
Elnara berusaha melupakan rasa kecewanya ketika Zayan bahkan tidak mengingat hari ulang tahunnya. Disisa waktu yang dimiliki, Elnara hanya ingin menikmati waktu bersama Zayan.
Tidak masalah jika dia kecewa saat ini, yang terpenting adalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Untuk menghabiskan sisa waktu, Elara berencana mengajak Zayan untuk liburan bersama.
"Mas Zayan bisa nggak cuti mendadak?" tanya Elnara ketika keduanya tengah makan malam bersama.
"Memangnya ada apa?" Zayan bertanya balik, kini pria itu terlihat lebih santai.
"El mau ngajak Mas libur berdua. Selama kita nikhakan nggak pernah liburan berdua, mungkin ini akan jadi liburan pertama dan terakhir kita."
Zayan terdiam sejeank, pria itu tampak berpikir dengan serius. Mungkin sedang mempertimbangkan usulan Elnara.
"Saya lihat jadwal dulu, sepertinya ada waktu kosong tiga atau empat hari." jawaban sederhana itu mampu membuat Elnara tersenyum lebar.
"Makasih Mas," ucap Elnara tersenyum bahagia.
"Memangnya kamu mau liburan kemana?"
"Gimana kalau Labuan Bajo?"
"Boleh, nanti saya siapkan tiket dan hotel jadi kamu tinggal packing."
Elnara mengangguk dengan penuh semangat, liburan indah yang dia bayangkan selama ini kini ada di depan mata. Elnara berharap semua berjalan lancar dan semoga Mikha tidak mengganggu liburan mereka.
Sebenarnya ada yang mengganggu pikiran Zayan, dia merasa heran karena Elnara bahkan tidak mengucapkan terima kasih atas hadiah yang dia berikan. Zayan pikir mungkin Elnara tidak menyukai gelang pemberiannya.
Justru Elnara mengajaknya liburan bersama bukan membahas kado yang dia berikan, ini sangat aneh karena Zayan tahu pasti sekecil apapun barang pemberiannya Elnara pasti sangat menghargainya.
Kesalahpahaman ini akan terus berlanjut karena keduanya sama-sama enggan membuka suara. Mereka terlalu sibuk menjaga perasaan masing-masing agar ego mereka tidak terluka.
*
Meski hanya liburan yang singkat, tapi Elnara sangat menikmatinya. Zayan berperan seperti suami yang sebenarnya, sangat perhatian dan begitu lembut. Jujur saja, Elnara benar-benar dibuat terbuai oleh Zayan, batinnya bertanya-tanya bolehkah dia berharap pernikahan mereka bisa bertahan.
Banyak moment yang mereka abadikan, bahkan Zayan memutuskan untuk tinggal di kamar yang sama. Meski tidak terjadi apapun, tetap saja Elnara merasa semakin melayang dengan perlakuan Zayan.
Lebih beruntung lagi, tidak ada Mikha atau siapapun yang mengganggu keduanya. Zayan sendiri memutuskan untuk mematikan ponsel mereka agar bisa menikmati liburan tanpa gangguan.
"Mas, makasih ya untuk liburan singkat ini." Ucap Elnara dengan tulus ketika mereka sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Kamu menikmatinya?" tanya Zayan dengan lembut.
"Sangat, lihat deh Mas kita punya banyak foto bersama. Kalau kita pisah nanti aku senang karna ada kenang-kenangan kita berdua."
Perkataan Elnara tidak mendapat respon dari Zayan. Pria itu terlihat melamun, entah memikirkan apa. Sedangkan Elnara merasa sedih karena sepertinya mereka akan benar-benar berpisah. Elnara tidak ingin mereka berpisah, tapi dia tidak boleh terus egois dengan memaksa Zayan bertahan pada hubungan tanpa masa depan ini.
"Tidurlah, perjalanan kita masih jauh." Zayan mengalihkan pembicaraan, pria itu memaksa Elnara untuk tidur bersandar dilengannya.
Tindakan kecil yang sangat menyentuh hati kecil Elnara. Ingin rasanya Elnara menghentikan waktu agar dia bisa meresapi setiap kebersamannya dengan Zayan.
