
Herman yang sudah merasakan hal yang tidak enak pun langsung pulang saat waktunya pulang, dan memberitahu Putri bahwa Herman tidak bisa mengantarkan Putri ke rumah, dan harus segera ke rumahnya. Herman segera pergi ke parkiran motor, menyalakan motor dan langsung mengendarai motor dengan kecepatan yang lumayan. Darto dan putri yang melihat Herman ngebut, hanya bisa mengelus kan dada, khawatir karena Herman mengendarai motornya ugal- ugalan.
"Mas Herman kenapa ya mas Darto? Kok buru-buru gitu mana ngebut banget lagi" tanya Putri terheran.
"Tau Put. Dari tadi dia uring-uringan mulu, Mules kali" ucap Darto
"Lah...." Ucap Putri, Darto pun hanya nyengir kuda aja dan berlalu meninggalkan Putri, Sedangkan Putri sedang menunggu ojek online pesanannya.
Herman begitu terburu-buru. Hatinya sangat tidak tenang. Herman bahkan mengendarai motornya dengan kecepatan di atas 100km/jam, untung saja jalanan tidak macet dan tidak jauh dari rumahnya.
Setelah sampai Herman langsung saja memarkirkan motornya hanya di pekarangan rumahnya saja, dengan terburu-buru Herman membuka pintu setelah mengambil kunci dari saku celananya, Herman membuka pintu dan seketika mata Herman melotot. Bibirnya terbuka lebar.
"MAAALIIIINGGGGGGG" teriak Herman menggema. Warga yang kebetulan lewat di depan rumah Herman pun langsung berlari ke arah suara dan menghampiri rumah Herman.
"Pak Herman, Ada apa pak? Kenapa teriak-teriak, ucap salah seorang warga, warga yang datang ke rumah Herman berjumlah 3 orang.
"Pak Rudi hiks .. hiks... Rumah saya Pak kemalingan" ucap Herman sambil menangis sambil duduk di kursi ruang tamu yang sudah tidak berbentuk kulitnya, sobek sangat besar sehingga yang ada di dalamnya berantakan ke luar. Herman melihat warga yang menghampiri nya dan semakin menangis.
"Banyak yang hilang pak?" ucap Salman, Warga yang lainnya.
"Saya gak tau Pak, Saya hanya melihat barang-barang saya rusak. Dan rumah saya sangat berantakan hiks...hiks"
"Ya udah Pak, jangan menangis coba di lihat, apa ada barang yang hilang Pak?" ucap pak Budi sedikit risih melihat orang tua seperti Herman menangis.
Herman pun menganggukan kepalanya. Lalu menghapus sisa-sisa air mata di pipinya, dia pun beranjak ke arah kamar dan matanya masih saja terperangah melihat begitu banyak baju-baju yang berserakan di lantai. Laci-laci jatuh tak beraturan serta laci plastik yang rusak seperti di injak-injak pecah tak berbentuk. Tiga warga yang melihat keadaan rumah Pak Herman hanya bisa mengernyitkan dahinya aneh. Karena semua barang- barang disini hancur berantakan seperti sengaja di rusak, dan sepertinya tidak ada yang hilang bahkan TV pun masih ada. Peralatan makan pun lengkap, walaupun semua itu sudah tak berbentuk.
"Pak Herman... Pak Herman" ucap Supri memanggil Herman di kamarnya, ketiga warga tersebut hanya memanggil Herman di depan pintu kamarnya saja, tanpa berani masuk ke dalam.
"Kenapa Pak Supri?" Tanya Herman yang keluar dengan keadaan lemah.
"Ini agak gak beres Pak Herman. Ini aneh ada yang janggal" ucap Supri sambil melihat ke sekeliling rumah Herman.
"Maksudnya Pri saya gak ngerti?" Tanya Salman dengan raut wajah bingung.
"Ia Pri, saya juga gak ngerti" tanya Rudi. Sedangkan Herman hanya diam sambil menyimak saja.
"Lihat dah man, Rud. Lihat keadaan rumah Pak Herman, kaya bukan kemalingan tapi sengaja emang barang- barangnya di rusakin. Lihat TV kaya sengaja di injek-injek gitu. Sofa tuh lihat tadi di depan. Kaya di sengaja di sobek pake pisau" tunjuk Supri kepada barang- barang yang tadi Supri sebutkan.
"Dan lihat di dapur. Semua peralatan masak sama makan pak Herman di keluarin, sengaja banget di berantakin tapi untungnya kulkas Pak Herman gak ikut di hancurin juga." ucap supri Rudi dan Salman pun melihat ke semua barang yang di tunjukan Supri. Dan menganggukan kepalanya tanda setuju dengan apa yang Supri katakan.
