Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 62 - Rahasia yang Terbongkar


Vika menatap Elnara dengan mata berkaca-kaca, siap menumpahkan tangisnya. Rahasia yang dia simpan rapat selama berbulan-bulan akhirnya terbuka juga.


"Vika, ini punya lo?" Elnara bertanya sekali lagi demi mendapat jawaban yang pasti.


"Ya," jawaban singkat Vika berhasil membuat Elnara menangis.


Gadis itu terduduk lemas di lantai kamar yang dingin. Tangan bergetar saat melihat hasil USG Vika.


"Tapi, kenapa perut lo...?" Elnara tidak bisa meneruskan pertanyaannya.


Vika mendekat ikut duduk di depan Elnara sembari menatap hasil USGnya. Rasanya masih sama menyesakkan, Vika kembali menangis mengenang hal menyakitkan ini.


"Dia ... sudah pergi bahkan sebelum gue sempat melihatnya."


Elnara menatap tak percaya pada Vika. Batin Elnara bertanya-tanya mungkin inilah alasan Vika melarang dia menghubungi wanita itu.


"Kenapa ... kenapa lo rahasiakan ini semua?" Elnara bertanya dengan air mata yang sudah mengalir deras.


"Maaf, maafin gue El. Gue cuma nggak mau melibatkan Mas Okta dan gue nggak mau lo ikut sedih."


"Lo nanggung sakit ini sendirian, Vi. Gue ngerasa nggak berguna buat lo."s


"Nggak El, lo sahabat terbaik gue. Maafin gue nutupi semua dari lo."


Keduanya berpelukan sembari menangis meratapi luka yang selama ini ditutupi. Vika tahu cepat atau lambat Elnara akan mengetahui rahasia ini, akan tetapi dia masih belum siap melihat bagaimana relasi Elnara.


Terbukti sahabatnya itu menangis dan terus menyalahkan diri sendiri. Kemarahan pada Okta yang sempat reda kini kembali membara, Elnara siap membakar Okta dengan kemarahannya.


"Gue harus kasih tahu Mas Okta, biar dia menyesal!" Elnara bersiap menelpon Okta ketika Vika menarik lengannya.


"Jangan, gue mohon jangan kasih tahu Mas Okta. Cukup lo yang tahu, gue nggak mau berhubungan sama dia lagi. Kalau dia tahu pasti dia akan merasa bersalah dan berusaha menebus rasa bersalahnya. Gue cuma mau menutup lembaran kisah gue sama Mas Okta."


Elnara terdiam, dia mengerti apa yang dirasakan oleh Vika. Wanita itu terluka sangat dalam dan dia sedang berusaha untuk menyembuhkan lukanya tanpa melibatkan masa lalunya.


Bagi Vika, hubungannya dengan Okta telah berakhir dan artinya mereka tidak terikat apapun lagi. Vika telah menutup rapat masa lalunya, dia akan bahagia tanpa Okta.


*


*


Sekarang di sinilah Elnara berada, di perusahaan milik keluarga Zayan. Dia mendapat informasi dari sekertaris Okta bahwa pria itu berada di sini.


Mata Elnara berkilat marah saat melihat Okta tampak senang. Pria itu tengah berbicara dengan Mira diselingi tawa, entah apa yang mereka bicarakan, sedangkan Zayan hanya menyimak tanpa tawa diwajah tampannya.


"Mas Okta!" panggil Elnara keras membuat ketiganya menoleh kaget.


"El? Ada apa?" tanya Okta tidak mengerti.


Elnara tidak menjawab melainkan melayangkan tamparan keras kewajah tampan Okta. Semua terkejut tidak menyangka akan aksi bar-bar Elnara.


"El, kenapa kamu tampar Okta?" tanya Mira kaget.


"Bukan urusan lo!" Elnara menjawab kasar.


Okta sendiri hanya bisa menatap tidak percaya pada Elnara. Entah apa yang terjadi pada gadis itu hingga menamparnya dengan keras.


"El, kamu kenapa? Mas salah apa?" tanya Okta setelah pulih dari rasa terkejutnya.


"Salah Mas banyak! Anggap saja itu salah satu tebusan untuk kesalahan Mas yang banyak itu!" Elnara kembali menjawab dengan kasar.


Elnara terlalu marah hingga tidak memedulikan Zayan yang sedari tadi memperhatikannya.


Pandangan Elnara beralih pada Mira yang masih menatapnya tidak percaya.


"Lo jangan dekat-dekat Mas Okta lagi. Gue alergi ngeliat kedekatan kalian!" Elnara melotot marah sebelum akhirnya pergi begitu saja.


"Dia kenapa?" tanya Zayan yang sedari hanya diam memperhatikan.


"Salah minum obat kali. El benar-benar adek kurang ajar, sakit juga tamparannya." Okta memegang pipinya yang tampak memerah bekas tamparan Elnara.


"Mending kamu kompres pipi kamu sebelum bengkak." Ucap Mira pelan, wanita itu sedikit takut mengingat bagaimana ganasnya Elnara menampar Okta.


Okta tidak menjawab, pria itu hanya berlalu begitu saja. Dalam benaknya dia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya membuat Elnara begitu marah? Apakah ini ada kaitannya dengan Vika?


Sayangnya, seberapa keras Okta mencoba mengingat apa yang sudah dia perbuat tidaklah membuahkan hasil. Okta tidak merasa berbuat kesalahan apapun baik pada Elnara maupun Vika.


Bersambung ~~