
Herman pun sampai di rumah dengan selamat, tapi tidak dengan hati Herman yang masih jungkir balik, karena kejadian tadi bersama Putri, Herman merasa gairah meletup-letup di hatinya, Herman turun dari motor dengan perasaan riang bahagia yang selama ini seakan hilang dari jiwa dan rumah tangganya. Bahkan saat Herman masuk dalam rumah, masih sempat-sempat nya Herman bersiul dan bersenandung, seperti seorang kekasih yang baru kencan dengan pacarnya. Kokom yang melihat Herman begitu bahagia, merasa aneh, tapi dia juga ikutan bahagia, seenggaknya Herman sudah mulai melunak dan tidak marah lagi.
"Pak, seneng amat kayanya, dapat bonus ya Pak? ibu bagi uang dong Pak? kasian Nita gak punya uang buat dia jajan" ucap Kokom yang ikut tersenyum melihat senyuman Herman yang masih manis, saat yang lain terasa pahit.
"Kokom.... Kokom... Kenapa sekarang otak kamu isinya uang terus sih Kom.... Suami datang bukannya di ambilin minum atau apa kek ini malah, astaga... Suruh si Nita kerja, dia kan udah lulus, biar Nita cari uang sendiri untuk keperluan dia sendiri."
"Bapak ini gimana sih? kok sekarang perhitungan banget sama keluarga."
"Aku bukan perhitungan, ngedidik anak kamu biar gak manja. Sudah capek aku ngomong sama kamu, mending aku ngambil minum sendiri aja."
"Ekh ia Pak, biar ibu yang ngambilin minumnya Pak."
"Gak usah telat..." Kesal Herman yang melangkahkan kakinya ke dapur. Sampai di dapur Herman menuangkan air putih nya ke gelas, dan langsung meminumnya hingga tandas. Setelah minum Herman pun masuk ke kamar dan membawa baju ganti ke kamar mandi untuk membersihkan diri dulu. Setelah selesai mandi dan melewati Kokom yang hanya duduk-duduk santai di kursi sambil memainkan HP nya, membuat Herman kesal kembali, karena melihat rumah sangat berantakan.
"Kamu tuh seharian di rumah ngapain aja Kom? rumah berantakan kaya gini kamu diemin aja." Ucap Herman makin kesal melihat istrinya yang tidak mendengarkan ucapan Herman barusan.
BUGGG....
Herman menendang kursi plastik di tempat meja makan hingg terbang ke depan dan membuat bunyi yang sangat keras.
"Astaga naga.... MAS HERMAN KAMU KENAPA SIH?" teriak Kokom dengan keras karena kaget dengan suara tendangan Herman.
"Kamu keterlaluan, saya lagi ngomong sama kamu"
"Aku beneran gak denger mas...!"
"KAMU ITU YA SEKARANG JADI ISTRI GAK BERGUNA BANGET KOKOM, liat sekeliling kamu, rumah berantakan, cucian banyak piring pada kotor, liat sama mata kamu hah!"
"Ya Allah mas, masalah kaya gituan aja kamu besar-besarin, tar lah aku kerjain kalau mas pusing liat kerjaan kaya gitu, coba mas yang kerjain sendiri sesekali."
"Kamu nyuruh aku beresin pekerjaan rumah tangga, hebat kamu sekarang Kokom. Udah mulai melawan dan berani sama saya, Sana kamu cari kerja buat makan kamu disini, kalau perlu kamu Sama anak kamu pergi dari rumah saya."
"Mas... Kamu apa-apaan sih, masalah gitu doang. Dikit-dikit ngancemnya ngusir" ucap Kokom dengan mencebikan mulutnya, lalu setelah itu matanya kembali menatap HP dan cengengesan sendiri.