"Benar ini Pak Herman. Barang-barang disini sudah di cek belum ada yang hilang, kalau memang tidak ada yang hilang, berarti semuanya hanya di rusakin dan di hancurin hancurin saja Pak Herman. Dan ini tindakan kriminal, kita harus lapor sama Pak RT" Ujar Budi.
"Ia kalian benar, saya juga sudah cek dan keliling tadi. Gak ada barang saya satupun yang hilang. Di kamar juga hanya pakaian saya saja yang berantakan dan lemari plastik saya yang hancur dan rusak" ujar Herman.
"Kita harus lapor Pak RT sekarang. Dan Pak Herman jangan sentuh dulu TKP, biar jadi barang bukti pasti ada sidik jarinya" ujar Salman.
"Bener itu Pak Herman, kita harus berangkat ke rumah Pak RT sekarang dan lapor Polisi, biar pengrusakan ini segera di urus" ucap Supri
"Ya sudah Pak, apa Bapak bisa ikut saya ke rumah Pak RT, untuk menjadi saksi" ucap Herman.
"Mari Pak, kami akan menjadi saksi untuk Bapak" ucap Budi. Mereka bertiga pun keluar dari rumah Herman, setelah itu Herman menutup pintu dan mengunci pintunya. Lalu mereka berempat sama sama ke rumah pak RT.
Saat di rumah Pak RT, kebetulan sekali Pak RT sedang ada di rumah. Salman dan Budi pun menceritakan kejadian yang mereka lihat di rumahnya Herman. Dan Herman pun menjelaskan saat dia masuk dan melihat-lihat rumahnya yang sudah berantakan tidak karuan. Pak RT menganggukkan kepalanya, lalu Pak RT mengambil HP yang berada di mejanya untuk menelpon polisi sahabatnya itu.
"Mari kita ke rumah Pak Herman. Sebentar saya mau nelpon satpam kampung kita dulu dan pak lurah." Ucap Pak RT yang kembali menelpon pak kades dan satpam untuk berkumpul di rumah Herman.
"Mari bapak-bapak. Kita ke rumah Pak Herman sekarang, karena teman saya yang Polisi pun sedang dalam perjalanan ke rumah kamu" ucap Pak RT. Mereka pun kompak bangun dari duduknya dan berbarengan ke rumahnya Herman.
Herman pun memutar kunci pintu dan membuka pintunya lalu mereka pun masuk sama-sama kerumahnya Herman.
"Astaghfirullah Pak Herman, rumahnya habis di sapu sama angin ****** beliung Pak?" Tanya Pak RT.
Bapak Polisi langsung melihat TKP dan melihat sekeliling, dia pun menghampiri sofa dan memasang sarung tangan, sambil mengambil HP dan mengambil gambar hasil sodetan Yang ada di sofa. Setelah itu, Polisi tersebut mengambil gambar lagi, yaitu sekeliling rumah yang berantakan.
"Apa ada ruangan yang berantakan lagi Pak? atau barang hancur seperti sofa dan TV itu?" Tanya Pak Polisi.
"Ada Pak di kamar saya Pak. Mari saya antar" ucap Herman, Pak Polisi itu pun mengikuti Herman dari belakang. Sedangkan para Bapak-bapak yang lain sedang menunggu di ruang depan. Herman dan Pak Polisi pun memasuki kamar Herman dan membuka pintu kamar Herman lebar-lebar. Pak Polisi sekali lagi mengambil gambar kamar Herman yang berantakan. Kemudian Pak Polisi mengeluarkan sebuah bubuk putih di pegangan lemari. Lalu setelah itu menempelkan kertas hitam dan di tekan- tekan baru di berikan lagi bubuk putih agar terlihat tampilan sidik jari. Setelah itu dia memberikan lakban transparan. Jelaslah sidik jari tersebut. Dan Pak Polisi pun melakukan kegiatan tadi di lemari Herman dan begitu banyak mendapatkan sidik jari. Lalu semua sidik jari tersebut di taruh di plastik zip, Polisi tersebut pun memeriksa laci yang di rusak dan mendapatkan beberapa sidik jari dan di masukan ke dalam plastik zip yang berbeda dan di berikan label. Semua sidik jari akan di bawa untuk diperiksa di kantor Polisi.
"Ini akan saya periksa ya Pak di kantor. dan tunggu paling lama 2 hari. Hasilnya akan saya laporkan ke Pak RT" ujar Pak Polisi kepada Herman. Sedangkan Herman yang melihat kegiatan Pak Polisi itu sedari tadi hanya bisa menahan nafasnya dan gugup keringat dingin terus bercucuran dari dahi Herman.
