MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
BAB 55 CINTA PERTAMA DI MASA KECIL


POV Herman


" Kamu masih disini man?" ucap ibuku yang tiba-tiba datang dan duduk bersama di meja makan.


" Maksudnya ibu, ya jelas lah Bu ini kan rumahku, ya aku masih disini."


" Rumah kamu, dari mana ini bisa menjadi rumah kamu, ini rumah adik kamu, dan masih atas nama ibu " ucap ibu datar namun ketus.


" Bu ayolah ini masih pagi jangan membuat keributan, " ucapku sambil memasukan nasi goreng ke mulutku, enak sekali emang.


" Mbokkk minta 2 tukang kebun dan security depan untuk masuk mbok " ucap ibu membuat ku bingung.


" Ia Bu " ucap mbok yang langsung ke kebun untuk mencari bapak tukang kebun.


" Mbok kamu bereskan semua pakaian Herman di atas taruh di koper, dan keluarkan dari rumah ini, dan kamu bertiga seret Herman keluar dari sini, dan jangan biarkan dia masuk ke rumah ini lagi " ucap ibu tegas, aku hanya bisa kaget atas ucapan ibu.


" Bu maksudnya apa.... Ibu usir Herman, " ucapku marah.


" Sudah jelas kan... Ayok kalian bertiga tunggu apa lagi seret dia keluar dari rumah ini sampe gerbang " ucap ibu berdiri dengan menunjuk ku terlihat sekali wajah sangar ibu, penuh kebencian.


" Bu jangan Bu.... Herman mohon jangan usir Herman... Kalo ibu usir Herman akan tinggal di mana Bu...?" Ucapku menangis dan bersujud di kaki ibu, aku tak peduli dengan tiga orang lelaki ini yang terus menarik tanganku, aku harus bisa menyakinkan ibu supaya aku tidak di usir dari sini.


" Saya sudah capek... Sama kelakuan kamu... Asal kamu tau kalo Nissa tidak berbaik hati dan menuruti kemauanku untuk membebaskan mu, mungkin sampai detik ini kamu masih di penjara, tapi sekarang kamu berulah lagi, saya capek sama tingkah kamu yang gak tau malu, tukang selingkuh sama seperti bapak kamu, kelakuan kalian sama sama bejad. Ibu telah gagal mendidik kamu Herman." Aku terperangah oleh ucapannya, tidak aku berbeda dengan bapak yang suka selingkuh dan memukul ibu. Aku menggelengkan kepalaku mengingat kejadian masa lalu, di mana ibu selalu di pukul bapak, dan yang lebih parahnya bapak membawa gundiknya ke rumah, sehingga aku, Abang dan adikku terpaksa meninggalkan rumah yang sudah lama kami tempati.


" Enggak Bu, aku berbeda dengan bajingan itu... Aku gak pernah mukulin Nissa Bu.... " Ucapku marah dan menyangkal semua tuduhan ibuku .


" Heh.... Kamu tidak pernah berbuat kasar... Lalu bagaimana dengan Fina, kamu udah buat Fina keguguran hingga kehilangan bayi dan rahimnya, karena apa kamu gampar dia dengan keras, setelah itu kamu buang begitu saja, padahal Fina sama-sama istri kamu, ibu minta kamu didik dia, ajarkan dia menjadi istri yang baik, kamu malah membuang dia kaya sampah," ucap ibu teriak, sedikit menyentil dadaku, tapi semua tetap bukan salahku.


" Tapi ibu sendiri yang ngusir dia," ucapku tidak mau kalah.


" Ia ibu usir dia dan kamu dari rumah ini, tapi kamu malah membiarkan dia sendiri, ibu udah gak mau ikut campur urusan kamu lagi Herman, sekarang kamu pergi dari rumah, biar kamu bisa introspeksi diri, bisa mikir pake otak kamu, bukan berzina terus yang kamu lakukan, kamu udah banyak menyakiti istri-istri kamu Herman hingga Mata Hati mereka terluka. Seret dia keluar sekarang dan jangan pernah ijinkan dia masuk kembali ke rumah ini, kalo itu terjadi kalian saya pecat!!! "ucap ibuku.


" Lepas... Kalian gak bisa lakukan ini sama aku.... Bu maafkan aku Bu.... LEPASKAN AKU BRENGSEK.... IBUUUUUUU " teriakku yang langsung ditarik oleh tukang kebun dan Security rumah ku.


" Lepas bangsit kalian gak bisa perlakukan aku kaya gini, aku ini anak majikan kalian " ucapku yang masih saja di tarik paksa sampai keluar gerbang, dan langsung di tutup gerbangnya. Kulihat tukang kebun itu pun sedang mendorong sepeda motor Popi keluar, dan dia langsung masuk kedalam rumah kembali, saat aku akan masuk ke kerumah gerbang sudah di kunci secepat kilat. Sialan banget sih hari ini," batinku.


