MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
BAB 28 DUO BENALU MENGGANGGU


POV Nissa


Hari ini adalah hari pertama aku menjadi seorang pengangguran, sepertinya bagus juga, banyak hal yang ingin kulakukan, jalan jalan shopping, perawatan kulit yang pastinya yang aman untuk ibu hamil, serta menikmati masa-masa kehamilan ku. Saat sampai rumah bersama ayah, ibu langsung memelukku lembut, kehangatan ini yang selama ini aku cari, dan aku bersyukur di lahirkan di keluarga yang damai seperti ini dan dari orang tua yang setia satu sama lain. Kenapa aku bilang setia satu sama lain, itu karena papah yang sangat mencintai mamah, walaupun mamah anak orang kaya dulunya tapi ayah tidak pernah memanfaatkan mamah selama ini. Tapi dari kebahagiaan yang kurasakan, terselip kesedihan, dimana aku akan melewati kehamilanku tanpa seorang suami, dan aku berharap semoga saja kelak anakku akan mendapatkan pengganti ayah yang lebih baik dan bisa menyayangi ku dan anakku kelak.


Kegiatan ku sekarang hanya memantau perkembangan restoran ku dan butikku yang berada di Mall, aku memantau dari dari rumah saja dan meminta laporan keuangan seperti biasanya, terkadang aku akan mengunjungi butik dan restoranku seminggu 3 kali.


Untuk mas Herman dia masih saja selalu menganggu, padahal nomer nya sudah aku blokir memang sangat menyebalkan, ketika dia selalu menghubungiku menggunakan nomernya yang berbeda-beda dan itu benar- benar membuatku stress, padahal kan aku lagi hamil dan aku ga boleh stress. Apalagi perutku sudah terlihat membesar walaupun sedikit, aku takut saja ketika tak sengaja bertemu dengan mas Herman, dia akan menyadari bahwa aku hamil, dan memanfaatkan keadaan ini.


Setelah satu Minggu berkutat di rumah dan beristirahat, aku memutuskan untuk pergi ke restoran ku, untuk sekedar refreshing dan melihat keadaan di restoran memeriksakan laporan. Akupun meminta pak Dadang supir baru yang di pekerjaan oleh mamah untuk mengantarkan aku kemanapun, dan menjagaku dari gangguang Herman yang semakin menjadi, saat tiba di restoran aku pun langsung masuk dan menghampiri angel yang sedang melayani customer, dan Alhamdulillah nya hari ini restoran ramai seperti biasanya, dan omset pun naik, sepertinya aku harus memberikan bonus besar kepada seluruh karyawan ku.


" Angel, rame ya angel, makan dululah udah waktunya jam makan siang " ucapku saat sudah tiba di meja kasir.


" Eh ada Bu bos datang, lagi rame nih Bu tar aja habis jam istirahat selesai baru kita makan gantian, ibu mau ada yang mau di makan, nanti saya pesankan ke chef Bu "


" Hmmm kebetulan saya pengen banget spaghetti carbonara, mangkanya saya kesini, tolong buatin ya cantik, nanti suruh antar keruangan saya aja, saya mau makan di sana"


" OK Bu bos sebentar saya ke dapur dulu ya Bu bos, Milaaa kamu gantiin aku di kasir dulu ya aku mau ke dapur bentarr " ucap Angel yang langsung melenggang ke dapur.


" Selamat siang Bu Nissa "


" Siang Mil, aku kedalam dulu ya, nitip kasir nya "


" Baik Bu " ucap Mila menganggukan kepalanya.


Aku pun segera pergi ke ruanganku dan memeriksakan laporan serta bahan bahan baku yang habis, dan setelah beberapa saat makananpun datang, dari wanginya saja sudah saat menggiurkan, saat di taruh di meja aku pun mengucapkan terimakasih ke Mila, karena sudah mengantarkan makananku. Saat Mila keluar langsung saja aku memakan spaghetti yang harusnya semerbak ini, dan dalam waktu 5 menit makanan yang ada di hadapanku langsung saja habis. Memang aku akui semenjak aku hamil nafsu makan ku begitu signifikan. Bawaannya lapar terus, tapi tak apa biar nanti anak aku yang ada di kandungan jadi sehat.


Setelah empat jam lebih di Restoran dan mengerjakan semua pekerjaan ku, aku pun langsung saja pulang dan bersiap menuju ke lantai bawah, dan keluar dari restoran ku setelah berpamitan ke angel dan karyawan ku yang lainnya, tapi sialnya saat aku berada di mobilku tiba-tiba mas Herman datang dan mendekati ku, dan tanpa aba-aba dia langsung memegang tanganku. Tapi langsung di plitir tangannya oleh pak Dadang supirku sekaligus bodyguard ku.


