MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
PENGUSIRAN DAN TALAK


Setelah pihak toko emas mentransfer uang sesuai nota jual beli, Herman pulang dengan hati senang, Herman berjanji uang ini akan dia pakai untuk hari tua nya kelak. Dan juga Herman akan membeli sebidang tanah, untuk anak semata wayangnya Arka, tidak ada lagi penerus untuknya, karena setelah menikah sebanyak 4 kali pun anak Herman hanya Arka seorang.


Herman memutuskan untuk ke ATM terlebih dahulu mengambil uang yang di butuhkan dan menaruhnya di amplop coklat. Setelah itu Herman bergegas untuk pulang, karena sudah semakin malam dan sepertinya langit mendung dan akan hujan.


Herman sampai di rumahnya setelah isya menjelang. Di lihat nya ruangan yang sepi. Tapi Herman tidak perduli, baginya mereka berdua, Istri dan anak sambungnya tidak ada artinya lagi untuk kehidupan Herman, kini ia sadar, Herman telah menikahi wanita yang mengerikan, wanita yang dengan tega menghasut, bahkan menjauhkan dirinya dengan anak kandungnya, hingga Arka membencinya.


"Pak, udah pulang dari pagi, tadi aku nyariin Bapak, kenapa kerja pagi banget, gak nungguin aku bangun. Aku kan bisa buatin sarapan buat kamu" cerocos Kokom tanpa henti, Kokom sama sekali tidak melihat raut wajah Herman, atau kokom tidak perduli.


"Hmmmm sudahi saja sandiwara kamu Kom! Aku udah tau semuanya" ujar Herman dingin.


"Maksudnya Bapak apa sih, Bapak kesambet ya? Datang-datang ke rumah main nuduh Kokom sembarangan. Buktinya apa?" ujar Kokom tak kalah kesalnya. Kokom memandang Herman dengan mata sengit.


"Maling mana ada yang mau ngaku. Kamu sengaja ngehasut aku untuk jauh sama anak kandung ku sendiri dan lebih menyayangi anak mu. Kamu juga buat cerita palsu tentang Arka, padahal Nissa selama ini tidak pernah membatasi aku untuk menemui anakku sendiri dan yang lebih parahnya lagi, kamu bilang bahwa penyakit ku ini tidak bisa sembuh dengan dalih kamu terima aku apa adanya, padahal semua ucapan kamu itu bodong" teriak Herman menunjuk dengan jari ke muka Kokom langsung. Kokom hanya membelalakan matanya, karena semua yang di tuduhkan Herman itu benar.


'Dari mana bapak tau semuanya, gawat!' ucap Kokom dalam hati, Kokom meremas ujung bajunya gugup. Herman bisa melihat kepanikan dalam wajah Kokom, Nita yang mendengar keributan dalam rumahnya langsung membuka pintu.


"Bapak... Apa apaan sih? datang-datang langsung ngajak ribut, ini udah malam gak malu apa sama tetangga" teriak Nita kasar kepada Herman.


"Bapak... Hehehe" Ucap Herman terkekeh melihat ke wajah Nita. Nita hanya menatap bingung bapaknya kenapa bertingkah laku seperti itu.


"Aku bukan bapak mu, sana minta makan dan tanggung jawab sama bapak mu, yang keberadaan nya entah di mana?" Ujar Herman telak.


"Pak... cukup kamu membuat kami sakit hati seperti ini, bertahun-tahun aku setia dan menerima kamu apa adanya, bertahun tahun aku melayani kamu Pak. apa itu belum cukup membuat kamu percaya kalau aku itu tulus" ujar Kokom sambil menahan tangisannya.


"Sudah saya bilang jangan sandiwara  di hadapan saya. Saya udah gak mempan dengan air mata palsu mu itu. Sekarang juga kalian berdua pergi dari rumah saya. Dan kamu Kokom, saya akan urus perceraian kita berdua." Ujar Herman yang kesal dan langsung masuk ke dalam kamarnya, lalu mengunci pintu kamarnya itu.


