MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
GAYANYA SEPERTI ORANG KAYA SAJA


Kokom dan Nita terburu-buru keluar dari jendela yang tidak di kunci sampai Nita dan Kokom terjatuh...


Jedug.... Brughhh...


Nita yang berada di bawah ketindihan tubuh Kokom. Untung saja tubuh Kokom masih langsing tidak berlemak berlebihan.


"Aduh.. Mah, Ini badan kurus aku di tindihin mobil molen, yang ada aku gepeng Mah" ujar Nita sambil menggerak-gerakkan badannya yang serasa patah.


"Alah lebay kamu Nit. Emang badan Mamah kaya karung beras apa!" ucap Kokom yang berusaha bangun.


"Sakit badan aku Mah, rasanya patah semua tangan aku ini." Ujar Nita meringis memegang pinggangnya yang sepertinya encok.


"Udah ayok...! Mumpung gak ada yang liat" ucap Kokom yang berjalan menuju motornya. Nita dengan keadaan kesal mencoba untuk berjalan secara perlahan-lahan karena sakit diarea pinggangnya. Dengan semangat 17 Agustus dan semangat 45 Kokom duduk di motor, padahal Nita sendiri belum duduk di motor.


"Mamah yang bawa motornya!" ujar Nita melihat ibunya yang sudah nangkring di atas motor, duduk di jok belakang.


"Ya enggak lah, Kamu yang bawa!" ucap Kokom.


"Mah... Mamah aja yang bawa! Nita sakit ini pinggang kalau nanti jatuh gimana?" ujar Nita.


'Benar juga ya!' ucap Kokom dalam hati.


"Ya udah mana sini kuncinya" Nita pun memberikan kunci motor kepada ibunya. Dengan segera Kokom pindah tempat duduk dan menyalakan motor. Sedangkan Nita dengan langkah perlahan menaiki motor yang ada di jok belakang.


"Kamu udah belum, naik ke motornya" ucap Kokom.


"Udah Mah, aduh... Sakit banget ini pinggang! tar beliin aku koyo cabe ya Mah."


"Ia-Ia, Pegangan ya!" Ucap Kokom yang langsung menjalankan motornya dengan kecepatan biasa. Rumah Herman pun di tinggalkan dengan kekacauan dimana- mana. Mungkin setelah Herman pulang nanti dia akan shock karena melihat rumah yang seperti kena serangan ****** beliung.


Herman yang bekerja di kantor kecamatan pun merasakan gelisah dengan hati yang tak tenang. Berapa kali Herman menginput laporan yang salah ke komputernya. Sampai sampai Herman pusing dan memijat kepalanya. Herman pun berniat membuat kopi ke pantry yang ada di belakang kantor.


Setelah sampai pantry Herman melihat Putri yang sedang membuat kopi juga, Putri melihat Herman pun lantas tersenyum.


"Mau kopi juga mas?" tawar Putri.


"Boleh sayang... Kayanya aku sedikit pusing." Ucap Herman yang memijit kepalanya.


Putri pun membuatkan kopi hitam dengan gula satu sendok. Di tambah kremer satu sendok lalu menyerahkan ke Herman, sambil memperhatikan Herman yang sepertinya sedang banyak pikiran.


"Kamu kenapa mas? sakit?" Tanya putri sambil memegang pundak Herman.


"Entahlah Put, dari tadi hati aku gelisah terus, gak tenang,"


"Di coba istighfar mas, biar lebih tenang" ucap Putri.


"Kamu tau entah kapan terakhir aku sholat mungkin ketika sama Nissa aku sholat, setelah bercerai aku tidak pernah melakukan ibadah sholat lagi" Ucap Herman lirih.


"Hmmmm.... Sholatlah dulu mas, kembali sama Allah pencipta kita, insya Allah hati kita akan menjadi lebih tenang" ucap Putri lembut.


"Alhamdulillah ya... Tapi kenapa dulu kamu kaya gadis binal sih Put, Maaf ya! kalau kata-kata aku nyinggung kamu, cuma melihat kamu sekarang yang selalu lembut dan menyejukkan hati aku jadi merasa beruntung milikin kamu," Ucap Herman.


"Mas..., dulu ada yang bilang sama aku dan yakinin aku, kalau apa yang aku lakuin itu salah, dia bilang jangan sampe aku jadi pelakor, merebut lelaki lain dari istrinya, nanti karma pasti akan berlaku buat kamu, ucapnya kepadaku. Jadi mending aku memperbaiki diri, lalu berdoa sama Allah supaya di berikan jodoh yang terbaik. Makanya saat kamu nolak aku waktu itu, aku mulai belajar agama dan mulai melakukan sholat tanpa bolong-bolong lagi." Ucap Putri. Herman yang mendengarkan ucapan Putri pun terdiam, seperti ada yang tersentil hatinya. Lalu Herman pun tersenyum.


