Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Part 4


Tidak lama mereka menikmati makan malam berdua dengan keheningan, tiba-tiba handphone Aliee berbunyi.


"Hallo" jawabnya dengan lembut dan ada jeda sesaat "baiklah tidak apa... aku akan pulang menaiki kendaraan umum."


"Awas aja kalau kamu pulang naik kendaraan umum, setidaknya gunakan transportasi seperti go-car atau grab-car, paham" Gabe mendengar suara laki-laki marah walau sangat kecil.


"Baiklah aku akan menuruti upanmu kali ini dan aku malas berdebat denganmu, salamkan salamku pada Garry... bye pecun" Aliee mematikan panggilan telepon itu menatap makanannya dengan malas.


"Pacarmu tidak menjemputmu" tanya Gabe pada akhirnya.


"Dia bukan pacarku tapi lacurku" Aliee menjawabnya dengan malas "gara-gara dia ada teman baru aku jadi dilupakan. Teman macam apa itu."


"Yasudah aku akan mengantarmu pulang, tidak baik kalau anak gadis pulang larut malam" pada dasarnya dari awal Gabe memang berniat untuk mengantarnya namun dia tidak memiliki celah atau kesempatan seperti sekarang.


"Benarkah" kali ini Aliee menatapnya dengan senang "sungguh lega aku dapat hemat uang lagi."


Gabe sendiri bingung dengan siapa dan bagaimana sosok Aliee sendiri. Kadang dirinya seperti wanita yang penuh ambisi dan kadang lemah seperti tidak punya apa-apa. Kali ini dirinya menimang dengan baik. Mungkin apa yang di lihat oleh mata belum tentu sama dengan kenyataannya.


Gabe membayar makanan yang mereka pesan dan mengantar Aliee ke alamat yang di tuju dan Gabe penasaran dengan akomondasi apa yang di gunakan sama wanita yang ada di sampingnya tersebut.


"Jadi kau selalu pergi di antar jemput" tanyanya Gabe memulai kesepian saat ini.


"Tidak" jawab Aliee dengan cepat "aku kadang membawa si hijau atau si putih dan kadang bareng adik."


"Siputih dan si hijau" tanyanya dengan bingung.


"Oh itu motor yang biasa digunakan oleh ayah dan adik laki-lakiku."


"Jarak" rasa penasaran Gabe tidak hanya disitu aja dan dia selalu saja penasaran akan hal tersebut.


"Ya bisa di bilang dari sini hingga rumahku yang jadi tujuan kita."


"Bagaimana dengan keadaan keluargamu" Gabe menatap Aliee sebentar saat lampu merah sudah menjadi hijau.


"Keluargaku sangat berbeda dengan yang lainnya dan bisa di bilang tidak seperti kebanyakan keluarga lainnya."


"Spesifiknya."


"Aku tidak dapat menceritakan detailnya karena kau akan mendapatkan detailnya saat kau berada di lingkungan itu. Banyak orang yang suka dengan suasana rumahku namun aku tidak terlalu menyukainya tapi aku tidak membenci hal seperti itu" Aliee menatap jalanan yang ada di hadapannya saat ini.


Gabe tidak ingin menanyakan hal tersebut dan ikut terdiam dan mengikuti arahan Aliee ke arah rumahnya tersebut.


"Kita berhenti disini saja" Aliee menatap Gabe tempat saat ini yang dapat memutar balikkan mobil walau hanya secukupnya. "Kalau kau masukkan mobil ke dalam bisa namun di dalam itu ruangan kecil dan akan susah buat keluar masuk mobilnya."


"Lain kali aku akan mampir ke rumahmu dan menagih kata-katamu yang menginformasikan akan merasakan apapun itu langsung dari sumbernya."


"Baiklah aku tunggu kau di minggu depan saat aku sedang libur di sini dan atau akan ku cocokkan waktu liburku dengan dirimu" tatapan mata Aliee saat ini penuh dengan pengertian.


"Tidak usah aku setuju dengan minggu depan, sampai jumpa lagi."


"Ya."