Herman yang sudah kesal bukan main, masuk ke dalam kamarnya, Herman mengambil seluruh pakaian Kokom dan tas-tas Kokom yang serta sepatu yang menjadi kebanggaan nya Kokom. Herman berpikir gara-gara barang-barang sampah itu lah Herman harus kehilangan 2 bidang tanahnya dan setelah terkumpul semua, Herman balik ke dapur untuk mencari karung dan menemukan 3 karung, setelah itu Herman masuk ke kamar nya Nita, Herman juga melakukan hal yang sama dengan semua pakaian Nita, serta tas dan sepatunya Nita. Herman memasukannya ke dalam karung, setelah itu Herman masuk ke dalam kamarnya lagi dan memasukkan semua pakaian, tas dan sepatu Kokom yang sudah tertumpuk ke dalam karung, Herman membawa itu semua ke dapur belakang dan tanpa Kokom sadari bahwa Herman telah mengambil semua barang Kokom dan barang anaknya. Di belakang rumah, Herman menumpahkan bensin ke tiga karung tersebut dan membakar habis semua barang-barang Kokom dan Nita.
"Bau apa ini? kok bau bakar Bakaran ya..." Ucap Kokom sambil mengendus menggunakan hidungnya.
"Kayanya dari arah belakang deh," Kokom pun langsung mengikuti arah bau bakar tersebut sampai belakang, Koko melihat suaminya Arman sedang membakar sesuatu sampai semuanya hampir di lalap api.
"Pak kamu lagi ngapain Pak?" ucap Kokom sambil melihat barang apa yang sedang di bakar, Kokom melihat teliti terhadap karung yang berisi barang-barang nya.. seketika saja mata Kokom membulat sempurna.
"PAAKKKKK, ya Allah apa yang Bapak lakukan? kenapa bapak membakar bajuku Pak?" ucap Kokom sambil menatap nanar karung yang sudah menjadi debu.
"Itu HUKUMAN buat kamu, karena sudah berani melawan dan membantah ku," ucap Herman bengis sambil menunjuk wajah Kokom dengan telunjuknya.
"Pakk hiks..hiks.... Tapi kenapa harus di bakar Pak....? Kita bisa bicarakan baik baik..." Kokom menangis melihat pakaian kesayangannya yang sudah lebur hancur terbakar.
"Kamu tau bukan hanya pakaian kamu saja yang aku bakar, tapi pakaian, tas dan sepatu milik mu dan Nita juga termasuk di dalam karung itu" ujar Herman bahagia melihat wajah kaget dari istrinya itu.
"APA....?"
GUBRAKKK...
Kokom pingsan dengan sangat keras saat jatuh dan Herman hanya memandang sinis tubuh Kokom yang tergeletak di tanah, Herman dengan tega membiarkannya. Herman masuk kedalam dan masuk ke kamar mandi mengambil air di gayung, setelah itu Herman keluar kamar mandi lagi, lalu kembali ke belakang rumah, Herman menghampiri tubuh Kokom dan
Herman menyiram muka Kokom sampai ke dadanya.
"Banjir... Banjir.... Astaga bapak.... Kenapa pake nyiram aku segala..."
"Gak usah drama, kerjain pekerjaan rumah sekarang, jangan malah enak-enakan tidur di luar, saya mau keluar, kalau saya balik rumah belum beres, kamu sama anak kamu, hari ini tidur di luar!" ucap Herman dingin dan langsung melangkahkan kaki meninggalkan Kokom yang masih termenung melihat pakaian dan barang-barang kesayangannya tinggal kenangan.
"Kamu tega pak..! hiks... Barang-barang kebanggaan ibu, kamu bakar semua tanpa sisa, lalu ibu pakai apa sekarang?" lirih Kokom yang masih menangis walaupun tidak seheboh tadi.
Kokom bangun dari duduknya, dia melangkahkan kakinya menuju jemuran, hanya itu pakaiannya yang tersisa yang dia punya, Kokom pun mengambil satu set pakaian tersebut dan melangkahkan kakinya lagi ke dalam rumah menuju kamar mandi, karena baju nya yang basah dan kotor, serta badannya juga terdapat kerikil tanah, Kokom akan membersihkan dirinya terlebih dahulu, sebelum mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.
Kokom mandi sambil menangis, meratapi barang-barang nya yang sudah habis, niat hati ingin tampil wah seperti Nissa mantan istri suaminya dan menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli itu semua, tapi kini semuanya hanya tinggal seonggok sampah yang tidak berguna dan tak bersisa.
"Pak... Kenapa Bapak sekarang begitu kejam padaku Pak? hiks... Hiks...," Kokom menangis sambil membasuh tubuhnya. Setelah mandi tubuh Kokom kembali segar tapi matanya merah dan idungnya gatal, sepertinya karena terlalu lama mandi, Kokom terserang flu.
