
Elnara benar-benar marah, dia tidak menyangka Mikha akan berbuat senekat ini. Wanita itu benar-benar tidak tahu malu, meminta suami orang dengan keyakinan bahwa mereka masih saling mencintai.
Saat ini Elnara tengah duduk seorang diri di cafe langganannya. Dia ingin menikmati waktu sendiri demi mengusir kemarahan yang sedang menggelayuti hatinya.
"Hai, El! Kamu sendiri?" Elnara menoleh dan mendapati Fian yang datang menyapanya.
"Hai, Fian. Kamu sendiri? Mau temanin aku di sini?" Elnara tersenyum ramah menunjuk kursi di depannya, meminta Fian untuk duduk.
"Oke, karna kita sama-sama sendiri aku anggap ini kencan kita." Fian tersenyum sembari mengedipkan matanya, kebiasaan yang selalu Fian lakukan jika ingin menggoda Elnara.
"Kamu benar-benar nggak berubah Fian," ucap Elnara menatap geli pada Fian yang semakin melebarkan senyumannya.
"Hanya untuk seorang Elnara," sekali lagi Fian mengedipkan matanya berusaha menggoda Elnara.
Elnara hanya bisa tertawa melihat tingkah laku Fian yang tidak pernah berubah. Dari dulu Fian selalu berhasil membuat Elnara tertawa seperti ini meski dia sedang menghadapi masalah apapun. Hal inilah yang membuat Elnara tidak bisa memiliki perasaan lebih terhadap Fian, dia terlalu nyaman sebagai sahabat dan tidak bisa lebih daripada itu.
*
Mikha nekat mendatangi Zayan dengan kondisi baju yang basah dan pipi yang merah. Wanita itu berniat mengadu pada Zayan tetang perilaku kejam Elnara pada dirinya.
Dengan tidak sabar Mikha membuka pintu ruangan Zayan dan segera menangis di hadapan pria itu. Zayan hanya bisa mentapa kaget pada tindakan Mikha yang tidak sopan itu.
"Apa-apaan kamu!" Zayan berseru marah akan tindakan Mikha yang kurang ajar itu. Masuk tanpa mengetuk pintu dan kini menangis histeris di depannya.
"Zayan, kamu lihat apa yang sudah Elnara lakukan padaku!" Adu Mikha menunjuk pakaiannya yang sudah basah dan tidak lupa pipinya merah karena tamparan Elnara.
"Apa yang dilakukan Elnara?" tanya Zayan tidak mengerti.
"Dia menyiram dan menamparku, Zayan. Dia mempermalukan di depan banyak orang!"
Zayan menatap ragu pada Mikha, biar bagaimanapun perasaannya pada Elnara, dia tidak yakin gadis itu bisa berbuat senekat ini. Yang Zayan tahu, Elnara adalah gadis lemah lembut dan tidak suka kekerasan.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Zayan lagi.
"Aku menemuinya untuk memastikan hubungan kalian dan menceritakan tentang masa lalu kita. Lalu dia tiba-tiba marah, dia menyiram dan menatap. Dia juga mengatakan di depan banyak orang aku adalah pelakor tidak tahu malu. Aku malu Zayan! Aku tidak menyangka Elnara bisa berbuat sejahat itu sama aku!"
Mikha menangis tersedu-sedu, berusaha menarik simpati Zayan. Sedangkan Zayan masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Disatu sisi dia tidak percaya Elnara bisa sekasar itu, tapi di sisi lain dia juga tidak yakin jika Mikha berbohong.
Zayan benar-benar pusing karena keduanya. Belum selesai masalah Okta yang sepertinya sangat marah, kini Zayan harus di hadapankan masalah lain.
"Pergilah, saya sedang sibuk dan tidak ingin diganggu!" usir Zayan yang benar-benar ingin sendiri.
Zayan ingin menenangkan pikirannya sebelum memutuskan siapakah yang salah dan siapakah yang benar.
"Zayan, kamu nggak percaya sama aku? Kamu lihat ini, jelas-jelas ada bukti kejahatan Elnara dan kamu masih ragu!" Ucap Mikha marah, dia kembali menunjukkan bukti tentang betapa kasarnya seorang Elnara.
"Keluar dari ruanganku sekarang!" perintah Zayan tidak ingin dibantah.
