
Orang tua Agam, Bu Lisa dan Pak Bram sudah tiba di rumah sakit. Bu Lisa sambil menggendong Arka langsung datang keruangan di mana Nissa di rawat, saat datang mereka berdua melihat Nissa sedang tertidur dengan cucu mereka juga sedang tertidur, di jaga oleh mbok Jum dan mba Sus yang tertidur pulas, mereka berdua masuk dengan perlahan dan langsung menuju cucu-cucu mereka yang sedang tertidur.
"Arka sayang, Lihat adik kamu nak! Lucu lucu ya? Ganteng dan cantik" ujar Bu Lisa, Melihat cucu nya sambil menggendong Arka.
"Adik Oma....Uyu...uyu...." Ucap Arka, balita tiga tahun itu sudah bisa bicara lumayan jelas, wajahnya semakin nampak wajah Herman.
"Ia sayang, kamu harus sayang sama adik-adik mu yah," ucap Lisa lagi.
"Ia Oma, Aku sayang adek-adek. Hehehe" ucap Arka.
"Ikh lucunya cucu opa ini, Bikin gemes." Ucap Pak Bram mencubit pipi gembul Arka.
"Opa... Cakit........Opa ahat..." Kesal polos Arka merengut mukanya.
"Ia nanti Oma... Hukum Opa nya .... Ya, Arka sayang jangan nangis lagi!"
"Ok. Oma... Hehehe," senyum Arka yang lucu membuat siapa pun gemas ingin mencubit nya lagi.
Mbok Jum dan mba Sus terbangun, karena mendengar suara di dalam kamar perawatan Bu Nissa.
"Tuan... Nyonya.. maaf kami ketiduran." Ucap mbok Jum, menundukkan kepalanya.
"Gak apa-apa, Kalian pasti lelah, kalau mau lanjut istirahat gak apa-apa," ucap Pak Bram melihat kedua asisten Nissa terlihat sangat lelah.
"Kalau enggak kalian berdua cari makan dulu, biar saya dan istri saya yang menjaga Nissa dan bayinya," ucap Pak Bram lagi.
"Baik tuan dan nyonya kami permisi," ucap mbok Jum di ikuti oleh mba Sus di belakang nya, mbok Jum dan mba Sus pergi keluar untuk mencari makanan di kantin.
"Nissa masih tidur ya Pah? Apa dia di berikan obat tidur," tanya Lisa kepada suaminya.
"Mungkin yank, biar bisa istirahat, pasti tenaganya keluar banyak karena sudah melahirkan 2 bayi sekaligus, normal lagi."
"Ia Pah, Nissa emang seorang ibu pejuang. Mamah bersyukur Agam berjodoh dengan Nissa, Perempuan yang sungguh hebat."
"Ia Mah, Papah juga bersyukur, Agam juga jadi lebih bisa mengontrol emosinya sekarang."
"Masa sih"
"Ia Mah.... Sekarang dia gak main patahin tangan atau kaki orang, palingan kirim orang doang ke Aprika."
"Agam masih ngelakuin itu..."
"Masih Mah, cuman dia lebih sabar, apalagi saat Nissa hamil, dia berhati-hati sekali dan menahan buat nyelakain orang."
"Baguslah, Seenggaknya anak kita gak psikopat lagi ya Pah."
"Ia Mah, suah ada pawangnya juga."
"Ia pak, Semoga pernikahan mereka gak ada lagi masalah seperti sebelum- sebelumnya."
"Amin.... Dan gak ada lagi Riki.. Riki... Yang lainnya."
"Bener banget itu Pah.... "
"Lihat mah cucu-cucu kita... Lucu sekali... Kita punya cucu langsung tiga ya mah .. padahal dulu nyuruh Agam nikah susah banget, ekh giliran udah nikah langsung di kasih cucu tiga mah....."
"Ia Pak .... Arka juga cucu kesayangan Oma dan opa ya ka..." Ucap Oma Lisa. menciumi muka Arka gemas, balita itu yang dari tadi di gendongan Oma nya hanya bisa diam, karena tidak mengerti apa yang di katakan oleh orang tua di depannya ini.
"Mamih sama papih sudah datang? sudah lama mih.... " Ucap Agam, yang baru saja sampai di ruang perawatan Nissa .
"Enggak begitu lama kok gam, baru sebentar, lihat anak anak kamu gam lucu lucu ya.... Udah kamu kasih nama gam? " tanya Mamih Lisa ke arah Agam yang kini berdiri di sebelahnya.
