MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
CURHATAN HERMAN


"Tega kamu...gak punya Mata Hati kamu" terlihat wajah sedih Mario, kenapa Mario harus sesedih itu, si Bambang lagi akting kali ya.


"Yang gak punya hati itu saya atau Bapak? kalau saya gak hamil, Saya yakin seratus persen Bapak gak akan tanggung jawab terhadap saya, Bapak hanya peduli dengan anak yang saya kandung kan, tanpa perduli bagaimana kondisi saya dan mental saya, jadi jangan pernah menuduh saya, karena disini saya adalah korban ke zholiman Bapak dan sekarang jangan ganggu saya lagi, ngerti!"


Aku pun pergi meninggalkan Mario yang sedang memikirkan sesuatu atau dia tidak menyangka aku bisa berkata seperti itu, tapi aku juga tidak mau perduli, hidupku akan dimulai dengan buah hatiku saja, dan saat anakku lahir nanti, aku bersumpah tidak akan pernah aku pertemukan dia dengan ayahnya.


Aku mencari mobilku diparkiran, setelah ketemu langsung saja aku pulang ke rumah, karena lusa aku harus berangkat dengan keluargaku ke Boston.


Ku belai perutku dengan halus dan rasa sayang." Mamah gak sabar nungguin kamu lahir ke dunia ini Nak, sehat-sehat di perut Mamah ya sayang." Ku lajukan mobilku ke rumah, dengan kecepatan sedang, aku harus siap-siap sekarang, karena besok pagi aku dan keluarga ku akan terbang ke Amerika.


_______&&&&&&_________


Nita mencoba pakaian yang baru dia beli di pasar, baju bekas tapi masih layak pakai dan dari brand kenamaan luar negeri. Nita mencuci baju itu dengan tangannya sendiri, di sikatnya baju itu sampai kinclong, tapi tetap saja warna bajunya masih pudar, karena baju itu stok lama. Setelah selesai Nita nyamperin Herman yaitu sebagai Ayah sambungnya yang baik hati. Nita akan merayu bapak nya untuk bisa membiayai nya kuliah di tempat Rayyan dan Arka, Nita yakin juga dia yang minta langsung sama Bapaknya pasti akan di kabulkan.


"Bapak, udah makannya? boleh ngobrol benigak pak?" tanya Nita duduk di meja makan di hadapan ayah sambung nya.


"Kenapa?" sahut Herman malas


"Kok tumben banget si Bapak judes sama gue" ucap Nita dalam hati.


"Sudah! Terus kenapa?" Herman menjawab sekenanya saja.


"Ia aku minta di bayarin Bapak untuk kuliah disana Pak"


"Mamah kamu emangnya gak bilang kalau Bapak gak sanggup bayarin kuliah Kamu di kampusnya Arka dan Rayyan"


"Ya sudah sih Pak, tapi masa gak bisa di usahain gitu"


"Gak, seharusnya kamu itu mikir, buat makan kita sehari-hari nya aja empot-empotan, sampai tanah Bapak habis di jual Ibu kamu, kalian ini mau bunuh saya pelan-pelan ya, jawab dengan jujur"


"Gak gitu Pak, Bapak kan sebagai Ayah dan suami Mamah memang sudah menjadi kewajiban Bapak kan"


"Kamu itu bukan anak kandung saya, jadi saya gak punya kewajiban untuk selalu nurutin semua mau kamu, dan untuk Ibu kamu saya memang wajib buat nafkahin dia tapi seandainya kalau dia nuntut lebih saya nyerah dan saya gak sanggup lebih baik pisah saja" Herman pun pergi meninggalkan Nita sendirian di meja makan, Nita sangat kesal dengan kata-kata Herman, kalau dia bukan anaknya.


&&&&&&&


POV Herman


Selera makanku jadi hilang mendengar ucapan Nita anak sambung ku, kenapa aku selalu salah dalam memilih istri, dulu saat aku di jodohkan oleh Ibu dengan Kolom janda anak sat, aku terima nasib aja karena ya sudahlah, Kokom juga menerima kekurangan ku yang sudah tidak bisa punya anak lagi. Awalnya Kokom adalah wanita yang baik-baik saja, dia istri yang penurut selalu melayani aku dengan sabar walaupun aku bersikap buruk kepadanya. Nita juga anak yang manis dan penurut, mereka berdua menjadikan Hidupku yang dulu hampa menjadi berwarna lagi, aku seakan-akan memiliki keluarga keluarga kecilku sendiri setelah kehilangan Arka dan Nissa, hidupku disini jauh dari kata kaya, kami makan pun hanya bisa mengandalkan gaji yang ku punya. Untungnya ada orang kecamatan yang kenal sama Ibu dan membantuku kerja di kecamatan. Hidupku kembali kelam saat Ibu meninggal, beliau pun membagikan warisannya walaupun sedikit untukku, Ibu membagikan warisannya untuk ketiga anaknya, untuk abangku, adikku dan juga untukku.


