
POV Nissa
Krik.....krik....krik.....
Aku terbengong mendengar kata-kata absurd Herman, apa katanya? dia mau tinggal disini, wah gak bener ini! batinku. Ku lihat wajah mas Agam juga bengong dan matanya seperti menyiratkan pertanyaan. Ku hembuskan nafasku perlahan, ku lihat wajah Arka yang seperti mas Herman.
' Nak jangan sampai sifat dan kelakuan kamu kayak bapak kamu nak,' ku berdoa dalam hati.
" Yank mantan kamu ngomong apa tadi? aku gak denger, bisa kamu jelasin yank, kamu kan pinter, kali aja kamu ngerti bahasa planet nya yank," ujar mas Agam. Aku tersenyum....mas Agam memang paling bisa bikin suasana menyebalkan menjadi lucu karena guyonannya.
" Kayanya dia lagi halu kali yank, kan kamu udah tau kelakuan dia yang gak tau diri itu."
Ucapku ke mas Agam.
" Enggak..! mungkin mantan kamu sakit kali ya? perlu aku bawa ke RSJ yang ada di Grogol gak yank, kali aja otaknya geser, bisa kali di benerin pake tang," ujar mas Agam serius.
" Boleh juga tuh yank, bawa aja biar dia sembuh, biar jadi orang bener karena penyakitnya kayanya udah parah," ucapku.
" Kalian ini bicara apa? kenapa tidak langsung bicara sama saya! gak usah asik ngomong berdua, katanya orang berpendidikan tapi tamu malah di cuekin dan sibuk berdua, pokoknya aku tidak mau, aku ingin keputusan nya hari ini juga, kalo kamu gak biarin aku buat ketemu Arka dan bermain bersama Arka, aku akan maksa tinggal disini, biar aku bisa terlibat ngurusin Arka." Ucap Herman yang membuatku semakin jengah dengan sikapnya.
Makin tua bukannya tobat ini malah makin jadi, kenapa dulu aku bisa cinta sama orang macam begini ya Allah, ini juga kenapa dia bisa tau alamatku? tanyaku dalam hati.
" Huft... Hahahaha, yank kayaknya ada yang minta di patahin tangan dan kaki nya yank, boleh gak yank? kalo boleh aku eksekusi nih Ama bodyguard kita di belakang," ucap mas Agam tertawa dengan raut muka bengis.
Aku bisa melihat ketakutan dalam matanya, ya....Badan gede doank tapi Cemen, Pikirku.
" Ikh gak asik yank, Mending masukin ke Grogol aja, bakalan tenang hidup kita gak ada lagi perusuh di rumah ini, bagus juga deh buat dia, kan disana banyak teman dia, yang sama pikirannya sama tingkah lakunya, bentar deh aku telepon dulu ya," ucapku dengan ide brilian yang pasti bakalan ku realisasikan.
Aku pun menyerahkan Arka ke gendongan mas Agam, dan langsung mengambil HP ku serta ku searching no telepon rumah sakit jiwa di Grogol, setelah ku dapatkan aku pun langsung menghubungi mereka, tapi pura-pura.
[ Halo... Selamat siang dengan rumah sakit jiwa Grogol, kami ingin mendaftar kan, sodara kami atas nama Herman, untuk menjadi pasien di rumah sakit bapak ]
[ Siang ibu, Untuk gejala apa ya Bu? ]
[ Sepertinya stress berat pak, karena di tinggal istrinya, jadi dia suka nge halu dan emosi nya tidak stabil, bisa bapak jemput?]
[ Baiklah Bu, kami akan mengirimkan mobil rumah sakit segera kesana ] ucap pihak rumah sakit ditelpon, dan aku langsung mematikan telepon ku.
" MAKSUD KAMU APA NIS, AKU GAK GILA! batalkan rencana kamu Nis, kamu jangan keterlaluan Nis," Ucap Herman teriak seperti orang kesetanan
Dan kulihat Arka menangis karena takut mendengar suara keras Herman, dan bisa kulihat ada raut ketakutan di mata nya Herman.
Hoek.... Hoek....
Tangisan Arka membuat emosiku seketika naik.
" Mba Sus, Tolong bawa Arka, ke kamarnya dulu ya mba," ucapku memanggil mba sus, dan menyerahkan Arka ke dalam gendongan mba sus, karena aku gak mau Arka melihat drama orang dewasa yang anfaedah ini.
" Ia Bu, Ayo sayang kita main di kamar ya." Ucap mba sus, bisa ku lihat Arka masih menangis tapi tidak sekencang tadi, karena di gendong oleh mba Sus.
" Loh....loh...loh... Mau di bawa kemana itu anak saya?" ucap Herman yang berusaha menyusul Arka dan mba Sus.
Dan langsung Ku hampiri Herman
Plakkkkk..... Plakkkkkk....
Ku tampar dua kali muka Herman dengan kekuatan penuh, hingga tanganku merah dan sakit, tapi itu belom setimpal, harusnya ku patahkan saja tangan si Herman ini, dasar lelaki tidak berguna.
" Lihat... Akibat perbuatan mu, akibat mulut busuk mu, anakku jadi nangis seperti itu, kamu memang dari dulu gak berguna, lelaki otak udang. Dari dulu aku nahan untuk balas semua perbuatan kamu karena aku sedang hamil arka, aku hormati ibu kamu, tapi tingkah kamu semakin menjadi, otak bebal kaya kamu, gak bisa didiemin harus di kasih pelajaran yang setimpal, dan aku gak mau lembek lagi sama kelakuan setan kamu, yank panggil Bodyguard yank," ucapku.
