MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
BAB 77 TKW


Tenang saja pak, Aku tau kok batasan ku, hanya sekedar ingin mengenal, perempuan yang smart hehehe," ucap Riki terkekeh, padahal dalam hatinya Riki, ia merasakan sakit seperti di tusuk sembilu karena terpesona pada wanita yang salah.


"Saya hanya mengingatkan, karena kamu tau sendiri kan, bagaimana pak Agam, dan pengaruhnya untuk perusahaan kita," tegas pak Boy.


"Baik pak, bapak pokoknya tenang aja, saya gak akan macam-macam," ucap Riki, menyakinkan pak Boy. Hanya saja setiap Riki melihat dan memperhatikan Nissa, semakin dia di buat terpesona, Riki pun melangkah ke arah panggung pengantin dan saat melewati grup nya Nissa, Riki beberapa kali mencuri pandang ke arah grup itu, Lebih tepatnya ke arah Nissa. Bahkan jantung Riki di buat tak karuan, saat kembali menatap Nissa, dan melihat senyumannya Nissa yang sedang ngobrol bersama kawan-kawannya.


"Eh, ada bapak Riki, makasih ya pak sudah menyempatkan datang ke pernikahan saya dan Doni," ucap Sera welcome.


"Ia semoga Samawa ya Sera dan Doni," ucap Riki menyalami pengantin.


Dan setelah itu Riki pun turun dari panggung pengantin dan ia ingin menghampiri Nissa, sekedar berbasa- basi, Riki melihat ke kanan ke kiri, mencari keberadaan pak Agam, tapi nampaknya sang Bodyguard wanita pujaannya sedang tidak ada tempat.


"Hmm pak Agam tidak ada seperti nya, semoga aja dia pulang atau kemana, jadi saya bisa ngobrol lama dengan Nissa," monolog Riki pada diri sendiri dengan senyuman tipis di wajahnya, Riki langsung saja menghampiri Nissa yang masih asik ngobrol bersama teman-temannya.


"Bu Nissa ya? Direktur keuangan sebelumnya di perusahaan pak Boy" ucap Riki yang tiba-tiba mendekati Nissa, dan menyapa Nissa dengan mengulurkan tangannya.


Nissa yang merasa ada yang berbicara dengannya hanya menatap bingung.


"Ia... Anda siapa?" tanya Nissa tanpa menyalami tangan Riki.


"Oh ini Nis, dia itu pak Riki, direktur keuangan yang gantiin lu dulu, bapak ke sini juga," ucap Arsyi.


"Ia benar, saya juga menerima undangan dari saudari Sera, dan ini Bu Nissa direktur keuangan sebelum saya yang smart itu, karena ketelitiannya bisa membongkar korupsi direktur keuangan sebelumnya. Saya sangat tersanjung bisa berkenalan dan mengobrol dengan wanita secantik dan sepintar anda," ucap Riki sopan, dengan tangan masih menggantung untuk menyalami Nissa .


"Anda terlalu memuji pak Riki, tapi saya tidak sepintar itu," ucap Nissa menangkupkan kedua tangannya, tanpa menyalami tangan Riki, yang sudah menggantung dari tadi, Riki pun menarik tangannya kembali, dan tersenyum simpul.


"Tapi apakah boleh saya meminta No kontak anda bu? mungkin ada hal yang ingin saya tanyakan nanti mengenai laporan, atau mungkin kita bisa saling sharing dan bertukar ide, semacam itulah "tanya Riki.


" Maaf sebelumnya pak Riki, Sepertinya tidak perlu, saya juga sudah tidak ada hubungannya dengan perusahaan pak Boy, lagi pula anda bekerja sudah 2 tahun lebih kan, kalo anda yang menggantikan saya, berarti anda sudah paham dan mengerti, untuk apa bertanya lagi!" jelas Nissa tegas, Nissa sudah bisa mencium bau-bau yang tidak mengenakkan, semacam bau-bau eek ayam.


"Kalo begitu mungkin kita bisa menjadi teman," tanya Riki lagi, tanpa patah semangat.


"Maaf pak, seperti yang saya sebutkan tadi, tidak perlu, saya permisi ingin menghampiri suami saya.


Guys....gue pulang duluan ya, kasian anak gue takut nangis di rumah." ucap Nissa pamit kepada teman-temannya, dan pergi meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi ke arah Riki. Riki menghela nafas panjang, karena pendekatan nya gagal, bahkan Nissa seakan bersikap dingin padanya.


