MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
SERTIFIKAT OH SERTIFIKAT


Aduh gawat Nit! Kita mau di mutilasi, sama si Arka," Kokom langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Arka, karena kaget ada seseorang yang berbicara tentang mutilasi, tangan Kokom langsung gemetaran.


"Ikh Mamah, gitu aja heboh... Takut amat, itu cuma ancaman doang, si Arka aja berani bunuh orang, dia mah bloon mah gampang di manfaatin," Nita kini sedang berkunjung ke Mamahnya di Jawa, karena percuma juga kalau dia menyewa kamar kos disana dengan harga sewa per malamnya yang lumayan, walaupun lebih murah dari hotel, jadi Nita memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, meminta uang untuk kuliah kepada ke dua orang tuanya.


"Ia ya... Ngapain Mamah takut, kalau si Arka mau mutilasi kita, laporin aja ke Pak Agam dan Bu Nissa.. kan mereka pastinya gak mau lah anak mereka masuk penjara.


"Apa kita datangin aja rumah mereka di Jakarta Mah."


"Jangan lah Nit... Kalau Bapak sampai tau, Bapak pasti marah sama kita Nit, dan Mamah gak mau pisah sama Bapak, dan jadi gembel, kan kamu tau kita makan dan bisa enak-enak itu dari uang Bapak."


"Aku kesel Mah, aku pengen kuliah di sana, tapi bayarnya mahal banget."


"Ya sudah kamu sabar, nanti Mamah coba tanyain dulu sama Bapak, supaya Bapak bisa bujuk Arka buat ngasih sertifikat itu, lagian kan Arka kaya, jadi dia gak butuh lah tanah itu."


"Aku gak sabar banget Mah kuliah di tempat elit itu, pasti lingkaran anak sultan semua, dan di kampung ini pasti bakalan iri mah."


"Kamu sabar ya sayang, pokoknya kamu bakalan dapetin apapun yang kamu mau, Mamah pasti akan usahain buat kamu, dengan cara apapun."


"Mamah emang paling the best," Nita langsung memeluk Mamahnya sayang.


Herman pulang dari pekerjaan di kantor kecamatan, walaupun gaji Herman sedikit, tapi cukuplah untuk makan. Keluarga kecilnya sehari-hari, tapi karena istrinya Kokom berubah, saat datang ke acara ulang tahun Nissa dan Agam waktu itu ke Jakarta, si Kokom berulah, ingin segala sesuatunya bagus dan baru seperti Nissa, Kokom tau kalau Nissa itu adalah mantan istrinya Herman, maka dari itu sedikit demi sedikit Kokom menjual tanah peninggalan ibu nya Herman tanpa sepengetahuan Herman, jadinya hak warisan jatah Herman habis di jual oleh Kokom, dan seperti manusia yang sudah tidak punya gairah hidup, Herman tidak perduli dengan itu semua dan membiarkan Kokom menjual semua harta peninggalan dari ibunya, kecuali rumah yang kini di tempati oleh Herman.


"Assalamualaikum Bu... Aku pulang." Herman langsung masuk kerumahnya, dan melihat Kokom menghampiri nya, dengan takjim Kokom mencium tangan Herman.


"Bapak sudah pulang, aku bikinin teh manis apa kopi nih Pah?"


"Gak usah Bu.. aku mau rebahan dulu capek, sudah ngopi juga tadi di kantor," ucap Herman yang langsung merebahkan badannya di kursi depan.


"Gak makan dulu Pak, ibu sudah siapin makan malam."


"Entar aja bu, Bapak capek "


"Oh ia Pak, ibu mau tanya, tanah yang di pinggir jalan itu, yang dari ibu Endang itu sertifikat nya ada di Bapak?"


"Kenapa Bu? mau jual tanah lagi... Bapak udah gak punya tanah Bu."


"Ia ibu tau Bu. Dan ibu minta maaf pak, cuma mau nanyain yang di pinggir jalan Masaid itu loh Pak, yang luas banget, Ampe 3 hektar itu, sertifikat nya ada di Bapak kan?" ucap Kokom pelan-pelan, takutnya Herman marah, Herman bangun dari rebahannya, mencoba mengingat-ingat tanah yang di maksud kan istrinya.


