MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
PROYEK ARKA


Herman mengendarai motornya tak tentu arah, dia hanya mengikuti jalan besar, tak berbelok-belok hanya jalan lurus saja, Herman menghembuskan nafas berkali-kali, menahan rasa sesak di dalam dadanya, Herman melihat di sekeliling, dia mengenali jalan ini, jalan yang menuju tanah yang di miliki anak semata wayangnya Arka, Herman lalu menambah kecepatan motornya dan tak lama motor tersebut berhenti di tanah yang sedang di bangun bangunan 3 lantai yang sangat megah dan luas, Herman saja sampai tak percaya. Bahkan dia berpikir apa dia salah tempat, tapi sepertinya benar, karena Herman sudah hapal betul sampai di luar kepala jalan ke arah sini.


"Apa Arka sudah menjual tanahnya sama orang lain ya? Dan akan di bangun-bangunan tinggi ini, lebih baik aku tanyakan saja ke pegawainya." Gumam Herman lalu menghampiri pekerja yang sedang membangun bangunan megah tersebut.


"Selamat siang pak..." Tanya Herman bertanya ke pegawai bangunan tersebut tapi terlihat seperti mandor itu.


"Ia siang Pak, kenapa ya Pak?" ucap mandor tersebut.


"Maaf nih Pak ya saya main masuk aja, Saya mau tanya, yang saya tau tanah ini punya anak saya Arka, kok sedang di bangun bangunan megah ini, di jual apa gimana ya pak?" Tanya Herman bingung.


"Bapak ayah nya Pak Arka? Setahu saya ayahnya pak Arka itu pak Agam Wijaya." Ucap sang mandor yang membuat sakit di ulu hati Herman.


"Oh maksud saya anak angkat saya Arka, saya sudah menganggap Arka sebagai anak saya, karena masih ada kerabat Pak... " Herman tidak bisa mengakui Arka adalah anaknya, karena itu adalah permintaan Nissa, untuk menjaga nama baik Arka sendiri, Nissa takut Arka akan di bully jika khalayak tau ayah kandung Arka pernah viral dua kali berbuat zina dengan wanita yang berbeda.


"Oh... Begitu Pak... Ini memang masih tanahnya pak Arka, dan bangunan ini juga punya pak Arka."


"Oh begitu Pak, kalau boleh tau mau di buat apa ya Pak?"


"Ini mau di buat supermarket dan Bioskop Pak"


"Apa?" Herman kaget sedikit teriak, tidak menyangka anaknya akan membuat usaha sebesar ini. Tersirat ide-ide di kepala Herman


untuk memanfaatkan Arka, untuk hidupnya.


"Kalau Arka menjadi Bos besar nanti, aku pasti akan kecipratan uangnya, aku akan menjadi kaya, aku bisa minta apa aja ke anakku, walaupun aku gak ngurusin dia, Arka tetap lah anak kandungku hahahahah aku gak usah kerja lagi, dan bisa makan enak kaya dulu, bisa belanja liburan dan shopping, pakaian mahal," ucap Herman dalam hati.


"Makasih ya Pak, saya pergi dulu maaf sudah ganggu Bapak" ucap Herman yang tersenyum dan langsung meninggalkan mandor tersebut.


"Siapa pak tadi?" ucap asisten mandor melihat orang yang berbincang-bincang dengan Bos nya.


"Gak tau, katanya ayah angkatnya bapak Arka. Apa cuma ngaku doang ya."


"Kok senyum-senyum sendiri"


"Kayanya dia ada niat jahat deh. Pas tadi saya kasih tau ke dia bahwa ini usaha milik pak Arka"


"Bisa jadi Pak"


"Tar saya hubungi Pak Arka buat laporan, tapi saya lupa buat laporan"


"Bilang apa adanya aja Pak"


"Ia kamu bener nanti aku hubungi Pak Arka aja" ucap mandor tersebut yang langsung mengerjakan pekerjaannya.


Herman bersiul senang mendengar Kabar bahagia ini, Herman bahkan tersenyum sepanjang jalan kenangan, membuat orang yang melihatnya menjadi aneh, karena ada orang gila membawa motor.