"Ya udah mas, aku balik ke ruangan, gak enak kelamaan di pantry" Ucap Putri.


"Ia aku juga pengen ke dalam, tapi nanti kamu duluan aja ya, Makasih kopinya ya sayang"


"Ia mas" Putri pun berlalu dari hadapan Herman dan kembali ke ruangannya. Setelah kepergian putri kembali ke dalam, Herman merenungkan dirinya selama ini, Sesaat dia merasa minder.


'Apa aku cocok untuk Putri yang begitu baik, atau memang Putri di kirimkan buat aku, untuk menjadikanku manusia yang lebih baik lagi' ucap Herman dalam hatinya, sambil berpikir dan sesekali meminum kopinya, Herman pun menghela nafasnya halus lalu pergi meninggalkan pantri menuju ruangannya. Kemudian ia duduk di meja, mata Herman fokus ke dalam komputer.


"Ayolah fokus Herman, biar cepat kelar nih kerjaan" ucapnya pada dirinya sendiri, lalu dia pun segera menyelesaikan pekerjaannya.


Beberapa Jam pun berlalu begitu cepat, Kokom dan Nita yang bahagia karena sudah mendapatkan sertifikat itu. Mereka mengadakan syukuran dan pergi ke Supermarket milik Arka. Untuk pertama kalinya Kokom melihat Supermarket yang begitu besar dan luas seperti ini.


Saat Kokom dan Nita sampai dan memarkirkan motor di tempat parkiran motor. Kokom melihat Supermarket Arka sambil berdecak kagum, sampai-sampai mulutnya terbuka lebar.


"Mah! tuh mulut ke buka, biasa aja kali Mah! Tar laler masuk kasian, Kasian...kasian" ucap Nita yang melihat Mamahnya terlalu lebay.


"Ikh kamu... Lihat dong Supermarket Arka, kenapa kamu gak kerja disini aja sih Nit, pasti gajinya gede, mana rame banget pengunjung nya, lihat gede pula gedongnya, kata Mamah bilang juga apa, harusnya dulu kamu gebet aja si Arka jangan si Rayyan!"


"Ikh Mamah gimana sih. Kalau aku bisa jadi istrinya Rayyan tuh Perusahaan milik Bapaknya Rayyan yang gedenya nauzubillah dan banyak cabang nya di mana-mana bisa jadi milik aku juga Mah aku bakalan jadi sultan beneran dan Mamah bisa beli apapun yang Mamah mau, atau kita bisa sering keluar negri juga."


"Lah kan si Arka anak pertama,"


"Tapi kan dia bukan anaknya om Agam, tetap aja anak om Agam itu ya si Rayyan, dan si Rayyan lah yang lebih tajir dari pada Arka. Udah Mamah gak usah pusing. Setelah aku kerja besok di tempat kerjanya Papah, aku mau ngumpulin duit buat ngerubah penampilan aku, biar si Rayyan bisa terpesona dan cinta sama aku Mah" ucap Nita dengan percaya dirinya.


"Ayok Mah masuk, kita shopping sekarang dan makan. Oh ia, Mamah mau jual kapan itu rumah Bapak? pokoknya harus dengan harga yang tinggi, kan rumah Bapak lumayan besar, isinya lengkap dan masih bagus-bagus kok"


"Ia nanti Mamah minta bantuan teman mamah untuk ngejualnya" Ucap Kokom.


"Siapa Mah? emang Mamah punya teman" tanya Nita sambil mereka berdua berjalan masuk ke arah Mall.


"Kamu gak tau... Kalau Mamah banyak temannya, bahkan Mamah juga punya teman preman pasar. Cuma udah lama aja Mamah gak ketemu sama mereka" ucap Kokom.


"Hadeuh..." Ucap Nita. Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam dan Kokom kembali terperangah karena desain Mall nya yang bagus. Walaupun Mall ini hanya Supermarket yang hanya memiliki 2 lantai, tapi Mall ini sangat nyaman, indah dan sangat bagus untuk hunting foto.


"Mah ayok makan dulu di sono! Ramennya kayanya enak deh?" Ucap nita yang menarik tangan Kokom untuk makan di salah satu restoran yang menyediakan ramen.


Nita dan Kokom pun memesan makanan, dan setelah beberapa saat makanan pun datang, lalu mereka menikmati makanan tersebut hingga tandas. Setelah itu Nita dan Kokom pun naik ke lantai 1 untuk melihat bagaimana luasnya Supermarket Arka. Saat masuk ke dalam mereka berdua pun langsung berkeliling dan menghampiri stand baju.


"Mah ke sana yuk! liat baju-baju kayanya keren-keren banget."  Ucap Nita. Kokom yang penasaran pun mengikuti langkah Nita.


