Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 29 - Sebuah Kepercayaan


Elnara merasa sangat kecewa dengan Fian yang bersikap di luar batas. Belakangan ini Fian banyak berubah dan perubahan itu membuat Elnara tidak nyaman.


"Kenapa, El?" tanya Vika begitu duduk di depan Elnara yang tengah melamun di kelas.


"Gue tadi ketemu sama Fian dan nggak tahu kenapa dia semakin berubah. Dia tadi ngomongin soal Mas Zayan dan lo tahu cara dia ngomong jelas banget dia mau jatuhin Mas Zayan."


Vika tidak terkejut mendengar cerita Elnara karena dia juga berpikir belakangan ini Fian semakin gencar mendekati Elnara lagi.


"Dia nyuruh lo untuk nggak percaya gitu saja sama suami lo?" tebak Vika tepat sasaran.


"Iya, dia bersikap seolah mengenal Mas Zayan. Dia benar-benar menjelekkan Mas Zayan dan menghasut gue untuk nggak percaya sama perkataan Mas Zayan."


"Biar gue yang ngomong sama dia, lo nggak usah ketemu dia untuk beberapa waktu. Gue rasa dia sudah melewati batas dan cara yang dia ambil benar-benar licik."


Elnara hanya mengangguk, dia setuju dengan perkataan Vika. Menjauh dari Fian adalah yang terbaik, selain agar tidak menciptakan pertengkaran juga untuk mencegah perasaan Fian semakin besar padanya.


*


Elnara sedang sibuk dengan ponsel ketika Zayan duduk di sampingnya. Zayan baru selesai mandi dan saat ini mereka berada di kamar.


"Kamu ada tugas kulliah?" tanya Zayan pelan.


Elnara menoleh, kemudian menggeleng singkat. "Nggak ada, kenapa Mas?"


"Saya mau ngajak kamu keluar sekalian kita makan malam di luar. Kamu mau?" tawaran yang tentu tidak akan dilewatkan oleh Elnara.


"Mau Mas, kalau gitu El ganti baju dulu ya." Dengan penuh semangat Elnara berlari menuju walk in closet.


Zayan hanya tersenyum tipis melihat betapa semangatnya Elnara. Tentu saja Elnara bersemangat karena ini merupakan hal yang langkah.


"Saya izin sama Papi Mami ya, sekalian saya tunggu di bawah." Ucap Zayan sedikit berteriak agar Elnara bisa mendengar suaranya.


Elnara hanya menyahuti seadanya karena kini sedang sibuk memiliki pakaian yang menarik. Hatinya berbunga-bunga, tidak menyangka Zayan sudah mulai membuka diri.


Sementara di ruang tamu, Zayan tengah meminta izin pada Genta dan Almira untuk membawa Elnara makan malam di luar. Ingin rasanya Almira menertawakan Zayan yang terlihat begitu kaku, seakan gadis yang diajak keluar adalah pacarnya.


"Zayan izin ngajak Elnara makan malam di luar, bolehkan?" tanya Zayan hati-hati.


"Tentu saja boleh, kalian ini suami istri jangan terlalu kaku. Atau kalian mau Papi rekomendasikan restoran?" ujar Genta dengan semangat memberi tawaran untuk Zayan.


"Nggak perlu Pi, biarkan mereka bersenang-senang berdua. Kalian boleh pergi keluar, tapi berhati-hati karena wartawan mengincar kalian. Ingat jika ada wartawan yang bertanya, tidak perlu dijawab." Ucap Almira memberi peringatan karena beberapa hari ini wartawan sudah mulai bergerak mencari informasi apa saja mengenai keluarga mereka.


"Iya, Mi. Papi sama Mami tenang saja, kami akan cari restoran yang privasi jadi nggak akan ada yang kenali kami." Perkataan itu datang dari Elnara yang sudah siang dengan dress cantiknya.


"Kalau gitu kami pergi, permisi Papi Mami." Zayan dan Elnara segera pergi dengan perasaan berbunga-bunga, seperti pasangan kekasih yang baru jatuh cinta.


"Menurut Papi, kapan masalah ini bisa selesai?" tanya Almira ketika Zayan dan Elnara sudah pergi.


"Sebenarnya masalah ini bisa diselesaikan dari kemarin, tapi Zayan sepertinya merencanakan sesuatu." Almira menoleh mendengar jawaban Genta yang terdengar begitu santai.


"Rencana apa?" tanya Almira penasaran.


"Papi juga nggak tahu pasti, tapi biarkan saja tugas kita sebagai orang tua cukup memantau dari jauh. Papi yakin Zayan bisa mengatasi masalah ini dengan mudah, lagipula ada Okta yang siang membantunya."


"Mami harap masalah ini cepat selesai, Mami nggak mau kalau sampai El yang jadi korbannya."


"Mami tenang saja, dari yang Papi lihat ada perubahan dihubungan Zayan dan El. Papi yakin Zayan nggak akan membiarkan El terluka."


Almira tidak menjawab melainkan hanya mampu berdoa di dalam hati agar Elnara tidak terluka lagi. Sebenarnya Almira tidak sabar melihat pembalasan untuk Mikha, tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena Zayan telah menyiapkan rencana lain.


Di sisi lain, Mikha yang melihat Zayan tidak melakukan apapun semakin marah. Dia merasa diremehkan, terlebih melihat bagaimana kedekatan Zayan dan Elnara akhir-akhir ini.


Mikha tidak terima karena dia telah berbuat sejauh ini, tapi Zayan justru mengabaikannya dan menganggap ancaman yang dia berikan hanya angin lalu.


Dengan marah Mikha menelpon seseorang yang selama ini membantunya. Mikha merasa mereka harus bergerak cepat atau hubungan Zayan dan Elnara semakin membaik.


"Kita harus melakukan rencana itu. Jangan sampai mereka semakin dekat dan kita nggak punya cela untuk merusak hubungan mereka. Gue nggak rela kalau El bahagia sama Zayan karena Zayan cuma milik gue!"


Usai mengatakan hal itu Mikha segera memutuskan panggilan. Jika rekannya itu tidak bertindak cepat, maka Mikha sendirilah yang akan bergerak. Dia semakin cemburu melihat bagaimana Zayan memperlakukan Elnara.


"Berbahagialah sebentar karena kamu akan menangis darah nantinya!" gumam Mikha menatap penuh dendam pada Elnara yang berjalan di samping Zayan.


To Be Continue ~~>>


Rekomendasikan novel keren dan menarik untuk kalian. yuk, mampir dan dukung karyanya 😊


Judul : Anyelir


Author : Hilmiath_



Blurb :


Anyelir adalah bunga paling kuat yang dapat bertahan selama dua minggu setelah di letakkan dalam vas bunga, bahkan bunga ini akan semakin terbuka kelopak nya saat berada lama di vas bunga. Begitulah sang pemeran utama dalam kisah ini. Tentang dia gadis kuat yang berusaha terlihat baik-baik saja di tengah luka yang di alaminya. Tanpa siapa yang tahu jika gadis tersebut memiliki gangguan Psikologis Self Injury. Setelah di hancurkan oleh keluarganya yang brokenhome gadis tersebut juga di hancurkan olah orang yang di cintainya. Tidak berhasil dalam percintaan memang, tapi ia memiliki sahabat yang selalu ada untuknya. "Akulah pemeran utama ini, pemeran utama yang hanya menjadi pemeran figuran untuk dia yang ku anggap akan menemaniku dalam setiap jalan kisahku,"