
POV Nissa
Drt....drt....drt...
" Mas HP kamu bunyi terus tuh mas!" ucapku saat aku dan mas Agam masih di kasur berdua, sehabis melakukan kegiatan kami.
" Siapa sih!" ucap mas Agam yang langsung mengambil HP nya di atas nakas.
" Dari mamah sayang, aku angkat pake loud speaker ya," ujar mas Agam dan aku hanya menganggukkan kepalaku saja.
[ Haloo assalamu'alaikum mah, tumben malam malam telepon, ada apa mah? ]
[ Ia mamah cuman mau kasih tau, besok trio benalu mau ke Bandung nak]
[ Mau ngapain mereka mah? apa urusan Om Tio? ]
[ Ia kayanya, tapi mamah berharap besok kamu kesini ya bawa Nissa sama Arka juga, mamah kangen sama cucu mamah yang gembul itu, sekalian kita pastiin papah kamu gak termakan sama lidah ular Oma Dina ]
[ Jam berapa mah mereka kesana? ]
[ Palingan nyampe siang gam, katanya sih mereka mau berangkat pagi ]
[ Ok. aku sama Nissa dan Arka besok kesana mah ]
[ Ya udah gam, salam buat mantu mamah yang cantik sama cucu mamah yang gemoy ] ucap mamah Lisa ditelpon, aku pun tersanjung di buatnya. Telepon lalu di matikan dan mas Agam kembali meletakan HP nya di atas nakas.
" Kayanya masalah baru lagi nih yank!" ucapku kepada mas Agam.
" Kita hadapin aja besok, gak apa-apa kok, kecil mereka mah."
" Ya sudah yank kita lanjut cas batere nya biar Full ya, jadi bisa kuat besok ke Bandungnya untuk menghadapi cobaan!" ucap mas Agam dengan wajah mesum nya.
" Hahaha, cobaan yang mana lagi ini mas, kita baru aja selesai. Aku pengen liat Arka dulu ya ke bawah," ucapku yang langsung turun tapi di tahan oleh lengan mas Agam.
" Tar aja sayang, my baby Boy pasti udah tidur, kalo belom tidur mba Sus pasti nyamperin kita ke kamar, ayo dong yank, kasian nih sama si ujang" ucap mas Agam merengek-rengek seperti anak kecil yang tidak di belikan permen.
" Yank ikh udah tua juga! Udah gak pantes hahaha." sentil ku.
" Bodo amat yang penting lanjut," ucap mas Agam yang langsung menyerang ku, dan kami pun melakukannya sampai berapa kali malam ini.
Esok harinya aku dan mas Agam bangun seperti biasa, dan akan melakukan sholat shubuh, tapi mas Agam melakukan sholat Shubuh nya di mesjid sedangkan aku di rumah saja, setelah sholat ku siapkan keperluan untuk ke Bandung dan membuatkan sarapan dan bekal untuk kita di perjalanan, aku pun melihat Arka sudah bangun di gendong oleh mba Sus. Masakan ku serahkan ke bibi untuk di lanjutkan, karena aku akan memberikan asi dulu ke Arka di kamarnya Arka. Saat sedang memberikan asi, mas Agam pun masuk ke kamar, dengan tatapan yang aku mengerti, tapi aku tidak mau peduli.
" Yah pagi-pagi udah di duluin sama baby boy nih, nyuri start nih kesayangan papah," ucap mas Agam sambil menciumi Arka gemas, Arka pun ngambek karena di ganggu kesenangannya yang sedang mimi asi.
" Udh yank, kasian Arka nya kamu ganggu lagi minum asi dia, emang yang semalam belom puas," ucapku pura-pura ngambek.
" Aku merasa puas yank sama kamu, karena itu aku pengen dan kecanduan terus sama kamu hehehe...Tuh udah di lepas ayok sayang sini gendong papah," ucap mas Agam yang mengambil arka dariku.
Arka pun tertawa karena di gendong ayahnya, dan kami bertiga meninggalkan kamar Arka untuk sarapan di meja, karena sarapan sudah siap. Setelah selesai sarapan dan menyuapi Arka, aku pun segera memandikan Arka dan memakaikannya baju yang bagus, karena kami bertiga akan jalan-jalan ke Bandung hari ini, setelah selesai semua persiapan aku, Arka dan mas Agam kami pun segera berangkat menuju ke Bandung.
Saat sampai Bandung kulihat ada mobil yang tidak aku kenali sudah terparkir di rumah mamah, kami pun langsung masuk ke dalam, dengan samar-samar ku dengar suara ribut-ribut nenek lampir itu.