" Akkh akhh sakit..... Ini siapa sih main plintir aja.... Lepas gak " ucap Herman ke arah pak Dadang dengan wajah menahan sakit.


" Lepaskan saja pak tangannya " ucapku ke pak Dadang, dan langsung saja tangan mas Herman di lepaskan.


" Mau apa lagi kamu mas, udah deh jangan ganggu aku terus, kalo kamu terus mengganggu aku, kamu bisa laporkan mas, atas tuduhan mengganggu ketentraman ku. "


" Jangan lah Nis, ok aku minta maap kalo terlalu mengganggu kamu, aku cuman mau menjalin silaturahmi Nis, bukannya walaupun kita sudah bercerai kita masih bisa menjadi teman, walau bagaimanapun dulu kamu sangat mencintai ku Nis, dan sebenarnya aku yakin kamu juga masih mencintai ku kan Nis, dan alangkah baiknya kita bisa bicara di dalam sambil makan di restoran mu, tidak bicara di luar seperti ini, tidak elok " ucapnya yakin seyakin, kulihat perutnya yang sedikit buncit.


" Kamu itu mas, selain benalu , pede tinggi sama ga tau malu banget ya, udahlah aku ga mau ngomong sama kamu lama-lama "


" Tunggu nis, Hoek...... Hoekk... Hoekkk... "


" Apaan sih mas.... Jorok banget kamu "


" Tunggu Nis, anterin aku ke toilet di dalam Nis... Tolong, dari tadi pagi aku mual-mual terus, muntah juga... Kamu gak mau kan aku muntah di tempat parkir restoran kamu, aku mohon Nis , enek banget "


" Yudah sana masuk, pak Dadang tolong antarkan di ya, langsung seret keluar kalo udah, aku tunggu di mobil "


" Jangan sama dia lah Nis, sama kamu aja "


" Pak sweet dia ke toilet karyawan pak, lewat pintu belakang, pusing aku denger ocehannya "


" Ia Bu " ucap pak Dadang sambil memegang tangan mas Herman dengan kencang dan menyeretnya ke belakang.


" Nis, kamu jahat banget Nis " teriak Herman. Setelah Herman di antar ke ruang karyawan aku masuk ke mobil untuk menunggu pak Dadang, tapi sudah sepuluh menit berlalu, Herman dan pak dadang tidak juga muncul, akupun mengambil hp ku yang berada di dalam tas dan menghubungi pak Dadang.


[ Assalamu'alaikum pak, belom selesai masih lama pak ]


[ Ia Bu pak Herman masih di dalam gak keluar keluar ya Bu ]


[ Kamu dobrak aja pintunya, palingan dia lagi mengulur waktu buat masuk ke restoran ku dan minta makan sesuka hati, setelah itu kamu seret dia kesini, nanti aku akan panggil angel ke luar ]


[ Baik Bu ]


Setelah telepon terputus aku pun menghubungi angel untuk ke untuk keluar sekalian membawa security bersamanya.


5 menit berlalu ku lihat mas Herman dan pak Dadang sudah tiba di parkiran mobil, dan tak lama setelahnya angel dan pak security pun datang, setelah mereka semua berkumpul di luar, akupun segera membuka pintu mobil.


" Angel kamu ingat-ingat ya , wajah bapak ini, kalo dia kesini lagi dan mengaku sebagai suami saya, dan meminta apapun dari restoran ini kamu tolak, dan beritahukan kepada semua karyawan jika ada orang yang mengaku sebagai suami dan sodara saya dan ingin makan secara gratis di restoran ini, usir aja langsung keluar, dan untuk pak security juga berlaku hal ya sama " ucapku kepada karyawan ku, lalu ku lirik wajah mas Herman yang merah seperti kepiting rebus, mungkin menahan marah atau malu, namun aku tak peduli.


" Baik Bu " ucap Angel dan pak security secara bersamaan.


" Ya sudah angel dan bapak security silahkan kembali bekerja, terimakasih ".


" Nis kenapa kamu segitunya sama aku Nis, kamu sombong sekali, mentang-mentang kaya, bisa buat seenaknya seperti itu sama suami kamu sendiri ".


