
Elnara seperti artis senior yang selalu bisa berakting menutupi kesedihannya. Setelah semalaman menangis kini gadis itu kembali beraktivitas seperti biasa. Menyiapkan sarapan untuk Zayan kemudian pergi ke kampus.
Bahkan di kampus Elnara bisa tertawa bersama Vika seperti biasa. Elnara ingat nasehat Maminya, bahwa apapun yang terjadi dalam rumah tangga bukanlah konsumsi publik. Cukup di dalam kamar Elnara menangis dan setelah itu tugasnya adalah tersenyum seolah hidupnya bahagia.
Namun, Vika yang mengenal Elnara selama bertahun-tahun tentu tidak bisa dibohongi begitu saja. Meski tahu ada yang Elnara sembunyikan, Vika memilih untuk diam dan bersikap seperti biasa.
"El, lo ada hubungi Fian?" tanya Vika membuka percakapan.
"Ya ampun, gue lupa Vika! Bentar gue chat orangnya dulu." Elnara menepuk jidat kemudian dengan buru mengirim pesan pada Fian.
"Ajak ketemuan El, biar kita bisa hangout bareng."
"Iya gue chat deh, kita ketemuan di cafe dekat kampus." Ucap Elnara seraya menunjukkan isi pesannya pada Fian.
"Yuk, gue sudah lapar nih sekalian kita makan siang." Dengan tergesa-gesa Vika menarik tangan Elnara membawa sahabatnya itu menuju parkiran.
Elnara tidak diizinkan membawa mobil karena itulah Vika selaku sahabat setia selalu mengantar-jemput Elnara ke kampus.
Tidak lama menunggu Fian datang seorang diri. Setelah 1 tahun tidak bertemu Elnara pikir sahabatnya itu banyak berubah. Misalnya saja terlihat semakin dewasa dengan pakaian kantornya.
"Hai, girls lama nggak ketemu kalian makin cantik aja." Sapa Fian dengan ciri khasnya yang tengil, tidak lupa pria itu menepuk pelan kepala Elnara dan Vika.
"Jelas gue makin cantik," ucap Vika dengan percaya diri.
"Bukan lo yang makin cantik, tapi El-nya gue yang makin cantik." Sahut Fian yang kini duduk di samping Elnara.
"Harap hati-hari bung, sohib gue sudah punya pawang." Ucapan Vika mengundang tawa dari Fian membuat gadis itu memukul kepala Fian dengan kesal.
"Stop, gue nggak mau kalian ribut ya. Mending sekarang kita makan." Seperti biasa Elnara akan selalu jadi penengah diantara Vika dan Fian yang sering bertengkar.
Baik Vika maupun Fian segera menutup mulut. Entah mengapa mereka selalu tidak bisa melawan Elnara jika gadis itu bersikap serius seperti ini.
Ketiganya menikmati makan siang sembari bercerita mengenai hal apa saja yang mereka lewati selama 1 tahun ini.
Dalam diam Fian selalu memperhatikan wajah cantik Elnara saat bercerita. Sejujurnya, Fian patah hati ketika mengetahui Elnara telah menikah. Namun, pria itu berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Dia tidak ingin Elnara merasa canggung dan hubungan mereka akhirnya merenggang.
"El, seandainya kamu tahu sampai detik ini aku nggak pernah bisa lupain kamu." ucap Fian dalam hati sambil terus menatap Elnara.
Mungkin terdengar jahat, tapi dalam hati Fian berharap jika pernikahan Elnara tidak berakhir bahagia. Fian berharap jika suatu saat nanti Elnara akan menjadi miliknya.
Vika yang melihat hal itu merasa sedih, dia tahu seperti apa perjuangan Fian dalam mendapatkan hati Elnara meski harus berakhir sia-sia. Elnara tidak pernah memiliki perasaan lebih pada Fian selain perasaan sebagai seorang sahabat.
Elnara sendiri tahu seperti Fian mencintai dirinya, akan tetapi Elnara tidak bisa memaksa hatinya untuk menerima cinta Fian. Elnara tidak bisa memberikan hal lebih untuk Fian selain persahabatan.
*
Di sisi lain, Almira merasa ada yang berubah dari Elnara. Selama 1 tahun ini Almira merasa putrinya itu semakin jauh. Seolah ada sesuatu yang menghalangi Elnara, tapi sampai detik ini Almira tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
Sebagai seorang Ibu, Almira tentu merindukan bagaimana sikap manja dan manis Elnara selama ini. Almira merindukan putrinya yang selalu merengek ingin dipeluk dan dimanja.
