
Zayan baru saja merebahkan tubuhnya di samping Elnara yang tidur miring menghadap dirinya. Wanita itu hanya diam mengamati setiap pergerakan Zayan.
"Kenapa menatap saya?" tanya Zayan yang kini ikut berbaring menghadap Elnara.
"Kenapa Mas selalu nyebut diri Mas dengan sebutan saya?" tanya balik Elnara.
"Saya juga nggak tahu, hanya terbiasa sedari kecil. Memangnya kenapa?"
"Terlalu kaku, Fanya nggak pernah protes ya?"
"Selalu, tapi saya bersikap cuek. Nggak ada yang salah dengan kebiasaan saya."
Mendengar jawaban Zayan yang terkesan santai justru membuat Elnara mengelus dada, berusaha sabar.
"Kaku Mas, coba deh Mas biasakan diri untuk nggak sebut diri sendiri saya. Contohnya Mas Okta, El sering dengar kalian ngobrol dan itu aneh banget. Mas dengan saya-kamu, sedangkan Mas Okta dengan lo-gue."
Zayan hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Elnara, dia sudah tahu kearah mana pembicaraan ini.
"Mas? Coba deh pelan-pelan," pinta Elnara.
"Saya nggak biasa bicara dengan orang lain pakai aku-kamu atau lo-gue."
Elnara memasang wajah cemberut, sulit sekali membujuk Zayan.
"Kalau gitu ubah gaya bicara Mas sama El!" pinta Elnara untuk terakhir kalinya.
"Aku-kamu?" tanya Zayan.
"Mas, El mau mulai sekarang Mas kalau bicara dengan El nggak boleh pakai saya, harus pakai Mas!"
"Mas?"
"Iya!"
"Jadi, Mas harus nurut?"
"Iya!"
"Mas dapat apa kalau nurut?"
"Eh?" Elnara bersemu merah menyadari jika Zayan sudah mulai menggunakan kata 'Mas' bukan 'saya' lagi.
"Mas dapat apa?" tanya Zayan lagi.
Malu-malu Elnara mengecup pelan bibir Zayan kemudian segera membalik badan, memberikan punggungnya untuk Zayan.
Zayan tersenyum melihat tingkah malu-malu Elnara. Dengan pelan Zayan menarik Elnara ke dalam pelukannya, kemudian berbisik pelan.
"Kurang, saya mau lebih."
Selanjutnya, terjadilah hal menyenangkan untuk sepasang suami istri yang tengah dimabuk cinta.
*
Beberapa hari sejak telpon misterius itu Elnara masih diam menyimpan semuanya sendiri. Dia hanya tidak ingin membebani Zayan yang belakangan ini tampak sibuk.
Elnara yang sedang bersiap ke kampus dikejutkan dengan sebuah pesan dari nomor asing itu. Elnara semakin penasaran dengan orang misterius itu.
*Elnara, bisa kita bertemu jam makan siang?
Saya tunggu kamu di restoran dekat kampus kamu
Kamu tenang saja, saya tidak berniat jahat*
Elnara tahu seharusnya dia tidak mengiyakan permintaan orang misterius itu, tapi rasa penasara Elnara mengalahkan segalanya. Terlebih lagi mereka akan bertemu di restoran yang lumayan ramai, hal itu cukup membuat Elnara merasa aman.
Elnara bergegas menuju restoran setelah mendapat izin dari Zayan. Ketika Elnara masuk ke dalam restoran, seorang wanita paruh baya langsung menghampirinya.
"Iya, Bu. Ibu yang menghubungi saya?" Elnara bertanya balik.
"Iya, mari duduk dulu. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan." Wanita itu mempersilahkan Elnara untuk duduk di depannya.
"Ibu mengenal saya?" tanya Elnara lagi.
"Bisa dibilang seperti itu, tapi lebih tepatnya saya mengela suami kamu."
"Mas Zayan?" Elnara melebarkan matanya terkejut.