" Bi tolong tidurkan Arka ke box bayi di kamar nya mas Agam ya bi," ucapku saat melihat bibi menghampiri kami, aku dan mas Agam pun melanjutkan langkah ke ruang keluarga, saat aku dan mas Agam sampai di ruang keluarga, kami berdua pun terbelalak nenek Dina akan memukul mamah dengan tangannya, langsung saja Agam menghampiri mereka dan menahan nenek Dina .
" Seujung kuku nenek menyentuh dan menyakiti mamah, nenek dan sekeluarga akan terima akibatnya dari ku, BERANI KALIAN HAH!!!" ucap mas Agam geram dan langsung menyentakan tangan nenek Dina saat melihat kelakuan nenek Dina yang keterlaluan menurut ku, karena sudah menghina mamah dan aku di rumah mamah sendiri.
" Agam kamu datang-datang, langsung kurang ajar sama Oma, begini didikan istri mu Bram, anak pembangkang," ujar nenek Dina semakin menjadi.
" Mas Agam, tolong jangan kasar-kasar sama Oma, mas Agam jangan seperti ini, aku seperti tidak mengenal mas Agam yang sekarang, semenjak mas Agam menikahi janda miskin ini." celetuk Tiara.
Plakkkkkk.......
" Mas kenapa kamu menampar ku," ucap Tiara berteriak tidak terima atas tamparan Agam.
" Sekali lagi kamu menghina istri saya dengan mulut sampah mu itu, aku pastikan kalian bertiga akan menjadi gelandangan. Tolong papah, Agam tidak mau tau, usir mereka dari rumah yang mereka tempati sekarang, dan hentikan jatah bulanan buat nenek Dina yang mempunyai cucu seperti sampah ini," ucap mas Agam sambil menunjuk Tiara .
" Heh, apa Oma lupa? rumah Oma yang sekarang Oma tempatin itu, kan udah nenek gadein dulu ke Agam dengan uang 200 juta, dan sertifikat nya pun masih aku pegang, Oma harus bayar dulu utang Oma sama Agam! baru silahkan bisa tinggal di rumah itu," ucap mamah Lisa.
Aku gak bisa berbuat banyak karena ini urusan keluarga mereka, aku hanya duduk diam sambil menyaksikan pertengahan drama Korea di depan ku ini, untung saja Arka sudah di bawa bibi dan di tidur kan di kamar mas Agam.
" Kurang ajar kamu Lisa! Bram jangan diam saja, aku ini seperti pengganti ibu mu Bram! keluarga kamu! kenapa kamu diam saja? melihat keluarga kamu sendiri di tindas oleh istri kamu ha." ucap nenek Dina.
" Maaf nenek! kamu memang keluarga ku, tapi kamu bukan ibuku, kalo tadi Agam gak datang pun, aku yang bakalan bikin hidup Oma dan keluarga Oma lebih menderita dari yang akan Agam lakukan sama kalian."ucap Papih Bram.
" Dan kamu Tiara, jangan mimpi untuk menjadi menantu saya dan menikah dengan Agam, kamu itu cuman parasit beda jauh dengan Nissa, kamu tidak tau siapa Nissa kan? dia itu pemilik restoran Aniwest! dan kamu pasti tau kan restoran itu! dan Nissa juga pemilik perusahaan perkebunan sawit yang ada di Kalimantan yang mempunyai ratusan hektar sawit, dan kamu pasti paham apa artinya! Nissa dan Agam itu sama-sama good looking, good rekening. Lah ternyata kamu yang miskin sebut Nissa miskin, apa gak salah? bahkan kamu gak ada sedikit pun dari kelebihan Nissa, jadi jangan pernah bermimpi untuk menjadi Cinderella dan menjadi kaya dengan menikahi anak saya, jangan ngimpi kamu!" ucap mamah Lisa sarkas.
Dan aku bisa melihat mata mereka bertiga melotot ke arah ku, mungkin kaget dengan kenyataan yang baru mereka hadapi, yah aku bisa paham mereka tidak tau, karena mereka tidak hadir di pernikahan ku dan mas Agam kemarin.
" Kenapa....? Biasa aja tuh mata di colok pake linggis baru tau rasa!!! Upik babu kok mau saingan sama ratu! Gak level, sadar diri juga perlu mbak," ucapku sarkas sambil mencemooh Tiara.
" Cukup kalian berdua menghina anak saya, saya sebagai ibunya gak terima kalian menghina anak semata wayang saya ini, Tiara ini masih Gadis bukan janda seperti Nissa! jadi tetap saja dia lebih unggul!" ucap Sumi, ibu Tiara bicara dengan sombongnya.