Diam-diam Zayan menghela napas lelah, dia tidak tahu seperti apakah akhir dari pernikahan mereka. Zayan tidak bisa menampik jika Elnara berhasil membuatnya nyaman, akan tetapi banyak hal yang menjadi pertanyaan Zayan untuk melanjutkan pernikahan ini atau mengakhirinya.
*
Fian diam-diam mencari tahu hubungan Elnara dengan suaminya yang ternyata bos di perusahaan tempat dia bekerja. Dari sanalah Fian menilai Zayan selingkuh dengan sekertarisnya.
Fian mencintai Elnara dengan tulus karena itulah dia tidak ingin Elnara bertahan dengan pria seperti Zayan. Elnara tidak boleh sakit hati dan untuk itulah dia memutuskan memberi tahu Okta mengenai perselingkuhan Zayan.
"Ini semua foto-fotonya, Bang." Fian dengan percaya diri menyerahkan foto-foto Zayan dan Mikha yang sering pergi berdua.
Okta mengambil salah satu foto dan menatapnya tanpa minat. Okta sudah tahu hal ini karena dia memiliki mata-mata di perusahaan milik keluarga Zayan.
"Tujuan lo ngasih foto-foto ini apa? Lo tahu dia bos lo dan apa yang lo lakukan ini beresiko." Ucap Okta tenang seraya menyerahkan kembali foto-foto yang diberikan Fian.
"Gue cuma nggak mau El tersakiti Bang dan lo sebagai kakaknya pasti nggak mau dia disakiti terus sama suaminya."
"Fian, gue kenal lo sudah lama dan untuk itu gue hargai niat lo ini. Sayangnya, gue ataupun lo nggak berhak ikut campur. Kita sebagai orang luar dan nggak punya hak apapun dalam hubungan mereka. Gue sabagai kakaknya El jelas marah, tapi selama El masih sanggup bertahan itu jadi urusan dia."
Fian menghela napas sejenak, terlihat ragu untuk mengatakan isi hatinya.
"Bang gue--" ucapan Fian terpotong saat Okta memberinya tanda untuk berhenti bicara.
"Gue tahu lo masih cinta sama El, tapi lo harus ingat batasan. Dia istri orang dan lo nggak bisa terus menerus punya rasa untuk El."
"Gue beneran cinta sama El, gue tulus dan gue nggak bisa lupain dia."
Okta mendengus kesal mendengar pernyataan cinta dari Fian yang terdengar sangat tidak tahu malu.
"Kubur perasaan lo itu sebelum lo semakin sakit hati nantinya. Lo harus tahu batasan, jangan terlalu nekat atau lo tanggung sendiri akibatnya!"
"Nggak Bang, gue akan tetap berjuan demi El. Gue mohon izinin gue dekat sama El, gue akan bahagiakan dia."
Okta terlihat semakin marah mendengar ucapan Fian yang sangat keterlaluan. Fian seperti pria yang tidak ada harga diri.
"Lo gila ya! Lo sadar sama apa yang lo omongin? Lo minta izin sama gue padahal lo jelas tahu dia masih punya suami!" Okta berucap dengan marah tidak peduli orang-orang yang mulai memperhatikan mereka.
"Maaf Bang, tapi gue nggak akan menyerah gitu aja. Gue akan berjuang meluluhkan hati El."
"Gue muak sama lo, mending lo pergi dari hadapan gue! Benar-benar kurang ajar!" Okta berteriak marah mengusir Fian agar segera pergi dari hadapannya.
Fian yang tahu tidak bisa meluluhkan hati Okta segera pergi. Dia akan mencari cara lain agar Okta mau membantunya. Bagi Fian, Elnara tidak pantas bersama Zayan karena pria itu terlihat tidak mencintai Elnara dan malah berselingkuh.
Okta sendiri hanya bisa mengelus dada, mencoba untuk bersabar. Dia juga tidak ingin Elnara tersakiti tapi cara yang dilakukan Fian jelas salah. Padahal, Okta ingin menjodohkan Elnara dengan Fian jika adiknya itu berpisah nanti. Namun, apa yang dilakukan Fian hari ini berhasil membuat Okta mencoret namanya dari daftar pria yang pantas untuk Elnara.
To Be Continue ~~>>