
Vika menatap Okta dengan penasaran, tadi suaminnya itu mengatakan ingin membicarakan hal penting.
"Tolong kamu jangan tersinggung, Mas cuma mau mengatakan hal ini untuk jadi bahan pertimbangan." Okta menggenggam erat tangan Vika, terlihat sekali pria itu ragu untuk berbicara.
"Kenapa, Mas?" tanya Vika bingung.
"Kamu sangat ingin punya anak?" pertanyaan Okta membuat Vika menatapnya bingung.
"Tentu Mas,"
"Sebenarnya Mas ingin kita menunda punya anak. Usia kamu baru sembilan belas tahun, Mas cuma mau kamu menikmati masa muda kamu dulu. Kamu bisa menunggukan?"
"Vika siap Mas untuk jadi seorang Ibu. Apa Mas nggak percaya Vika bisa menjadi Ibu yang baik?" Vika menunduk lesu, perasaan kecewa itu tidak bisa dihindari.
"Mas percaya kamu bisa jadi Ibu yang baik, tapi Mas belum siap. Mas juga berpikir kamu masih muda dan seharusnya kamu menikmati masa muda kamu seperti El."
Vika memilih diam karena merasa Okta tidak akan mengubah pendapatnya. Okta benar Vika masih muda dan seharusnya menikmati masa mudanya, tapi ketika Vika memilih untuk menikah diusia muda tentu semua dengan segala pertimbangan.
Bagi Vika menikah sama dengan siap memiliki anak. Apapun risikonya tentu sudah menjadi tanggung jawab Vika sebagai seorang istri dan Ibu.
"Vika, ini bukan berarti Mas nggak mau punya anak. Hanya saja ada beberapa pertimbangan yang membuat Mas memilih lebih baik kita menunda. Mungkin satu atau dua tahun yang nanti kita sudah siap menjadi orang tua."
1 atau 2 tahun mungkin Vika akan menahan keinginannya untuk memiliki anak. Namun, bagaimana dengan keluarga Okta? Bagaimana dengan orang-orang di luar sana yang pasti akan terus bertanya kapan mereka memiliki anak?
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang untuk menanyakan hal itu dan Vika tidak tahu apakah dia akan bertahan menghadapi pertanyaan yang sama berulang kali selama 1 atau 2 tahun.
*
*
"Jadi Mas Okta belum siap punya anak?" tanya Elnara saat Vika menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya dan gue cukup kecewa. Dari awal gue sudah yakin akan dapat pertanyaan yang sama berulang kali. Gue sudah cukup muak, tapi gue nggak bisa berbuat banyak."
Elnara cukup mengerti dengan perasaan Vika dan dia cukup salut karena sahabatnya itu mampu bertahan di tengah cercaan pertanyaan 'sudah hamil belum'.
"Menurut gue Mas Okta itu egosi. Dia memutuskan sendiri tanpa bertanya, coba lo bicarakan lagi nanti sepulang honeymoon."
"Menurut lo, apa mungkin Mas Okta masih ragu sama pernikahan ini?" tanya Vika tanpa menutupi rasa sedihnya.
"Jujur gue nggak tahu, tapi gue berharap Mas Okta nggak ragu sama pernikahan kalian. Lo bilang mau jalani pernikahan ini dengan bahagia 'kan? Kalau gitu buang jauh-jauh pikiran negatif lo."
Vika mengangguk ragu, apa yang dikatakan Elnara benar. Dia yang sedari awal meyakini pernikahan ini, seharusnya dia tidak berpikir buruk karena hanya akan merusak kebahagiaan yang susah payah dia bangun.
*
*
Okta dan Vika sudah pulang dari honeymoon mereka. Saat ini keduanya sudah disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Vika dengan setumpuk tugas kuliah dan Okta dengan setumpuk dokumen kantor.
Di tengah kesibukan mereka entah mengapa Vika mereka Okta sedikit menjauh. Pria itu selalu berangkat ke kantor pagi-pagi dan pulang malam. Tidak banyak waktu yang mereka habiskan bersama.
Hal ini membuat Vika bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Keingintahuan Vika membuat dia terpaksa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Di sinilah Vika berada, di sebuah kawasan apartemen elit. Vika sengaja mengikuti mobil Okta diam-diam dan sekarang dia tengah menunggu di basement. Perasaan tidak karuan, dia takut menemukan hal mengerikan.
Tidak lama Okta masuk ke dalam mobilnya kemudian pergi begitu saja. Vika sudah akan menarik napas lega ketika melihat seseorang yang tidak asing sedang berdiri tidak jauh dari mobil Okta tadi.
Dia adalah Mira, mantan tunangan Okta! Jantung Vika berdegup kencang memikirkan segala kemungkinan buruk.
Dengan tangan bergetar Vika mencoba menelpon Okta bermaksud menanyakan keberadaan pria itu. Vika berharap Okta jujur karena setidaknya Vika merasa pria itu tidak menutupi apapun.
"Mas Okta, di mana?" tanya Vika langsung ketika Okta mengangkat panggilannya.
Jeda beberapa detik sebelum Okta menjawab.
"Mas lagi di kantor, ada apa?"
Vika sudah paham sampai di sini. Mulai dari perubahan Okta, munculnya Mira dan sekarang kebohongan suaminya itu. Semua sudah jelas dan Vika paham apa yang akan terjadi pada rumah tangganya.
Mungkin dia harus merelakan kebahagiaan sesaat ini dan mengembalikan Okta pada pemilik hati pria itu. Seharusnya dia mendengar ucapan Elnara dulu bahwa mungkin dia hanyalah pelarian Okta dari rasa frustasi pria itu.
Bersambung ~~
Rekomendasi novel menarik untuk kalian. Yuk, mampir dan dukung karyanya 😉👇
Judul : Cintai Aku Istriku!
Author : Mom Al
Blurb :
Tidak pernah di cintai oleh istrinya sendiri, membuatnya selalu berusaha untuk mencari perhatian agar sang istri bisa jatuh cinta kepadanya
-- Fareza Syarief (32tahun).
Airin Kusuma (26tahun) langsung menjadi janda ketika beberapa jam baru saja sah menjadi istri seorang pengusaha Furniture, pernikahan yang singkat membuat Airin di cap sebagai wanita pembawa sial oleh orang lain.
Bagaimana kisah asmara mereka selanjutnya? Dan bagaimana kehidupan Airin ketika ditinggal oleh sang suami?