"Baik Pak, saya tunggu kabarnya ya Pak, sekali lagi saya ucapkan terima kasih" ucap Herman sambil memegang tangan Bapak Polisi tersebut tapi di tampik oleh Pak polisi tersebut.
"Maaf Pak saya sedang memegang sidik jari sebagai barang bukti, takutnya ke gabung dengan sidik jari Bapak" ucap Pak Polisi tersebut.. Mereka berdua pun keluar dari kamar Herman dan bergabung dengan beberapa bapak-bapak yang menunggu dan duduk di sofa depan.
"Bagaimana Pak hasilnya? apakah ada yang mencurigakan" ucap Pak RT yang langsung bertanya saat Bapak Polisi temannya itu terlihat datang bersama Herman.
"Saya sudah mendapatkan banyak sidik jari dan sudah mengambil banyak gambar dan nanti hasilnya akan segera saya kabarin ke bapak" ujar Bapak Polisi tersebut berbicara langsung dengan Bapak RT. Semua Bapak-bapak yang ada di ruangan ini pun menghembuskan nafasnya lega.
"Baiklah kalau begitu saya permisi" ucap Pak Polisi tersebut yang langsung keluar dari ruang tamu rumah Herman.
"Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih Pak" ucap Herman yang mengantarkan Polisi tersebut.
Setelah Polisi tersebut pergi para bapak- bapak pun beranjak menghampiri Herman yang berada di luar.
"Pak Herman kita semua mau pulang dulu ya Pak, nanti kalau ada apa-apa Bapak langsung hubungi salah satu dari kami aja" ujar Pak Kades yang dari tadi hanya menyimak dan diam.
"Baik Pak Kades, terima kasih sudah mau membantu saya, begitu juga dengan bapak-bapak yang lainnya, terima kasih sudah membantu saya" ucap Herman terharu.
"Ia sama-sama Pak Herman. Hati-hati takutnya penjahat nya kembali lagi. Semoga saja segera di temukan penjahat nya jadinya kampung kita kembali aman" ucap Pak RT.
"Benar itu Pak. Saya juga akan memerintahkan teman-teman saya. Untuk lebih meningkatkan penjagaan di kampung kita" ucap Hansip semangat 17 Agustus.
"Benar Pak, kita juga harus hati-hati, jaga diri dan Pak Herman kalau bisa semua kunci di ganti dan semua jendela diperiksa lagi takutnya ada yang belum terkunci" ucap Budi.
"Baiklah Pak Herman kita semua pamit" ucap Salman.
"Hati-hati Pak" ucap Supri, para Bapak-bapak itu pun meninggalkan Herman seorang diri. Herman menuju sepeda motornya dan memasukan motornya ke dalam garasi lalu menguncinya.
Setelah itu Herman pun langsung masuk ke dalam rumah yang sangat berantakan dan membuatnya kepala Herman pusing serasa ingin pecah.
____&&&____
Tengah malam... Di kontrakan Kokom...
Kokom dan Nita hanya berdua di kontrakan mereka tertidur sangat lelap. Sampai-sampai ada maling masuk ke rumah mereka pun mereka tidak mendengar nya. Sebenarnya 2 orang lelaki yang masuk ke dalam kontrakan Kokom itu adalah orang-orang suruhannya Arka. Karena selalu menganggu, Arka meminta temannya untuk melakukan pengrusakan di rumah kontrakan nya Kokom. Walaupun kelakuan Arka sedikit kejam, tapi itu setimpal dengan apa yang Kokom Dan Nita lakukan selama ini, selalu saja mengganggu Arka.
Dua orang suruhan Arka berpencar yang satu masuk ke dalam kamar Kokom dan yang satunya lagi masuk ke dalam kamar Nita. Masing-masing dari mereka menggunakan obat bius yang di tempelkan di sapu tangan. Lalu sapu tangan itu, di tempelkan di mulut Kokom dan Nita, sehingga mereka berdua pingsan, nah pada saat pingsan itulah mereka berdua beraksi.
Isi lemari Kokom di keluarkan semua Dan suruhan Arka melihat sebuah surat yang tidak di bungkus dan ternyata adalah sebuah sertifikat. Lalu dia pun mengambilnya. Setelah itu orang tersebut keluar, karena di kamar Kokom tidak ada barang yang bisa di hancur kan.
Dua orang suruhan Arka pun menjalankan misi kali ini dengan bahagia. Karena pekerjaan mereka hanya merusak barang-barang, setelah itu mereka pergi keluar dari rumah kontrakan Kokom dengan keadaan yang tidak jauh beda dengan rumah Herman, berantakan seperti terkena angin ****** beliung.