
Selama 1 tahun belakangan ini Genta selalu merasa curiga pada pernikahan Elnara dan Zayan. Tidak bisa dipungkiri jika pernikahan itu berawal dari ancama Genta pada Zayan, tapi sebagai seorang ayah tentu saja Genta tidak ingin jika Zayan menyakiti hati putrinya.
Beralasan tidak ingin Zayan berbuat curang terhadap sang putri tercinta, diam-diam Genta mengirim mata-mata untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat ini Genta sedang menunggu laporan dari mata-mata kepercayannya.
Tidak lama mata-mata bernama Wika datang, dia adalah mata-mata yang bisa diandalkan oleh Genta karena bekerja di perusahaan milik keluarga Zayan.
“Bagaimana, Wika?” tanya Genta langsung.
Wika menyerahkan sebuah amplop coklat yang berisi banyak foto kebersamaan Zayan dan seorang wanita. Dari melihat foto-foto itu sudah bisa Genta simpulkan jika Zayan berani berbuat curang di belakang Elnara.
“Wanita itu bernama Mikha dan dia adalaha sekertaris Pak Zayan yang baru. Dari yang saya tahu mereka sepasang mantan kekasih dan untuk alasan mereka putus saya belum tahu, Pak. Dari beberapa karyawan yang menjadi saksi, mereka melihat awal masuk Mikha selalu mendekati Pak Zayan, tapi tidak pernah direspon oleh Pak Zayan. Baru beberapa minggu ini mereka terlihat sering bersama, seperti makan siang bersama atau pulang kerja bersama.”
Genta memillih diam, dia sedang berusaha mengendalikan emosinya. Kedua tangannya mengepal erat, tidak menyangak jika putri yang sangat dia cintai harus mengalami ini semua. Genta akan membalas kedua manusia tidak tahu malu itu, dia akan membuat mereka menyesal telah berani menyakiti hati putri dari Genta Selim.
“Terima kasih, kamu boleh pergi. Tetap awasi mereka dan terus sampaikan kabar terbaru mengenai keduanya, jangan lupa cari informasi alasan mereka putus. Cari tahu juga latar belakang wanita itu, temukan cela sekecil mungkin untuk bisa menjatuhkannya!” ujar Genta memberi perintah.
Wika mengangguk hormat dan segera pamit undur diri. Dia harus segera melaksanakan perintah dari Genta.
Genta sangat marah dan dia bersiap untuk menyusun rencana membalas sikap curang Zayan. Namun, belum sempat Genta menjalankan rencana tiba-tiba saja Elnara datang.
Elnara tersenyum lembut pada Genta seolah menenangkan kemarahan Papinya. Elnara yakin Papinya itu sudah tahu apa yang terjadi pada pernikahannya.
"Papi," panggil Elnara dengan lembut.
"Kamu menyembunyikan semua ini, Nak?" Genta bertahan dengan lirih.
"Maafkan El, Pi ... El tahu mungkin membuat Papi dan Mami kecewa karena menutupi hal ini dari kalian. El tidak ingin menambah beban pikiran Papi dan Mami. Selama ini El berusaha untuk mengatasi semua masalah seorang diri, El ingin menjadi wanita dewasa yang tidak harus berlindung di balik orang tua."
"Maaf seharusnya Papi lebih peka sehingga kamu tidak harus merasakan sakit. Kamu tenang saja, Papi akan memberi pelajaran pada Zayan dan wanita itu."
Mendengar ucapan Genta membuat Elnara menggeleng pelan. Dia tidak ingin Genta bertindak terlalu jauh.
"Jangan, Pi. El nggak mau Papi bertindak terlalu jauh dan justru membuat Mas Zayan membenci El. Mungkin ini terdengar konyol, tapi El ingin bertahan dan berjuang sekali lagi. Tolong izinkan El berjuang lagi, El janji akan kembali pada Papi dan Mami jika nanti El gagal."
Genta merasa sakit melihat Elnara yang begitu mencintai Zayan, akan tetapi pria itu justru berbuat curang.
"Papi bisa apa kalau kamu yang meminta. Berjanjilah satu hal untuk kembali sama Papi dan Mami jika kamu sudah menyerah."