"Oh tanah itu, Itu kan punya Arka, warisan langsung dari ibuku, buat apa Ibu nanyain sertifikat tanah itu," Herman penasaran, apalagi yang bakalan di lakukan oleh istrinya ini.


"Ibu gak maksud apa-apa pak, cuma nanya doang, itu tanah kan strategis banget tempatnya, luas lagi, pasti kalau di jual lagi bisa milyaran Pak."


"Ia emang, harganya bisa sampai 20 milyaran," ucap Herman langsung, mata Kokom pun langsung melotot sempurna.


"Pak, sertifikat nya ada di Bapak kan? bagaimana kalau kita jual sebagian pak, buat biaya Nita kuliah pak," Kokom tersenyum sumringah mendengar uang 20 milyar itu.


"Gak ada di bapak Bu sertifikat nya, sudah ada di Arka, ibuku langsung yang ngasih ke Arka, lagian buat apa kita jual tanah itu? itu kan bukan milik kita."


"Si bapak ini gimana sih, Bapak itu anak kandung ibu Endang, jadi masih punya hak atas tanah itu."


"Jangan buat masalah lagi Bu,.. cukup aku di kirim ke Papua sekali seumur hidup aja, aku pengen hidup tenang."


"Pak, tapi Nita pengen kuliah di tempatnya Rayyan, dan biaya nya sangat besar, bisa sampei ratusan juta.. "


"Terus itu urusanku gitu, seharusnya kalian sadar diri saja. Bertahun-tahun aku cukupin kehidupan kalian berdua hingga harta ku habis. Bahkan aku lebih mentingin kamu dan anak kamu, yang bahkan bukan anak kandungku. Sedangkan anak kandung ku sendiri, gak pernah sedikitpun aku pikirin, dan sekarang kalian berdua ingin menguasai bagiannya Arka, sadar jangan SERAKAH jadi orang."


"Tapi Pak... Arka itu hidupnya sudah bergelimpangan harta. Tanah segitu gak ada artinya buat dia pak, tapi berarti buat Nita."


"CUKUP KOKOM, JANGAN BUAT SAYA TAMBAH MARAH DAN MENGUSIR KALIAN BERDUA DARI RUMAHKU, TANAH ITU MILIK ARKA, DAN GAK ADA YANG BISA NGEREBUT ITU DARI ANAK SAYA MENGERTI KAMU!!!" teriak Herman yang membuat Kokom kaget dan ketakutan.


"Dan satu lagi suruh putri kamu kerja, jangan jadi benalu di rumah saya, kalau dia gak mau kerja, keluar dia dari rumah ku!" Kokom pun hanya bisa menganggukan kepalanya, karena bentakan Herman yang masih terngiang di telinganya. Kokom mengelus dadanya karena kaget sekaligus sakit hati untuk setiap perkataan suaminya itu.


"Aku akan bicara saja dengan Arka tanpa sepengetahuan mas Herman, akan kudapatkan tanah itu. Kalo tanah itu di jual dan laku 20 milyar Herman aku tinggalkan, "ucap Kokom pelan dengan seringai tipis di bibirnya.


\_\_\_\_\_\_\_&&&\_\_\_\_\_\_\_


"Man... Apapun yang terjadi. Kamu mau susah atau enggak jangan pernah ganggu peninggalan warisan untuk cucuku Arka. walaupun dia di limpahi kasih sayang dan harta yang tak ada habisnya oleh orang tuanya, tapi Arka tetap anak kandung mu. Kamu harus adil dengan anak mu satu-satu nya man. Biarkan ada peninggalan kita untuk anak mu man." ucap bibir ringkih ibu Endang tersenyum, itulah permintaan terakhir ibunya, Herman tidak akan pernah mengkhianati permintaan Ibu yang paling dia cintai itu.


Karena lelah Herman pun tertidur di kasurnya tanpa melepas sepatu atau pun mandi terlebih dahulu.


