya," ujar Nissa.
"Boleh nyonya, mau perawatan di mana? yang paling mahal sekali pun aku jabanin nyonya ku," Ucap Agam dengan gaya lebay nya.
"Lebay kamu mas.....Ya sudah Ayuk kita masuk" ucap Nissa yang langsung turun dan mengambil Arka di kursi belakang.
"Baik bos, Laksanakan!" tawa Agam, dan Nissa hanya menggelengkan kepalanya karena kelakuan Agam.
"Non, Dede Arka nya udah bobo Non, ya sudah biar mba Sus yang jagain, Non dan tuan makan dulu aja," ucap mba Sus.
"Ya udah mba Sus aku keluar ya, bentar lagi waktunya jam makan malam dan mas Agam akan segera pulang dari mesjid." Ucap Nissa ke mba Sus, dan mba Sus hanya memberikan jempolnya, Nissa hanya tersenyum mengiyakan dan langsung keluar kamar Arka untuk ke meja makan.
Mas Agam pun pulang dan langsung memeluk Nissa, dan Nissa membalas dengan mencium tangannya takjim.
"So sweet banget sih istrinya Agam, kamu ngomong-ngomong kapan jelek nya sih yank, pake baju model kaya gini doank, masih saja tetep keliatan cantik, jadi harus waspada nih aku, Kalo istriku terlalu cantik pasti banyak Pebinor di luar sana yang bakalan berusaha buat ngerebut kamu dari aku."ucap Agam dengan gombalannya.
"Mas Agam tuh cocok banget jadi play boy, jago banget ngegombal nya." Nissa hanya tertawa melihat muka merah mas Agam.
"Gimana kalo kamu aja yang jadi makanan aku yank, makan asli nya tar aja Yakkkk!" ucap Agam mesum.
"Tar dingin lagi makannya kasian," balas Nissa.
" Mangkanya kita panasin dulu badan kita biar keringetan, jadinya lauknya kan nanti ikut panas, biar tambah hot, ayok dah akh....!
Agam langsung menggendong Nissa ala bridal style....
Kelakuan dia yang gak pernah berubah, membuat Nissa selalu malu. Pasti penghuni rumah yang lain melihat kocak juga tingkah laku mereka ini.
Setelah melakukan kegiatan yang panas itu, mereka masih saling bermanja-manja di atas kasur.
"Mas kamu tau gak? Waktu kamu pindah rumah dulu, Aku benar-benar kehilangan kamu mas, Aku sedih dan nangis terus beberapa hari," curhat Nissa.
"Kenapa memangnya, kok kamu sedih," saut Agam
"Gak tau juga mas, pas kamu pergi aku selalu nyariin kamu, tapi kata penjaga rumah kamu gak ada, sampai-sampai mamah sama papah mutusin buat pindah ke Jakarta."
"Apa aku itu cinta pertama kamu ya? Hayo..." Agam menoel-noel pipi Nissa.
"PD banget sih mas.... Aku laper ikh.. makan yukkk!" seru Nissa.
"Ya sudah tenaga juga udah ke kuras sama kamu, jadi harus di isi ulang, buat nanti dini hari kita bertarung lagi yank." balas Agam.
Nissa mengedipkan matanya berkali-kali , pikirnya mesum sekali suaminya itu.
__&&&&&&&&
Keesokan harinya........
Di rumahnya... Bu Arum mondar-mandir sambil menggigiti kuku jempolnya, dia tidak sabar untuk segera bertemu dengan Bu Endang, kemarin di telepon bu Arum sedikit nya telah menceritakan keadaan Herman yang sekarang sedang di rumah sakit jiwa, setelah menelepon Bu Endang untuk datang ke rumah. Tak lama kemudian Bu Endang pun sampai di antarkan oleh taksi online, Bu Endang turun dan langsung masuk ke rumah Bu Arum mantan besannya, walaupun Nissa dan Herman sudah bercerai tapi rasa kekeluargaan di antara Bu Endang dan Bu Arum masih terjalin baik, begitu pun dengan Nissa, yang masih menghormati Bu Endang.
"Assalamualaikum Bu Arum" ucap Bu Endang mengucapkan salam.
"Waalaikum salam, eh... Bu Endang silahkan masuk, saya sudah tunggu dari tadi Bu, silahkan duduk, udah makan belom Bu?" Bu Arum berbasa-basi untuk mencairkan suasana.
"Sudah Bu, Terimakasih, saya sudah makan tadi di rumah, saya cuma pengen tau, itu gimana kejadiannya?" tanya Bu Endang cemas, dan tidak habis pikir mengapa Herman selalu membuatnya sakit kepala dengan tingkahnya.
"Mungkin nanti Nissa akan mengunjungi Bu Endang sekalian membawa Arka, dan aku juga minta maaf kalo perbuatannya Nissa mungkin keterlaluan, tapi jujur Nissa sudah tidak tahan dengan kelakuan absurd Herman." Terang bu Arum.
"Jujur bu... Aku pun gak tau kabar terakhir nya, karena aku sudah lama mengusir Herman dari rumah, aku sebenarnya gak tega, tapi aku juga tidak bisa membenarkan perbuatan dia bu, bisa gak bu kamu temenin aku bertemu dengan Herman di RSJ, bagaimanapun sejelek-jeleknya kelakuan Herman, dia tetap anakku dan darah dagingku," ucap Bu Endang.
"Hayuk sekarang aja kita ke rumah sakitnya, mungkin aja kalo kamu yang ngasih tau Herman, ia jadi sadar dengan perbuatannya," ucap bu Arum.
"Ia bu semoga." Bu Endang mengaminkan.
Bu Endang dan Bu Arum pun keluar rumah dan berniat untuk mengunjungi Herman di rumah sakit dengan mengendarai mobil Bu Arum, perjalan mereka kali ini terasa panjang , tapi syukurlah, mereka bisa menemukan rumah sakit dan langsung mengunjungi Herman. Setelah melewati jalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka berdua pun sampai, dan langsung menuju kamar rawat di mana Herman tinggal.
Ketika pintu kamar rawat Herman terbuka, mata kedua nya pun bertemu.
"Herman....!" ucap Bu Endang yang terkejut dengan penampilan anaknya, bernama Herman yang sampai urakan seperti itu.