" Udah mah, ngapain mamah buang- buang waktu ngeladenin mereka yang punya otak se Ons mah, lagian hari gini masih ributin gadis atau janda, yang penting itu, di dalam pernikahan itu setia sama gak matre! punya kualitas juga. Lah modelan itik buruk rupa kaya gini mau nyamain pemeran utama. Lihat aja mah penampilan nya udah kaya ****** yang suka datang ke Bar, mana mau mas Agam ngelirik yang kaya beginian! yang ada geli sendiri, aurat nya di pamerin ke mana-mana, mau godain papah Bram juga ya mbak? pake baju kurang bahan kaya gitu, ya udah mah mending kita tinggalin aja mereka dengan para bapak- bapak, kita ke kamar aja yuk mah lihat Arka," ucapku pelan tapi penuh hinaan halus.
Aku melihat penampilan Tiara dari atas ke bawah sambil mencemooh, apalagi ibunya yah sebelas dua belas lah, dan bisa ku lihat ekspresi mereka berdua sepertinya semakin bertambah kesal.
" Diam kamu janda gatal, jangan menuduh sembarangan, kenapa kamu iri dengan badan saya yang lebih seksi dari pada kamu!" ucap Tiara semakin menjadi.
"
Ini orang makin didiemin makin menjadi-jadi ya! aku pun menghampiri nya, Kuraih rahang mukanya dan ku pegang erat sampai kuku ku ada yang menancap ke kulit pipinya.
" Dari kemarin saya udah diam ya, sama mulut busuk kamu, tapi makin didiemin makin menjadi ni ulet bulu satu, kamu belom tau siapa saya? bahkan saya bisa buat kamu menderita lebih dari apa yang akan mas Agam lakukan ke kamu, sekali lagi kamu hina saya dengan mulut bau mu itu, maka wajah kamu yang kamu banggakan ini akan hilang mengerti!!!" ucapku kesal.
" Lepas, sakit," ucap Tiara menahan kesakitan dan perih karena kuku ku.
" Silahkan keluar dari rumah saya, dan saya minta kalian semua tinggalkan rumah yang kalian tempati sekarang, saya tunggu sampai besok, kalau kalian belum pergi juga, saya akan bertindak kasar! " ucap Agam mengancam.
" Agam... Tunggu gam, jangan perlakukan Oma kaya gitu, Oma udah tua gam, kalo kamu usir Oma, dan menghentikan jatah Oma, gimana nasib Oma kedepannya gam," Oma memohon.
" Maaf nek.. gak bisa saya sudah cukup bersabar selama ini dengan tingkah kalian, apalagi kamu Tiara! selalu menghina istri saya dan mengganggu saya, saya bukan hanya mengancam tapi akan benar-benar membuat kalian menjadi gembel! Ingat kan itu! Tiara ayok kamu minta maaf ke Nissa sekarang,"
Kecam Agam dengan lantang.
aku hanya tersenyum melihat semua ini benar-benar seperti drama.
" Mbokkk..... " Teriak mamah memanggil mbok Yati.
" Ia Bu ada yang bisa mbok bantu Bu?" Saut mbok Yati.
" Minta tolong panggilin security mbok, di depan." Suruh mamah Lisa ke mbok Yati
" Ia... Ia... Nis... Nissa aku minta maaf sama kamu, karena udah hina kamu, Nis. Aku benar-benar minta maaf," ucap Tiara gugup dan takut.
" Mah hayukkk kita ke kamar saja," ucapku tak perduli dengan permintaan maaf dari Tiara karena aku sudah muak. Aku pun pergi bersama mamah Lisa untuk ke kamar nya mas Agam melihat Arka, sudah bangun apa belom? dan tak mau peduli lagi dengan nasib 3 benalu itu lagi. Sayup- sayup ku dengar mereka bertiga di usir dengan paksa oleh mbok Yati dan security.
_____&---&-
POV Herman
Hari ini adalah hari liburku, sesuai dengan rencanaku kemarin, hari ini ku putuskan untuk mengunjungi rumah mamah mertua saja. Kalo saja aku beruntung, aku bisa bertemu dengan Nisa dan anakku, aku mengendari motor ku yang baru ku beli beberapa Minggu lalu, perjalan pun sangat lancar dan tak ada hambatan yang berarti, setelah sampai komplek perumahan dan depan rumah mertua, aku bahagia, karena mobil mertuaku ada di carport.
" Syukurlah mereka semua ada," ucapku yang langsung saja masuk ke dalam halaman karena kebetulan pintu gerbang tidak di kunci oleh pemilik rumah. Saat saya akan mengetuk pintu.
Pintu rumah mamah mertua pun terbuka.
" Mau apa kamu kesini lagi?"........