" Suami mas, bangun mas jangan mimpi kita sudah bercerai lama, hampir mau dua bulan dan kamu punya istri di rumah, jangan mengaku aku adalah istri kamu, dengar ya mas cam kan baik-baik, kalo kamu masih nekat gangguin aku, benar-benar akan aku laporkan ke polisi, aku gak peduli apa ibu mau marah sama aku atau tidak, ini semua karena tindakan mu yang di luar batas, kalo kamu mau duit banyak senang-senang, mangkanya kerja pake duit sendiri, jangan jadi benalu orang lain " ucapku ber api-api , setelah itu aku tak menggubris lagi mas Herman dan langsung masuk ke mobil, di ikuti dengan pak Dadang yang duduk di bagian depan sebagai sopir, mobil pun meninggalkan area parkiran, dan kulihat Herman masih saja di tempatnya dengan marah-marah tidak jelas.


Dalam perjalanan pulang aku bingung kenapa dia mual dan muntah, padahal kan aku yang hamil, tapi Alhamdulillah aku tak pernah mengalami gejala mual dan muntah saat kehamilan ku ini, dan aku pun sangat bersyukur karenanya.


2 hari pun berlalu dan kulewati dengan aman dan tentram tanpa adanya gangguan dari orang orang benalu di masa laluku. Alhamdulillah tenangnya hidupku, dan aku juga baru ingat besok adalah hari pernikahan anaknya tande Dwi, Anisa dan calon suaminya Rama, aku pun memiliki rencana untuk datang ke butik milikku yang ada di Mall di Jakarta Selatan. Aku pun berangkat dengan mamah yang di antar oleh pak Dadang. Saat tiba di butiku Manager ku pun menyambut aku dan ibuku dengan ceria sekali, Managerku ini adalah temanku, walaupun dia laki-laki, tapi dia adalah laki-laki yang amanah dan bertanggung jawab, Doni adalah tetangga ibuku yang ada di Kalimantan, dia di ajak ibuku untuk bekerja ke Jakarta dan ikut dengan ku untuk mengelola butik, yang dulu baru ku rintis dan belom sebesar ini, dan akupun sangat beruntung aku di pertemukan dengan orang orang yang jujur, dan amanah yang bisa di percaya.


" Halo Don, apa Kabar " ucapku yang langsung di sambut oleh Doni dengan berjabat tangan, Doni mencium tangan ibuku takjim.


" Wih Doni makinan keren aja nih, kapan kamu nikah udah tua juga, duit udah banyak juga " ucap ibuku yang memang selalu menjadikan Doni bahan ejekan, karena ibu sudah menganggap Doni seperti anaknya sendiri, karena aku adalah anak tunggal dan ibu pengen sekali punya anak lelaki.


" Ibu.... Mba Nissa.... Alhamdulillah nih baik Bu, gimana Kabar ibu dan mba Nissa sekarang.... Dan mba Nissa maaf kalo Doni kurang ajar.... Apa benar Kabar yang Doni dengar itu "


" Alhamdulillah kita berdua juga baik Don... Dan untuk Kabar itu ia aku sudah bercerai karena mas Herman selingkuh sama Fina " ucapku.


" Fina bukannya sepupu mu ya mba "


" Ia.... Ya tapi gitu.... Ya udahlah ga usah di bahas udah lewat juga "


" Ok deh mba, oh ia mba untuk laporan keuangan udah Doni Email seperti biasanya dan juga untuk keuntungan bulan ini Alhamdulillah mba ada peningkatan, dan udah aku masukan juga mba "


" Gaji karyawan gimana Don, udah beres " tanyaku yang langsung melupakan masalahku, dan beralih ke masalah kerjaan.


" Udah selesai mba... Dan mari mba Doni antar untuk melihat koleksi terbaru buat mba Nissa dan ibu yang mau kondangan" ucap Doni.


" Bisa aja Don kamu " ucap ibu yang membuat aku dan Doni tersenyum, setelah itu kita bertiga pun langsung kebelakang di mana tempat di pajangnya gaun-gaun yang indah yang limited edition.


" Mah.... Don aku lihat lihat dulu kesana ya sebentar " ucapku yang langsung pergi menuju ke arah rak gaun yang indah.


" Ia mba sekalian aku mau pesen makanan dan minuman dulu ya Bu sebentar, ibu duduk- dulu saja " ucap Doni


" Ia Don.... Ibu juga mau liat baju gamisnya " ucap ibu yang melihat ke pajangan yang berbeda dengan ku.


" Wah.... Wah ..... Wah ada mba Nissa juga disini... Lagi beli gaun mba buat acara besok di bude Dwi..... Bareng sama siapa mba pasti sendirian karena gak punya pasangan, kasian banget " ucap Fina yang tiba-tiba datang, dengan mulut pedasnya, sepedas cabe jabl*y.