"Kenapa, sayang?" tanya Genta setelah mendengar Almira yang belakangan ini terlihat gelisah.
"Kangen El, Mas. Aku mau ketemu El, tapi kenapa dia sulit banget ditemui?" ucap Almira menunduk lesu.
"Nanti Mas telpon El, ya. Katanya dia banyak tugas kuliah, dia juga lagi bangun bisnis online shop."
Genta memang merasakan hal itu juga, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Dia sudah berjanji tidak akan mencampuri rumah tangga putrinya. Selama ini Genta menganggap selama Elnara tidak datang menangis padanya, maka semua baik-baik saja.
Genta percaya bahwa Zayan tidak akan berani menyakiti putrinya. Hidup Zayan dan keluarganya berada ditangan Genta, jika menantunya itu berani menyakiti Elnara, maka Genta memastikan hidup Zayan akan menderita.
"Kita doakan saja semoga El selalu baik dan bahagia. Nanti Mas meminta Zayan dan El menginap di sini, jangan sedih lagi." Dengan lembut Genta memeluk Almira, memberi ketenangan untuk istri tercintanya.
"Aku selalu berdoa agar El bisa dicintai seperti Mas mencintai aku. El itu sangat lembut, jadi sudah seharusnya dia menerima cinta yang begitu besar dari Zayan."
*
Okta baru tiba di kantor Zayan, bermaksud mengunjungi sahabatnya itu. Namun, dia dikejutkan dengan sosok Mikha yang duduk di kursi sekretaris. Okta bertanya-tanya sejak kapan Mikha menjadi sekretaris Zayan?
"Ngapain lo di sini?" tanya Okta sinis begitu tiba di hadapan Mikha.
Mikha menatap Okta terkejut, tidak menyangka jika Okta masih menjalin persahabatan dengan Zayan.
"Okta? Aku sekretaris baru Zayan. Kamu mau ketemu Zayan? Saya hubungi Zayan dulu, dia tadi nggak bilang kalau akan ada tamu."
Mikha terlihat gugup menatap Okta yang tampak sangat membencinya. Okta adalah saksi perjalanan cinta Zayan dan Mikha yang berakhir sia-sia.
Tanpa memedulikan Mikha yang sedang menghubungi Zayan, Okta segera berlalu membuka pintu ruangan sahabatnya itu tanpa permisi. Zayan menoleh dan tampak terkejut dengan kehadiran Okta.
"Sejak kapan perempuan itu jadi sekretaris lo?" tanya Okta tidak sabar.
"Tutup pintunya, Okta." Zayan berucap dengan tenang seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Nggak perlu, biar dia dengar apa yang mau gue omongin!" Okta menjawab kasar, pria itu masih berdiri di depan pintu sengaja membuka lebar pintu ruangan Zayan.
"Apa yang mau kamu omongin?" tanya Zayan santai tidak memedulikan ekspresi marah Okta.
"Bisa-bisanya lo jadikan dia sekretaris! Lo lupa siapa perempuan itu?"
"Nggak ada yang salah dengan dia jadi sekretaris saya. Profesional Okta, saya nggak peduli dia siapa asalkan kerja dia bagus dia bisa kerja dengan saya."
"Nggak ada salah lo bilang? Lo lupa dia ini mantan tercinta lo yang nggak tahu diri!"
"Okta!" Zayan menatap datar pada Okta yang terus berteriak marah.
"Kalau sampai adek gue tahu hubungan kalian, lo pikir dia nggak akan sakit hati? Dia pasti berpikir macam-macam karna lo kerja sama mantan lo sendiri! Gue yakin dia berusaha dekatin lo lagi."
"Okta cukup! Kita bicarakan diri berdua!" Zayan segera melangkah berdiri di depan Okta. Pria itu bermaksud membawa Okta ke dalam ruangan dan berbicara empat mata.
"Lo kenapa sih gelisah begitu? Jangan-jangan dia nggak tahu lagi status lo!" tuduh Okta tepat sasaran.
"Status apa?" Mikha yang sedari tadi mengamati akhirnya membuka suara.
"Lo nggak tahukan, Zayan ini sudah menikah. Gue ulang sekali lagi, Zayan sudah me.ni.kah!" Okta menjawab dengan sengaja menekan kata menikah agar Mikha sadar.
"Menikah?"
To Be Continue ~~>