" Aku harus kemana sekarang, hmmmm untung pakaiannya cuman sekoper, kayanya aku harus ke penjara dulu nemuin Popi, minta kunci rumah nya.... Ia aku akan tinggal disana aja, selama Popi di penjara," aku pun langsung mengangkat koperku ke atas motor dan menggunakan tali rapia untuk mengikatnya, semoga saja kuat. Setelah selesai langsung saja ku arahkan motor ini menuju kantor Polisi. Saat tiba di kantor Polisi langsung saja aku masuk dan bertemu dengan pak Polisi untuk menemui Popi, dan aku pun diantarkan ke ruang kunjungan, setelah beberapa lama masuklah Popi.


" Ya tuhan... Astaga... Popi kamu kenapa sayang.... " Ucapku kaget karena melihat penampilan Popi yang amburadul berantakan persis seperti orang gila.


" Mas Herman, kenapa baru kesini mas, aku sendirian disini mas, aku kesiksa mas, bantuin aku keluar mas, hiks hiks hiks " ucap Popi yang menangis seperti anak kecil.... Jebeng lagi, hadeh setiap cewek yang dekat denganku kenapa gak ada yang bener, cuma Nissa doank yang bener perasaan.


" Popi kamu.... Kenapa dengan penampilan kamu..... Ya tuhan.... Kaya orang gila kamu... Udah jangan nangis... Habis dari sini aku akan ke rumah Nissa bicara sama dia buat bebasin kamu, tapi sebelum itu aku mau minta kunci rumah kamu dulu ya "..


" Ia mas tolong bilang mantan istri kamu yang gak tau diri itu, bebasin aku sekarang juga, jadi orang tuh jangan lebay, orang lagi hamil kok kaya gitu.... Hiks.... Hiks... Aku gak kuat disini mas aku bisa gila beneran."


" Gini aja..... Kamu juga mending telepon dulu Nissa , minta maaf sama dia kali aja dia luluh, buktinya temen kamu yang tiga orang juga gak di laporkan ke Polisi, ini aku kasih No. teleponnya, kamu telepon dia lewat kantor Polisi sini, habis itu tar kamu pulang ke rumah, baru kita pikirin dulu rencana selanjutnya, sekarang mah kamu baik-baikin si Nissa dulu lah, buat keluar dari sini. "


" Ia mas mana No. teleponnya "


Akupun langsung menulis No. HP Nissa, dan langsung ku serahkan ke Popi, saat ini aku  membiarkan Nissa menang dulu, aku tau walaupun dia memblokir ku, tapi pasti dia bisa di hubungi lewat No. kantor Polisi ini.


" Biarlah sekarang kita mohon dulu sama cewek sombong itu, yang penting kamu keluar dan aku akan balas dendam, mana kunci rumah kamu " ucapku karena Nissa aku di usir dari rumah ibu.


" Kunci rumah ku buat apa mas? "


" Aku sementara tinggal di rumah kamu dulu, sebelum aku dapat kerjaan baru ya, aku di usir oleh ibu, dan semua ini karena Nissa ngadu yang enggak-enggak ke ibuku, aku benar-benar marah sama dia, awas aja liatin apa yang aku lakukan buat wanita sombong seperti dia," ucapku. Ku kepalkan tanganku karena mengingat kesombongan dan penolakan Nissa di pesta kemaren, kamu pasti akan bertekuk lutut sama aku Nis, dan saat semua itu terjadi semua yang kamu miliki akan menjadi milikku," batinku tersenyum.


" Baiklah setelah kamu keluar, kita nikah siri dulu ya... Biar kita bisa tinggal sama-sama, aku pulang dulu... Jangan lupa kamu telepon Nissa sekarang biar cepat keluar dari kantor Polisi ini, aku nungguin kamu ya di rumah."


" Tunggu mas... Tapi masalah kejantanan kamu gimana?" ucap Popi berbisik pelan.


" Setelah aku mendapatkan harta Nissa, aku akan pengobatan ke luar negri buat ngobatin ini, sekalian kita liburan nanti sayang, mangkanya kamu harus dukung dan bantu aku ya aku pergi dulu Bye sayang," ucapku kepada Popi, dan kucium pipi nya langsung aku keluar pulang.


Setelah ku jenguk Popi dan mendapatkan kunci rumah Popi, gegas saja aku melajukan motor ini ke rumah Popi. Jarak ke rumah Popi tidak begitu jauh, jadi cepat sampai apalagi tidak macet beruntung nya diriku ini. Ku buka pintu rumah Popi, ku lihat sekeliling rumahnya, walaupun tidak sebesar rumah ibu, apalagi dengan rumahku dulu bersama Nissa sangat jauh perbedaannya, tapi tak apalah lumayan untuk berteduh dan tidur dari pada harus ngontrak buang-buang duit saja," pikirku.