Waktu pun berlalu, Nita sudah besar, begitupun dengan keluarga ku yang Harmonis, sampai waktu itu aku bertemu Arka anak kandungku yang tidak pernah sekalipun ku lihat perkembangannya seperti apa, bahkan kabarnya pun aku tidak tau, karena aku terlena dengan keluarga kecilku, aku tak pernah sekalipun menanyakan kabar anakku, bahkan mengunjungi anakku sendiri di rumah ibunya yaitu Nissa, padahal Arka sudah mengetahui sejak umur 10 tahun, kalau dia bukan anak kandung nya Agam, Nissa dan Agam yang menjelaskan nya kepada Arka, karena Arka menemukan Akta kelahirannya , disitu tertulis kalau Arka anak Nissa dan Herman bukan Nissa dan Agam.


Saat itu akau datang untuk melihat tanah ibu yang sangat luas, tanah yang Ibu wariskan untuk anakku Arka, pada saat warisan di bacakan oleh pengacara Ibu, sebenarnya akau ingin komplain kenapa harus di wariskan ke Arka, sedangkan Arka hanyalah cucunya, mana Arka mendapatkan tanah yang paling luas diantara kami bertiga, bahkan luas tanah itu mencapai dia kali lipatnya tanah aku dan kakak aku. Harga per meter nya pun sangat mahal, karena terletak di pinggir jalan raya, ini sangat tidak adil menurut ku, tapi percuma saja karena saat aku ingin merundingkan masalah ini dengan kakakku, beliau hanya bicara.....


"Sudahlah, itu sudah jadi hak anakmu dan warisan ini adalah wasiat terakhir ibu, jadi kamu gak usah nambah masalah lagi, cukuplah kamu bikin malu keluarga kita di masa lalu, aku sebenarnya malu punya adik seperti kamu, yang sudah dua kali ke tangkap basah berzina dengan selingkuhan bahkasn sampai-sampai Viral di Media Sosial. Bagaimana dengan Arka? Untung saja mereka tau nya Arka adalah anaknya Agam bukan anak kamu. Jadi ponakan ku gak harus malu dengan kelakuan Bapaknya yang bejad ini" Ucap kakakku sangat pedas, sampai melukai perasaan ku saat itu.


Dengan las aku pun pergi dari kantor pengacara dan hanya mendapatkan warisan dua bidang tanah yang tidak seberapa dan rumah yang sempit di kampung lagi.


waktu pun berlalu bertahun-tahun, aku tidak tahu wajah Arka, sampai suatu hari aku bertemu dengan Nissa di tanah milik Arka, Nissa berdiri dengan seorang pemuda, mungkin seumuran dengan Arka, apakah itu Arka...? Aku pun mendekati mereka berdua dengan segera dan langsung memanggil nama Nissa saat aku ada di belakang punggung mereka.


"Nissa...," ucapku. Nissa dan pemuda itu menoleh bersamaan, betapa terkejutnya aku melihat anak muda di depanku ini, yang mirip denganku, walaupun ada bagian dari wajahnya yang mirip Nissa.


"Ini siapa Nis, apa dia Arka?" tanyaku.


Aku tertegun melihat anakku yang tumbuh dengan sangat tampan, tinggi dan sepertinya terawat dengan baik, terlihat dari pakaian dan output yang dia kenakan serta kulit yang sangat lembut, putih nan indah bak porselen.


"Wah, gak nyangka bisa ketemu sama kamu disini ya. Herman kamu benar dia adalah Arka anak kita, tapi kenapa emangnya, ada masalah?" Nissa ketus sekali terhadapku dan aku hanya bisa mencebikan bibirku kesal.


"Arka ini Papah Nak..."


"Sudah tau emangnya kenapa?" aku terdiam cengo mendengar jawaban Arka yang sangat dingin dan irit kata itu.


"Kamu gak mau nanya keadaan Bapak Nak?"


"Penting emang, aku rasa hidup Bapak, baik-baik aja kan, jadi gak perlu aku tanyain."


"Nissa apa ini ajaran mu kepada Arka untuk bersikap tidak sopan kepada ayahnya." tanyaku marah, karena aku merasa tidak dihargai dan dianggap oleh anakku sendiri.


"Hehe... lucunya anda, emang siapa anda? Papah Arka cuma mas Agam, yang selalu ada buat Arka hanya mas Agam seorang. Anda siapa? main ngaku-ngaku sebagai Papahnya Arka, jangan jadi manusia yang tidak tau diri ya anda. Arka tau mana yang patu dia hormati dan orang yang tidak perlu dia hormati.


"Tapikan saya ini Papah kandungnya, darah dagingnya!"


"Jangan buat saya ketawa ya, anda memang Papah kandungnya, tetapi Kemana anda selama ini, setelah keluar dari Papua, Ayah mertua saya hanya mengirim satu tahun disana, sejak itu kamu bebas kan? selama belasan tahun pernah sekali saja kamu menghubungi Arka dan menanyakan kabarnya, enggak kan? jadi jangan jadi manusia yang tidak tau diri dan gila hormat, anda itu cuma Papah biologis nya Arka, sedangkan Papah Arka cuma 1 yaitu suami saya, Paham kan anda!


Aku merasa terhina dengan ucapan Nissa, ya memang itu salahku karena terlalu fokus dengan keluarga kecilku, sampai aku mengabaikan anak kandungku sendiri.