"Sini anak Papah sayang, Kasian Oma pasti berat gendong kamu terus, Makin mbull nih di bawa ke Bandung," ucap Agam yang mengambil Arka dari gendongan Oma nya.
"Enggak kok sayang... Oma gak pernah capek kalo gendong cucu Oma... Masih ROSO hahahah" gelak Bu Lisa mencairkan suasana.
"Mamih bisa aja, Adek nya Arka udah aku kasih nama semua mah, kalo untuk si Abang kecil namanya Arrayyan Wijaya kalo untuk adek kecil namanya Alesha Wijaya mah."
"Jadi Abang Arka nanti panggil adeknya
Rayyan sama Alisha ya sayang," ucap Agam ke anaknya Arka.
"Ayyan dan Icha ya Pah hehehe," ucap Arka dengan cadelnya menyebutkan nama adik-adiknya.
"Nama yang bagus gam, Rayyan dan Alisha, keren namanya, ia kan Mah?"
"Ia Pah, jadi kapan Nissa pulang?"
"Kalau sudah cukup kuat Nissa boleh pulang Mah,"
"Ia sepertinya Pah, Mamih sama Papih udah makan?"
"Kita berdua belum makan, Arka juga, karena tadi kita saling gembiranya jadi lupa makan, Mamih sama Papih dan Arka mau cari makanan dulu kalo gitu, kamu jaga mereka, bentar lagi mbok Jum juga datang sama mbak Sus."
"Ia Mih, Agam juga sudah makan, Nah Arka sayang kamu makan dulu sama Oma ya, Makan yang banyak biar sehat." ucap Agam sambil memberikan Arka ke tangan Oma Lisa.
"Ya sudah sebentar ya sayang, Arum dan Ditto juga masih di Kalimantan belom dapat tiket pesawat, katanya besok lah mereka nyampe ke sini," ujar Lisa,
"Ia mah gak apa-apa nanti Agam telepon Mamah sama Papah."
"Ya sudah kami keluar dulu ya gam," ujar Pak Bram yang mengandeng tangan istrinya keluar kamar perawatan.
"Ok. Pah," ucap Agam yang melihat kedua orang tua dan anaknya menghilang di balik pintu, Agam pun menjaga kedua buah hatinya yang masih nyaman tertidur pulas.
__________
"Paman......" Lirih Sintia tak menyangka kenapa paman yang selama ini dia banggakan tega menamparnya dengan keras bahkan di depan semua orang.
"Kenapa paman nampar aku? Hiks..hiks .. aku baru di pecat paman, seharusnya paman bantuin aku, supaya aku tetep kerja di tempat ini," ucap Sintia masih sambil menangis sesenggukan.
"MASIH BERANI KAMU TANYA SAMA SAYA! DASAR PONAKAN GAK TAU DI UNTUNG KAMU, SUDAH SAYA CARIKAN PEKERJAAN, MALAH BIKIN ULAH, GARA-GARA KAMU SAYA JUGA DI PECAT! KAU ITU BEDEBAH," teriak Surdi menggelegar ruangan, semua mata tertuju pada paman dan ponakan nya, para Staf tak mengira dan mereka diam- diam tersenyum bahagia, karena dua orang parasit di Departemen pemasaran grup 3 sebentar lagi akan musnah.
"Kamu harus tanggung jawab Sintia! Aku akan menuntut keluargamu, ingat itu....!" Ancam Surdi sambil menunjuk nunjuk jari ke arah muka Sintia yang masih terduduk di lantai, Surdi pun meninggalkan Sintia merana sendiri di ruangan itu, sementara banyak pasang mata dengan tatapan dendam ke arah Sintia, karena selama ini selalu di rugikan dan di buli Sintia karena dia ponakan dari sang Manager .
"Kalian tarik dia ke toilet, kita balas dendam, dan kamu matikan CCTV di ruangan ini bisa kan?" ucap salah seorang gadis kepada ketiga orang temannya. Yang hanya di balas anggukan kepala oleh mereka bertiga, dan Tanpa menunggu lama ketiga orang itu melaksanakan tugasnya, CCTV di ruangan itu pun di matikan, dan kedua gadis menghampiri Sintia yang sedang duduk menangis di mejanya, bahkan tidak ada satu pun orang yang peduli terhadapnya.
"Eh.....apa-apaan ini lu pada, Lepasin gue gak! Lu berdua denger ya, Gue aduin lu semua sama paman gue, Lepasin!" teriak Sintia dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman dua gadis yang membawanya. Sintia dan kedua gadis tersebut sudah sampai di dalam toilet, dan toilet pun di kunci dari dalam, serta di luar di tuliskan toilet rusak supaya tidak ada yang menggangu aktivitas di dalam.