"Pak Riki, sepertinya bapak menyukai teman saya Nissa, tapi perlu saya ingatkan ke bapak, lebih baik bapak jauhi Nissa dan jangan coba dekati dia, karena Nissa sudah punya suami dan anak, bahkan sekarang dia sedang hamil, jadi jangan jadi duri di rumah tangga orang lain pak," ucap Arsy tegas mengingatkan Riki akan statusnya. Dan Riki pun di tinggalkan sendirian.


"Ya tuhan... Gini amat ya, tapi saya gak mau nyerah, orang nikah kan bisa cerai, kalo Nissa gak mau cerai dengan suaminya, aku di jadikan suami yang ke dua juga gak apa-apa," ucap Riki, mulai terobsesi kepada Nissa, tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah.


Nissa mengabaikan orang tadi, dan tidak mempedulikan apa yang tadi dia alami, baginya manusia semacam itu hanya akan menjadi duri dalam pernikahannya, jadi lebih baik dia jauhi virus yang menyerupai zombie itu.


Nissa pun mencari suaminya yang sedang berbicara dengan beberapa orang laki-laki dan seorang perempuan, tapi mata Nissa menyipit tuh cewek mepet-mepet banget dengan Agam, Nissa pun menghela napasnya panjang, beginilah resiko memiliki suami tampan dan mapan, pasti ada aja kucing garong yang mepet-mepet sama suaminya. Nissa pun berjalan menghampiri mas Agam dan memposisikan dirinya di tengah-tengah mas Agam dan wanita itu, sehingga wanita itu oleng karena di dorong oleh Nissa ke pinggir.


"Eh... Biasa aja kali, Gak usah dorong- dorong orang kaya gitu! Disitu tempatkan masih luas," ucap wanita tersebut kesal.


"Lah situ mepet-mepet sama suami saya, kaya ulet keket, gak punya urat malu ya.. yank siapa sih dia, kamu kenapa diem aja di pepet sama dia," tanya Nissa kesal menatap Agam tajam, dan Agam yang di tatap merasa ngeri dengan tatapan istrinya.


Glek...


"Sayang kenalin, mereka ini teman-teman kampus aku," ucap Agam memperkenalkan temannya satu persatu.


"Istri lu cantik gam, Nis punya kenalan gak? Kali aja ada yang nyangkut sama gue," ucap teman Agam berkulit sawo matang, tapi tetap manis.


"Temen sih banyak, tapi gak tau pada jomblo apa enggaknya, soalnya kalo kumpul jarang ngomongin cowok, apalagi suami orang," ucap Nissa sambil melirik ke wanita yang di sebelahnya, wanita tersebut balik menatap Nissa tajam.


"Sayang, ini Tina, Kita emang udah deket satu sama lain dari dulu, dari jamannya kuliah, sudah kaya saudara," Ucap Agam, dan itu membuat Tina merasa di atas angin.


"Terus mentang-mentang sahabatan dari dulu, boleh gitu mepet-mepet sama laki orang! lulusan kuliahan kok attitude nya kaya anak SD, gak sopan!" marah Nissa..


"Eh... Denger ya! saya gak pernah ngelarang suami saya ketemu dan hangout sama teman-temannya, yang saya larang itu deket-deket seperti ulet bulu, Jelas saya mempunyai hak, karena saya istrinya, lah situ siapa saudara bukan adik juga bukan, hanya sahabat kan? jangan coba-coba jadi bibit pelakor yang mau ngerayu suami saya, dan anda bilang tadi apa? Situ duluan yang kenal suami saya, Oh... HELOOOOO PASANG TUH KUPING BENER-BENER. Saya sama suami saya ini tetangga dari kecil, jadi saya udah kenal sama Agam, dari jaman SD, situ cuma di kuliahan, Sadar diri dong..." Ucap Nissa galak.


"Apa kamu bilang!" ucap Tina


"Tina cukup! jangan melewati batas Tina, hormati Nissa sebagai istri saya, dan benar kata istri saya, kamu gak punya hak, karena kamu bukan siapa-siapa saya!" ucap Agam tegas dan langsung menatap Tina, dan Tina yang di tatap dingin langsung menatap nanar Agam, yang kini telah berubah, dan tak pernah perduli kepadanya seperti dulu.


"Sayang sudah ya, aku minta maaf, kita pulang yuk!


"Ya sudah broo gue pulang dulu ya, Bini gue emang gitu cemburu berat," canda Agam mencairkan suasana.


"Tapi gam tunggu, kita udah lama gak ketemu, terus pas ketemu, lu udah mau balik, lagian seharusnya istri kamu bisa mengerti kalo dunia kamu itu bukan hanya istri kamu, ada teman-teman dan keluarga besar kamu yang lainnya, jadi jangan mau di setir sama istri kamu Agam," ucap Tina dengan nada yang agak pelan.