Herman pun sampai di rumahnya, dia masuk ke rumah dan bibirnya semakin tersenyum lebar melihat rumah sudah rapih dan bersih, Herman pun kebelakang dan melihat keadaan dapur yang sudah terlihat rapih pula, cucian piring dan peralatan masak yang kotor pun sudah pada di bersihkan.


"Baguslah mereka udah nurut semua apa mau ku."


"Bapak..... Kenapa bapak bakar semua barang-barang Nita?" teriak Nita yang keluar dari kamarnya.


"Jaga mulut kamu, gak usah pake teriak-teriak sama saya" ucap Herman marah.


"Pokoknya Nita minta ganti semuanya Pak, Nita minta uang buat beli barang-barang yang bapak bakar" teriak Nita kembali tidak mendengarkan ucapan Herman.


"Udah Nita Cukup! jangan bikin Bapak kamu tambah marah," ucap Kokom yang keluar dari kamarnya, karena mendengar keributan yang terjadi di dalam rumahnya.


"Duduk! anak kamu yang bener Kokom, kalau kamu gak bisa didik dia yang benar, saya yang akan didik dia pake kekerasan" ucap Herman yang pergi meninggalkan dua wanita itu ke dalam kamarnya.


"Bapak mau kemana? Jangan pergi dulu pak... BAPAAAAKKKK" Nita semakin menjadi jadi membentak dan meneriaki Herman.


Plakkkkkk.....


"Heh denger anak ga tau diri! Kamu disini udah aku kasih makan, hidup enak, aku sekolahkan, tapi dengan beraninya kamu teriak dan membentak saya di depan muka saya sendiri!" bentak Herman setelah menampar keras pipi Nita.


"Pak cukup Pak... Jangan pukul Nita pak, Jangan sakiti Nita Pak! Huhuhuhu" ucap Kokom menangis melihat anaknya di pukul oleh suaminya sendiri.


"Bapak pukul Nita. Tega bapak pukul anak bapak sendiri" Lirih Nita.


"Denger ya! Kamu bukan anak saya dan saya juga tidak Sudi punya anak pembangkang seperti kamu! minta ganti barang-barang kamu yang telah saya bakar, gak ngaca kamu, uang yang kamu pakai buat beli sampah- sampah itu adalah hasil dari mencuri, kalian mencuri dan menjual tanah saya. Jadi kalian berdua harus mengganti nya sesuai dengan harga aslinya sekarang, kalau tidak mau saya jebloskan kalian ke dalam penjara dan satu hal lagi mulai hari ini dan seterusnya kamu tidak akan mendapatkan jatah uang jajan dari saya, kalau kamu mau punya sana kamu, sana kerja...! Jangan hanya jadi benalu ibu kamu dan saya di rumah ini, Paham kamu!" ucap Herman setelah membentak Nita dengan mulut pedasnya, Herman pun pergi meninggalkan mereka berdua masuk ke kamarnya.


"Bu... Hiks...hiks... Pipi aku sakit Bu...." Ucap Nita menangis pilu sambil menyentuh mukanya yang memar-merah akibat di tampar Herman.


"Kan ibu udah bilang Nit, Jangan buat bapak kamu marah, bapak kamu emosinya lagi tinggi, kita harus sabar untuk sementara waktu ini, sampai apa yang kita inginkan nanti bisa kita dapatkan.


"Kamu ini, cari kerja makanya lumayan uangnya buat diri sendiri dulu."


"Aku mau kerja di mana Bu...?


"Udah bangun! Ayok kita pindah ke bangku depan!" ucap Kokom yang membantu membangunkan Nita.


"Berat banget astaghfirullah, badan kamu kecil tapi berat ya kaya gajah"


"Emang ibu pernah gendong gajah?" ucap Nita sambil berjalan bersama Kokom pindah ke ruang depan.


"Ayok duduk! Kamu belum makan kan? Kita makan dulu sama-sama"


"Gak mau Bu... Nita belum lapar, Nita lagi sedih aja, Bapak sekarang jahat sama kita Bu"


"Ibu juga bingung dengan kelakuan Bapak kamu akhir-akhir ini, entahlah ibu juga gak ngerti, Bapak kamu semakin kasar, mulutnya juga semakin nyakitin."


"Terus kapan ibu mau nelepon si Arka Bu? Jangan lama-lama!" bisik Nita pelan karena takut Herman akan dengar.


