
3 tahun kemudian.
Elnara dan Vika menatap bahagia kedua anak mereka yang tengah berlari di taman. Alzam yang saat ini berusia 3 tahun terlihat seperti sosok kakak bagi Ashilla.
Putri kecil Okta dan Vika bernama Ashilla yang lahir 2 tahun lalu. Begitu cantik dan lincah seperti Vika.
"Nggak terasa ya Vi kita sudah punya anak. Perasaan baru kemarin kita lulus SMA dan sekarang sudah jadi Ibu-Ibu." Elnara tertawa kecil merasa waktu berlalu dengan cepat.
"Kita menikmati waktu El makanya terasa cepat. Anak lo bahkan sudah mau dua," Vika ikut tertawa seraya melirik ke arah perut Elnara yang terlihat sedikit lebih besar.
Elnara mengusap perutnya dengan lembut, usia kandungannya baru 3 bulan.
"Gue sebenarnya belum mau kasih Alzam adek, tapi Mas Zayan mau cepat-cepat. Katanya biar jarak Alzam sama adeknya nggak terlalu jauh."
"Duh, lo tau nggak gara-gara lo hamil tuh Mas Okta juga mau ngasih Ashilla adek. Gue mah ogah, Ashilla masih kecil gue mau dia nikmati disayang dan dimanja dulu."
"Lo bener sih, gue juga mikirnya gitu. Sayangnya Mas Zayan tetap mau gue hamil lagi."
"Orang bucin memang beda," Vika menertawakan Elnara yang hanya bisa memasang wajah cemberut.
"Lo juga bucin!" balas Elnara kesal.
"Iya deh sesama bucin dilarang mengejek."
Kedua wanita itu tertawa bersama. Mereka diam-diam mengingat bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkan pria yang mereka cintai.
Di tempat lain, kedua pria yang juga bersahabat itu sedang menghabiskan waktu bersama. Mereka tidak mau dengan para wanita yang sedang bersantai di taman.
Di sinilah Zayan dan Okta berada, di sebuah cafe sembari menikmati secangkir kopi dan beberapa potong kue.
"Gimana proyek yang kemarin?" tanya Zayan membuka percakapan.
"Lancar, lo tahulah ada Papi yang bantu pasti lancar." Okta menjawab dengan semangat sembari sedikit bercerita mengenai proyek baru yang dia rancang.
"Bagus, semoga semakin lancar. Saya dengar klien kami dari luar negeri?"
"Iya katanya sih dari Australia, minggu depan perwakilan mereka datang untuk bahas kontrak lebih lanjut."
"Kamu nggak apa-apa?" pertanyaan Zayan menyiratkan sesuatu.
"Santai, lagipula perusahaan di Australia bukan satu doang. Nggak mungkinlah gue ketemu dia." Okta menjawab santai seolah tidak ada beban berat yang dia pikul.
"Semoga saja," gumam Zayan.
Okta terlihat yakin dengan ucapannya, dia percaya diantara banyak perusahaan besar di Australia tentu tidak mungkin salah satunya milik orang yang dia benci.
Namun, mungkin Okta akan kuasa Tuhan. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Mungkin saja keyakinan Okta itu mendatangkannya pada sosok yang dia tidak pernah mau temui.
Tidak ada yang tahu jalan takdir Tuhan, bukan?
*
*
Okta terlihat menunggu klien dari Australia yang sudah membuat janji untuk bertemu di sebuah restoran mewah. Okta belum tahu siapa nama kliennya, yang dia tahu hanya pria itu berasal dari Indonesia.
Sebuah panggilan masuk terlihat diponsel Okta, pria itu menangkan detak jantungnya sebelum menjawab panggilan masuk itu.
"Iya halo," sapa Okta ramah.
"Saya sudah di dalam restoran, Anda di meja nomor berapa?"
Okta terkejut tidak menyangka akan mendengar suara itu. Suara yang paling dia benci dan seolah meyakinkan bahwa dia tidak salah mendengar sosok pria yang selama ini dia hindari muncul.
Pria paruh baya itu berdiri mematung di tempatnya, menatap terkejut pada sosok Okta yang juga sama terkejutnya. Inilah takdir yang tidak pernah mereka sangka.
"Okta!" pria itu memanggil lirih.
Okta segera tersadar dan berjalan cepat menghindari pria yang merupakan Ayah kandungnya itu.
Okta membawa mobilnya dengan laju menuju rumah. Dia membutuhkan Vika untuk menjadi sandarannya.
"Mas Okta, ada apa?" tanya Vika bingung ketika Okta pulang dengan wajah pucat dan memeluknya erat.
"Dia ... dia datang Vika." Okta berbisik lirih sambil mengeratkan pelukannya.
"Dia siapa, Mas?" tanya Vika tidak mengerti.
"Pria yang seharusnya Ayah kandung Mas, tapi dia bahkan tidak pantas mendapat gelar itu."
Vika mengerti, dia sudah tahu tentang cerita masa lalu Okta. Ayah kandung Okta adalah pria kejam sering menyiksa Okta. Sewaktu berusia 10 tahun Okta hampir meninggal tenggelam karena dihukum berdiri ditengah kolam renang sampai berjam-jam.
Beruntung ada Genta yang menyelamatkan nyawa Okta. Berkat Genta pula Ayah kandung Okta itu terpaksa pergi menjauh dari Okta karena diancam akan dipenjarakan.
Okta memiliki trauma tersendiri dan dia sangat membenci Ayahnya itu. Selama ini hanya Genta yang dia anggap sebagai sosok Ayah yang baik dan hangat. Genta yang menyayangi, menjaga serta membimbingnya hingga sukses.
"Nggak apa-apa, Mas. Mas nggak perlu takut, ada aku dan Ashilla di sini. Mas pria hebat dan kuat jadi dia nggak akan bisa berbuat jahat lagi sama Mas." Ucap Vika menenangkan sembari menepuk-nepuk pelan punggung Okta.
Okta menjadi lebih tenang, dia sadar semua orang di sekitarnya akan selalu ada di sampingnya. Ada Vika dan Ashilla yang harus dia jaga, dia tidak boleh lemah karena pria jahat itu.
"Terima kasih karena kamu dan Ashilla sudah menjadi penguat untuk Mas." Okta berbisik lirih sebelum akhirnya mengecup pelan kening Vika.
Tidak ada hentinya Okta mengucap syukur atas semua yang Tuhan berikan untuknya. Dia tidak merasakan kasih sayang orang tua, tapi Tuhan mengirimkan Genta dan Almira serta Elnara yang selalu menyayanginya.
Tidak cukup sampai di situ, Tuhan kembali mengirimkannya sosok Vika yang mengajarkannya tentang cinta yang tulus. Tidak lupa pula sebuah anugerah indah yang bernama Ashilla Tuhan berikan seolah sebagai sebuah hadiah atas semua luka yang dia lalui.
Tuhan maha adil, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Tuhan seberapa kuat kita menghadapi setiap cobaan dan ketika berhasil melewatinya Tuhan mengirimkan hadiah indah sebagai bentuk rasa sayang Tuhan pada kita.
Tamat ~~
Terima kasih untuk readers setia. Terima kasih untuk semua dukungan kalian yang buat author selalu semangat 😊
Semoga kita semua di tahun 2023 bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan apa yang kita inginkan bisa tercapai ditahun 2023 ... aamiin
Author sudah menyiapkan novel baru untuk menemani awal tahun kalian semua. Dukung terus setiap karya author ya biar semakin semangat menghasilkan karya yang lebih baik lagi 🥰❤️
Judul : Arumi