Mikha masih ingin membuat Zayan percaya padanya, tapi melihat wajah pria itu yang tampak sangat marah akhrinya Mikha memutuskan untuk keluar. Lagipula Mikha yakin Zayan akan berpihak padanya karena semua bukti kejahatan mengarah pada Elnara.
Sepeninggalnya Mikha, Zayan masih duduk diam di kursinya. Pria itu memikirkan siapa yang sebenarnya salah. Jika melihat dari bukti jelas Elnara yang salah, tapi Zayan masih meragu. Namun, Zayan sangat mengenal Mikha dan tidak mungkin wanita itu berbohong padanya.
Setelah mempertimbangkan, akhirnya Zayan memutuskan siapa yang salah. Dengan segera pria itu pergi untuk menemui Elnara. Dia akan membuat Elnara tahu bahwa tingkah lakunya sudah sangat di luar batas.
*
Elnara yang kebetulan berada di dapur segera keluar menemui Zayan. Dia sangat terkejut mendapati Zayan pulang sebelum jam kantor berakhir.
"Ada apa, Mas?" tanya Elnara bingung.
"Apa yang kamu lakukan pada Mikha?" Zayan balik bertanya, pertanyaan yang membuat Elnara terkejut.
Elnara tidak menyangka Mikha akan mengadu pada Zayan.
"El nggak lakukan apapun," jawab Elnara, menolak untuk berkata jujur.
"Kamu menyiram dan menampar dia 'kan?" Zayan tidak berhenti sebelum Elnara mengaku padanya.
"Iya, El yang menyiram dan menampar Mbak Mikha. Jadi, Mbak Mikha ngadu sama Mas Zayan dan sekarang Mas Zayan marah sama aku?"
"Saya tidak menyangka kamu akan berbuat sejahat ini! Memangnya dia salah apa sama kamu sampai kamu tega mempermalukan dia?"
"Dia mau rebut Mas Zayan!" teriak Elnara yang marah karena Zayan memihak Mikha.
"Kamu seperti anak kecil! Saya benar-benar pusing dengan kamu, apa belum cukup saya dipusingkan dengan pernikahan ini dan sekarang kamu menambah pikiran saya dengan masalah kecemburuan kamu?"
"Ini bukan masalah cemburu, Mas. Seharusnya Mas belain aku karena jelas-jelas Mbak Mikha yang salah. Apa Mas tahu apa yang sudah dikatakan?"
"Kamu yang salah! Dia cuma menceritakan masa lalu dan kamu dengan teganya mempermalukan dia! Saya nggak habis pikir dengan jalan pikiran kamu itu!"
"Mas Zayan nggak bisa mendengar hanya dari satu pihak. Seharusnya Mas tanya apa alasan aku melakukan itu semua."
"Nggak perlu, saya sudah benar-benar capek menghadapi kamu!"
"Mas benar-benar nggak adil. Mas bisa mendengar cerita dari dia, tapi Mas nggak bisa mendengar cerita dariku. Apa jangan-jangan Mas mau kembali sama dia?"
"Elnara!" Zayan berteriak marah, dia benar-benar tersinggung dengan tuduhan Elnara.
"Mas, aku nggak suka kalau Mas meninggikan suara." Elnara berucap pelan, terlihat siap untuk menangis.
"Terserah kamu, saya benar-benar capek menghadapi semua ini. Saya nggak menyangka kamu gadis yang jahat dan nggak punya hati. Kamu tahu bagaimana kesulitannya, tapi kamu masih bisa berbuat sejahat itu."
"Aku nggak jahat, Mas!" bantah Elnara.
"Ya, kamu jahat dan egois. Mulai sekarang kamu tidak boleh mengunjungi kantor dan tidak boleh menemui Mikha lagi. Ingat, saya nggak suka dibantah, jadi jangan pernah membantah dan melanggar perintah saya!"
Zayan segera berbalik pergi meninggalkan Elnara yang sudah menangis. Gadis itu sakit hati dengan perkataan Zayan yang mengatakan dia jahat dan tidak memiliki hati.
Zayan tidak adil karena lebih mempercayai cerita Mikha tanpa mau mendengar ceritanya. Elnara tidak menyangka Zayan bisa berbuat sejahat itu padanya, padahal dia hanya menjaga rumah tangganya dari gangguan Mikha.
"Papi ... Mami, El sakit. Hati El sangat sakit," Elnara menangis seorang diri meratapi nasibnya yang menyedihkan.
To Be Continue ~~>