Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 54 - Hati yang Terluka


Vika merasa sangat sakit hati saat mendapati kenyataan Okta kembali menjalin hubungan dengan Mira. Kenyataan bahwa Okta mulai berubah dan kini kembali menjalin hubungan dengan Mira berhasil menampar Vika dengan keras.


Vika menghabiskan waktunnya menangis seorang diri di kamar. Tidak ada yang tahu betapa terlukanya Vika saat ini. Dia memilih untuk menyimpan lukanya sendirian sampai nanti saat dia sudah tidak sanggup menahan sakitnya.


Saat ini yang bisa Vika lakukan hanyalah bersikap seolah-olah tidak tahu apapun. Dia akan membiarkan Okta melakukan apapun yang pria itu inginkan. Vika seolah pasrah dengan nasib rumah tangganya.


"Vika, besok Mas harus ke Bandung. Mungkin sekitar dua hari, ada kerjaan yang harus Mas selesaikan di sana." Ucap Okta memberi tahu saat Vika sudah bersiap tidur.


"Iya Mas," jawab Vika seadanya.


Dia sudah cukup kecewa dengan sikap Okta belakangan ini dan sekarang pria itu memberi tahu bahwa dia akan berangkat besok disaat mereka sudah bersiap tiduran. Vika merasa Okta seolah tidak menganggapnya penting.


Sekali lagi Vika harus menelan rasa kecewanya seorang diri. Dia benar-benar harus mempersiapkan diri jika suatu hari nanti Okta memilih meninggalkannya.


*


*


2 hari berlalu begitu saja dan Vika belum mendapat kabar apapun dari Okta selain pria itu mengatakan sudah sampai di Bandung. Mungkin mulai sekarang Vika harus membiasakan diri dengan ketidakpedulian Okta.


Saat ini Vika berada tengah menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan seorang diri. Dia tidak bisa mengajak Elnara karena tidak ingin sahabatnya itu tahu kegundahan hatinya.


Vika berhenti di lampu merah dan saat menoleh matanya mendapati sebuah mobil yang tidak asing. Itu mobil milik Okta yang seharusnya masih dalam perjalanan pulang.


"Mas Okta?" Vika bergumam lirih sebelum akhrinya memutuskan untuk mengikuti mobil milik suaminya itu.


Mobil Okta berhenti di apartemen yang Vika kenali. Tidak lama Mira turun dari mobil Okta dan masuk ke dalam apartemen.


"Rasanya menyakitkan ya Mas. Seharusnya Mas jujur dan Vika akan melepaskan Mas bukan malah bersembunyi dan menyakiti hati Vika."


Vika memutuskan kembali ke rumah. Dia berusaha untuk tidak menangis meski rasanya sangat menyesakkan.


Vika terbangun dan mendapati keadaan kamar yang gelap menandakan Okta sudah pulang. Menghela napas lelah dia memutuskan untuk mencari Okta. Rupanya pria itu berada di ruang kerjanya sedang menelpon seseorang yang tidak Vika ketahui.


"Mira sudah kembali dan gue sudah tahu alasan kepergiannya. Gue marah dan nggak percaya gitu saja, tapi dia ngasih bukti."


Okta terdiam sejenak sepertinya mendengarkan ucapan orang yang dia telepon.


Vika sebenarnya tidak ingin menguping, akan tetapi rasa penasaran membawanya untuk tetap berdiri diam di depan ruang kerja Okta.


"Belakangan ini gue sama dia, bahkan sepulang dari Bandung gue ke apartemen dia dulu. Dia minta bantuan gue, cuma sekedar itu dan gue nggak tega menolak."


Vika seharusnya pergi saja karena pada akhirnya dia hanya akan tersakiti.


Jantung Vika berdegup kencang mendengar Okta menyebut namanya. Vika berharap Okta tidak mengatakan hal menyakitkan lagi.


"Gue nggak tahu ... gue belum sepenuhnya buka hati buat Vika. Gue nyaman sama dia, tapi gue belum bisa cinta sama dia. Sebenarnya ... gue masih belum bisa melupakan Mira. Lo tahukan bertahun-tahun kami berjuang mencari restu meski akhirnya dia pergi gitu saja."


Vika berlari menuju kamar, hatinya hancur berantakan. Meski dia sudah berusaha untuk menguatkan hatinya, tetap saja rasa sakit itu berhasil menghancurkan hatinya hingga tak berbentuk.


"Ya Tuhan, sakit ... sakit sekali rasanya!" Vika menangis memukul dadanya yang terasa sesak.


Berharap pada seseorang yang nyatanya tidak mampu melakukan masa lalu sungguh menyakitkan. Mungkin benar seorang pria bisa memperlakukan wanita dengan manis meski tanpa menyimpan perasaan.


Itulah yang Vika rasakan, dia dibawa terbang dengan segala perlakuan manis dari Okta dan pada akhirnya dia harus tertampar kenyataan. Okta memperlakukannya dengan manis hanya karena dia istri pria itu.


"Kamu anggap aku apa selama ini Mas? Kenapa kamu bisa setega ini sama aku?" Vika hanya bisa menangis meratapi nasib kisah cintanya yang berakhir dengan menyedihkan.


Nyaman bukan berarti cinta, tapi bukankah seharusnya kenyamanan bisa mendatangkan cinta?


Bersambung ~~


...****************...


Rekomendasi novel menarik untuk kalian. Yuk, mampir dan dukung karyanya 😉👇


Judul : Menjadi Madu Sahabatku


Author : Ayu Andila



Blurb:


Dia tidak menyangka kalau akan menjadi pemeran antagonis dalam kehidupan sahabatnya.


Viola Rinjani, seorang gadis muda berusia 23 tahun harus terpaksa menikah dengan seorang pria yang merupakan suami dari sahabatnya sendiri.


Awalnya, Viola menolak tawaran pernikahan itu. Namun, keadaan yang terus memburuk terasa mencekik leher Viola hingga membuatnya harus mengambil keputusan untuk menjadi istri kedua.


Biduk rumah tangga pun dimulai, akankah Viola berhasil melewatinya ?


Atau terpuruk dengan segala siksaan dan hinaan yang dilayangkan oleh semua orang?