"Nanti lah tunggu keadaan kondusif dulu, Bapak kamu lagi panas hati sekarang, kali Arka bilang sama Bapaknya, nanti abis kita di usir dari rumah ini."


"Ia Bu kalo kita keluar dari rumah ini, kita mau tinggal di mana Bu?"


"Nah itu yang ibu pikirin, sekarang kamu mendingan cari kerja sana, jadi pelayan toko juga gak apa-apa, dandan yang cantik, bawa surat lamarannya, kalau kamu udah punya duit sendiri kamu kumpulkan, jangan di belanjain lagi, kamu tabungin, kamu pake uang gaji kamu. Cuma buat keperluan di rumah ini aja."


"Lah kenapa emangnya Bu? itu kan uang aku, jadi mau aku pake atau enggak itu bukan urusan ibu," Ucap Nita kesal dengan kata-kata ibunya.


"Kamu ini! mau perhitungan sama ibu hah! Mau pelit sama ibu, perasaan ibu gak enak ini dengan ayah kamu"


"Emang kenapa sih Bu?


"Jangan bikin orang galau deh karna kelakuan kamu, pokoknya kamu kumpulin dan kali udah banyak bisa buat modal dan dagang di luaran sana, agar kita bebas dari Bapak kamu, dia udah berubah Nit, semenjak dia tau Nissa melahirkan dua anak kembar yang sangat lucu-lucu.


Sebenarnya ibu juga pengen punya anak lagi, tapi belum hamil sampai sekarang." Ucap Kokom sedih.


"Udah gak usah sedih. Ibu masih punya aku kok Bu..."


"Gimana kalau Bapak kamu meninggalkan kita Nit?"


"Yah gak akan lah Bu, Bapak itu cinta mati sama ibu, udahlah Bu... Gak usah pikirin hal yang macem-macem Bu... Pokoknya kita harus ngelakuin rencana kita Bu...aku akan cari kerja esok Bu. aku bakalan tanya ke teman-teman aku kali aja ada lowongan."


"Ia Nit... Ibu masuk dulu ke dalam kamar, mau tidur."


"Kok tidur sih Bu?"


"Yah mau ngapain lagi?"


"Ayok kita makan! kita berdua kan belum makan."


"Oh ia, Ya udah ayok kita makan!" Kokom dan Nita pun menghampiri meja makan, mereka berdua makan dengan nikmat, dan seakan mereka berdua lupa dengan Herman, lauk yang Kokom masak di habiskan oleh Kokom dan anaknya Nita, yang tersisa hanya nasi yang cukup untuk 1 piring. Dengan langkah tenang Kokom membawa piring bekas makan dia dan Nita anaknya untuk Kokom cuci di wastafel.


_____


[ Selamat siang pak Arka ] ucap mandor yang sedang mengerjakan bangunan Supermarket Arka.


[ Ia siang pak Danu, gimana ada yang kurang atau ada masalah apa Pak? ]


[ Sebenarnya kalau masalah, Alhamdulillah tidak ada Pak, saya hanya ingin melaporkan Pak ]


[ Melaporkan apa ya Pak? ]


[ Tadi ada seorang laki-laki, Bapak-Bapak , datang ke wilayah proyek, pertama nya dia datang mengaku sebagai ayah Bapak, hanya saja dia meralat nya. ]


[ Ia lalu Ada masalah dengan Bapak-Bapak tersebut Pak? ]


[ Tidak ada Pak saya hanya curiga Pak, gerak- gerik nya mencurigakan, apalagi setelah saya memberitahukan dia kalau bangunan ini punya Bapak, dia tersenyum sendiri seperti sedang memikirkan sesuatu.]


[ Tidak apa-apa Pak. Dia tidak akan berani, tapi makasih atas laporannya Pak ]


[ Ia sama-sama Pak Arka, kalau gitu saya izin pamit dulu, hanya itu yang saya ingin laporkan Pak ]


[ Ia Pak sama-sama, saya juga mengucapkan terima kasih ] telepon pun di tutup oleh Arka.


"Apa lagi rencana mu Bapak? apa Bapak akan memanfaatkan aku lagi? apalagi setelah tau usahaku di masa depan" lirih Arka yang saat ini masih berada di Amerika menemani adiknya bersama keluarganya.