
Kecewa dan patah hati, itulah yang dirasakan oleh Elnara saat ini. Seakan belum cukup sampai di sana, Mikha dengan teganya mengirim foto dirinya dan Zayan yang tengah makan malam berdua dengan suasana yang romantis.
"Kenapa Mas Zayan sejahat ini sama aku?" gumam Elnara lirih.
Malam itu, Elnara hanya bisa menangis seorang diri. Hatinya sakit, dia tidak bisa mempertahankan pernikahnnya. Semua yang telah dia lakukan selama 1 bulan ini berakhir sia-sia.
Malam itu, Zayan tidak pulang ke rumah. Bahkan pria itu tidak memberi kabar pada Elnara. Pada akhirnya, Elnara menghabiskan malam dengan menangis meratapi patah hatinya. Sungguh menyedihkan melihat bagaimana akhir dari perjuangan Elnara selama ini dalam upaya menaklukan hati suaminya sendiri.
*
Di sisi lain, Fian tengah meratapi kisah cintanya yang hanya bertepuk sebelah tangan. Fian mencintai Elnara hingga dia menutup mata mengenai fakta bahwa gadis itu sudah memiliki suami.
Setelah pembicaraan mereka hari itu, Fian merasa Elnara semakin menjauhinya. Dia sadar bahwa apa yang sudah dia lakukan sangatlah tidak pantas dan sangat wajar jika Elnara marah padannya.
Di tengah kegalauannya, Fian meminta Vika untuk menemaninya. Kedua sahabat itu menghabiskan waktu disalah satu club malam. Mereka tidak melakukan apapun selain berbagi kisah.
"Cara yang lo lakuin salah, Fian. Walaupun, lo sahabat gue dan gue dukung lo sama El, tapi gue tetap akan bilang lo salah!" tegas Vika saat mendengar cerita dari Fian.
"Gue tahu gue salah, gue terlalu gegabah dan gue rasa El sudah benci gue. Dia bahkan menghidar, gue bingung harus gimana lagi." Fian berkata dengan frustasi, pria itu bahkan menjambak rambutnya sendiri.
"Gue nggak akan bilang apapun, lagian lo sudah dikasih peringatan sama Mas Okta, tapi masih ngeyel dan akhirnya lo menyesal sendiri." Vika tertawa mengejek pada Fian yang terliihat semakin frustasi.
"Gue nggak tahu deh, pusing gue! Malam ini gue mau minum sampai ngga sadar, jadi gue bisa lupain masalah ini sebentar."
"Jangan gila deh lo! Gue kesini cuma cari hiburan dan nemanin lo cerita, bukan mau ngurusin lo mabuk!" Vika menatap tidak suka pada Fian yang kini sudah memesan minuman memabukkan.
"Lo jadi sahabat nggak asik banget sih! Lo tenang aja, nanti hubungin teman gue buat antar gue pulang."
Mendengar ucapan Fian, mau tidak mau Vika akhirnya mengalah. Dia akan membiarkan Fian berbuat sesuka hati, toh pria itu sendiri yang akan merasakan akibatnya nanti.
Saat sedang menatap Fian yang begitu menikmati minumannya, Vika dikejutkan dengan panggilan masuk diponselnya. Sebuah nama yang sangat dia hindari menelpon. Vika tidak ingin berhubungan dengan orang itu karena itulah dia mengabaikan.
Panggilan berakhir dan kini digantikan sebuah pesan dari orang yang sama. Vika mengendus kesal sambil membuka pesan itu.
*Melakukan 2 kesalahan.
Masuk ke club malam
Mengabaikan telponku*
"Sial, sekarang dia jadi penguntit!" dengus Vika kesa saat melihat pria itu berdiri tidak jauh dari tempat duduknya.
"Siapa penguntiit?" tanya Fian yang mulai mabuk.
"Diem lo, gara-gara lo nih! Gue cabut duluan deh, nanti gue telpon teman lo buat jemput." Usai mengatakan hal itu VIka segera pergi meninggalkan Fian yang terus menikmati minumannya.
"Dasar aneh!" gerutu Fian menatap kepergian Vika yang bahkan tidak mau menoleh sama sekali.
Saat Vika menghilang ditengah kerumunan, mata Fian melihat seseorang. Pria yang Fian kenali itu tengah berjalan dengan tenang seolah mengikuti setiap langkah kaki Vika.
Namun, Fian tidak tahu haruskah dia mempercayai penglihatannya atau ini semua hanya ilusi karena saat ini dia sudah benar-benar pusing.
Langkah kaki Vika terhenti ketika melihat pria yang dia hindari itu sudah berdiri bersandar dipintu mobilnya. Dia sudah tidak bisa menghindar kali ini dan kesialannya malam ini karena Fian.
"Masuk ke mobil sendiri atau aku paksa?" itu bukan pertanyaan melainkan sebuah peringatan untuk Vika.
Tanpa berniat membantah, Vika dengan pasrah masuk ke dalam mobil. Dalam hati gadis itu mengeluh, seharusnya dia tidak berhubungan dengan pria tidak memiliki perasaan itu. Pria kejam yang berhasil merebut hatinya, tapi tidak pernah membalas perasaannya.
*
Setelah menangis semalaman hinggga tertidur disofa ruang tamu. Akhirnya Elnara bangun dan bersiap memulai kehidupannya yang baru. Ya, dia sudah bertekad untuk memulai kehidupan yang baru.
Hal pertama yang diilakukan Elnara adalah menelpon sang Papi dan bertanya apakah tawaran Papinya waktu itu masih berlaku.
"Halo, Nak!" sapaan hangat itu kembali membuat Elnara menangis.
"Papi, El ingin bertanya. Apa tawaran Papi masih berlaku?" pertanyaan Elnara tidak langsung dijawab karena Genta justru menghela napas berat.
"Kamu mau kembali?" tanya Genta dengan hati-hati.
"Ya, El mau kembali sama Papi dan Mami."
"Kalau begitu kembalilah, rumah kami selalu terbuka untuk putri kesayangan kami."
Mendengar ucapan Genta membuat Elnara menangis dengan sangat menyedihkan. Setelah dia kembali ke rumah orang tuanya, itu berarti pernikahannya dengan Zayan sudah berakhir.
"Maaf, Pi ... maaf karena El sudah gagal mempertahankan rumah tangga El." Elnara berbisik lirih disertai isak tangis menyayat hati.
Saat memutukan untuk kembali pada orang tuanya, Elnara juga memutuskan dia akan segera menggugat cerai Zayan. Seperti perjanjian waktu itu, setelah 30 hari berakhir maka dia akan melepaskan Zayan.
Elnara tidak akan pernah mengganggu Zayan lagi. Dia juga berjanji akan membuat Papinya tidak mengganggu Zayan dan keluarganya.
Elnara benar-benar melepas Zayan tanpa membuat keterikatan lagi. Semua telah berakhir semalam dan Elnara telah menguatkan hatinya untuk tetap utuh.
To Be Continue ~~>>