
Vika dan Mbah Sum saling tatap, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Vika tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah dia rasakan. Mbah Sum segera membantu Vika kembali ke kamarnya dan menyiapkan teh hangat untuk wanita itu.
"Mbak Vika ... sepertinya Mbak hamil ...." Bisik Mbah Sum menyodorkan segelas teh hangat.
Vika tampak terkejut, dia tidak menyangka dengan tebakan Mbah Sum. Selama ini dia tidak merasakan perubahan apapun dan sangat kecil kemungkinan dia hamil karena Okta selalu berjaga-jaga.
"Siapa yang hamil Mbah?" tanya Windi yang baru saja tiba.
Vika dan Mbah Sum menoleh kaget, mereka pikir Windi baru sampai nanti siang.
"Itu Mbak Windi, sepertinya Mbak Vika hamil. Ini masih tembakan saya saja, sebaiknya segera diperiksa."
Windi menatap penuh tanya pada Vika yang terlihat semakin pucat. Jika memang adiknya itu hamil, sungguh ini berita baik sekaligus berita buruk.
Windi mendekati Vika dan memeluk adiknya itu, dia berusaha menenangkan Vika yang tampak cemas.
"Jangan khawatir, Kakak ada di sini. Apapun yang terjadi kita hadapi sama-sama ya."
Vika menangis, sejujurnya dia tidak siap akan hal ini. Jika saja dia hamil disaat masih menjadi istri Okta, mungkin semua akan baik-baik saja.
*
*
Di tempat lain, Okta terlihat termenung. Entah mengapa dia mengkhawatirkan Vika dan pikirannya selalu tertuju pada wanita itu. Jauh di lubuk hatinya Okta tidak ingin Vika pergi jauh dan tidak bisa dia temukan.
"Melamun lagi?" tanya Zayan ketika mendapati Okta yang duduk termenung sendirian.
Okta menghela napas lelah, "pikiran gue lagi kacau."
"Mantan istri kamu?" tanya Zayan tepat sasaran.
"Ya, gue ngerasa khawatir sama dia." Jawab Okta dengan jujur tanpa berusaha menutupi perasaannya.
"Memangnya kenapa kamu bisa khawatir? Dia sakit atau apa?" tanya Zayan lagi.
"Dia pindah ke kampung halaman orang tuanya. Gue nggak tahu apa yang buat gue segelisah ini."
"Kamu cinta sama mantan istri kamu?" untuk sesaat Okta tertegun mendengar pertanyaan dari Zayan.
"Gue ... nggak tahu," jawab Okta ragu.
Sejujurnya Okta tidak tahu apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Dia sendiri masih meraba perasaannya pada Vika.
"Kalau cinta, kenapa dilepas? Kamu tahu resiko dari ini semua? Mungkin saja dia akan bertemu pria lain dan pada akhirnya kamu hanya akan busa menyesal."
Memikirkan Vika akan bertemu pria lain dan kemudian mulai melupakannya membuat Okta semakin dilanda rasa khawatir. Pria itu bergegas pergi meninggalkan Zayan yang hanya bisa menatap kepergian sahabat baiknya itu.
Okta menemui Elnara, berniat memaksa gadis itu untuk mengatakan di mana Vika berada.
"El, tolong jujur sama Mas di mana Vika?" tanya Okta yang mengundang tawa dari Elnara.
"Kenapa Mas jadi kepo begini? Sudahlah Mas, nggak usah cari tahu apapun tentang Vika." Ucap Elnara sembari mengibaskan tangannya.
"Mas khawatir sama dia, tolong katakan di mana dia!" pinta Okta lagi.
"Mas nggak perlu khawatir, sudah ada Mbak Windi yang menjaga dan menemani Vika. Yang perlu Mas khawatirkan itu diri Mas sendiri yang mulai kacau."
Elnara bergegas pergi sebelum Okta kembali mendesaknya. Dia takut jika Okta terus meminta dan pada akhirnya dia akan luluh.
*
*
Vika baru selesai memeriksakan dirinya dibidan yang berada tidak jauh dari rumah lamanya. Mengetahui ada sosok yang tengah tumbuh di dalam perutnya membuat perasaan Vika gamang.
Berbulan-bulan lalu Vika menantikan moment seperti ini yang pada akhirnya dipatahkan oleh Okta yang mengatakan belum siap memiliki anak. Sekarang, kabar membahagiakan ini justru membuat Vika dilanda kebingungan.
"Vika," panggilan Windi yang baru masuk ke dalam kamar Vika.
Wanita itu mendekati sang adik yang terbaring lemah di atas ranjang. Bidan bilang kehamilan Vika sangat rentan dan beresiko karena itulah dia tidak boleh stres.
"Gimana perasaan kamu?" tanya Windi.
Vika menggeleng lemah, wanita itu terlihat begitu rapuh dan tampak menyedihkan.
"Vika nggak tahu harus bagaimana Kak. Apakah Vika harus bahagia atau justru bersedih?" Windi menatap sedih pada Vika yang kembali menangis.
Windi tahu hal ini sangat berat untuk Vika mengingat baru saja dia menyandang status janda dan kini dia harus ditampar sebuah fakta kehamilannya.
Vika dibayangi banyak ketakutan akan hari-hari yang dia jalani nantinya. Tentang bagaimana nasib anaknya kelak? Apakah Okta akan menerima anak ini atau tidak mengingat pria itu belum siap untuk memiliki anak.
Banyak hal yang menakutkan untuk Vika, dia masih belum siap menghadapi kehidupannya setelah ini. Vika tidak masalah jika ditolak, tapi jelas dia tidak akan baik-baik saja jika suatu saat nanti anaknya yang akan ditolak oleh Ayahnya sendiri.
Apa yang harus dia lakukan nanti? batin Vika bertanya-tanya.
Bersambung ~~