"Mba... Saya mau nanya, yang baju kaya gini ada ukurannya m nya gak?" Tanya Nita kepada seorang Spg perempuan, Dia pun menghampiri dan mengambil pakaiannya.


"Sebentar ya kak, saya cek dulu"


"Ya udah sana, jangan pake lama ya!" ucap Nita sombong.


SPG tersebut pun memandang Nita sebentar dan langsung meninggalkan Nita. Berapa saat SPG tersebut pun kembali.


"Lama amat sih mba? ngeceknya dimana? di Papua!" ketus Nita.


"Maaf kak, tadi saya cek sistem dan cek pisik juga kak, tapi untuk ukuran m memang sedang kosong." Ujar SPG tersebut.


"Gak becus banget sih kerjanya. Udah saya di suruh nunggu lama, ini barangnya gak ada!" ucap Nita dengan kasarnya membuat SPG itu diam dan menundukkan kepalanya.


"Kenapa Nit, kok kamu marah-marah " ujar Kokom yang menghampiri Nita.


"Ini Mah, pekerja disini gak becus, masa aku di suruh nunggu lama-lama dan barangnya gak ada, gak becus banget sih nih" ucap Nita.


"Maaf Bu.. kalo saya terlalu lama, saya hanya sedang mencari stok nya Bu. takutnya jika saya terburu-buru kakaknya akan kecewa" ujar SPG tersebut.


"Ya sekarang anak saya udah kecewa, apa gak bisa di cari lebih teliti lagi. Di toko lain mungkin?" Ucap Kokom.


"Dress ini... hanya tersedia di toko kami, dari gudang pakaiannya hanya di kirim ke sini Bu, jadi memang di pabrik pakaiannya juga sedang kosong." Ucap SPG tersebut terbata-bata.


"Panggil Manager kamu sekarang! Saya mau ngomong. Asal kamu tau, saya ini sodara pemilik Supermarket ini. Si Arka! jadi kamu jangan macam-macam ya sama kami sekalian cariin kursi, gak level saya berdiri lama-lama nungguin kamu yang lelet" ujar Kokom ketus.


"Baik Bu!" Ujar SPG tersebut yang langsung pergi memanggil supervisor nya.


"Lama banget sih Mah, mana lelet banget itu pegawai nya, jadi pegel kaya gini kan!" ucap Nita.


"Ia ... pegawai nya Arka pada begok ngurusin kaya gitu doang gak mampu" ujar Kokom, gak lama kemudian datang seorang lelaki dengan pakaian yang berbeda dari SPG sebelumnya bersama dengan SPG tadi.


"Selamat siang ibu, mbak, ada yang bisa bantu?" Tanya lelaki tersebut.


"Bapak Manager di sini?" ujar Kokom.


"Saya supervisor di divisi textile Bu. Pakaian, ada yang bisa saya bantu?" ucap SPV tersebut.


"Terus kursinya mana, saya kan tadi minta kursi, pegel ini kaki" ucap Kokom yang masih dengan ketusnya.


"Maaf ibu, kami memang tidak menyediakan kursi untuk pelanggan saat sedang melihat-lihat pakaian disini Bu"


"Kok gitu! kalau pelanggan kalian pada pegal, terus duduk di mana?"


"Di sebelah sana dekat grocery ada food court, jadi ibu sama mbak nya bisa duduk di sana, sekalian makan-makanan yang ada di food court Bu" ucap Spv tersebut.


"Udah lupain tentang kursi, ribet! saya mau dress ini tapi ukuran m pokoknya saya gak mau tau harus ada sekarang!" ucap Nita masih kekeh dengan keinginannya.


"Maaf Bu, stok dress tersebut memang sedang kosong untuk saat ini. Begini saja Bu jika stok nya sudah ada nanti kita akan infokan ke mba nya, kita ingin meminta no telepon mba nya saja, untuk di hubungi nanti." ucap Spv tersebut yang masih bicara dengan nada ramah.


"Kamu sengaja ingin modus sama saya? pake-pake minta no HP segala" ucap Nita teriak, sampai-sampai membuat pengunjung yang lumayan ramai itu mendengar ucapan Nita. Spv dan SPG Itu pun kaget karena ucapan Nita yang di luar nalar mereka sehingga mereka hanya bisa membungkam mulutnya saja.


"Bukan Bu. Memang begitu aturannya, kami tidak akan menyalahgunakan data customer." ucap Spv dengan menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri.


"Heh...denger ya! kamu itu bukan tipe saya, kamu gak tau saya ini sepupunya Arka, kamu bisa saya laporkan ke Bos kamu dan kamu bisa di pecat, ingat itu.!" Ucap Nita sombong sambil menunjuk- nunjuk muka Spv tersebut yang sudah memerah.


"Ada apa ini." Ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba ada di belakang Kokom, Kokom pun memalingkan wajahnya dan langsung terpesona.