Elnara mengangguk setuju, tidak lupa memberikan senyum manisnya untuk sang Papi. Keduanya berpelukan erat, melepas rindu yang diam-diam menyusup di hati.
"Papi, jangan ceritakan ini sama Mami ya. Biarkan ini jadi rahasia kita berdua, El nggak mau Mami ikut sedih." pinta Elnara yang mau tidak mau disetujui oleh Genta.
Elnara berjanji dalam hatinya bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk membuat Zayan jatuh cinta. Berhasil atau tidaknya, Elnara akan menyiapkan hati yang kuat. Semua adalah keinginannya karena itulah dia tidak boleh mengeluh.
*
Tanpa mau repot-repot menatap dan menyapa Mikha, Elnara langsung membuka pintu ruangan Zayan. Dia sudah mengabari Zayan dan pria itu mengizinkannya.
Elnara sudah membuka pintu ruangan Zayan ketika suara Mikha yang memanggil namanya. Mikha melarang Elnara masuk ke ruangan Zayan tanpa izin.
"Maaf, El kamu nggak bisa masuk tanpa izin lebih dulu." Mikha tersenyum mencoba untuk menarik tangan Elnara.
"Saya nggak butuh izin kamu, kalau kamu lupa saya ini istrinya Mas Zayan!" Ucap Elnara tegas dan segera menepis tangan Mikha yang mencoba menyentuhnya.
"Tapi--"
"Satu lagi, saya ini istri atasan kamu, jadi tolong berbicara yang sopan!" potong Elnara cepat sebelum Mikha membantahnya.
Elnara segera masuk ke dalam ruangan Zayan dan menutup pintu tepat sebelum Mikha berhasil mengikuti langkahnya. Elnara sangat marah karena Mikha terlalu bersikap kurang ajar dan seolah-olah dia yang berkuasa.
Zayan sendiri hanya diam tidak berniat ikut campur pertengkaran kedua wanita itu. Melihat Zayan diam, Elnara segera mengambil posisi untuk berbicara serius pada suaminya itu.
"Mas Zayan, ada yang ingin El bicarakan." Elnara membuka percakapan dengan gugup.
Zayan segera mengalihkan perhatiannya, menatap wajah cantik Elnara dalam diam.
"Mas, El punya satu permintaan. El harap Mas Zayan mau mengabulkannya," ucap Elnara lirih.
"Apa itu?" Zayan bertanya dengan datar membuat Elnara mendesah lirih.
"El tahu pernikahan kita tidak normal, kita tidak seperti suami istri pada umumnya. El hanya ingin permintaan sederhana, El ingin kita menjalani pernikahan ini seperti sepasang suami istri pada umumnya."
"Apa maksud kamu, Elnara?" tanya Zayan tidak mengerti.
"El hanya butuh waktu tiga puluh hari, tolong wujudkan keinginan El untuk menjalani kehidupan suami istri yang normal. El janji, setelah tiga puluh hari dan Mas Zayan ingin pergi maka El akan mengikhlaskan. El tidak akan mengganggu Mas Zayan dan merelakan Mas bersama wanita yang Mas cintai."
Elnara berkata dengan hati-hati, dia tidak ingin Zayan salah paham nantinya. Keputusan Elnara ini sudah dia pikirkan dengan baik. Dia hanya ingin memiliki sedikit kenangan indah bersama Zayan meski pada akhirnya akan menjadi menyakitkan.
Elnara ingin merasakan menjadi seorang istri pada umumnya. Meski tahu yang akan dia jalani nantinya hanya sebuah permainan, Elnara tetap ingin menjalaninya.
Seperti perkataannya tadi, dia akan melepaskan Zayan dengan ikhlas setelah 30 hari berakhir. Elnara akan melepaskan pria itu dan kembali kepada orang tuanya. Mungkin terdengar menyedihkan, tapi dia sudah yakin akan keputusannya ini. Jika nantinya Zayan berubah pikiran dan ingin mempertahankan rumah tangga mereka, tentu itu adalah kado terindah dari Tuhan.
Zayan sendiri terdiam beberapa saat, pria itu terlihat berpikir sebelum mengambil keputusan. Tidak kunjung mendapat jawaban, Elnara akhirnya kembali bertanya pelan.
"Bagaimana, Mas Zayan?"
To Be Continue ~~>>