_____


Sesuai dengan janji yang mereka sepakati saat ini kini Gabe sudah datang ke rumah Aliee tanpa pemberitahuan sama sekali. Sebelum datang Gabe datang dengan semua persiapan yang tersedia dari alamat rumah dan patokan yang valid.


"Selamat siang."


Gabe naik lima anak tangga dan menatap dua orang sedang tertidur dengan pintu rumah terbuka. Orang rumah yang mendengar suara yang asing itupun langsung bangun dengan wajah bantal dan kaget mereka.


"Mohon maaf saya mengganggu, saya datang untuk bertamu menunggu anak anda yang sudah janjian namun dirinya tidak menjawab saya."


"Anak yang mana."


"Aliee."


 "Panggil kakakmu dan suruh dia turun."


"Iya pa."


Anak perempuan yang terbagun tadi langsung pergi dari hadapan Gabe dan Gabe masuk ke dalam dengan membungkuk sedikit sebagai tanda hormat kepada pemilik rumah tersebut.


"Apaan sih, kenapa bangunin aku jam segini" jelas Aliee dengan rada kesal dan Aliee menghampiri orang rumah yang tertidur tadi.


"Ini temanmu datang."


Aliee memfokuskan pandangannya dan menatap siapa tamu yang di ucap barusan dan kini matanya membelalak lebar.


"Kamu benaran datang" ucap Aliee dengan tidak percaya.


"Kan kamu bilang buat datang hari ini kesini pas waktu aku antar kamu pulang."


"Ah... iya aku ingat sih, aku kira kamu cuma omongan aja" Aliee menatap Gabe dengan tatapan tidak percaya.


"Aku selalu memeggang janjiku tau" jelas Gabe tidak wajah tidak sukanya "kamu yang selalu ga tepatin dan PHP."


"Enak aja... aku selalu tepat janji kok" protes Aliee tidak suka.


"Kalau tepat janji kenapa ga kasih tau aku dan malah diamin aku saat aku telepon dan whatsapp aku aja di abain."


Aliee menatap layar HP nya dan dia hanya menyengir tanpa dosa. Tanpa mereka sadari kedua orang yang tertidur tadi mengeluarkan suara kecil agar mereka berdua sadar kalau saat ini ada orang yang mereka lupakan.


"Ah maaf pak" jelas Aliee dengan tidak enak hati "papa, Ani kenalin ini Gabe, Gabe ini bapa aku dan adik perempuan aku."


Kali ini Gabe berdiri dari tempat duduknya dan membungkuk sedikit di hadapan orangtua dari Aliee seperti pertama masuk tadi.


"Salam kenal, aku Gabe kekasih dari anak anda bernama Aliee."


"Ouh kekasih" teriak Ani dengan semangat.


"Kau tidak keberatan bukan untuk menunggu anakku mandi dan bersiap-siap."


Gabe menatap perhatian yang ayah dari Aliee yang menatap Aliee dengan tatapan ga habis pikir seorang anak perempuan datang dengan rambut berantakan dan begitu juga dengan pakaian Aliee yang tak kalah berantakannya. Gabe juga menatapnya heran, biasanya mereka para wanita selalu berpenampilan yang menarik agar menarik perhatiannya.


"Kamu mandi saja dulu, aku mau kenalan sama keluarga kamu" wajah tampan itu tersenyum dengan bahagia.


"Dasar gila."


Aliee masuk ke bagian dalam rumahnya dan pada saat itu Ani memberikan air minum ke Gabe sebagai formalitas yang sering di lakukan pemilik rumah yang selalu memberikan air minum kepada tamunya. Gabe kenalan dengan keluarga dari Aliee dengan santai. Gabe menyukai kehangatan keluarga ini dan dirinya menatap ruangan yang bisa di bisa di bilang seukuran dengan kamar mandinya sebagai ruang menyambut tamu.


Tidak butuh waktu lama untuk Aliee selesai dengan rutinitas wanita untuk bersiap-siap dirinya di kagetkan dengan sikap Gabe yang menurutnya sangat aneh. Tak kalah syok lagi dengan mendengar ucapan dari sang ayah yang membicarakan hal yang tidak pernah terlontar.


"Jadi kapan kalian merencanakan untuk menikah."


Next Episode