"Mah... Gimana ini? kenapa sama bapak Mah?" ujar Nita panik.


"Mamah juga gak tau.  Bapak kamu tau semua tentang rencana Mamah dulu, Mamah harus bicara sama Bapak kamu supaya kita gak usah keluar dari rumah ini" Ujar Kokom.


Tok..tok..tok..


Kokom terus saja menggedor-gedor kamar dia dan Herman.


"Pak ... Buka dulu pintunya Pak kita harus bicara. Bapak gak bisa nuduh aku tanpa bukti kaya gitu, bapak juga gak bisa cerein aku Pak, buka Pak pintunya!" ujar Kokom yang masih mencoba untuk merayu suaminya.


Sedangkan Herman di dalam kamarnya, sedang memasukan sisa pakaian dan barang-barang Kokom ke dalam tas jinjing yang biasa dia pakai untuk berkunjung ke Jakarta atau ke rumah abangnya yang di Jawa. Herman sudah tak sanggup hidup bersama Kokom, karena keserakahan Kokom, apalagi Kokom selalu saja membahas tentang tanah Arka, yang sama sekali bukan hak nya, Herman sangat jijik atas kelakuan ibu dan anak itu, setelah semua pakaiannya Kokom masuk, Herman pun membawa tas jinjing tersebut dan membuka pintu kamarnya.


"Pak... itu pakaiannya ibu mau di apakan Pak?" Ujar Kokom melihat pakaiannya ada di dalam tas jinjing tersebut, karena resletingnya tidak di tutup. Herman terus melangkah keluar rumah dan membuka pintu depan, Herman langsung menaruh tas itu di luar rumah. Kokom dan nita yang mengikuti Herman berusaha untuk mengambil tas nya sambil menangis.


Herman yang tidak perduli dengan tangisan istrinya, malah mendorong Nita keluar rumah. Nita yang berdiri di tengah pintu, kaget saat Bapaknya menarik ke luar dan bertubrukan dengan tubuh ibunya.


Herman masuk kembali ke rumahnya dan mengunci pintu depan. Nita dan Kokom yang berada di luar menatap pintu yang tertutup langsung  menerjang pintu yang terkunci itu dan di ketok-ketok sekuat tenaga berulang-ulang kali.


"Pak maafkan kita berdua Pak, jangan usir kami Pak!" mohon Nita dengan berderai air matanya, dulu Herman paling tidak bisa melihat Nita menangis, karena Herman sudah menganggap Nita adalah anak kandungnya sendiri, tapi karena sifat Nita yang akhir-akhir ini sangat menyebalkan dan sering menganggu Arka. Membuat Herman jengah dengan kelakuan mereka berdua.


"Kokom Komalasari. Mulai hari ini aku jatuhkan talak ku kepadamu dengan talak tiga. Maka mulai hari ini pula, gugurlah kewajiban-kewajiban ku padamu, karena kita bukan suami istri lagi" ujar Herman dengan lantang.


"Dan selamat bertemu di pengadilan dan ini uang 5 juta untuk pegangan kalian, dan untuk kamu Nita ... saya bukan ayah kamu, carilah ayah kandung sendiri. Sudah cukup kamu dan ibu kamu berusaha untuk membuatku jauh dengan anak kandung ku sendiri hingga Arka membenciku," ujar Herman, menahan segala amarah di dadanya, Herman tidak ingin terpancing dengan emosinya, karena akan berbahaya di pengadilan nanti, hingga membuat dirinya sendiri rugi. Herman akan menahan semuanya sampai saat itu tiba.


"Tidak Pak... Tidak Pak.... Bapak harus tarik ucapan Bapak...! Jangan ceraikan ibu Pak! Ibu mohon, ibu mengaku salah, tapi kita pasti memperbaiki semuanya Pak, Jangan usir kami Pak!  Hiks...hiks..." Ujar Kokom sambil menangis dan menciumi kaki suaminya.