" Oh ada Fina disini, sama suami kamu ya, mau beli baju disini, emangnya kalian sanggup bayarnya " ucapku dengan seringai mengejek.


" Alah baju kaya gini doank, sini baju nya.... Baju yang kamu pegang cocoknya itu di pake aku mba yang punya body langsing Kay gini, gak kaya kamu gendut, mas Herman bisa kan beli baju yang ini buat aku, buat kondangan besok mas " ucap Fina yang langsung merebut gaun yang sedang aku pegang, lalu di serahkan ke pada Herman.


" Fin, kamu gak lihat harga bajunya sebulan gajiku ini Fin... " Ucap Herman marah.


" Masa sih mas coba lihat " ucap Fina, bisa aku lihat dari kedua mata Fina yang kaget oleh harga gaun tersebut, karena gaun yang Ku pegang itu adalah limited edition dengan kualitas bagus walaupun bukan brand luar negeri.


" Kamu itu kebiasaan ya, suka nya sama milik orang Mulu, gimana mampu bayar ya baju itu, murah kok cuman 6 juta doank "


" Gimana sih kamu mas......ya udah mba, kamu kan kakakku kamu aja yang beliin baju ini buF aku mba, lagian ini gaun lebih pantas aku yang pakai mba dari pada kamu mba "


" Kamu ngomong..... Ngomong gih sama patung manekin... Udah gak mampu sok Sok an lagi.... Maaf ya saya tidak kenal anda berdua jadi jangan mengganggu saya lagi, dan kembalikan baju saya ini, kalo gak mampu beli ga usah rebut punya orang " ucapku yang langsung menarik gaun dari tangan Fina , benar-benar menyebalkan, akupun mengusap usap perutku sambil membaca nauzubillah dalam hati.


" Ekh Nis tunggu.... Kebetulan kita ketemu disini aku mau bicara Nis... Please aku mohon "


" Mau apa lagi sih mas.... Udah deh mas jangan ganggu aku terus "


" Nis kita rujuk yuk Nis... Kalo kamu ga mau di poligami aku bisa cerain Fina nis ninggalin dia, dan kita bisa merajut rumah tangga kita kaya dulu lagi nis " ucap mas Herman menghadang jalanku.... Dengan muka mengiba tapi malah membuatku semakin jiji padanya.


" Ga ngerti bahasa manusia ya man, kalo Nissa ga mau balik lagi sama kamu jangandi paksa " ucap ibu yang tiba tiba datang bersama Doni dan karyawanku yang lain yang membawakan minuman dan cemilan.


" Mamah disini juga, apa Kabar mah " ucap Herman yang berusaha memegang tangan mamahku yang langsung di tepis oleh mamah.


" Don kamu perhatikan baik-baik wajah dua orang ini.... Kalo mereka kesini lagi minta baju gratisan atau minta uang dari sini, kamu usir aja mereka, atau kalo ada orang yang ngaku ngaku sodara saya dan Nissa terus minta baju gratisan kamu usir juga.... Ngerti Don " ucap mamahku yang langsung menjelaskan ke Doni.


" Nak udah dapat bajunya "


" Udah mah yang ini gaunnya "


" Ya udah Don bungkusin gaun ini sama gamis punya ibu.... Kita berdua mau langsung pulang... Males berhadapan dengan duo benalu yang mengganggu ini " ucap ibuku yang menyerahkan gaun dan gamis ibu untuk di masukan ke dalam paper bag.


" Ia Bu, Wulan kamu ambilin paper bag di kasir ya " ucap Doni kepada Wulan karyawan di toko ku


" Ini Bu dan mba Nissa, rajin-rajin kesini ya mba Nis, ruangan mba Nis selalu saya bersihkan kok "


" Ia Don tenang aja, kan aku pengangguran sekarang jadi bakalan sering ke butik sama ke restoran, ya udah Don kita berdua pulang dulu ya assalamu'alaikum " ucapku kepada Doni, yang langsung berbalik keluar dengan mamah tanpa memperdulikan Fina dan mas Herman.


" Loh......loh ..... Kenapa mereka keluar gitu aja, kan belom bayar, kalian mau nyuri  " ucap Fina yang mengejar kami kedepan.


" maksudnya apa ya mba, tuduhan mba itu gak berdasar, bagaimana pemilik butik mencuri di tokonya sendiri " ucap Doni ketus dan sedikit meninggikan suaranya.


" Apa.... Jadi ini butik milik mba Nissa juga " ucap Fina dengan mata terbelaknya.