Dengan langkah lesu Kokom masuk ke kamarnya, dan melihat lemarinya tempat yang dulu di isi dengan barang kesayangannya, kini kosong dan hanya menyisakan 2 pasang baju itu pun baju jelek nya yang sudah lama.
"Bu.... Haloooo..." Teriak Nita dari dalam rumah.
"Ibu kemana sih? Di panggil gak nyaut... Mana laper lagi... Duit abis..." Keluh Nita yang senderan di kursi.
Kokom keluar dari kamarnya dengan lemas dan lesu dan melihat Nita. Kokom langsung menghampiri Nita dan memeluk sambil menangis tersedu-sedu.
"Nita.... Huuuaaaaa Nit..... Barang-barang berharga ibu semuanya di bakar sama Bapak kamu Nit... Huuuuaaaa" Kokom makin keras menangis nya di pelukan Nita.
"Kok bapak tega banget sih Bu, emangnya ibu ngapain sampai Bapak hingga ia marah kaya gitu!" Ucap Nita sambil mengelus-elus punggung ibunya.
"Salah ibu juga yang nyuekin Bapak kamu, sama belum bersihin rumah."
"Ya tuhan Bu.... Padahal cuma masalah gitu doang."
"Ya sudah kamu bersihin rumah Nit, ibu mau cuci piring..." Kokom langsung melepaskan pelukannya dengan Nita dan melangkahkan kaki menuju dapur untuk membersihkan cucian piring.
"Males aku Bu... Capek..."
"Bersihin rumah Nit, kalau enggak Bapak kamu gak akan pernah ngasih uang jajan ke kamu lagi." Teriak Kokom kesal pada putrinya.
"Ia lah bawel banget.... " Ucap Nita kesal. Nita melangkahkan kakinya ke kamarnya, Nita merebahkan tubuhnya yang terasa capek, padahal dia hanya main bersama teman- temannya, saat Nita tidak sengaja melihat ke arah lemarinya yang terbuka, Nita kaget dan ia langsung bangun, lalu menghampiri lemari yang selalu berisikan pakaian, tas dan sepatunya itu sekarang kosong dan hanya menyisakan dua set pakaian lusuh.
"Astaga kemana pakaian, tas dan sepatu berhargaku.... IBUUUUUUU!" teriak Nita yang langsung keluar kamar dan sedikit berlari menghampiri ibunya yang sedang mencuci piring.
"Bu.... Pakaian, tas sama sepatu Nita pada kemana Bu? Kok ilang, di rumah habis kemalingan ya Bu..."
"Di belakang rumah, sudah di bakar semuanya sama Bapak kamu, lihat sisanya di belakang masih ada yang bisa di selametin apa gak..?" lirih Kokom pelan, Kokom benar-benar gak punya tenaga untuk marah-marah dan berdebat dengan siapapun"
"APA...? kok punya aku di bakar juga sih Bu sama bapak" tanya Nita tapi Kokom hanya menggelengkan kepalanya.
Nita berlari ke belakang rumah dan saat sampai Nita melangkah perlahan melihat bekas bakaran dan Nita melihat ada tas nya yang hanya sebagian terbakar. Nita langsung mengambil tas tersebut, tas kesayangannya, tas nya yang paling mahal harganya mencapai 500rbu.
"AAAKKKHHHHHH BARANG-BARANG KESAYANGANKU.... HUUUUAAAAA..... semuanya kebakar kaya gini.... Baju-baju branded ku? Tas impor ku? Sepatu mahal ku? semuanya jadi Abu kaya gini. Hiks..hiks....hiks..." Nita menangis sambil teriak seperti orang gila, sambil memeluk sisa tas yang dia ambil tadi dari tumpukan barang yang sudah jadi abu.
"Bapak keterlaluan! Kenapa dia jahat banget sekarang? Hiks... Hiks.. semua barang-barang aku habis di bakar, Aku gak mau tau! Bapak pokoknya harus ganti semua barang-barang ku yang lebih bagus dari ini!" ujar Nita Nita yang masih kesal dan menangis sesenggukan.