Untung saja letak rumah Herman dengan rumah tetangga agak berjauhan letaknya, jadi tidak membuat para tetangga terganggu karena kebisingan yang di perbuat oleh mereka.


"Sudahlah jangan membuat drama lagi, ini bukan drama Korea! ini kenyataan, dan kenyataan yang paling menyakitkan adalah saya sudah menikahi wanita berhati iblis macam kamu Kokom! Sekarang kalian pergi dari sini! karena saya tidak mau lagi menampung manusia-manusia seperti kalian! serakah dan selalu menginginkan yang bukan haknya atau miliknya." Ujar Herman panjang lebar.


"Tunggu dulu Pak! Perhiasan ku?" Ujar Kokom yang tidak sadar telah menyebutkan perhiasan yang selama ini dia sembunyikan.


"Perhiasan apa lagi? Kebohongan apa lagi Kom yang kamu tutupi dari saya" ujar Herman dingin.


Glekk...


Kokom menunduk menutupi wajahnya, karena telah membongkar harta yang selama ini rahasiakan dari suaminya.


"Kamu pasti akan menyesal Pak, mengusir kamu seperti ini" ujar Kokom marah dan mengabaikan pertanyaan mantan suaminya itu.


"Justru aku akan tambah menyesal kalo aku masih hidup berdua dengan mu, dan satu hal lagi, jangan pernah kalian berdua menganggu Arka dan anak Nissa yang lainnya, jika kalian berdua memiliki rencana itu, akan ku pastikan kamu akan membusuk di penjara.


Kokom menatap Herman dengan penuh dengki dan dan amarah yang sedang berusaha dia tahan. Herman pun kembali masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan ibu dan anak itu di luar, tidak di perdulikan teriakan yang menggema di luar yang penting sekarang mah. Dia harus menyembuhkan mentalnya, agar dia bisa panjang umur dan meminta maaf kepada anaknya.


"Kita harus kemana Mah? Gak mungkin kan kita ke rumah Ayah. aku gak mau tinggal sama ayah yang miskin itu Mah" rengek Nita kepada ibunya. Nita memang tipikal anak yang manja, karena selalu di manjakan oleh Kokom dan dituruti kemauan nya oleh Herman.


"Terpaksa kita harus ke rumah ayah kamu, mau kemana lagi? Memangnya, masih untung bapak kamu ngasih uang ke kita 5 juta buat pegangan" ujar Kokom yang mengusap sisa air mata yang masih bertengger di pipinya, Kokom hanya menangis pura-pura, karena tujuan dia belum tercapai.


'Perhiasan ku... Gimana caranya ya? aku bisa ngambil perhiasan ku kembali, tanpa Herman tau' ucap Kokom dalam hati. selama ini tidak ada yang tau mengenai perhiasan itu, bahkan Nita pun tidak di beritahukan kalau punya simpanan perhiasan yang banyak.


"Ya udah kamu pesen taksi, biar kita gak kemaleman. Nyampe rumah bapak mu" Ujar Kokom kesal kepada anaknya Nita karena sangat lelet.


"Ia ... sabar, semua ini juga gara-gara Mamah. Pake ngaku segala. Padahal udah gak ada yang deketin Nita lagi. Apalagi Mamah, udah peyot gitu. Siapa yang mau" ledek Nita. Kokom yang mendengar hinaan dari anaknya lebih memilih diam. karena jika harus berdebat dengan anaknya, gak akan pernah habis sampai seminggu, ocehannya membuat Kokom pusing.


Taksi online pun datang, Kokom dan anaknya Nita menaruh tas pakaiannya di bagasi mobil di bantu oleh supir taksi online tersebut dan pergilah mereka berdua dari rumah yang nyaman, rumah yang memiliki banyak kenangan, tak terasa Kokom menetaskan air matanya.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_