"Kenapa enggak, istri ku kan ratuku, jadi sudah sepantasnya aku memperlakukan istriku istimewa, dan Tina kamu! saya dari tadi sudah berusaha menahan diri, tapi lain kali saya gak akan tinggal diam kalo kamu tidak bisa menempatkan posisi kamu kepada saya, dan saya pikir lebih baik kamu jangan berusaha buat temuin saya lagi.... ayok sayang kita pulang" ucap Agam. Dan Nissa hanya mencemooh Tina, dengan senyuman sirik nya. Dan saat Tina ingin menyanggah ucapan Agam, teman Agam yang lain memotong ucapan Tina, jadi ia tidak bisa berbicara lagi.


"Tina sudah, gak usah memperpanjang masalah, gak usah bikin ribut, istrinya Agam juga termasuk keluarga Agam, jadi istrinya jauh lebih penting dari pada teman atau sahabat, udah gam jangan dengarkan Tina, kalian pulang lah, kasian, Lagian kayanya istri lu lagi hamil ya? Istri lagi hamil jangan lama-lama di luar kaya gini ,dingin." Ucap temannya yang lainnya.


Di mobil mewah yang di kendarai oleh Agam, dan ditemani istrinya terasa hening dan senyap, hanya ada suara ban mobil yang bergerak di luar, Nissa masih dalam mode ngambek, dan entah tau sampai kapan, maklum ibu hamil bawaannya sensitif melulu, dan Agam mengerti akan hal itu. Agam pun menepikan mobilnya karena suasana nya sudah mencekam, apalagi melihat tatapan tajam dari istrinya yang mendelik.


"Sayang.... Udah ya, Jangan ngambek gitu, Aku minta maaf ya!" Ucap Agam yang melihat istrinya masih mode merajuk, Agam pun meraih tangan Nissa dan menggenggam tangannya.


"Mas.... kamu kenapa di Pepet-pepet gitu diem aja, omelin ke, dorong ke, Apa kamu keenakan di Pepet cewek kaya gitu?"


"Mas dari tadi udah pindah terus, si Tina aja yang selalu ngikutin, pas aku mau bilang jangan terlalu dekat, kamu udah dorong dia, ternyata istri mas yang cantik ini, tenaganya kaya Samson ya?" Canda Agam


"Bingung aku yank, ada aja ulet bulu yang selalu nempel di kamu, resiko punya suami ganteng, ada aja bibit pelakor.


Ya sudah lupakan aja kejadian tadi... Sekarang Aku minta steak daging Wagyu yang gede, aku lagi kepengen itu mas" Ucap Nissa.


"Siap My Queen... Mau makan di restoran mana?"


"Terserah kamu aja mas, Kan kamu yang tau resto yang enak dimana."


_____


POV Popi


"Sial... Ini di mana ya... ?" Ucap popi melihat kanan kiri ruangan Yang dia tempati saat ini.


"Kok goyang-goyang gini sih... Apa jangan-jangan gempa lagi?" ucap Popi yang langsung keluar dari kamarnya.


"Maaf pak ini ada di mana" ucap Popi yang bertanya ke bapak-bapak yang lewat.


"Ibu ini baru bangun ya? Kita lagi ada di kapal Bu! Mau pergi ke Mesir," ucap bapak-bapak yang ada di kapal.


" APA? MESIR?!!!! gak mungkin, siapa yang sudah bawa saya ke Mesir? saya mau pulang ke Indonesia pak!" Ucap popi yang kaget.


"Loh ibu kan salah satu TKW yang sudah di daftarkan untuk bekerja di Mesir, satu hari lagi kita sampai, santai aja Bu, Nikmati aja perjalanannya ya Bu!" ucap bapak tersebut meninggalkan Popi sendirian yang diam, mungkin kaget, tidak menyangka dan tidak percaya akan kenyataan ini, seperti mimpi.


"Gak mungkin, ini gak mungkin.... Mesir..? Ya tuhan tempatnya mumi dan raja Fir'aun. Nissa... Ia ini pasti ulahnya Nissa... Tapi gimana bisa... AAAKKKHHHHHH NISAAA, TUNGGU PEMBALASAN KU KAU NISSA," teriak Popi frustasi.


"HEEH CEWEK GILA... kalo lu mau gila jangan disini berisik tau kuping gue! Sono nyebur ke laut biar di makan ikan hiu sekalian." Popi tidak mengindahkan ucapan cewek tadi, tapi tiba-tiba..


Brukkk..


"Woy, Ini cewek pingsan!" Teriak bapak- bapak yang melihat Popi pingsan dan mereka berdatangan untuk menggotong Popi ke dalam kamarnya.


_____