"Iya, karena itu mari kita bicarakan hal penting ini dengan terbuka."
"Hal penting apa ya, Bu? Kalau Ibu mengenal suami saya bukannya lebih baik Ibu berbicara dengan suami saya?"
"Saya maunya seperti itu, tapi keadaan membuat saya tidak bisa menemui Zayan. Untuk alasan itulah saya menemui kamu, saya berharap kamu mau membantu saya."
"Apa yang bisa saya bantu, Bu?"
"Bantu saya bertemu dengan Zayan dan Fanya!" pinta wanita itu dengan tatapan mengiba.
Sampai di sini Elnara paham siapa wanita di hadapannya ini. Namun, untuk memastikan kecurigaannya Elnara tetap bertanya siapa wanita itu.
"Nama Ibu--"
"Linda, saya Linda Ibu kandung Zayan dan Fanya." Wanita bernama Linda itu segera menyela ucapan Elnara, dia pikir Elnara tidak mengetahui namanya.
"Ibu kandung?" Elnara bertanya dengan sinis.
"Iya, Ibu kandung mereka. Kamu nggak tahu hal ini atau jangan-jangan mereka sengaja merahasiakan saya dari kamu?" tuduh Linda membuat Elnara menatapnya sinis.
"Seharusnya memang seperti itu 'kan? Untuk apa Mas Zayan dan Fanya menceritakan Anda? Tidak ada yang bisa mereka banggakan dari diri Anda."
Linda menatap Elnara marah, merasa tersinggung dengan ucapan wanita muda itu.
"Saya menemui kamu untuk membantu saya bertemu dengan kedua anak saya, bukan untuk menerima ucapan kasar kamu!"
"Oh begitu? Tapi sayangnya saya nggak mau membantu Anda. Apa yang Anda rasakan saat ini adalah hukuman untuk perbuatan Anda di masa lalu."
"Jangan bersikap seolah-olah kamu tahu masa lalu saya!" Linda membentak Elnara marah, benar-benar merasa tersinggung.
"Saya nggak melakukan hal itu karena saya sadar saya nggak berhak menilai masa lalu orang lain. Yang saya maksud adalah jangan libatkan saya dengan masalah Anda. Kalau Anda merasa sebagai Ibu kandung Mas Zayan dan Fanya, silahkan temui mereka dengan usaha Anda sendiri!"
Tanpa mendengar ucapan Linda, Elnara segera berdiri dan pergi dari restoran meninggalkan Linda yang menatap kepergian Elnara dengan penuh dendam. Dia pikir Elnara adalah wanita lemah lembut yang bisa diperalat, sayangnya Elnara justru jauh lebih tangguh.
Namun, Linda tidak akan menyerah sampai di sini. Dia sudah membuang semua rasa malunya hanya untuk Zayan dan Fanya. Tidak akan ada yang bisa menghentikan dia untuk bertemu dengan kedua anaknya.
To Be Continue ~~>>
Rekomendasi novel untuk kalian semua. Yuk, mampir dan dukung karyanya ya 😊👇
Judul : Penelusuran Gaib Rania
Author : Novi putri ang
Blurb :
Mobil hitam melintas di atas tanah berlumpur, diluar nampak hujan deras yang tak kunjung reda. Dan kilatan guntur terlihat di langit menyambar, dengan gemuruh yang menggelegar.
Malam ini terasa mencekam. Dari kejauhan, bayangan sebuah rumah kuno terlihat di antara pepohonan besar, bersembunyi di balik kegelapan.
"Aah. Perasaan apa ini, kenapa perasaan tidak enak mengganggu pikiranku?" batinku berkata seakan ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini.
Ya, benar saja. Kisah mistisku belum berakhir. Meskipun aku telah meninggalkan Desa Nenekku, Desa Rawa Belatung. Aku selalu saja berurusan dengan hal-hal gaib. Penelusuran gaib yang terus membawaku bertemu dengan sosok makhluk tak kasat mata, yang terus mengikuti setiap perjalanan hidupku.