"Pecun kita udah tumbang guys... sudah gak bisa koar-koar lagi sekarang, paman kebanggaan nya di P.H.K. dan jable kesayangan kita ini juga di P.E.C.A.T..." ujar Miranda.
"Terus mau lu apa HAH. Mau main keroyokan, gue gak takut, lu semua tuh cuma mulut besar doang, banyak bacot " teriak Sintia tidak gentar, padahal dalam hatinya merasa was-was.
Miranda melangkah pelan mendekati Sintia, dengan mata yang tajam, sehingga sintia merasa terintimidasi.
"Lu... Lu mau ngapain...?" Tanya Sintia gugup
Plakkkkkk...
"Ini tamparan buat lu karena pernah kunciin gue di kamar mandi... "
Plakkkkkk....
"Ini tamparan kedua dari gue, karena lu sudah pernah nampar gue juga, dan ini " ucap Miranda menggantung.
Plakkkkkk.....
"Karena lu sering jadiin gue babu lu... Jable"
"KURANG AJAR.... GUE BUNUH LUH PECUN," teriak Sintia ingin menghampiri Miranda dan mencekik nya. Tapi tidak berhasil karena sudah di pegang terlebih dahulu oleh dua gadis yang membawa Sintia kemari.
"Lepasin gue Mina... Arumi.... Lu berdua mau tampar gue juga hah," ucap Sintia tajam, mata Sintia mendelik melotot ke arah Mina dan arumi.
"Kenapa mata mu melotot, mau gue colok hah... "Ucap Arumi .
"Guys iket tangan dia pake tali ini, biar kita bebas siksa dia rame-rame," ucap Miranda.
"Lepasin gue sialan... Lepasin gak ... gue laporin lu semua ke kantor Polisi atas kasus penganiayaan," ancam Sintia
"Silahkan laporkan, kita gak takut, nih guys pake sarung tangan ya...!" Ucap Miranda yang menemukan sarung tangan di ruang kebersihan sebelum datang ke toilet. Miranda menjambak Sintia dengan kencang. Lalu menampar berkali-kali hingga darah keluar dari pipi nya, sedangkan Mina dan arumi pun sama mereka berdua menampar pipi Sintia dengan sangat keras, setelah mereka puas menyiksa Sintia, di dorongnya tubuh Sintia ke salah satu bilik kamar mandi, lalu di kunci, Sintia dalam keadaan lemah jadi sudah tidak bisa lagi bergerak untuk melawan mereka bertiga, bahkan Sintia sekarang pingsan, di tinggalkan Sintia sendirian di toilet itu, dan pintu keluar toilet pun di kunci dan masih di pasang keterangan toilet rusak. Miranda, Mina, Arumi, puas karena telah membalaskan dendam mereka, dan mereka bertiga pun kembali keruangan mereka untuk melakukan pekerjaan mereka yang tertunda.
Tak ada yang perduli akan nasib Sintia di dalam toilet. Walaupun seluruh orang yang ada di ruangan tersebut tau tentang apa yang Sintia alami sekarang. Biarlah semuanya menjadi pelajaran tersendiri untuk Sintia, karena perangainya selama dia bekerja disini yang suka berbuat semena-mena.
Sementara Surdi pun langsung keluar dari ruangannya dan membawa barang-barang pribadi miliknya, Surdi pun tidak perduli akan nasib keponakannya itu, Surdi pun pergi dengan taksi online yang sudah di pesannya karena mobil yang selama ini dia gunakan adalah Fasilitas dari kantor.
Saat jam pulang tiba Miranda, Mina dan arumi kembali ke toilet tempat mereka mengurung Sintia, di bukanya toilet tersebut, dan di buka juga pintu bilik toilet yang berada di dalam, saat mereka membuka pintu ketiga gadis tersebut kaget karena melihat Sintia yang masih pingsan.
"Ya tuhan ini anak... Pingsan apa tidur sih "tanya Miranda ke dua temannya.
"Bentar deh, tar gue balik lagi," ucap Arumi, tak berapa lama pun Arumi kembali dengan membawa se ember air kotor bekas pel-an yang sudah coklat.... Sangat menjijikkan, dan
BYURRRRR ...
Arumi menyiram Sintia dengan air bekas pel-pel an tersebut langsung ke kepala Sinta....
"AKHHHH BANJIR-BANJIR.... BANJIR BANDANG."
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_