
Banyak perubahan dalam hidup Vika selama 2 minggu ini. Setelah mengetahui dirinya hamil, Vika lebih banyak menghabiskan waktu dengan merenung. Dia masih memikirkan bagaimana nasib anaknya kelak.
Windi sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk menyemangati Vika karena dia tahu pasti apa yang tengah dirasakan sang adik.
"Mbak Vika melamun terus ya, Mbak?" Mbah Sum yang diam-diam memperhatikan Vika menatap prihatin pada wanita hamil itu.
"Pasti sulit menerima ini semua Mbah, Vika pasti memikirkan nasib anaknya kelak." Windi menghela napas lelah, belakangan ini terlalu banyak hal yang terjadi pada Vika.
"Terus bagaimana, Mbak? Apa lebih baik Mbak Vika beritahu tentang kehamilan sama mantan suaminya?"
"Untuk sementara biarkan seperti ini, Vika masih butuh waktu menerima sesuatu ini. Saya yakin nantinya Vika akan mengambil keputusan terbaik."
Keduanya tidak bisa berbuat banyak, mereka hanya bisa mendukung apapun keputusan Vika nantinya. Semua keputusan ada ditangan Vika dan semua resiko dia tanggung seorang diri.
*
*
Mira datang menemui Okta, ada sesuatu yang ingin dia bicarakan pada pria itu. Setelah cukup lama mereka tidak berhubungan karena Mira memilih untuk melepaskan Okta demi keluarganya.
Okta sendiri tidak mencari tahu lebih lanjut tentang Mira. Ketika wanita itu mengembalikan apartemen yang dia pinjamkan Okta juga tidak bertanya. Sepertinya pikiran Okta hanya tertuju pada Vika.
Di sinilah mereka berada, di sebuah restoran yang pengunjungnya cukup banyak.
"Jadi, ada apa?" tanya Okta tanpa basa-basi.
"Aku ... ehm, kamu tahu kalau Om Genta pernah datangin aku?" Mira bertanya ragu, sejujurnya dia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
"Kapan? Aku nggak tahu apapun." Okta menjawab singkat terlihat sekali enggan dengan pertemuan ini.
"Sebelum aku kembalikan apartemen kamu. Om Genta nawarin aku untuk mengembalikan usaha keluargaku dengan syarat harus menjauhi kamu. Aku nerima syarat itu karena aku tahu kita nggak mungkin bisa sama-sama lagi. Aku juga baru tahu kalau kamu sudah bercerai, aku takut kalau salah satu alasan perceraian kamu adalah aku."
Okta bisa melihat penyesalan dimata Mira. Dia tahu Mira adalah wanita baik-baik hanya saja entah alasan apa yang membuat Genta dan Almira tidak pernah meresetui hubungan mereka.
"Nggak perlu merasa bersalah, ini sudah pilihanku dan mantan istriku. Mungkin ini yang terbaik untuk kami daripada aku terus menyakiti perasaannya."
"Okta, mungkin memang kita nggak bisa bersatu. Jujur aku belum bisa lupain kamu, tapi aku sedang berusaha. Kamu nggak perlu khawatir, aku yakin perasaanku ini bisa memudar seiring berjalannya waktu. Aku harap kita bisa berteman baik, kalau perlu aku akan bantu kamu menjelaskan sama mantan istri kamu."
Okta menggeleng tegas, mempertemukan Vika dengan Mira jelas bukan ide yang baik. Lagipula, penjelasan apapun itu tidak akan mengubah status mereka.
"Nggak perlu, kita cukup akhiri kisah kita sampai di sini. Aku harap kita bisa menjadi teman yang baik, kapanpun kamu butuh bantuan aku akan berusaha membantumu."
Sama seperti Mira, dia juga akan berusaha melupakan perasaan ini dan memulai kehidupan baru. Tanpa Mira dan juga Vika.
*
*
Vika merasa sakit yang luar bisa pada perutnya. Perutnya seperti ditusuk ribuan jarum yang terasa sangat menyakitkan.
Dengan sisa tenaga dia memanggil lirih Windi dan Mbah Sum yang sudah beristirahat di kamar mereka maling.
"Kak Windi ... Mbah Sum!" panggil Vika menahan rasa sakit diperutnya.
Tidak ada yang datang karena baik Windi dan Mbah Sum sudah tertidur nyenyak mengikat saat ini sudah pukul 2 dini hari.
"Kak Windi!" panggil Vika lagi.
Vika mencoba bangkit dan tanpa sengaja menyenggol gelas kaca di atas meja kecil. Suara gelas yang jatuh membangunkan Windi dan Mbah Sum. Keduanya segera berlari menuju kamar Vika dengan perasaan cemas.
"Vika? Ada apa, Dek?" tanya Windi cemas.
Windi dan Mbah Sum mendekat, mereka terkejut melihat Vika yang berkeringat dingin dengan wajah pucat.
"Mbah, tolong bantu bawa Vika ke mobil. Kita harus ke rumah sakit!" Windi bergegas mengambil kunci mobil dan bersama Mbah Sum membawa Vika yang begitu lemah.
"Kak ... sakit--perut Vika sakit," Vika merintih sakit.
"Sabar ya, kita ke rumah sakit. Kamu harus kuat, tenangkan pikiranmu cobalah menarik napas untuk meredakan rasa sakit."
Windi mengendarai mobil dengan cepat sambil sesekali mengintruksi Vika agar lebih tenang. Mbah Sum dengan setia menggenggam erat tangan Vika berusaha memberi kekuatan untuk wanita itu.
Vika menangis menahan rasa sakit yang tak kunjung reda. Berbagai pikiran buruk menghampirinya. Dia takut kehilangan anak dalam kandungannya. Rasa takut itu memperburuk keadaan, Vika semakin merasa sakit dan dia nyaris pingsan jika saja tidak ada Mbah Sum yang mengawasi.
"Sakit ... Kak Windi, Mbah Sum tolong Vika. Sakit sekali!"
Windi dan Mbah Sum ikut menangis, mereka tidak tega melihat Vika yang kesakitan seperti ini.
Bersambung ~~