Nita menenteng belanjaan, karena habis dari pasar membeli pakaian import bekas yang bermerek, menurut Nita, walaupun bekas, tapi baju-baju itu masih layak pakai, jadi bisa di pamerkan ke teman- temannya kalau dia itu tak pernah memakai baju lokal selalu memakai baju branded dengan harga jutaan, dengan langkah santai Nita masuk ke dalam rumah nya, tapi saat masuk, Nita melihat Ibunya sedang melamun sendiri di kursi depan, bengong seperti kesurupan.


"Mah... Mah.... Masih sadar kan?" Nita menggoyang-goyangkan bahu Mamahnya, yang hanya diam saja.


"Diam Nita Mamah lagi pusing."


"Kenapa sih Mah?"


"Mamah gagal minta sertifikat tanah yang di pinggir jalan itu dari Bapak," ucap Kokom pelan, takut suaminya akan tau.


"Terus gimana Mah? apa Bapak punya uang untuk bayarin kuliah aku Mah?"


"Sudahlah kamu gak usah mikir kuliah deh sekarang, cari kerja aja sana, di kampung masih banyak lowongan buat SMA."


"Ikh Mamah, Nita gak mau, gengsi dong, entar Nita di bully sama teman-teman di kampung ini, Nita itu udah bilang sama anak-anak sini, kalau aku bakalan kuliah di Universitas."


"Bego banget sih kamu Nit... Nit... Ngapain harus koar-koar sih... Bikin Mamah tambah pusing."


"Ngapain pusing sih Mah, Mamah tinggal minta Bapak"


"Bapak gak ngasih Nit, Dia malah ngancam Mamah, kalau masih bahas tanah itu, Mamah bakalan di usir Nit... entar kita bakalan tinggal di mana dan makan dari mana? kalau Mamah sama Bapak pisah... entar nasib kita gimana?"


"Ya jangan sampai pisah lah Mah."


"Tapi Mamah kalau udah berhasil jual tanah itu, gak apa-apa kalau pisah sama Bapak."


"Loh kok gitu!"


"Tanah kepunyaan si Arka bernilai 20 milyar Nit," Nita membuka mulutnya lebar, Kaget karena kata-kata dari Mamah nya.


"Gak nyangka, kok Nenek Endang gitu sih, Arka aja di bagi tanah luas sama mahal banget kok aku enggak ."


"Emang kamu cucunya?"


"Gak adil lah Mah."


"Sudah jangan ngomongin itu dulu, Kita harus pikirin gimana caranya kita ngedapetin sertifikat tanah itu."


"Gimana ya Mah? Nita juga bingung."


"Mamah bingung sama kamu, nanti kalau kamu kuliah, kamu bisa mikirnya gak?"


"Ngapain aku mikir, orang aku kuliah cuma buat pamer doang, soal pelajaran nya mah males banget bodo amat."


"Ya Allah nita ,itu buang-buang uangĀ  namanya."


"Sudah deh Mah, gak usah bawel, Mamah kan udah janji bakalan kuliah hin aku di kampusnya Rayyan, jadi Mamah harus cari uangnya, gimanapun caranya."


"Ia ... Kita berdua harus ketemu sama Arka di kampus nya, kamu tau kan Arka kuliah di mana."


"Ngapain sih Mah ketemu sama si manusia kutub itu."


"Karena sertifikat nya ada sama dia. Dan lebih mudah minta sama Arka, kita bilang aja atas nama Bapaknya, pasti di kasih."


"Ia mah, si Arka Kan paling gampang di kibulin kalau masalah beginian, orangnya gak tegaan, tar Nita bantu ngomong mah,"


"Ya sudah nanti kita pergi ke kota, buat nemuin si Arka, Kamu tau nit, kalau tanah itu kita jual kita bisa beli mobil dan rumah bagus, dan juga kamu Nita beli baju branded yang masih Gress, bukan baju bekas."


"Ia Mah, bener banget. Aku gak sabar buat jadi kaya raya Mah," ucap Nita bahagia.