" Nis, Tapi Arka juga anakku Nis, aku juga berhak Nis," ucap Herman lirih.
" Sekali saja tanganmu menyentuh bagian tubuh istriku ku patahkan tanganmu," ucap mas Agam memegang tangan Herman erat.
Dan bisa kulihat Herman menahan sakit.
" Aw... Sakit.. lepaskan saya, atau saya laporkan semua kalian ke polisi," Teriak Herman.
Kretek...
" AWWWWW.... Jariku..." teriak Herman lagi.
Sepertinya jari Herman patah karena di tekuk oleh mas Agam. Ku lihat mas Herman guling-guling di lantai, aku hanya menggeleng kan kepalaku, dan ketika Bodyguard datang, ku minta mereka untuk membereskan mas Herman, dan mengikat mas Herman di kursi, dengan kencang. Jadi mas Herman tidak bisa kabur dari sini.
Sirine ambulance pun mulai terdengar, dan ku lihat mobil rumah sakit sudah masuk pekarangan rumahku. Herman terlihat menangis dengan tangan yang masih terikat dan di pegang kuat oleh Bodyguard mas Agam.
Saat Herman akan di bawa ke mobil ambulans, Herman terus saja berteriak untuk di turunkan bahkan dia mengamuk tak karuan, tapi karena besarnya tenaga Bodyguard mas Agam, Herman pun kalah dan langsung di masukan ke mobil
Setelah itu mobil pun melesat jalan dan membawa Herman ke rumah sakit jiwa yang ada di Grogol.
" Yank.... Aku udah minta Robi asisten ku, untuk mengurusi semua administrasi Herman di rumah sakit itu," ucap mas Agam.
" Berarti kita gak usah kesana kan mas?" ucapku senang.
" Ia..... Kita gak perlu kesana, Gimana kalo kita besok jalan-jalan aja, kita healing kita ke Jogja."
" Boleh tuh mas, mau naik apa? kereta apa naik mobil.
" Kita naik kereta aja, biar seru kita bawa mba Sus sama bibi juga buat nemenin kamu dan bantuin kamu disana."
" Ia mas.... Yes makasih ya mas karena udah sayang sama aku."
" Ia sayang ku yang paling lucu dan imut ini, tapi aku minta hadiah dong, kan si Herman udah di masukin ke RSJ."
" Boleh emangnya mau hadiah apa?".. ucapku penasaran.
" Hadiah yang bikin enak... Sekarang yukkkk," ucap mas Agam yang langsung mengangkat tubuhku dan naik ke atas, ke kamar kami.
____&&&&---
Pov Herman.
" Pak lepasin saya pak! Saya gak gila! Mereka berdua yang gila, bapak bisa saya tuntut kalo main masukin orang aja ke RSJ pak," ucapku menatap nanar semoga mereka mengerti, tapi sialnya mereka hanya melirikku dan membuang muka tidak mendengarkan keluh kesah ku.
" PAK SAYA GAK GILA.... TOLONG LEPASIN SAYA PAK!" teriakku.
" Bapaknya tenang ya, bentar lagi bapak akan mendapatkan perawatan, jadi gak usah khawatir, bapak pasti bakalan sembuh," ujar pegawai rumah sakit yang sangat ramah bicaranya.
" Tapi beneran saya tidak gila pak, mereka menjebak saya pak," ujarku.
" Pak Herman, sudah banyak kok orang yang mengalami gangguan mentalnya menyatakan mereka tidak gila, padahal mereka itu mental nya sedang terganggu, jadi di sini, kami akan membuat bapak untuk sembuh.
Mobil pun berhenti di pelataran rumah sakit, ya tuhan! ku lihat rumah sakit nya luas tapi sedikit menyeramkan, si Nissa ini benar-benar, dia serius ingin memasukan aku ke RSJ, dan semua rencana ku gagal, kenapa harus kepikiran RSJ sih. Bubar semua rencanaku, ancur semua, impianku bisa tinggal di rumah itu. Karena tenaga ku habis, aku hanya berdiam diri tanpa melakukan perlawanan lagi, karena aku capek, capek habis kerja sekarang di masukin ke RSJ, nasib ku kok jelek banget, pengen tidur di kasur empuk, rumah mewah, malah sekarang tidur di rumah sakit jiwa.
Malang Nian nasib ku Bu, malah sekarang tinggal di RSJ. Hiks.... Hiks.. Sambil menangis, aku Kembali mengingat ketawa nya Arka , sungguh ia sangat lucu. Dan saat suaminya Nissa, bisa dengan leluasa menggendong bahkan mereka terlihat akrab, membuatku marah dan cemburu.
Bagaimana ini? sampai kapan aku disini, Nisaaaaaaaaaaaa! keluarin saya dari sini," teriakku di depan pintu RSJ ini. Kulihat sekeliling lorong rumah sakit, astaga merinding, sepi sekali, seperti tidak ada kehidupan, aku segera masuk, dan menutup gorden supaya tidak terlihat keadaan luar.
Awas saja kamu Nissa, beraninya kamu masukin aku ke RSJ, setelah aku keluar nanti, tunggu pembalasan ku, akan ku bawa Arka lari dari mu Nis, Hahahaha.
Arka........seharunya papah dan mamah Nissa rujuk dan kita akan menjadi keluarga yang utuh, Hahahaha....