" Ahhhh capek sekali hari ini, beruntungnya aku kenal dengan Popi kan lumayan dapat rumah ini, jadi aku gak pusing walaupun aku di usir oleh ibu, mending sekarang aku istirahat, besok aku harus ke rumah Nissa, buat jalanin rencana ku " Ucapku.


----_++-------


POV Nissa


" Lohhhhh... Mas Agam kok ada disini... " Ucapku bingung tiba-tiba ada mas Agam di Lembang, bukannya dia ada di Jakarta ya....


" Hay Nis apa Kabar, selamat siang om " ucap mas Agam mencium tangan papah dan langsung bergabung dengan ku dan papahku.


" Pah.... Kenalin ini nak Agam yang waktu itu mamah ceritain... Yang kita mamah sama Nissa ketemu di rumah sakit .


" Oh ia kamu yang anterin Nissa cek kandungan ya.... Makasih ya nak Agam udah ikutin ngidamnya anak saya.... Pengen dianterin ke dokter kandungan sama suaminya, karena suaminya gak ada jadinya kamu sebagai gantinya dah, hehehehe," ucap papah ketawa, kok aku kaya aneh denger ketawa papah, lain aja gitu.... Tiba-tiba mbok Jum pun datang membawa minuman dan cemilan untuk di hidangkan.


" Gak nyangka Om,Tante ternyata tetangga baru saya, padahal tiap hari saya liat yang tinggal disini itu pasangan yang agak sudah lanjut."


" Ia mereka berdua hanya membersihkan rumah dan sedikit merenovasi, ini tuh rumah peninggalan nenek nya Nissa, ibu saya " ucap mamah dengan semangat 45.


" Dan ternyata nak Agam ini, tetangga kita ya.... Asik dong... Nak Agam tinggal sama siapa disini....? " Ucap mamah yang membuatku tambah bingung, kenapa mamah semangat sekali.


" Saya tinggal dengan kedua orang tua saya Tante."


" Tunggu... Tunggu... Kamu kan rumahnya depan Tante.... Berarti kamu anaknya Lisa sama Bram ya " tanya mamah yang heboh sendiri, sedangkan aku dan papah hanya menjadi penonton.


" Ia Tante mereka kedua orang tua saya " ucap Agam....


" Loh.... Berarti pak Agam itu.... Abang gam gam yang suka tarik-tarik baju aku kalo lagi main dulu ya.... Waktu kita masih kecil."


" Ohh.... Kamu Nissa si anak cengeng itu, ia aku ingat anak cewek kecil yang seneng banget aku gangguin, habisnya seneng aja ganggu anak cengeng, hahahah." Ucap Agam bahagia.


" Mah liat tuh mah si gam.... Gam... Dia malah ketawa bahagia banget mah, dari dulu gak pernah berubah, " ucapku merajuk karena kesal, ternyata pak Agam ini adalah kakak laki-laki yang suka membuatku menangis, tapi saat aku pergi dari rumah ini, aku benar-benar kehilangan kebahagiaan itu, ternyata pak Agam ini adalah cinta monyet ku dulu." Batinku.


" Ya udah maafin mas Nis udah ketawain kamu habis kalo ingat dulu muka kamu lucu banget.... Om Tante kayanya aku harus pulang dulu, tadi ijin ke mamah sama papah cuma sebentar, aku juga harus balik lagi ke Jakarta, bagaimana kalo weekend nanti saya sama keluarga mengundang Om Tante dan Nissa untuk makan malam di rumah, mamah pasti senang.


" Ia nanti Tante juga pasti bakalan mampir ke rumah kamu, gam kalo gak nanti sore lusa mungkin ya.... " Ucap mamah.


" Ok. Tante nanti aku pasti kasih tau mamah, kalo gitu saya permisi dulu Tante, om... Ayok Nis mas duluan " ucap Agam berlalu keluar dan di antarkan oleh mamah.


" Sayang.... Menurut kamu Agam itu gimana..? "


" Maksud mamah?"


" Ya maksud mamah menurut kamu Agam gimana, kamu kalo mamah deketin sama Agam mau gak ?"


" Mamah ngaco, mana mau dia sama aku, janda lagi hamil pula, jangan terlalu berangan terlalu tinggi, lagian aku ga ada niatan nikah  dulu la mah, aku pengen ngerawat dan membesarkan anakku mah " ucapku tersenyum, yang hanya di balas helaan napas oleh mamah.


Karena aku tau mah dan sadar diri, aku gak pantes buat mas Agam yang masih singel dan sudah mapan, sedangkan aku siapa? batinku.